
"Apa kamu bahagia mendengarnya?" tanya Alex setelah memastikan Aditya pergi.
Alex pun menatap Jessica penuh intimidasi, ingin mendengar jawaban langsung dari istrinya tersebut, lagi pula jika tidak diselesaikan dengan secara langsung, bisa saja Jessica merasa besar kepala, apalagi sampai menganggap rendah dirinya merasa di atas awan karena disanjung barusan atau merasa hebat karena sudah bisa mendapatkan laki-laki lain lagi sebelum bercerai?
Alex masih terus berbicara sekalipun Jessica hanya diam tanpa bicara, lagi pula sebentar lagi pasti Puput pun datang artinya tidak akan leluasa untuk berbicara pada Jessica lagi.
"Kamu lihat wajahku ini? ini karena kamu! karena kamu pandai bermuka dua dan membuat keluargaku berpihak kepadamu dalam hitungan waktu, kamu hebat!!!" ucap Alex.
Alex tersenyum sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam masing-masing saku celananya, masih menatap Jessica begitupun sebaliknya.
"Andai saja aku tak pernah menikah denganmu, tidak menyetujui keinginan mu untuk dinikahi, tentunya aku tidak akan mendapatkan pukulan untuk pertama kalinya dalam hidupku dari Papaku sendiri," Alex tersenyum miring mengejek Jessica.
"Tapi pada dasarnya kamu itu wanita busuk, tidak akan ada habisnya cara untuk membuat orang lain menderita," ucap Alex lagi.
"Wanita busuk, wanita murahan, mandul yang sering kamu hina itu istrimu sendiri, wanita yang kau sakiti itu istrimu sendiri, kau sadar aku ini hina mengapa masih kau tiduri?" Jessica tersenyum miring menatap wajah Alex.
Apa yang ada di benak pria tersebut sebenarnya, dia menghina, merendahkan tapi masih menikmati dirinya? aneh tapi nyata! semua benar-benar menyesalkan?
"Jika istrimu adalah wanita hina, kenapa masih bernafsu?" tanya Jessica lagi.
"Jika aku ini menjijikan seperti apa yang kamu katakan, kenapa kau masih mencium aku?" ucap Jessica.
"Aku hanya ingin membuktikan jika kau itu mandul tidak lebih dari itu," ucap Alex.
"Benarkah?" ingin sekali Jessica menjadi gila saat ini agar bisa tertawa dengan terbahak-bahak mendengar jawaban Alex, sayangnya dirinya masih waras tetapi jika terus berada dalam lingkungan yang mencekam terus menerus bisa saja dirinya benar-benar menjadi gila dalam waktu dekat ini.
"Percayalah jika dalam waktu satu bulan ke depan, jika kamu tidak hamil artinya apa yang katakan terbukti, dan kau akan aku ceraikan!" ucap Alex
__ADS_1
"Baiklah Alex, aku berdoa sekali, semoga aku tidak hamil, apa jadinya jika aku hamil nanti dan sikapmu begini saja," ucap Jessica.
"Tidak usah sok jual mahal, kau tidak seberharga itu," ucap Alex.
"Iya terserah padamu saja," ucap Jessica.
"Jessica," terdengar suara Puput sambil melangkah masuk.
Jessica dan Alex pun menatap arah pintu dan melihat Puput, tak lama kemudian Reyna dan Nayla juga ikut masuk, dari tadi keduanya hanya di luar saja menantikan Alex untuk keluar dan mereka masuk, akan tetapi mereka pun mengikuti Puput untuk masuk.
"Jessica kamu sudah makan?" Puput pun melihat bekal makanan yang sudah kosong, yakin sekali kita Jessica sudah makan.
"Udah Ma," jawab Jessica dengan suara lemahnya.
Beruntung rasanya memiliki mertua yang begitu perhatian, bahkan Puput tidak jenuh menjaga dirinya.
"Iya bagus kalau begitu, tadi Mama panik dan takut kamu belum makan," Papa pun menatap Alex.
Dirinya tahu rasanya menjadi menantu, apalagi dulu mertuanya kejam, keras kepala suka mengatur ditambah lagi mulutnya sangat lantang dalam menghina, Puput yang berasal dari keluarga sederhana seringkali diremehkan oleh mertuanya, dibanding-bandingkan dengan menantu lainnya yang terlahir dari keluarga berada, serta pendidikan yang tinggi, bukan hanya itu saja tidak jarang pula dirinya tidak di ajak berkompromi dalam segala hal, sering tidak di ajak ikut dalam acara keluarga besar dengan alasan malu memiliki menantu tidak berpendidikan tinggi.
Kalau pun ikut maka dirinya tak akan ikut memakai baju senada dengan yang lainnya, dirinya benar-benar diasingkan karena kasta yang berbeda, akan tetapi saat itu Pian tak pernah merendahkan dirinya, dengan yakin dia membawanya keluar dari rumah besar tersebut.
Walaupun hanya mengontrak rumah sederhana, cukup untuk keduanya berteduh, seiring dengan waktu Pian pun mampu berdiri di atas kakinya sendiri, dengan bermodalkan ilmu yang ditempuh apalagi dibantu dengan menjual perhiasan milik Puput, padahal perhiasan tersebut dibeli sebelum mereka menikah, Puput pun dulu selalu menyisihkan sebagian gajinya saat bekerja di kafe.
Sampai akhirnya bisa berguna saat sudah menikah, sekalipun tak seberapa tetapi cukup membuat Pian terbantu hingga akhirnya kini kekayaan dan kejayaan mereka melebihi dari kakak laki-laki maupun perempuannya, di saat itulah mertuanya mulai menganggapnya sebagai menantu dalam keluarga, saat itulah Puput berjanji, jika suatu hari nanti memiliki menantu maka tidak akan pernah membeda-bedakan antara yang miskin dan yang kaya, begitupun dengan kasih sayang, Puput tidak akan membedakan mana anak kandung dan mana anak menantu, ditambah lagi saat ini Alex sudah melakukan kesalahan besar, Puput pun tidak akan segera untuk menghakimi secara sepihak, tidak ada tatapan perdamaian, yang ada hanya tatapan penuh dengan kemarahan tanpa bisa ditahan.
"Apa dia sudah minta maaf? atau dia yang menyuapimu makan?" tanya Puput penuh intimidasi.
__ADS_1
"Mungkinkah?" celetuk Reyna, sebab Reyna dari tadi bersama dengan Nayla mengawasi dari depan pintu, dirinya pun melihat siapa yang menyuapi Jessica dan siapa yang kebakaran jenggot saat melihat istrinya diperhatikan oleh pria lain.
"Itu bukan urusan mu," ucap Alex
"Oh," ucap Reyna sambil mangguk-mangguk, tersenyum mengejek Alex.
"Kalau begitu sekarang kamu minum obat," Puput memberikan butiran obat dan mineral kemudian beralih menatap Alex.
"Malam ini kamu juga harus menginap di sini, jaga Jessica harus bertanggung jawab ini semua karena ulah gila mu itu, ingat itu!" tegas Puput.
Alex pun ingin menjawab tidak, akan tetapi kehadiran Pian yang tiba-tiba muncul membuatnya tidak memiliki nyali untuk membantah.
"Bagaimana keadaan mu?" tanya Pian tanpa menatap Alex sedikitpun.
"Sudah membaik Pa," Jessica tak pernah tahu seperti apa Pian, bahkan untuk berbicara saja baru kali ini.
Papa mertuanya itu jarang sekali berbicara, apalagi Jessica pun tidak memiliki keberanian untuk berhadapan dengan Papa mertuanya, ada rasa segan yang terasa bagaimanapun dirinya sudah menganggap Pian orang tuanya, setelah Papanya.
"Bagus! kalau saja kamu mengatakan belum membaik, mungkin..." Pian mulai menatap Alex dan tersenyum sinis.
"Akan ada yang ikut berbaring di sini dengan tangan yang dipasang selang infus, bisa juga keadaannya akan sekarat," Pian menekankan setiap kata dalam berbicara agar Alex tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama, benar saja Alex tidak berani berbicara apapun, memilih memutuskan tatapan mata dengan Pian cepat.
"Dan aku bakalan bantuin Papa," Reyna pun memeluk Pian dengan cepat, dirinya terbiasa manja dan tidak peduli pada apapun jika sudah berdekatan dengan sang Papa.
"Berisik," Alex mengetuk kepala Reyna.
"Papa," teriak Reyna.
__ADS_1
Pian pun menatap Alex dengan dingin, Reyna adalah anak kesayangan jadi tidak ada yang boleh mengasari sekalipun Alex, sedangkan Alex berlalu pergi, kesel terus saja di sudutkan oleh keluarganya sendiri.
"Apa maunya wanita itu? dia itu pandai sekali bersandiwara," ucap Alex.