
Akhirnya semua kembali seperti semula, setelah dalam beberapa lama ini mengalami pahit getirnya rumah tangga yang sangat kelam, Jessica dan Devan kembali bahagia dengan pernikahan mereka, bahkan keduanya memutuskan untuk pergi berlibur ke luar negeri. Memperbaiki hubungan mereka yang sempat retak, sekaligus untuk mengulangi honeymoon yang kali ini sudah menjadi babymoon. Sungguh hari-hari sangat membahagiakan bagi keduanya.
Menara Eiffel atau dikenal juga dengan La Tour Eiffel, merupakan salah satu bangunan ikonik dan sangat terkenal di dunia. Bangunan yang ada di kota Paris, Perancis ini menjadi salah satu monumen berbayar yang paling banyak dikunjungi di dunia,, sudah sangat lama Jessica memimpikan berlibur bersama Devan di negara impiannya itu, dan akhirnya setelah melewati terjalnya badai rumah tangga, kini dia benar-benar bisa mewujudkan mimpinya itu.
"Devan terima kasih banyak," teriak Jessica dengan sangat kencang, merentangkan kedua tangannya dan mendongak menatap langit.
Indahnya langit kini sama dengan bahagianya hatinya saat ini, Jessica tidak bisa mengatakan dengan kata-kata bahwa dia sangat bahagia,, Devan akhirnya hanya menjadi miliknya seorang saja,, tidak ada lagi Nayla yang menjadi istri keduanya,, tidak ada lagi bayang-bayang Nayla,, dia dan Devan sudah hidup bahagia saat ini.
Begitupun dengan Devan ikut tersenyum melihat Jessica seperti sekarang ini. Devan begitu rindu dengan senyuman Jessica seperti sekarang ini, senyum yang lepas tanpa beban sama sekali.
Tiba-tiba Devan mengenang wajah Nayla, tapi apa daya antara dirinya dan Nayla kini tinggal kenangan saja, Devan benar-benar tidak ingin mengingat itu semua lagi. Sekarang dia benar-benar membuka lembaran baru bersama dengan Jessica istri pertamanya.
Sepulang dari berlibur Devan dan Jessica sepakat untuk merayakan pesta pernikahan mereka yang sempat tertunda beberapa bulan yang lalu. Pesta akan diadakan kembali dengan meriah dan sangat besar-besaran di salah satu Hotel milik Bima Putra yang begitu megah dan juga sangat mewah.
Bahkan Nayla pun diundang oleh Jessica secara langsung untuk datang merayakan pesta pernikahan mereka.
Jessica mengetuk pintu rumah kontrakan Nayla, sebuah rumah kontrakan sederhana kini menjadi tempat tinggal Nayla bersama dengan Reyna dan juga Felix anak Nayla, memang tidak ada kemewahan di dalamnya tetapi itu sangat menenangkan. Nayla pergi membukakan pintu untuk orang yang mengetuk pintu,, sekalipun ini sudah mulai larut tetapi Nayla tetap membuka pintu untuk orang itu. Begitu membuka pintu,, mata Nayla langsung melihat siapakah seseorang yang telah mengetuk pintu kontrakannya.
Ternyata Jessica dan Devan yang sedang berdiri di depan pintu, Nayla tersenyum tulus kepada pasangan suami istri yang kini sangat berbahagia di hadapannya itu. Nayla benar-benar sudah berdamai dengan keadaan,, makanya dia langsung tersenyum tulus begitu melihat Jessica dan Devan yang datang. Nayla tidak ingin lagi ada dendam atau sakit hati diantara mereka karena semua sudah selesai. Dan Nayla tidak mempermasalahkan sekalipun mantan suami dan mantan madunya itu datang menemuinya, mungkin keduanya ingin menemui Felix begitulah yang dipikirkan Nayla. Nayla mengingat sudah satu bulan setelah bercerai,, Devan memang tak pernah lagi melihat Felix.
"Ini," ucap Jessica sambil memberikan sebuah undangan.
__ADS_1
Nayla langsung menatap penuh tanya tanpa ingin mengambil undangan itu.
"Ambil ini," ucap Jessica sambil mengambil tangan Nayla yang masih menggantung lalu meletakkan undangan itu di tangan Nayla.
"Jangan lupa datang yah,, atau kamu boleh tidak datang kalau memang kamu seorang wanita pengecut," ucap Jessica sambil tersenyum penuh kemenangan, inilah salah satu alasan Jessica mengapa meminta Devan untuk merayakan pesta pernikahan mereka secara mewah dan sangat besar-besaran. Jessica ingin membuktikan bahwa dirinya tidak sebanding dengan Nayla, apalagi untuk bersaing dengannya. Sama sekali tidak akan ada bandingannya.
Nayla tampak mengangguk lemah,, bukan kecewa terhadap pesta yang akan mereka adakan, melainkan kecewa kepada Devan yang ternyata datang bukan untuk melihat anaknya,, padahal Nayla ingin sekali Devan melihat anaknya juga,, agar anaknya itu tidak kekurangan kasih sayang dari Ayahnya.
Bukan cinta pada Devan yang Nayla pertanyakan, apalagi berharap,,, Nayla hanya berharap saja Felix mendapatkan kasih sayang utuh dari kedua orang tuanya sekalipun orang tuanya sudah bercerai. Tidak lebih dari itu keinginan Nayla.
Tapi sudahlah!! Nayla tampaknya tidak mau lagi berharap Devan akan memberikan kasih sayang pada Felix, mungkin janin yang masih dikandung oleh Jessica sudah membuat Devan melupakan Felix.
"Nayla apa kamu memikirkan sesuatu?" tanya Jessica.
"Aku akan datang kalau ada waktu," ucap Nayla,, dirinya tidak mau berjanji karena Felix masih kecil.
"Sombong sekali kamu,," ucap Jessica sambil tertawa mengejek,, seorang Nayla merasa dirinya sangat penting sehingga untuk datang ke pesta pernikahan mereka saja dirinya mengatakan sibuk.
"Kamu itu tinggal di gubuk reyot saja masih sombong juga," ucap Jessica lagi lalu tertawa mengejek.
Nayla hanya menarik nafas panjang dan diam tanpa berkata apa-apa lagi, percuma saja dia berdebat itu hanya akan membuat pertengkaran mereka menjadi bahan tontonan oleh orang lain. Apalagi kini dirinya tinggal di perumahan yang kumuh, gang yang sempit,, bahkan rumah-rumah berdekatan semua. Membuat para tetangga langsung bisa mendengar jika ada suara yang sedikit saja meninggi.
__ADS_1
"Jessica ayo kita pergi!!" ucap Devan sambil melingkarkan tangannya di pinggang Jessica.
Wajah datar tanpa senyuman itu kembali dilihat oleh Nayla, bahkan mereka serasa asing tanpa pernah tidur di bawah selimut yang sama.
"Jangan lupa datang yah," ucap Jessica sambil tersenyum bahagia,, lalu membalas pelukan Devan dan mereka pun masuk ke dalam mobil.
Nayla pun menutup pintu kontrakannya,, lalu melempar undangan tersebut ke atas meja. Reyna lalu mengambil dan membuka undangan tersebut.
"Oh,, ternyata ini undangan pesta pernikahan mereka yang sangat membahagiakan itu," ucap Reyna setelah membaca undangan itu.
Kemudian Reyna melemparkan kembali undangan itu ke atas meja, lalu beralih menatap Nayla yang saat ini sedang duduk memeluk Felix.
Satu butir air mata Nayla jatuh mengenai pipi Felix yang saat ini sudah mulai terisi dengan lemak,, tapi tidur bayi imut itu tidak terusik sama sekali meskipun terkena air mata Ibunya. Sekalipun Nayla menghapus air matanya di pipi Felix.
"Kamu kok nangis lagi,, katanya nggak mau nangis lagi, gimana sih?" ucap Reyna kesal, jika Nayla sudah bertemu dengan Devan atau Jessica pasti air mata Nayla akan tumpah, padahal selama Nayla bercerai dengan Devan,, Nayla sudah tersenyum kembali.
"Aku bukan sedih karena acara pesta itu Reyna,, tapi aku sedih karena Devan tidak menanyakan Felix sedikit pun,, apalagi melihatnya," ucap Nayla sambil melihat anaknya.
"Nayla kalau kamu sedih terus kapan Felix akan bahagia, Ayolah Nayla tersenyum bahagia!!! karena itu bisa membuat anakmu bahagia juga," ucap Reyna.
Nayla mengangguk berusaha tegar demi sang anak yang masih bayi, Nayla harus bisa kuat meskipun anaknya hanya akan mendapatkan kasih sayangnya saja.
__ADS_1
"Lupakan Dokter Devan,, Nayla!!! anggap dia sudah mati dan bahagiakan Felix meskipun tanpa dia,, meskipun tanpa kasih sayang Ayahnya,, jadilah Ibu dan Ayah untuk Felix," ucap Reyna.