Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Berbohong sedikit tidak apa!!!


__ADS_3

Secepat kilat Arni keluar sesaat kemudian kembali lagi.


Nanda pun kembali melihat Arni yang kembali masuk.


"Lupa nutup pintunya," dengan cepat Arni menutup pintu kamar Nanda dan Reyna.


Rasanya malu sekali saat memergoki anak dan menantunya tengah berciuman mesra, anehnya mengapa ada jeritan jika memang sedang eng ing eng?


"Ya ampun," Arni memukuli kepalanya hingga berulang kali.


"Apa anak zaman now kalau bertengkar di atas ranjang seperti itu yah?" Arni masih saja berdebat dengan pikirannya.


"Anak zaman sekarang tingkah lakunya aneh-aneh," ucap Arni lagi.


Malu masih sampai di ubun-ubun bagaimana tidak matanya sendiri melihat Nanda sedang menjelajah tubuh istrinya.


"Ya ampun kenapa bisa sampai ngompol,"


#######


Reyna mengusap wajahnya hingga beberapa kali sedangkan Nanda pun mengacak rambutnya seperti orang yang tengah putus asa.


"Gila mana lagi tegangan tinggi," kata Nanda sambil melihat Reyna.


Reyna pun ikut tertawa kecil, betapa keduanya seperti pasangan kekasih yang tengah kepergok berbuat mesum.


"Kamu sih nggak tahu waktu banget, mana hari masih terang begini," omel Reyna menunjuk jendela yang terbuka lebar dan menampakkan sinar matahari bersinar cerah.


"Alah kamu juga barusan mau," Nanda melemparkan bantal guling tepat mengenai wajah Reyna.


Mungkin keduanya memang suami istri akan tetapi terlihat seperti berteman tapi bisa juga keduanya seperti musuh bebuyutan bahkan hanya karena masalah kecil sekalipun.


"Nggak tahu gimana muka aku kalau ketemu Mama nanti," ucap Reyna lagi.


"Nggak usah pasang muka, lagian Mama juga nih masuk kamar orang main masuk-masuk aja gitu, nggak ada ketuk dulu atau gimana," geram Nanda.


"Ahahahaha," tiba-tiba Reyna tertawa terbahak-bahak membuat Nanda bingung bahkan menatap istrinya dengan horor.


Mungkinkah karena eng ing eng yang tidak jadi bisa membuat Reyna menjadi gila mendadak.


"Kamu kesurupan?" tanya Nanda.


"Ahahahaha," Reyna terus tertawa dirinya sampai tak bisa menjelaskan karena masih merasa lucu.


Buk!!!


Nanda pun melemparkan guling hingga mengenai wajah Reyna.


"Dasar nggak waras!" ucap Nanda.


"Kamu nggak ingat Mama sampai ngompol gara-gara mergokin kita barusan?" tanya Reyna masih diselingi tawa.


"Itu karena mulutmu yang berisik pasti Mama mikir kita bertengkar hebat," Nanda kesal sekali. c


"Coba kalau kamu nggak teriak-teriak pasti sekarang udah merem melek merasakan..."


Buk!!!


Kali ini Reyna yang melempar bantal hingga mengenai wajah Nanda.


"Coba kalau lagi begituan Mama masuk?" seru Reyna.


"Hehehe," Nanda pun cengengesan sambil nyengir kuda.


"Dasar aneh!" ucap Nanda.


Rasa tak mungkin melanjutkan yang sudah terhenti, Reyna pun memutuskan untuk pergi.


"Kamu mau ke mana?" Nanda panik saat melihat tangan Reyna sudah menggapai gagang pintu sejenak Reyna urung melangkah berbalik untuk menatap Nanda.


"Aku mau masak udah sore begini, lapar banget!" ucap Reyna.


"Terus aku gimana? aku masih belum lega kalau belum tuntas," Nanda menunjukkan wajah melasnya berharap Reyna mengasihi.


"Nanti kan bisa! aku lapar banget," ucap Reyna.


"Aku nggak bisa!" ucap Nanda.


"Gimana kalau lagi itu perut aku tiba-tiba bunyi kan nggak enak banget, mending kamu bantuin aku setelah itu terserah deh mau lanjut juga nggak masalah," ucap Reyna.


Segera Reyna keluar dari kamar meninggalkan Nanda dengan wajah lesu.


"Reyna," teriak Nanda panik saat Reyna sudah keluar.

__ADS_1


"Reyna," panggil Nanda lagi lalu segera beranjak dari tempatnya, menyusul Reyna menuju dapur.


"Apa?" ucap Reyna.


Reyna sejenak melirik Nanda sesaat kemudian membuka kulkas mengambil beberapa sayuran segar untuk diolah menjadi makanan.


Nanda berdiri di samping kulkas melihat istrinya mengeluarkan beberapa sayuran.


"Kamu mau masak apa?" tanya Nanda.


"Nggak tau juga tapi bahan makanan banyak banget jadi aku masak yang ada aja nggak usah belanja lagi," jawab Reyna.


Reyna pun merasa cukup, beberapa bahan yang dibutuhkan semua sudah tertata di meja kemudian menutup kulkas kembali beralih menuju rak dengan bumbu-bumbu dapur.


Nanda juga mengikuti Reyna berdiri miring sambil bersandar pada rak.


"Rey, tuntasin kek dulu yang tadi," Nanda tersenyum sambil menggoyangkan alis matanya.


Reyna memutar bola matanya memilih diam dan tidak peduli.


"Rey," Nanda mencolek Reyna, berharap istrinya paham.


Reyna masih diam dan menutup laci, ternyata tangan Nanda berpegang pada sudut laci yang terbuka akhirnya tanpa sengaja terhimpit oleh laci saat ditutup rapat.


"Aduh!" Nanda pun mengadu dan cepat-cepat menyelamatkan tangannya.


"Sakit!" ucap Nanda.


"Ya ampun lebay banget sih," ucap Reyna.


"Ini bukan lebay tapi emang sakit banget," ucap Nanda.


"Ah! udah cepetan potong ini sekarang," Reyna pun bukan mengasihani Nanda yang ingin dikasihani malah memberikannya tugas.


"Apaan sih! Rey kamu itu tidak ada romantisnya sama suami," ucap Nanda.


Reyna tersenyum mengejek Nanda.


"Elahh, nggak usah lebay deh, ini potong!" Reyna memberikan pisau.


"Kalau masakan ini cepat nanti..." Reyna tersenyum berharap Nanda mengerti.


Ah pasti Nanda mengerti sekali dengan cepat mengangguk.


"Eng ing eng," jawab Nanda dengan bangga, sudah pasti jawabannya benar.


"Dasar gila, cepat selesai memasak artinya cepat makan," omel Reyna.


Seketika Nanda mendesah kesal ternyata isi kepalanya salah besar.


Dengan wajah kusut Nanda pun mulai memotong sayuran sesuai dengan perintah Reyna, tetapi tiba-tiba Nanda merasakan sensasi yang mencekam, Reyna yang melihat tentunya bingung dan seketika melontarkan pertanyaan.


"Kenapa? ada yang salah?" Reyna tampak serius dan menantikan jawaban dari Nanda.


"Oh ini!" Nanda pun menunjukkan sebuah terong di tangannya.


Reyna ikut menatap terong tersebut akan tetapi dari pandangan mata polosnya tak ada yang aneh apalagi lucu, lantas apa yang menjadi permasalahan pada suami anehnya tersebut.


"Terong kenapa?" tanya Reyna lagi.


"Susahnya punya istri yang gobloknya nggak ketulungan!" Nanda sampai mengetuk kepala Reyna menggunakan terong, kesal sampai ke ubun-ubun istrinya itu tak mengerti sedikitpun.


Reyna menunjukkan wajah masam bukan mendapatkan jawaban malah mendapatkan pukulan.


"Apaan sih, mukul aja, KDRT tahu, pakai terong lagi" gerutu Reyna kesal sambil mengusap kepalanya.


"Nah itu tahu!" ucap Nanda.


"Tahu?" Reyna semakin merasa aneh tapi sesaat kemudian dia tersenyum bahkan ingin tertawa tapi ditahan.


"Nah kan tahu, apa ayo?" tanya Nanda menggoda.


"Nggak apa-apa!" Reyna memilih fokus memasak daripada melanjutkan pembahasan gila dengan suaminya. Nanda pun kembali fokus pada perintah Reyna awalnya apalagi kalau bukan memotong sayuran.


"Rey, ini dipotong atau dibelah?" tanya Nanda.


"Dipotong," jawab Reyna.


"Apa? aku kok ngerasa ngilu yah?" ucap Nanda.


Reyna pun mengerutkan dahinya, apa lagi kalau bukan karena suami gilanya.


"Sini aku yang potong," segera Reyna mengambil alih terong dari tangan Nanda daripada menunggu maka akan lebih lama lagi.

__ADS_1


"Aduh ngilu banget, suer," Nanda memegang terong keramatnya dengan kedua tangannya merasa ngeri saat Reyna memotong terong.


"Makanya kamu jangan macam-macam, lihat nih!" ucap Reyna.


Reyna memotong terong dengan cepat kemudian mengambil yang lainnya dan membelah dua.


"Dikasih garam, dikunyah" tutur Reyna.


Glek! Nanda pun meneguk saliva melihat istrinya begitu kasar.


"CK, apaan sih nggak gitu juga kali Rey," Nanda mendesus menunjukkan wajah melasnya.


"Rey,, Rey, namaku Reyna nggak usah diubah, udah bagus dibuat sama Mama dan Papa," geram Reyna tidak suka dengan panggilan Nanda.


"Itu panggilan sayang suami ke istrinya, bukan buatan Mama atau Papa," ucap Nanda.


Deg! jantung Reyna pun berdetak kencang, ingin sekali meloncat keluar tetapi dia berusaha tenang dan tak menunjukkan apa-apa.


"Udah ah sana pergi, kapan kelarnya masakan aku kalau ada kamu, perdebatan juga nggak ada yang jelas," ucap Reyna.


"Aku di sini aja yah Rey pengen lihatin kamu juga," Nanda menopang kepalanya pada meja menatap wajah Reyna dengan serius.


Reyna mulai salah tingkah untuk menutupinya dia pun terus berusaha untuk mengusir Nanda dari dapur.


"Sana aku mau masak," Reyna mendorong Nanda untuk segera pergi dari hadapannya.


"Nggak mau aku mau di sini aja, janji deh nggak gangguin kamu," Nanda tersenyum sambil terus menatap wajah Reyna yang mulai terlihat memerah.


"Nggak mau sana pergi," ucap Reyna.


"Kenapa kalau aku di sini? aku mau lihatin matahari yang bersinar," tolak Nanda lagi.


"Dasar gila, mana ada di sini matahari, hari juga udah sore matahari udah tenggelam," ucap Reyna.


"Ada," jawab Nanda dengan pasti.


"Mana?" Rena berkacak pinggang, ingin sekali menghajar suaminya itu.


"Kamu," jawab Nanda.


"Aku?" Reyna menggeleng tidak mengerti.


"Ya kamu! kamu mataharinya aku," lanjut Nanda sambil menunjukkan tangan yang berbentuk love.


Huffftt...


Mana udaranya?


Kenapa di sini mendadak jadi panas belum lagi seperti ada di dinding yang siap menghimpit.


Jantung Reyna bergemuruh ingin meloncat bibirnya tersenyum tapi berusaha untuk menyembunyikannya dari Nanda.


"Sana," Reyna pun akhirnya mendorong Nanda dengan cepat hingga keluar dari dapur.


"Aku mau lihatin kamu," ucap Nanda.


"Aku yang nggak mau diliatin kamu," bohong Reyna yang tidak dapat menahan senyum lagi.


Akhirnya Reyna pun masuk ke dalam kamar mandi yang letaknya berada di dapur.


Setelah menutup pintu, dirinya berdiri pada daun pintu dan bibirnya tersenyum, tangannya beberapa kali mengusap wajahnya tak mengerti betapa bahagianya saat bersama dengan Nanda.


Belum lagi kata rayuan sederhana barusan yang pertama kalinya Nanda merayunya.


Sungguh luar biasa rasanya benar-benar membuat diri terasa terbang melayang.


Inikah cinta? Reyna mengetuk kepalanya, dirinya berusaha menghilangkan bayangan wajah Nanda.


Setelah menarik nafas panjang akhirnya Reyna pun keluar memastikan Nanda tidak berada di dapur kemudian kembali melanjutkan masakan yang sempat terhenti.


"Reyna apa yang kamu masak Nak? kok kayak ada bau gosong?" tanya Arni dari kejauhan sambil berjalan menuju dapur.


"Masakan aku," Reyna pun menepuk jidatnya, ternyata masakannya, gosong.


"Mama,"


Reyna panik dan segera membuang masakannya sebelum Arni sampai.


"Ada yang gosong?"


Huffftt...


"Nggak Ma," Reyna menggelang sambil cengengesan bagaimana kalau mertuanya tahu ada masakan gosong. Lalu ditanya karena apa, mana mungkin dia jawab karena tak kuat mendengarkan gombalan Nanda, berbohong sedikit tidak apa pikir Reyna.

__ADS_1


__ADS_2