Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Pengen banget aku muntah dengarnya,,


__ADS_3

Pagi ini Nayla dan Reyna duduk di kursi meja makan, menikmati nasi goreng yang baru saja dibuat oleh Nayla sendiri.


"Rey, kamu yakin mau tinggal di kontrakan aku ini?" tanya Nayla begitu mengingat sahabatnya itu memiliki apartemen yang mewah,, dan juga Reyna sudah terlahir dari keluarga berada memang.


"Iyalah yakin banget,, yang penting aku sama kamu dan juga Felix,," jawab Reyna dengan penuh keyakinan sambil tersenyum.


"Ini hanyalah gubuk reyot menurut orang berada seperti kalian," ucap Nayla lagi begitu mengingat perkataan Jessica yang menghina kontrakannya.


"Hmmm,, omongan Jessica didengar,, reyot darimana nya ini Nay? cat bagus,, dinding beton,, pakai AC, lantai keramik pula,, kalau reyot palanya si Jessica, iya," ucap Reyna.


"Makasih yah kamu selalu ada buatku," ucap Nayla lalu keduanya berpelukan layaknya Teletubbies yang sedang berbahagia.


"Rey, cariin aku kerjaan dong," ucap Nayla sambil menatap Reyna,, tabungan Nayla saat ini mulai menipis, Nayla harus berjuang sendiri untuk membesarkan anaknya. Sebenarnya tidak susah untuk membiayai Felix mengingat mantan Papa mertuanya akan dengan senang hati jika Nayla membutuhkan bantuannya, tapi Nayla bukanlah wanita yang lemah,, Nayla ingin menggunakan uangnya sendiri untuk membiayai kehidupan Felix anaknya. Nayla tidak ingin merepotkan orang lain dan juga dia tidak ingin dipandang rendah, dianggap memanfaatkan anaknya untuk mendapatkan uang dari keluarga mantan suaminya.


"Ijazah aku itu disimpan melulu,, kasihan bener,, aku setengah mati memperjuangkan dia dulu, nggak berguna,, aku tidak mungkinkan memberikan ijazah ku itu kepada penjual gorengan," ucap Nayla.


Reyna langsung tertawa terbahak-bahak begitu mendengar keluhan Nayla, sudah cukup lama dia tidak mendengar kekonyolan Nayla yang seperti ini,, Nayla yang dulu sudah kembali seperti dulu lagi,, Nayla sudah menjadi dirinya sendiri.


"Kamu masukin lamaran kerja aja Nay," ucap Reyna setelah menghentikan tawanya.


"Iya sih, tapi dimana?" tanya Nayla bingung.


Begitu Reyna ingin menjawab tiba-tiba suara ponsel Reyna terdengar,, Reyna segera mengambil ponselnya dari saku celananya. Reyna menatap nama sang kakak yang ada di layar ponselnya.


"Kakak aku nelfon bentar yah Nay," ucap Reyna lalu segera mengangkat panggilan telepon dari Kakaknya tersebut,, Reyna sangat khawatir takut Kakaknya akan memberitahukan kondisi sang Mama yang memburuk, mengingat Mamanya jatuh sakit hingga di rawat di rumah sakit.


"Ya Kak, ada apa?" tanya Reyna begitu mengangkat panggilan telepon dari Alex.


"Reyna, bisa tolong bantu kerjaan Kakak nggak? soalnya asisten Kakak mengundurkan diri karena sedang hamil muda, sampai Kakak punya pengganti saja kamu bantuin Kakak," ucap Dokter Alex dari seberang sana.


"Oh gitu yah Kak," ucap Reyna sambil menatap Nayla yang kini sedang menatap dirinya juga.


"Reyna, sudah punya calon asisten Kakak yang baru," ucap Reyna lagi.

__ADS_1


"Serius ini Reyna? Kakak lagi pusing ini," ucap Dokter Alex sambil membolak-balikkan data pasien yang ada ditangannya.


"Serius Kakak namanya Nayla," ucap Reyna lalu segera menutup panggilan telepon secara sepihak.


Nayla langsung terkejut begitu mendengar namanya disebutkan, malah Nayla merasa penasaran tentang pembahasan Reyna barusan dengan Kakaknya mengapa menyebutkan nama dirinya.


"Nggak usah bingung tadi itu Kakakku yang nelpon dia menyuruh aku untuk membantunya sementara,, sampai dia menemukan asisten yang baru dan aku sudah merekomendasikan kamu untuk menjadi asisten Kakakku," ucap Reyna.


"Hah aku?" ucap Nayla.


"Iya, kamu butuh kerjaan kan Nay?" tanya Reyna.


"Iya sih," jawab Nayla.


Nayla langsung tersenyum bahagia sebab dirinya sudah mendapatkan pekerjaan.


"Kakak kamu kerja dimana Rey?" tanya Nayla lagi.


Degh!!!


Kenapa harus di rumah sakit itu Kakak Reyna bekerja,, itu adalah rumah sakit tempat Devan bekerja juga,, wajah bahagia Nayla seketika berubah begitu mendengar nama rumah sakit itu.


Reyna tahu alasan ekspresi wajah Nayla tiba-tiba berubah,, apalagi kalau bukan Devan.


"Nayla kalian memang kerja di rumah sakit yang sama dengan Dokter Devan,, tapi kan kalian tidak akan ketemu terus rumah sakitnya itu luas, lagian tujuan kamu itu bekerja untuk membesarkan Felix dan Dokter Devan itu hanyalah masa lalu saja, ayolah Nayla berdamai dengan keadaan,," ucap Reyna.


Reyna benar-benar ingin Nayla hidup bahagia,,, melupakan Dokter Devan masa lalu kelamnya itu,, dan bekerja dengan profesional tanpa ada perasaan.


"Iya sih Reyna aku sudah ikhlas,, lagi pula aku mencari uang itu untuk Felix,, tapi...," ucap Nayla sambil mengusap wajahnya beberapa kali,, Nayla benar-benar bingung,, apakah harus menerima atau menolak pekerjaan itu.


"Nayla kamu itu punya ijazah,,, kamu juga pintar, sayang sekali kan kalau semuanya sia-sia,, minimal sampai kamu mendapatkan pekerjaan di tempat lainnya," ucap Reyna lagi.


Reyna tahu kalau Nayla sangat menyukai pekerjaannya menjadi seorang perawat, saat ini Reyna ingin Nayla menjadi dirinya sendiri tanpa ada bayang-bayangan ancaman maupun tekanan dari orang lain.

__ADS_1


"Nayla jangan bilang kalau kamu masih menyimpan perasaan pada Dokter Devan?" tebak Reyna sambil menatap Nayla dengan tatapan mata penuh selidik.


"Pengen banget aku muntah dengarnya,, apa tidak ada pertanyaan lain?" ucap Nayla.


"Ya udah pokoknya kamu harus kerja Nayla, buktikan kalau kamu bisa berdiri dengan kakimu sendiri tanpa bantuan dari orang lain, sebenarnya Nayla aku bisa saja membawa kamu dan Felix ke apartemen aku, hanya saja aku nggak mau mereka pikir kamu cuma numpang di atas harta orang lain,, aku tentu tidak rela dong sahabat baikku dihina terus oleh orang lain," ucap Reyna.


"Ya udah aku setuju," ucap Nayla yang tak lagi memikirkan hal lainnya.


Saran dari Reyna memang benar dirinya harus bangkit tanpa ada bayang-bayang masa lalu lagi,, meskipun mereka bekerja di rumah sakit yang sama,, tapi tetap mereka tidak akan terus bertemu seperti kata Reyna,, rumah sakit itu luas dan Nayla sendiri sudah melihat rumah sakit itu memang benar-benar luas, apalagi Nayla sudah sangat ingin menjadi seorang perawat sejak dulu, kini saatnya dia meraih semua itu memanfaatkan ijazah yang sudah susah didapatkannya,, Nayla mendapatkan ijazah itu dengan penuh perjuangan.


"Ayo," ucap Reyna sambil menarik tangan Nayla untuk segera menemui Dokter Alex sebelumnya Kakaknya itu mendapatkan asisten lain.


"Tunggu dulu,, Felix mau ditinggal sendiri di dalam kamar?" ucap Nayla.


Reyna pun langsung nyengir.


"Lupa," ucap Reyna melepaskan tangan Nayla, sebab Reyna tersadar ada bayi lucu yang sedang tertidur pulas di dalam kamar.


Nayla segera menggendong Felix,, bayi tiga bulan itu,, saat ini sudah berisi seperti bayi yang terlahir normal, semua itu karena Nayla yang begitu cekatan dalam mengurus segala keperluan Felix, setelah ini Nayla harus mencari seseorang untuk menjaga Felix selama dia pergi bekerja.


Setelah menumpangi taksi,,, Nayla dan Reyna akhirnya sampai ke tempat tujuan, dimana Dokter Alex bekerja. Tanpa izin ataupun permisi, Reyna langsung saja masuk ke dalam ruangan Dokter Alex. Dokter Alex yang sedang sibuk dengan ponselnya langsung beralih menatap Nayla dan juga seorang bayi yang berada di gendongan Nayla. Dokter Alex lupa bahwa wanita ini pernah dia periksa keadaannya waktu itu adiknya sendiri yang membawa Nayla,, tentu saja Dokter Alex akan lupa atau tidak menandai karena waktu itu Nayla begitu sangat pucat,, dan juga pasien Dokter Alex banyak.


"Kak ini calon asistennya," ucap Reyna sambil memperkenalkan Nayla pada Dokter Alex.


"Duduk," ucap Alex.


Nayla duduk bersebelahan dengan Reyna kemudian Dokter Alex segera melontarkan beberapa pertanyaan,, hingga akhirnya menerima Nayla sebagai asistennya.


"Ini surat perjanjian kerja, kamu wajib tanda tangan,, silahkan dibaca dulu isinya,," ucap Dokter Alex,, sambil meletakkan polpen di atas kertas itu.


Nayla membaca semua isi surat itu dengan jelas,, kemudian segera menandatangani kontrak kerja itu.


"Besok, kamu sudah mulai bisa masuk kerja," ucap Dokter Alex.

__ADS_1


__ADS_2