
"Ahhhhhh......"
Entah sampai kapan Devan hanya menggesekkan miliknya, saat ini Nayla sendiri pun bingung. Antara meminta langsung atau hanya menunggu Devan memasukinya,, rasanya meminta langsung sungguh membuatnya menjadi malu. Tapi menunggu pun entah sampai kapan,, sedangkan tubuhnya sudah sangat menginginkan. Sampai saat ini pun tampaknya Devan masih ingin bermain-main dengan tubuh di sana, menatap wajah Nayla yang memohon. Devan tahu itu dan sangat suka melihat istrinya memohon.
"Mas aku...."
Hingga sesaat kemudian perlahan Devan mendorong miliknya.
"Ah...." desah Nayla merasa ada yang mulai memasukinya.
Parahnya Devan masuk hanya sampai di ujungnya,, belum setengahnya pun, apalagi semuanya.
Ya ampun! bolehkah Nayla menjerit, memohon saat ini. Tidak! dirinya masih berusaha memiliki harga diri untuk tidak memohon.
Devan kembali melepaskan hingga Nayla ingin sekali mencekik Devan, tapi sesaat kemudian memasukkannya kembali.
Dan melepaskan lagi.
"Mas!"
Nayla merasa benda tersebut kembali memasukinya, rasanya sangat nikmat berpadu dengan sedikit sakit. Mungkin karena milik Devan yang begitu besar.
Perlahan Devan kembali mendorongnya, sehingga merasa milik Nayla terasa penuh.
"Mas!" teriak Nayla sekencang mungkin,, tidak mampu lagi menahan jeritan yang sedari tadi di tahan mati-matian.
"Sayang, kamu sudah melahirkan tapi masih membuatku menjerit," ucap Devan menutup mata dan menenggelamkan miliknya, terasa hangat dalam lubang surga milik istrinya.
Devan tidak menyangka bahwa Nayla begitu nikmat, sekalipun sudah melahirkan anaknya. Bagaimana mungkin Devan tidak merindukan Nayla, tubuh istrinya tersebut membuatnya sangat candu.
Suasana semakin bertambah panas seiring dengan gerakan Devan begitu liarnya,, tidak ingin membiarkan dua benda kenyal milik Nayla menganggur dan terus bergerak kedua tangannya memegang dengan kuat.
Memelintirnya dengan rasa nikmat yang tiada tara,, panasnya malam ini begitu terasa sekalipun AC menyala.
Puas dengan gaya terlentang Devan meminta Nayla untuk berdiri.
"Mas.... Ah... Ah... Ah... Mas!!!" teriak Nayla sudah tidak dapat terkendali, mungkin dirinya akan merasa malu setengah mati setelah selesai bercinta.
Tapi untuk saat ini bibirnya terus berteriak,, menjerit sekencang mungkin,, merasakan betapa nikmatnya saat milik Devan terus menghujam. Sungguh besar dan berurat itu, di dalam lubang surganya terasa nikmat.
__ADS_1
"Sayang kamu bisa membuat Mas gila!" rintih Devan sambil terus bergerak maju mundur.
Puas dengan gaya berdiri,, kini Devan meminta Nayla untuk berbaring miring, sedangkan Devan berada di belakangnya. Rasanya Devan ingin memuaskan dirinya yang sudah lama menduda,, merindukan dekapan hangat hanya milik Nayla saja.
Apalagi saat lubang itu menghimpit miliknya. Ah kacau, otak Devan semakin liar dan ingin menikmati malam ini hanya dengan keringat saja.
Devan sampai merintih nikmat merasakan miliknya digigit oleh milik Nayla, inilah yang ditunggu-tunggu oleh Devan akhirnya saat itu dirasakannya.
"Sayang apa kamu sudah sampai?" ucap Devan.
"Mas!"
"Sama-sama sayang!!!" ucap Devan.
"Aaahhhhkkkkkk,"
Akhirnya keduanya mendapatkan puncaknya,, jika Devan masih mendapat satu kali maka tidak dengan Nayla, Nayla sudah cukup dibuat lemas oleh Devan, seketika itu juga Nayka terkapar dan Devan turun dari atas tubuhnya.
"Mau kemana?" Devan melihat Nayla turun dari atas ranjang, padahal istrinya tersebut masih terlihat kelelahan sekali.
"Aku mau ke kamar mandi," Nayla segera membersihkan diri, merasa tidak nyaman karena milik Devan membasahi, apalagi keringat yang bercucuran tentu akan membuatnya semakin tidak nyaman.
Devan menyusul Nayla ke dalam kamar mandi, istrinya tersebut sedang mengguyur tubuhnya di bawah shower. Devan tersenyum melihat tubuh polos istrinya, seketika memeluknya dari belakang,, Nayla terdiam merasakan tangan Devan melingkar di pinggangnya.
"Katakan kalau kamu ngajak Mas main di sini," bisik Devan.
"Mana ada!!!" elak Nayla, dirinya mandi sebab takut Felix rewel dan tiba-tiba Ana datang ke kamarnya dan melihatnya dalam keadaan acak-acakan.
Tentu akan sangat memalukan, tapi Devan sepertinya tidak mengerti, saat ini pun malah kembali memegang dua benda kenyal dari belakang.
"Mas, aku capek banget," pagi tadi acara akad, sedangkan malamnya berlanjut dengan pesta pernikahan.
Kemudian setelah itu Devan mengajaknya bertempur di ranjang, tanpa memberikan waktu istirahat untuknya.
"Mas janji nggak akan lama," Devan menggesekkan miliknya yang kembali mengeras pada bagian belakang Nayla.
Entah karena sudah terlalu lama menjanda, Nayla memilih menutup mata dan membiarkan Devan menjamah tubuhnya.
"Ahhhh.... Mas!" Nayla merintih kembali merasakan jilatan lidah Devan pada surga miliknya.
__ADS_1
Devan berjongkok dan menjilati lubang Nayla dengan penuh nafsu.
"Mas..." Nayla bersandar pada dinding menutup mata merasakan lidah Devan semakin masuk.
Tangannya menekan kepala Devan memberikan akses bebas tanpa ada batasan.
"Mas,"
Devan menjilati saat cairan kepuasan milik Nayla sudah keluar. Seketika Devan meminta Nayla berjongkok dan memasukkan batangnya kembali, menjilati dengan penuh damba. Devan pun memegang rambut Nayla, yang mengganggu pemandangan mata Devan.
"Sayang, buka matanya jangan ditutup terus, tatap Mas," ucap Devan.
Nayla pun menuruti, merasa cairan kental yang keluar, Nayla menjauh takut tersedak.
"Jilat sayang," Devan meminta Nayla menjilati hingga habis,, setelah habis di telan istrinya,, Devan menarik Nayla berdiri dan menciumi kembali bibir Nayla.
Devan membalikkan tubuh Nayla dan segera memasukinya, bergerak maju mundur hingga Nayla berteriak sekencang mungkin merasakan miliknya kembali penuh karena desakan milik Devan.
"Mas sudah!!! aku nggak kuat!!!" lutut Nayla melemah dirinya terperosok ke lantai, rasanya Devan seperti tidak merasa lelah dalam menggagahi dirinya yang sudah jelas-jelas tidak bertenaga.
Devan belum mendapatkan puncaknya, sekalipun terlentang di lantai dirinya tetap melanjutkan permainan.
"Mas ampun! aku nggak kuat Mas!!!" ucap Nayla yang masih terus mendapatkan hujaman dari Devan.
Akhirnya Devan mendapatkan puncaknya,, dirinya tersadar setelahnya.
"Sayang maafkan aku," segera Devan memasukkan Nayla ke dalam bathtub dan membersihkan tubuh Nayla.
Nayla sudah tidak dapat membuka mata, dirinya sudah tertidur pulas dalam kelelahan sekalipun masih di dalam bathtub, setelah merasa Nayla cukup bersih berlanjut Devan pun membilas dirinya lalu melilitkan handuk pada pinggangnya.
Kemudian mengangkat Nayla kembali ke atas ranjang,, hal ini benar-benar Devan memberikan Nayla istirahat,, ada rasa kasihan melihat wajah adalah Nayla, wajah yang meneduhkan tersebut dipandangi Devan dengan penuh rasa cinta.
Sungguh tidak menyangka bahwa dirinya kembali bersatu dalam ikatan pernikahan bersama Nayla, sejuta sesal pun kian terasa memilukan mengingat kata-kata kasar yang pernah terucap.
"Maaf ya sayang, dulu Mas egois nggak mikirin perasaan kamu, sampai anak kita jadi korban, Mas akan berusaha memperbaiki semuanya menjadi ayah yang baik untuk anak kita," ucap Devan,, sebuah ciuman pun mendarat di kening Nayla, tersenyum lembut menatap mata istrinya yang tertutup rapat.
Puas memandangi wajah Indah Nayla, Devan pun ikut tertidur pulas di bawah selimut yang sama, memeluk mesra tanpa ingin melepaskannya lagi.
"Aku mencintaimu,"
__ADS_1