Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Tidak akan ada perceraian!


__ADS_3

Melihat Aditya yang berdiri di dekat Rima, akhirnya Nayla pun perlahan pergi tanpa sepengetahuan Rima.


"Kamu tahu Nayla, pengen banget itu orang aku cekik biar dia nggak kurang ajar lagi sama aku. Coba kamu pikir kalau aku nggak mau nolongin dia, pasti dia udah malu banget! Tapi, balasannya apa? Aku malah dinodai!" Kesal Rima tanpa mengetahui bahwa Nayla sudah pergi.


Aditya tersenyum mendengar curhatan hati Rima, tetapi memilih diam dan mendengar apa selanjutnya dikatakan istrinya tersebut.


"Aku baru pingsan, baru sadar, tapi dia udah ngomongin soal hak. Dia punya otak atau tidak? Sepertinya tidak!" Geram Rima dan melihat ke samping.


Nayla tidak ada, artinya dari tadi dirinya hanya berbicara sendirian saja.


"Nayla, kamu tega banget sama aku," kesal Rima dan menangis.


"Jadi dari tadi aku ngomong sendiri?" Rima mengusap wajahnya dengan putus asa.


"Aku, di sini!" Aditya menepuk pundak Rima, hingga akhirnya tersadar tidak sendirian.


Wajah Rima yang pucat semakin memucat saat melihat Aditya.


"Dok, saya capek banget ya, tolonglah Dok," Rima menangkup kedua tangannya berharap Aditya mengasihani dirinya.


Bayangkan saja sejak menikah, Aditya terus saja mengurung dirinya di dalam kamar, tidak keluar sama sekali. Makan juga di dalam kamar, bukan hanya lelah hati tapi juga lelah tubuh.


"Jalan-jalan yuk," Aditya kasihan melihat wajah Rima, mungkin dengan sedikit menghirup udara segar bisa membuat Rima lebih baik.


"Nggak mau aku mau istirahat!" Tolak Rima.


"Ya sudah," Aditya pun mengangkat istrinya, walaupun tanpa persetujuan dari Rima.


"Dok, lepasin!" Pinta Rima meronta-ronta ingin diturunkan.


"Diam atau aku lepaskan!" Ancaman Aditya mampu membuat Rima diam.


Sampai di kamar Aditya pun membaringkan Rima di atas ranjang, kemudian ikut berbaring.


Jantung Rima berdegup kencang, berdoa semoga saja dirinya tidak di ajak berolahraga ranjang lagi.


"Dok, kok ikutan tidur juga?"


"Aku mengantuk," jawab Aditya dengan mata tertutup.


Satu menit, dua menit.


"Dok, nggak usah di peluk," Rima mencoba melepaskan tangan Aditya yang melingkar di pinggang nya.


Aditya hanya diam dan tetap saja tangannya berada di sana.


"Dok," pinta Rima lagi.


"Lepas atau?" Aditya mengangkat kedua alis matanya.


"Jangan terus-terusan itu dong Dok, saya kan capek! Mana lecet juga! Lagian Dokter curang!"


Aditya membuka matanya merasa tertarik dengan ucapan Rima.


"Lecet? Curang?" Kemana di cari model istri seperti Rima, Aditya merasa awet muda bisa terus bersama Rima yang aneh.


"Iya!"

__ADS_1


"Masa nikahnya cuman bismillah doang! Gila kan?"


"Bukannya itu maunya kamu?" Tanya Aditya penuh intimidasi.


"Nggak gitu juga kali Dok, waktu itu saya cuma bercanda doang."


"Saya serius!"


"Dokter aja yang nggak beres!" Gerutu Rima.


Aditya tersenyum samar melihat wajah kesal Rima.


"Panggil Mas!" Pinta Aditya sambil menutup matanya.


"Apa? Ogah! Siapa anda?!" Rima pun tersenyum miring tidak ingin menuruti keinginan Aditya.


Mendengar jawaban Rima membuat Aditya kesal, dengan cepat menindih tubuh Rima.


"Dok, apaan sih?" Rima memukuli dada bidang Aditya entah mengapa jika berbicara setelah menikah Aditya terus saja berbuat sesukanya.


"Kamu bilang apa barusan?"


"Dasar tuli! Udah tua, tuli juga iya!" Gerutu Rima.


"Kamu ngatain saya tua?"


"Nah, kan! Budek! Udah dengar malah bertanya! Saya punya gelar baru untuk Dokter!"


"Apa?"


"Dokter cabul!"


Pantang baginya menyentuh wanita tanpa menikah.


"Dok! Apaan, sih?"


"Panggil Mas!"


"Nggak mau! Maksa banget pengen di panggil Mas, padahal udah cocok di panggil Opa!" Rima pun mendorong Aditya, bibirnya tertawa mengejek Aditya.


Rima langsung melompat ke lantai, berlindung di balik sofa.


"Kau mau kemana? Katanya mau istirahat?"


"Nggak jadi, Dokter juga jahat banget! Gimana kalau aku hamil?"


Aditya tersenyum samar mendengar pertanyaan Rima, ternyata istrinya itu bukanlah polos tetapi bodoh.


Dalam hati tertawa terbahak-bahak setelah mendapatkan mainan baru yang super lucu seperti Rima.


"Kenapa diam?"


"Kalau kamu hamil ya buncit," jawab Aditya santai.


"Itu jelas, tapi apa Dokter mau bertanggungjawab?"


Aditya terkejut mendengar pertanyaan Rima, aneh sungguh aneh.

__ADS_1


Bahkan begitu aneh.


"Aku ini suami mu gemblong!"


Rima terdiam seketika tersadar dari kebodohannya, ternyata Aditya memang suaminya.


"Iya, tapi kita kan nggak saling cinta! Memangnya mau sampai kapan pernikahan kita berlangsung?"


"Mau mu sampai kapan?"


"Sampai satu bulan ke depan!" Jawab Rima dengan cepat.


Aditya pun mangguk-mangguk, dalam hati masih terus tertawa mendengar jawaban Rima yang lucu dan menggemaskan.


"Bagaimana tidak menggigit bibir nya kalau dia aneh begini," gumam Aditya.


"Dokter ngomong apa?" Samar-samar Rima mendengar gumaman Aditya hingga curiga ada rencana jahat yang tengah di susun Aditya.


"Dasar lelaki hidung belang, udah berapa cewek yang kamu tipu begini! Awas aja kalau aku hamil kamu nggak mau tanggungjawab!"


Ancaman Rima begitu serius, sejak menikah dengan Aditya mendadak otaknya menjadi miring karena, terlalu shock dengan pernikahan dadakan tersebut.


"Aku mau pulang ke rumah Ibu dan Ayah! Aku nggak mau di sini! Rumah aku nggak di sini!" Walaupun rumah tersebut besar tetapi tidak terlalu nyaman bagi Rima.


Menurutnya sekalipun rumahnya gubuk itu lebih baik.


"Besok kita ke rumah Ibu dan Ayah, tapi Nayla juga mengajak kita ke kampung halamannya. Katanya Ayahnya sakit," jelas Aditya.


"Aku mau ke rumah Ibu, aku nggak mau di sini," Rima menangis tersedu-sedu, ingin segera pulang.


Aditya kasihan melihat Rima, sehingga dirinya tidak tega.


"Aku ingin bicara serius, sebentar saja," Aditya menepuk sofa meminta Rima duduk di sampingnya.


"Nggak mau!" Tolak Rima sambil terus menangis.


"Rima!"


"Iya," dengan wajah lembab Rima pun terpaksa duduk di samping Aditya, jujur saja dirinya takut jika Aditya marah dan malah mencekik lehernya.


Tidak mungkin dirinya mampu melawan tenaga Aditya.


Tangan Aditya mengusap air mata Rima, hingga ditepis oleh Rima.


"Kamu tahu kenapa kita menikah?" Tanya Aditya ingin berbicara serius.


"Terpaksa!" Jawab Rima menurutnya memang begitu adanya.


"Salah!"


Rima pun menatap penuh tanya, adakah alasan lain selain terpaksa.


"Karena, aku sudah jatuh hati pada mu," papar Aditya.


Sejenak dunia seakan berhenti berputar, Rima tidak mengerti dengan penjelasan Aditya barusan.


"Aku sudah tertarik pada mu sejak Nayla memerintahkan mu untuk menggoda ku, karena Nayla takut kedekatan ku dengan Jessica malah membuat ku jatuh hati pada Jessica, tidak akan ada perceraian di antara kita sampai kapanpun" jelas Aditya dengan jelasnya.

__ADS_1


"Kamu istirahat saja, aku keluar dulu," Aditya pun keluar memberikan waktu untuk Rima mencerna kata-katanya barusan.


Membiarkan Rima untuk istirahat sejenak, mengingat sudah dua hari ini Rima terus saja berada dalam kungkungan nya.


__ADS_2