
Devan sampai di Jakarta malam harinya, dirinya segera kembali pulang untuk menemui istrinya, sepanjang perjalanan menuju rumah, hatinya terus berdebar menantikan saat-saat akan bertemu, tiba-tiba tanpa sengaja matanya melihat seorang wanita yang tengah duduk di pinggir jalan menikmati sepiring nasi goreng.
"Apa aku tidak salah?" ucap Devan.
Devan merasa tidak asing dengan wanita tersebut.
"Tapi bukankah Jessica sudah keguguran?" ucap Devan.
Devan pernah mendengar dari Nayla perihal Jessica yang mengalami keguguran, akan tetapi barusan matanya sendiri yang melihat perut Jessica yang membuncit.
"Sepertinya aku salah melihat orang," Devan memilih fokus mengemudikan mobil menuju rumah untuk berjumpa dengan Nayla.
Ponselnya berdering, Ana menghubungi dan mengatakan bahwa Nayla sudah dibawa ke rumah sakit, anaknya terlahir prematur, kedua kalinya itu terjadi dengan segera Devan menuju rumah sakit ternyata Alex sudah berhasil melakukan tindakan operasi sesar.
"Maaf Devan, kami terpaksa melakukannya karena tadi kamu tidak bisa dihubungi, kami membutuhkan persetujuan mu, keadaannya sudah darurat hingga akhirnya terpaksa Tante Ana yang mengambil keputusan menjamin semua, kamu tentu tahu awalnya Nayla juga pernah mengalami hal yang sama," jelas Alex.
Devan mengangguk yang terpenting adalah keadaan istrinya yang sudah membaik.
"Bagaimana dengan anakku?" tanya Devan.
"Dia tampan dan masih berada dalam perawatan medis," jawab Alex.
Devan pun mengangguk mengerti, dirinya ingin menuju ruang Nayla dengan segera tapi sejenak urung melangkah masuk dan berbalik menatap Alex, Devan ingat saat barusan melihat Jessica yang duduk di pinggir jalan walaupun sebenarnya tidak yakin juga.
"Alex," Devan kembali berjalan ke arah Alex, dirinya sangat berterima kasih atas pertolongannya terhadap istrinya.
"Ada apa?" Alex pun urung melangkah menuju ruangannya, keduanya berdiri di depan ruang rawat Nayla.
"Apa benar Jessica sudah keguguran? sebenarnya aku tidak ingin ikut campur tapi aku pun berterima kasih kau sudah melakukan hal benar pada istriku," ucap Devan.
Alex mengangguk, lama sekali keduanya tidak bertegur sapa seperti hari ini, sejak peristiwa itu Alex dan Devan tak lagi akrab, bahkan hanya bertemu saat di rumah sakit bertegur layaknya atasan dan bawahan.
"Ya seharusnya usia kandungan Jessica lebih tua daripada kandungan Nayla, tapi..." Alex menarik nafas dengan beratnya sampai hari ini bayangan wajah Jessica belum bisa membuatnya bahagia.
"Aku melihatnya barusan, perutnya membuncit kalau aku tidak salah dalam melihat itupun," Devan kembali mengingat dan ingin memastikan apakah wanita tersebut adalah Jessica atau malah nantinya menimbulkan ketegangan antara dirinya dengan Alex.
__ADS_1
Tidak!
Sepertinya Devan tidak salah melihat!
Alex tidak dapat berkata-kata mendengar penjelasan Devan, membuat kakinya bergetar hebat.
"Kamu melihatnya di mana?" tanya Alex.
Alex tidak mampu lagi menahan diri, rasa penasaran kian menjadi-jadi.
"Tapi aku tidak yakin, bagaimana jika aku salah?" ucap Devan.
Devan takut meruntuhkan perasaan Alex yang sudah menyimpan harapan besar, mungkinkah wanita itu adalah Jessica?
"Katakan di mana kau melihatnya? aku mohon! apa dia sedang hamil?" ucap Alex.
Tubuh Devan sampai terguncang karena Alex yang mengguncang.
Sesaat kemudian Alex menjauh tersadar sudah melakukan kesalahan.
"Aku mengerti, sebaiknya coba kamu datangi tempat itu mungkin dia masih berada di sana," Devan pun memberitahu dengan jelas di mana dirinya sempat melihat Jessica dalam hati semoga Alex tidak kecewa semoga juga matanya tidak salah melihat.
"Terima kasih," dengan tidak sabaran Alex menuju lokasi di mana Devan memberitahu Jessica barusan berada.
Alex lupa lelah setelah berjuang di meja operasi sesar untuk menyelamatkan Nayla dan bayinya.
Sepanjang perjalanan bibirnya terus saja berdoa semoga saja itu Jessica, Alex ingin memohon maaf kepada Jessica dengan penuh penyesalan sekuat apapun selama ini mencoba melupakan bayangan wajah Jessica, tak pernah bisa! Alex terlalu mencintai hingga bisa gila tanpa Jessica.
Dan perutnya yang membuncit?
Apakah itu dimaksud hamil?
Apakah Devan mengatakan bahwa Jessica sedang hamil besar?
Tapi anak siapa?
__ADS_1
Bukankah anaknya sudah tidak ada? mungkinkah Jessica sudah menikah lagi?
Dengan siapa?
Pikiran Alex benar-benar tidak dapat dikondisikan, semakin membayangkan wajah Jessica semakin membuat kakinya menginjak gas lebih dalam hingga kecepatan semakin tinggi, hingga akhirnya Alex memarkirkan mobilnya tepat di mana Devan memberitahunya.
Secepatnya Alex turun dan mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang sudah dirindukan dengan rasa penasaran, sampai akhirnya mata Alex melihat seseorang yang sedang asyik makan malam bersama seorang pria, tubuh wanita itu tampak seperti Jessica ternyata salah saat dirinya melihat langsung.
"Maaf Mbak saya kira orang yang saya cari," Alex menangkup kedua tangannya meminta maaf pada wanita dan mungkin seorang pria suami dari wanita tersebut.
"Ini Dokter Alex?" tampaknya wanita hamil itu mengenal Alex.
"Iya sekali lagi maaf saya pikir istri saya," kata Alex lagi.
Istri?
Bukankah dirinya sudah menceraikan Jessica?
Tapi apakah sah jika ternyata Jessica masih mengandung anaknya?
Tidak! Alex masih berharap Jessica belum keguguran walaupun harapannya terlalu kecil.
"Saya salah satu pasien Anda Dok, tidak apa mungkin anda sedang panik," ujar wanita itu dengan ramah.
Alex pun tersenyum dengan terpaksa, senyum seperti biasanya seakan tak terjadi apa-apa, lalu pergi ke tempat lainnya berharap Jessica masih berada di sekitar, lelah mencari Alex pun duduk di sisi jalanan mengacak rambutnya dengan putus asa, penjual kaki lima mulai pulang membawa dagangan mereka sebab malam yang semakin larut meninggalkan tempat hingga sepi.
"Jessica," Alex mengeluarkan ponselnya memandang foto Jessica yang masih terpasang pada bagian utama layar ponselnya.
Sesekali mengusap hingga gerimis pun membasahi tubuhnya, Alex memutuskan untuk menuju mobilnya dari arah yang sama mungkin itu adalah wanita yang dicarinya, Aditya menjadikan jasnya sebagai penutup kepala Jessica, agar tak terkena gerimis, sayangnya Alex tidak melihat begitupun dengan Jessica sudah masuk ke dalam mobil Aditya.
"Gimana? enakan nasi gorengnya?" tanya Aditya sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Enak! aku nggak nyangka ternyata jajanan pinggir jalan tidak seburuk yang aku pikirkan," Jessica tersenyum bahagia merasa perutnya yang kencang.
"Bagus kalau begitu, itu baik bagi ibu hamil, harus bahagia!" ucap Aditya.
__ADS_1
"Iya dong," Jessica mengusap perut buncitnya yang tinggal menunggu waktu untuk melahirkan saja.