
Suara ketukan palu terdengar, dengan arti bahwa Devan dan Jessica saat ini telah resmi bercerai. Keduanya duduk saling bersebelahan, sama-sama mereka mendengarkan keputusan cerai yang sudah dikabulkan oleh majelis hakim. Devan bangkit dari duduknya begitupun juga dengan Jessica, sejenak keduanya hening dengan rasa canggung. Sejenak saja keduanya kembali menjadi asing lagi,, padahal selama proses perceraian berlangsung keduanya masih tinggal satu atap,, bahkan tidur dengan ranjang yang sama juga. Jessica ingin menikmati hari-hari terakhir menjadi istri Devan, setiap malam dia tidur memeluk Devan tanpa melepas hingga pagi menjelang.
Akhirnya hari ini pun tiba di mana dia saat ini hanya menjadi seorang mantan istri saja,, dia tidak memiliki hak apa-apa lagi atas Devan. Hingga akhirnya Devan memeluk Jessica tanpa meminta izin dulu pada Jessica, pelukan persahabatan, kini mereka berdua telah resmi bercerai. Semuanya kini sudah berakhir, rumah tangga yang dijalani selama satu tahun lebih harus berakhir dengan sebuah perceraian.
"Aku minta maaf Jessica,, jika selama ini aku tidak bisa menjadi suami yang baik untuk kamu," ucap Devan.
"Aku juga minta maaf jika aku tidak bisa menjadi istri yang baik,, selama menjadi istrimu sahabat," ucap Jessica sambil menjauh dan mengulurkan tangannya pada Devan.
Devan membalas uluran tangan Jessica, tak menyangka bahwa dirinya dan Jessica akan kembali menjadi sahabat seperti dulu lagi. Dulu waktu melamar Jessica tidak pernah terlintas dibenak Devan bahwa pernikahan mereka akan berakhir dengan perceraian, tetapi semuanya memang harus terjadi agar tidak ada yang tersakiti karena cintanya sudah jadi milik wanita lain.
"Devan,, bolehkah aku minta satu permintaan padamu?" tanya Jessica dengan bibir yang bergetar.
Devan menganggukkan kepalanya.
"Bisakah kamu mencium kening ku untuk yang terakhir kalinya?" tanya Jessica.
Devan pun menuruti keinginan Jessica. Tangis Jessica kembali pecah, tangannya memegang masing-masing tangan Devan yang kini memegang lengan bagian atas Jessica.
Devan kembali memeluk Jessica begitupun Jessica kembali memeluk Devan. Jessica memeluk Devan dengan sangat erat. Pelukan perpisahan untuk terakhir kalinya, terasa sangat memilukan untuk Jessica namun harus tetap tegar demi mencari kebahagiaan masing-masing.
############
__ADS_1
Sisa-sisa kenangan tentu saja belum bisa hilang dari benak Jessica,, terlalu menyakitkan harus berpisah dengan orang yang dicintai,, Jessica duduk di balkon kamarnya memeluk lututnya menatap ke arah luar, dirinya kini kembali pulang ke rumah kedua orang tuanya, menata hidupnya kembali setelah sekian lama larut dalam konflik rumah tangganya. Sesekali air mata Jessica menetes dari pelupuk matanya hingga jatuh di pipinya,, seiring dengan kenangan indah bersama dengan Devan melintas di benaknya.
Flashback on...
"Devan kalau kita udah nikah,, kamu mau punya anak berapa?" tanya Jessica sambil duduk di tanah bersandar pada Devan.
Keduanya duduk di tengah kebun teh milik Devan sambil menikmati indahnya pemandangan alam di sekitar.
"Berapapun kamu sanggup," jawab Devan.
"Kok berapa aku sanggup?" tanya Jessica.
"Karena aku nggak mau buat kamu sakit, jadi kalau kamu mau cuma satu atau dua aku juga tidak masalah," ucap Devan.
Devan selalu mengutamakan dirinya bahkan begitu peduli pada dirinya,, hingga baginya tidak ada yang lebih baik lagi dari Devan.
Flashback off....
Jessica mengusap air matanya berusaha menghilangkan kenangan indah tersebut. Bibir Jessica tersenyum menatap malam yang semakin larut. Hanya ada bulan di langit tanpa adanya bintang yang menemani, sama juga seperti dirinya, sendiri,, sepi tanpa seseorang untuk bisa menjadi penopang dalam setiap kelemahannya. Penyemangat dalam setiap kesedihan Jessica. Lagi-lagi Jessica hanya bisa menarik nafas panjang, mencoba tersenyum sekalipun terasa begitu sangat sulit, menelan saliva yang terasa begitu pahit.
Sedangkan di sisi lainnya,, Devan pun hanya berdiri di depan jendela, kini dirinya masih berada di rumah sakit. Jas putihnya masih terpakai dengan rapi sejenak Devan mengenang wajah Jessica sambil tersenyum tidak menyangka.
__ADS_1
Dulu,, dulu sekalinya Devan selalu mengagungkan Jessica, kini sudah tidak lagi, entah mengapa semuanya bisa berubah, janji bersama selamanya kini harus terputus di tengah jalan. Memutuskan untuk mencari kebahagiaan di jalan masing-masing, Devan tentu tak pernah menyangka bahwa kini dia begitu sangat jatuh cinta pada Nayla. Padahal dulu sebelum dia menikahi Jessica,, Ana sudah menjodohkan dirinya dengan Nayla terlebih dahulu. Tetapi saat itu Devan menolak, mengingat dirinya sama sekali tidak tertarik dan juga tidak pernah bertegur sapa dengan Nayla meskipun tinggal serumah, Nayla juga bukan wanita idaman Devan, apalagi ada Jessica juga wanita yang sudah lama dia cintai.
Tapi siapa sangka seiring dengan berjalannya waktu, malah dalam sekejap mata saja dia bisa sangat jatuh cinta pada Nayla, hingga tanpa Devan sadari tidak ada lagi cinta untuk Jessica,, semuanya sudah beralih pada Nayla,, wanita yang dulu dianggap tidak cocok dengannya.
############
Satu minggu kemudian..
Setelah bercerai dengan Jessica sejenak Devan menepikan diri di puncak,, setelah merasa lebih baik Devan kembali ke Jakarta dan memulai hari-hari kembali seperti semula. Menata segalanya dari awal lagi,, hidup harus tetap berjalan sekalipun sudah tidak sempurna,, dirinya saat ini sudah menjadi duda.
Devan kembali masuk ke ruangan yang sudah tujuh hari ruangan itu tanpa dirinya, tapi begitu membuka pintu ternyata dia melihat Alex berada di dalam ruangannya,, terlihat Alex memang sengaja menunggu dirinya di dalam sana.
"Devan, aku benar-benar minta maaf," ucap Alex yang sudah berusaha menghubungi Devan sebelum-sebelumnya,, tetapi sangat sulit sekali,, Devan tidak mau mengangkat panggilan telepon dari dirinya, hingga hari ini Alex memutuskan untuk menemui Devan secara langsung, apalagi saat mengetahui perceraian Devan dan Jessica,, hal itu membuat Alex semakin benar-benar merasa bersalah dirinya menganggap semua itu terjadi karena ada ikut campur dirinya juga.
"Devan tolong maafkan aku,, jika kamu tak mau lagi bersahabat denganku,, aku paham,, aku mengerti dan aku menerima, tapi tolong maafkan aku," ucap Alex lagi dengan penuh harap pada Devan akan memaafkan dirinya,, karena sungguh tidak enak hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah tanpa mendapatkan maaf dari orang yang dia sangat harapkan maafnya.
Mendengar itu Devan hanya semakin melangkah masuk ke dalam ruangannya lalu menepuk pundak Alex.
"Mungkin takdir memang harus begini, semuanya yang sudah berlalu biarlah berlalu,, tidak ada kesalahan yang tidak bisa dimaafkan, selama tidak mengulanginya lagi," ucap Devan sambil melihat Alex.
"Terima kasih Devan," ucap Alex yang benar-benar merasa terharu setelah mendapatkan maaf dari Devan,, Alex benar-benar kagum pada kebaikan Devan yang tanpa batas.
__ADS_1
Devan hanya mengangguk sambil menatap Alex,, semuanya benar-benar harus dimulai dari awal lagi. Biarlah itu menjadi kenangan dan pelajaran bagi mereka masing-masing.