Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Aku ikut!


__ADS_3

"Kamu yakin nggak mau ikut liburan di desa bersama yang lainnya?"


Dari kemarin hari Rima terus menutup mulut, tidak ingin berbicara sedikitpun dengan Aditya. Apa pun alasan Aditya ates pernikahan ini, tetap saja salah di mata Rima.


Menikahinya dengan memaksa sangatlah tidak bisa di anggap sebagai kesalahan ringan, sungguh yang dilakukan oleh Aditya kesalahan besar.


Menyangkut masa depan Rima yang sudah di bayangkan bersama dengan kekasihnya, orang yang dicintainya, meminangnya dan juga hidup bersama.


Anggap saja Aditya benar mencintainya, lantas bagaimana dengan dirinya yang tidak mencintai Aditya?


Bukankah seharusnya menikah dengan orang yang saling mencintai?


Bagaimana jika Aditya hanya sekedar tertarik, sedangkan besok atau lusa tidak tahu seperti apa?


Bagaimana cara menjalani biduk rumah tangga tanpa ikatan cinta?


Alasan hanya sebuah keterpaksaan, sampai saat ini pun Rima belum menerima pernikahannya.


Belum lagi dirinya yang sudah tidak suci, semuanya karena Aditya.


"Yakin tidak mau liburan bersama Nayla, Reyna, dan Jessica? Mereka di sana bersenang-senang," imbuh Aditya berusaha merayu Rima.


Semua yang terjadi sudah terlanjur terjadi, tidak ada yang bisa di rubah.


Aditya pun sudah membulatkan tekad untuk tetap bersama Rima, mempertangungjawabkan segala sesuatu yang sudah dilakukannya.


Sadar sudah bersalah Aditya pun akan menebus dengan membahagiakan Rima, sehingga tidak lagi ada kekeliruan dalam rumah tangga mereka.


"Apa kamu belum memaafkannya aku?" Aditya terus berusaha berbicara dengan Rima. Sekalipun Rima memilih memunggungi dirinya, berbaring di atas ranjang. Berbalut selimut putih mengurung diri di dalam kamar, mogok makan dan mogok bicara.


Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Rima, kesalnya masih saja sampai di ubun-ubun. Sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran Aditya yang menikahi nya begitu saja. Mungkinkah Aditya tidak memikirkan perasaannya, tidak menghargainya sebagai seorang wanita yang berhak menentukan masa depan dengan segala keputusan yang matang.


Tok... Tok... Tok


Suara ketukan pintu membuat Aditya terdiam, sesaat kemudian bangkit dari duduknya dan membuka pintu.


Arini berdiri di sana, dirinya beberapa hari ini juga mengistirahatkan diri dari pikiran. Seharusnya yang menjadi menantunya saat ini adalah Jessica, tetapi kenyataannya justru orang lainnya.


Seorang wanita asing yang sama sekali tidak dikenalinya. Entah siapa wanita tersebut sehingga membuatnya bertanya-tanya.


"Boleh Mama masuk?" Tanya Arini dengan hati-hati.


"Setelah kita bicara ya Ma."


Arini pun mengangguk, keduanya segera menuju ruang keluarga dan duduk di sana saling berhadapan.


"Sampai kapan pernikahan kalian? Tanya Arini tanpa basa basi, membayangkan bahwa ini hanya sebuah keterpaksaan sudah pasti ada perjanjian cerai.


Arini hanya bisa menahan sesak di dada, anaknya akan menyandang gelar sebagai duda padahal baru saja menikahi seorang wanita.

__ADS_1


Belum lagi usia Aditya yang sudah sangat matang, entah omongan apa yang akan di terimanya dari keluarganya sendiri setelah ini.


"Di antara keluarga, Mama yang paling awal menikah, termasuk juga mendiang Papa mu yang melangkahi Om Bima Putra. Dan di antara Kakak sepupu mu, usia mu yang paling tua. Tetapi, saat ini malah kamu yang masih belum menikah."


"Aku udah nikah Ma," Aditya mengingatkan statusnya kini.


"Apa Mama lupa?" ucap Aditya lagi.


"Iya benar..."


"Lalu?"


"Sampai kapan pernikahan kalian?"


"Sampai maut memisahkan!"


Arini terdiam sejenak, menatap wajah Aditya dengan penuh tanya.


"Aku dan Rima tidak akan pernah bercerai sampai kapan pun. Biar saja Rima begini, sampai dia bisa menerima kenyataan ini. Satu hal yang harus Mama tahu, kami tidak akan pernah bercerai!" Papar Aditya.


Arini mengusap air matanya, sekalipun masih dalam kebingungannya paling tidak jawaban Aditya begitu mudah meyakinkan dirinya.


"Apa kamu serius? Kamu mencintainya?"


"Mama tidak usah memikirkan status duda aku, karena tidak ada cita-cita aku ingin menjadi duda," ujar Aditya kesal.


"Sudahlah, jangan menangis lagi. Berdoa saja semoga Mama cepat dapat cucu, sekarang Mama bicara pada Rima. Asal bukan soal perceraian," imbuh Aditya.


Arini pun bangkit dari duduknya, kemudian memasuki kamar Rima dan Aditya.


Arini melihat Rima masih memunggungi arah pintu, sehingga tidak mengetahui dirinya yang masuk.


Arini pun memegangi kaki Rima yang tertutup selimut, secepat mungkin Rima menepisnya. Merasa tidak ingin di sentuh sama sekali oleh Aditya.


"Aduh" Arini terkejut dan hampir terjatuh, tubuh ringkih nya terlalu terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Rima.


Rima yang mendengar suara wanita seketika tersadar jika orang tersebut bukan Aditya, segera Rima duduk dan benar ternyata Arini.


"Tante, maaf," kata Rima dengan tidak enak hati.


Arini pun tersenyum kecil saat mendengar kata maaf yang keluar dari mulut Rima setelah menyadari bahwa dirinya yang barusan menyentuh kaki menantunya tersebut.


"Tadi aku pikir Dokter Aditya. Maaf ya Tante," Rima kembali mengulangi kata maafnya, dirinya sadar sudah tidak sopan pada orang tua.


"Boleh Mama duduk di sini?" Arini menunjuk sisi ranjang, setelah Rima mengangguk lemah, Arini pun duduk berdekatan dengan Rima.


Sejenak keduanya terdiam, larut dalam pikiran masing-masing, sampai akhirnya Arini pun memulai pembicaraan.


"Mama mau berterima kasih kepada kamu. Berkat kamu Mama tidak menanggung malu, sekali lagi terima kasih banyak, boleh Mama peluk kamu?"

__ADS_1


Rima pun menatap wajah Arini dengan bertanya-tanya apakah mertua jahat itu tidak pernah ada, dirinya selama ini seringkali mendengar curhatan tentang mertua dari teman-temannya.


Tidak ada satupun dari mereka yang memuji mertuanya, namun suami mereka yang mencintai begitu besar membuat mereka bertahan


Rima membayangkan punya suami jahat karena tidak mencintainya, kemudian mertuanya juga jahat seperti mertua temannya.


"Kamu kenapa?" Tanya Arini membuat Rima tersadar dari lamunannya.


"Tante nggak benci sama aku?"


Arini pun tersenyum dan menarik Rima ke dalam pelukannya.


"Kamu itu bukan menantu, tapi anak perempuan Mama," kata Arini sambil terus memeluk Rima.


Rima benar-benar tersanjung mendengar nya, hingga terdiam sejenak.


"Kamu mau kan jadi anak Mama?"


Rima pun mengangguk, melihat wajah Arini yang meneduhkan membuat hatinya merasa lebih baik.


"Terima kasih," Arini tersenyum sambil berjalan keluar dari kamar.


Rima menatap arah pintu yang perlahan di tutup rapat oleh mertuanya tersebut, awalnya berpikir dirinya sama sekali tidak diterima masuk ke dalam keluarga besar Aditya, menimbang dirinya hanyalah anak seorang penjual sayur di pasar tradisional.


"Aku mau berangkat ke desa. Kamu mau ikut atau tidak?" Aditya berdiri di ambang pintu dan langsung bertanya begitu saja.


Rima pun melempar pandangan ke arah lain, tidak ingin melihat Aditya.


"Kamu tahu? Kamar ini ada makhluk halus, kalau kamu sendiri di sini dia bisa muncul. Kalau aku berangkat, kamu di rumah ini sendirian. Karena, semua orang juga pergi," jelas Aditya memberi alibi.


Rima pun menatap Aditya penuh tanya, mungkinkah dirinya tinggal sendirian di rumah besar itu.


"Ya sudah, terserah pada mu," Aditya menuju lemari dan memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam koper.


"Lihat itu, biasanya makhluk itu ada di sana," Aditya menunjukkan sebuah lukisan yang terpampang di dalam kamarnya.


Rima pun meneguk saliva, sambil menimbang ajakan Aditya.


"Baiklah, aku berangkat!"


"Tunggu, aku ikut!" Rima pun meloncat dari atas ranjang dan bergegas menuju lemari, memasukan pakaiannya ke dalam tas sederhana miliknya. Bahkan pakaiannya juga sederhana dengan harga pasar diskon.


Aditya tersenyum samar, melihat Rima memilih ikut dengan nya.


Sampal akhirnya beberapa jam kemudian mereka tiba di desa kelahiran Nayla.


Bibir Rima tersenyum saat melihat yang lainnya sedang berkumpul.


"Hay semuanya," seru Rima dengan bahagia.

__ADS_1


__ADS_2