Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Ogah!!!


__ADS_3

Hari ini Devan sudah dibawa pulang, menjalani masa pemulihan di rumah,, ada sedikit rasa kesal karena Nayla sudah tidak menjenguknya dengan alasan sudah bekerja di Puskesmas kembali. Devan pun menawarkan untuk menjadi asistennya tetapi ditolak mentah-mentah oleh Nayla. Tidak masalah,, Devan mengerti alasannya karena tidak ingin terus berdekatan dengannya. Tapi sayangnya Devan tentu tidak kehilangan akal, berkat kecerdasan otak Devan, Nayla dikeluarkan dari tempatnya bekerja. Tentu tidak sulit Devan melakukan itu,, dia hanya perlu menghubungi kepala Puskesmas tempat Nayla bekerja saja sudah cukup untuk mengeluarkan Nayla dari Puskesmas itu.


##############


Nayla tidak mengerti sama sekali mengapa dirinya dikeluarkan dari tempatnya bekerja, bukankah beberapa hari yang lalu tetangganya sendiri yang merekomendasikan dirinya di Puskesmas. Tapi nyatanya saat ini dirinya harus gigit jari karena dikeluarkan begitu saja tanpa alasan yang jelas, terpaksa baru saja sampai di Puskesmas sudah pulang lagi ke rumah. Nayla mengingat tawaran Devan, sayangnya tidak ada minat untuk kembali bekerja di rumah sakit, apalagi untuk menjadi asisten mantan suaminya sendiri. Saat tengah berjalan pulang tiba-tiba ponselnya berdering tertulis nama Devan di sana, Nayla hanya mendesus saja tanpa ingin menjawabnya,, karena hatinya sedang tidak baik-baik saja saat ini.


Namun sayangnya ponselnya terus berdering tanpa henti, ingin sekali menghancurkan ponsel tersebut. Sesaat kemudian Nayla dengan terpaksa memilih menerima panggilan telepon tersebut.


"Halo," jawab Nayla dengan malas.


Devan tersenyum di seberang sana, dia tahu mantan istrinya itu sedang kesal. Andai saja Nayla tahu dia adalah otak dari segalanya mungkin dirinya akan dimaki habis-habisan.


"Kamu kenapa?" tanya Devan.


Pantaskan Devan bertanya demikian? sepertinya tidak. Tetapi itu hanya sekedar basa-basi saja sebenarnya.


"Cepat bicara tujuan Mas nelpon aku itu apa? mau nanya Felix?" ucap Nayla yang ingin sekali memutuskan panggilan sepihak, dia sedang tidak ingin mendengarkan basa-basi.


Nayla sangat suka menjadi seorang perawat namun sayangnya karirnya saat ini sedang tidak baik-baik saja.


"Mas lagi sakit,, butuh asisten untuk membantu pekerjaan Mas," ucap Devan.


"Ngapain Mas pusing mikirin pekerjaan? Dokter dan perawat yang kerja di rumah sakit kan banyak,, aneh sekali!!!" ucap Nayla yang merasa alasan Devan tidak logis sama sekali, sehingga menolak sampai saat ini.


"Terus kamu nggak mau kerja? kamu mau tunggu transferan dari Mas saja?" tanya Devan.


"Itu kan Mas yang mau sendiri,, aku nggak minta yah," ucap Nayla.


"Terus kalau kamu nggak kerja, nggak dapat transferan dari Mas,, Felix makan apa nanti? bayar kontrakan pakai apa? nunggu transferan dulu kan dari Mas?" tanya Devan dengan santainya dan juga menahan tawanya.


Dirinya hanya sedang berusaha memanas-manasi keadaan saja,, tahu sekarang suasana hati Nayla sedang tidak baik-baik saja. Sebenarnya tentu tidak masalah sama sekali jika Nayla terus memintanya mentransfer uang, hanya saja Devan terus ingin berdekatan dengan Nayla. Sedangkan Nayla sedang berdiri di bawah pohon sambil mendengarkan omongan Devan yang seakan menganggap dirinya tidak berguna.


"Kalau nggak ikhlas nggak usah ditransfer!!!" geram Nayla sambil memindahkan ponselnya dari telinga kiri ke sebelah telinga kanan.


"Felix makan apa?" tanya Devan.


"Maunya apa sih?" ucap Nayla kesal.


"Kamu harus kerja, biar tidak mengharapkan transferan Felix buat kebutuhan kamu," ucap Devan sambil tersenyum membayangkan wajah cantik Nayla yang sedang marah-marah saat ini.


"Baiklah,, tapi gaji ku lima puluh juta dalam satu bulan," ucap Nayla yang yakin Devan tentu tidak mau menggajinya sebanyak itu,, mana ada gaji seorang asisten lima puluh juta per bulan pikir Nayla.


"Tidak masalah!!!" ucap Devan yang langsung saja menyetujui tanpa pikir panjang.


Nayla langsung melongo tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Serius loh ini,, aku bilang lima puluh juta per bulan, itu juga belum termasuk dengan uang transportasi," ucap Nayla lagi.


"Iya,, karena otak mu itu sangat cerdas dan di atas rata-rata,, sangat sulit mendapatkan asisten seperti kamu. Mas gaji kamu seratus juta dalam satu bulan,, nanti siang datang ke rumah, jangan lupa masakin Mas soto ayam dan juga nasi panas," ucap Devan lalu memutuskan panggilan telepon sepihak dan tersenyum puas.


Nayla menatap layar ponselnya Devan sudah memutuskan panggilan telepon. Dan tadi dia mengatakan untuk datang ke rumah siang hari dengan membawa soto dan nasi hangat.


"Aku ini asisten Dokter atau asisten rumah tangga? sejak kapan ada pelajaran memasak saat kuliah keperawatan?" ucap Nayla sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal mengingat keinginan Devan.


Tidak masalah,, dirinya segera membuatkan makanan pesanan Devan, setelahnya memandikan Felix dan memakaikan baju baru yang baru saja kemarin Rani berikan pada Felix.


Nayla pergi dengan menggunakan taksi, kini tubuhnya berbalut dengan kemeja navy dan jeans senada. Tidak lupa menguncir rambut hitam pekatnya seperti ekor kuda, memakai sendal jepit kesukaannya yang berwarna putih.


Sampai di kediaman keluarga Devan, taksi pun berhenti dan Nayla segera turun. Sejenak Nayla menatap rumah tersebut, rumah itu yang menjadi saksi bahwa dirinya dianggap seperti keluarga. Rumah tempatnya bekerja, tinggal di sana bertahun lamanya, tidak pernah terbayangkan sebelumnya dia akan melahirkan Felix, cucu dari pemilik istana megah di hadapannya saat ini.


Sayangnya harta bukan segalanya sekalipun semuanya butuh harta, keinginan utama adalah kasih sayang dan juga cinta, tapi di sana juga Nayla mendapatkannya. Dengan perlahan Nayla berjalan menuju ke pintu utama, seketika satpam mengejar dirinya.


"Nayla, tunggu di sini dulu yah,, aku tanya ibu Ana dulu, apa diizinkan masuk atau tidak," ucap satpam yang sangat mengenal Nayla.

__ADS_1


"Siapa yang tidak mengizinkan dia masuk?" terdengar suara Devan dari dalam sana.


Satpam tersebut seketika menatap Devan yang sedang duduk di kursi roda.


"Maaf Tuan," ucap satpam tersebut.


"Kapanpun dia bebas keluar masuk di rumah ini,, apalagi yang digendongnya itu adalah anak aku," ucap Devan.


"Iya Tuan maaf," ucap satpam itu lalu berpamitan untuk pergi dan mengizinkan untuk Nayla masuk kapan saja.


"Kamu kenapa berdiri di sana?" tanya Devan sambil menatap penampilan Nayla.


Ya ampun kenapa wanita itu berpakaian seperti itu, siapa yang tidak terpesona melihatnya. Belum lagi dengan tubuh indahnya yang begitu sempurna, Devan takut nanti ada laki-laki yang menatap Nayla dengan nakal.


"Ada Felix," ucap Ana sambil berjalan cepat mendekati Nayla lalu mengambil alih Felix dari gendongan Nayla.


"Kamu masuk,, Mama mau main sama Felix," ucap Ana dan membawa Felix menuju kamarnya di mana ada suaminya di sana.


"Masuklah," ucap Devan lagi.


"I...iya," ucap Nayla sambil menatap di sekitarnya, tidak ada yang berubah dari rumah tersebut semua masih sama tanpa ada perubahan.


"Dorong!!!" ucap Devan.


"Punya tangankan?" ucap Nayla balik.


"Ya ampun asisten macam apa yang melawan bosnya," ucap Devan.


Dengan kesal Nayla mendorong kursi roda Devan.


"Ke gazebo di taman belakang saja, Mas mau makan di sana," ucap Devan.


Wajah Nayla langsung memerah begitu mendengar keinginan Devan.


Saat Nayla tengah mengandung Felix yang berusia dua bulan, keduanya selalu bertemu di gazebo taman belakang setiap malam harinya. Tujuannya adalah ada pohon mangga di depan gazebo tersebut, Nayla sangat suka meminta Devan memanjatnya.


"Mas yang sana!!! yang itu juga!!!" ucap Nayla.


Devan sudah ngos-ngosan sampai di puncak pohon mangga, tapi ternyata Nayla hanya menginginkan satu buah mangga yang berada di puncak. Sisanya dia ingin di bagian bawah saja, Devan hanya tersenyum kesal pada Nayla yang masih berstatus sebagai istri sirinya itu.


Setelan turun Devan memberikan tiga buah mangga yang sudah dipetiknya pada Nayla. Mata Nayla berbinar menatap mangga di tangannya.


"Ada ciuman kek dikit, buat bayaran gitu," goda Devan.


"Ishhh Mas apaan sih," ucap Nayla dengan wajah yang sudah memerah karena tidak menyangka dengan keinginan Devan tersebut.


"Sekali aja,," ucap Devan.


Nayla mengangguk dan mencium wajah Devan dengan hati yang tidak karuan sebagai bayaran sudah memetik mangga untuknya.


"Mas,, ada yang mendekat ke sini," ucap Nayla.


Devan menarik Nayla untuk bersembunyi di balik pohon, melihat seorang satpam yang tengah berkeliling memeriksa keadaan rumah setiap malam harinya, Nayla dan Devan tersenyum lucu, padahal mereka adalah penghuni rumah itu juga, apalagi Devan adalah anak dari pemilik rumah itu,, tapi malah takut pada satpam.


Aneh tapi nyata!!! kenangan itu mungkin mengikis cinta Devan pada Jessica, hingga berganti menjadi Nayla.


Flashback off...


"Kamu mikirin sesuatu?" tanya Devan sambil melihat Nayla yang hanya diam sampai di gazebo taman belakang, matanya kini menatap pohon mangga yang sudah tidak ada buahnya.


"Nggak," elak Nayla.


Devan mengangguk dan sesaat kemudian Devan memberikan sebuah map dan juga bolpoin pada Nayla.

__ADS_1


"Kontrak kerjasama!!! baca saja kalau kamu takut," ucap Devan.


Nayla kesal dengan cepat dia menandatangani tanpa membaca isi kontrak tersebut.


Devan tersenyum puas.


"Sebelum ditandatangani,, dibaca dulu sayang," ucap Devan sambil menatap Nayla karena jebakannya berhasil.


Nayla seketika melihat Devan, wajahnya sudah memerah sempurna saat ini.


Mengapa?


Karena panggilan sayang Devan barusan. Pertama kalinya Devan memanggilnya dengan sebutan seperti itu. Terdengar sangat mustahil atau mungkin telinganya yang sudah rusak.


"Kamu kenapa?" tanya Devan.


"Aku?" tanya Nayla sambil menunjuk dirinya sendiri dan anehnya jantungnya malah berdebar kencang.


"Iya Nayla... kamu kenapa melamun? kamu mikirin apa?" tanya Devan.


"Nggak apa-apa," ucap Nayla sambil meneguk salivanya beberapa kali, berdoa semoga suara jantungnya tidak sampai ke luar apalagi sampai di telinga Devan pasti sangat memalukan sekali.


"Sudah dibaca belum kontraknya?" tanya Devan sambil menunjuk selembar kertas yang masih berada di tangan Nayla.


Nayla kembali menatap kertas tersebut, dia yakin telinganya salah mendengar panggilan sayang dari Devan tadi.


"Nayla," panggil Devan lagi.


"Mas tadi panggil aku apa?" tanya Nayla.


"Nayla,, baca kontraknya,, itu yang Mas bilang,, memang kenapa?" tanya Devan seakan bingung padahal tahu Nayla tengah kebingungan saat ini.


"Iya," ucap Nayla lalu seketika membaca kontrak yang sudah ditandatanganinya itu.


"Mas?" ucap Nayla yang shock bukan kepalang begitu membaca poin-poin perjanjian kerjanya dengan Devan.


Devan mengangkat bahunya dengan santai seakan tidak ada beban sama sekali, dengan cepat mengambil alih kertas putih tersebut dari tangan Nayla.


"Mas masa iya aku harus ngurusin semua keperluan Mas juga," ucap Nayla sambil menunjuk kertas kontrak yang sudah berpindah tangan pada Devan.


"Sudah ditandatangani!!!" ucap Devan.


"Nayla ini asisten bukan istri Mas," ucap Nayla.


"Itu berarti jadi istri Mas saja sekalian," ucap Devan.


"Enak saja!!! mana ada main paksa!!! terus masa iya status kita pacaran sih Mas?" ucap Nayla.


Sungguh dia menyesal rasanya tidak membaca kontrak gila itu terlebih dahulu.


"Kalau kamu melanggar kontraknya maka kamu akan membayar denda sebanyak sepuluh miliar dan Felix Mas ambil," ucap Devan lagi.


"Dasar gila!!!" ucap Nayla.


Devan langsung tertawa penuh kemenangan, sebenarnya dirinya hanya ingin bersama Nayla,, dia sangat takut jangan sampai Nayla menjadi milik orang lain, terserah saja jika orang menganggap dirinya curang, yang penting niatnya baik untuk membahagiakan orang yang sangat dia cintai dan juga anaknya. Suatu hari nanti Nayla akan mengerti betapa besar cintanya untuk Nayla.


"Mas mana ada kontrak kerja begitu," ucap Nayla yang masih belum terima sama sekali.


"Ada sayang ada,, kita kan pacaran," ucap Devan lagi.


"Ogah!!!" ucap Nayla lalu melangkah pergi.


Devan tersenyum menatap punggung Nayla yang semakin menghilang dari pandangan matanya.

__ADS_1


__ADS_2