Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Dasar tua-tua Alay!


__ADS_3

Mungkin Rima benar-benar mampu membuat Aditya merasa tertarik sehingga tidak perlu menunggu lama sudah langsung jatuh hati.


"Mas, di sini?"


Nayla dari tadi mencari keberadaan suaminya itu, dan ternyata ada di gazebo taman belakang. Puas Nayla mencari dari timur ke barat, selatan dan juga utara.


Ternyata suaminya ada di depan mata, terlalu lebay juga memang tidak baik. Sehingga lebih baik sedang-sedang saja.


"Kamu nyariin Mas?"


"Iya. aku pengen makan nasi goreng di pinggir jalan." Mulut Nayla mengerucut, mengingat Devan baru saja pulang bekerja tentunya masih cukup lelah.


Ada rasa takut juga untuk meminta tetapi dirinya juga ingin makan ditemani oleh suaminya, Devan sejenak terdiam memperhatikan wajah Nayla, wajah wanitanya yang menggemaskan itu terlihat memohon padanya.


Mungkin nanti ada waktunya Devan akan menunjukkan wajah Nayla saat seperti ini, dengan tujuan agar Aditya pusing dan semakin mempercepat proses mendapatkan gelar sebagai seorang Ayah.


"Mas," Nayla merengek sambil menggerakkan tangan Devan, berusaha untuk menyadarkan dari diamnya.


"Kamu hamil ya?" Devan memegang perut Nayla, merabanya seakan tengah mencari sesuatu.


Nayla pun mengangguk, tidak menampik sama sekali. Hanya saja belum tahu bagaimana cara memberitahukan kepada Devan.


Bahkan sebenarnya tidak perlu memberitahu, pasti Devan tahu sendiri.


"Anak siapa?" Seloroh Devan.


Mata Nayla membulat sempurna, pertanyaan Devan seakan merendahkan dirinya sebagai seorang wanita.


"Mas, tau ini apa?" Nayla menunjukkan sebuah cangkir berisi kopi di dalamnya, itu adalah milik Devan.


"Kopi," jawab Devan santai.


"Sudah pernah merasakan mandi air kopi panas?" Tangan Nayla memegang gelas bersiap-siap untuk menyiramkan pada wajah Devan.


Namun, gerakan Nayla terbaca sehingga dapat dicegah, dengan cepat Devan memegang tangan Nayla, sebelum kopi panas itu benar-benar mengenai wajahnya yang tampan.


"Mas, bercanda," kata Devan dengan panik, berharap kemarahan Nayla segera mereda.


"Nggak lucu!"


"Sayang, maaf. Mas, cuma bercanda. Udah pasti itu anak Mas, kan kita yang buat. Mas, yang cetak."


Nayla memang tidak jadi menyiramkan air kopi panas pada wajah Devan, tetapi tetap saja perut Devan terkena jepitan kepiting lokal yang luar biasa.


"Sayang, sakit," keluh Devan sambil berusaha melepaskan tangan Nayla.


"Makanya, kalau ngomong itu di pikir dulu!"


"Hehehe, maaf," Devan pun mengelus perut Nayla, merabanya seakan tengah berpikir.


Nayla pun melepaskan tangannya, kemudian menatap wajah Devan.


Devan menariknya hingga akhirnya duduk bersandar pada Devan.

__ADS_1


"Kita ke puncak yuk."


Nayla memutar leher, sedikit mendongak menatap Devan penuh tanya.


Devan pun mengusap wajah Nayla, tersenyum penuh kebahagiaan.


Berdua saja, tanpa anak-anak," pinta Devan lagi.


"Kok tanpa anak-anak Mas?"


"Sekali-kali kita pacaran, anggap saja kita sedang pacaran."


Nayla tertawa terbahak-bahak mendengar alasan Devan yang aneh.


Tentu saja aneh, dari mana datangnya pacaran sedangkan anak saja sudah dua. Bahkan, hampir tiga dengan janin di dalam perutnya saat ini.


Dan Devan masih mengatakan tentang pacaran?


Aneh dan lucu tentunya.


"Sayang, kita juga perlu waktu berduaan. Sekalian kita melihat kebun teh."


"Mas, kita ke kampung aku aja gimana? kasihan Ayah lagi sakit, terus dia pengen banget ketemu sama Felix dan Adnan."


Devan terdiam sejenak memikirkan keinginan Nayla, Ayah mertuanya itu memang begitu menyayangi Nayla sekalipun sudah berpisah dengan Ibu yang melahirkan Nayla.


"Mas, boleh ya."


Nayla tersenyum bahagia saat Devan mengangguk yang artinya menyetujunya, Nayla tentunya bahagia mengingat dirinya sudah lama tidak pulang ke kampung halamannya.


Sedangkan Devan pernah ke sana, namun tidak lebih selain ke rumah Ayah mertuanya, mungkin kali ini bisa merasakan berlibur di sana.


Menghirup udara segar sejenak, menepikan diri dari segala kesibukan ibu kota.


"Kita ajak, Rima, Jessica, Reyna juga Mas. Agar dia tahu seperti apa Nanda di besarkan di kampung," Nayla benar- benar bahagia hingga bibirnya terus saja tersenyum.


"Tidak masalah asalkan kamu tidak terlalu banyak bergerak, ingat! Ada kecebong Mas di sini," Devan menyentuh perut Nayla.


"Siap bos," Nayla tersenyum sambil tangannya memberi hormat, menggambarkan betapa dirinya sangatlah bahagia saat ini.


Senyuman Nayla tentunya adalah sumber cahaya kebahagiaan bagi Devan, tidak ada yang lebih indah lagi.


Bahkan cahaya pelangi pun tertutup seketika setelah Devan melihat senyuman Nayla.


"Mas, apasih. Liatnya gitu banget," Nayla tersipu malu saat menyadari tatapan Devan yang begitu dalam.


Beralih menatap lainnya dengan menggigit bibir bawah demi menahan senyum.


"Kenapa?" Devan tersenyum sambil menggoda Nayla.


"Aku, malu tau Mas. aku lebay Mas? Udah tua masih malu-malu kaya ABG labil aja," Nayla pun malu dengan tingkahnya saat ini.


Tetapi apa daya Devan terlalu memiliki daya tarik tersendiri sehingga dalam waktu bersamaan bisa membuatnya tidak karuan.

__ADS_1


"Cie, Bunda Nayla. Ayah, Devan. Pacaran ni ye," Rani datang dan langsung menggoda Nayla dan Devan yang tengah duduk bersama sambil menatap penuh cinta.


Rani kini sudah cukup besar, sehingga dapat melihat ada yang berbeda dari tatapan Nayla dan Devan.


Memang tidak lucu juga, sebab sejak kecil bocah itu memang cerewet sesuai dengan didikan Devan sendiri.


Devan mendesus kesal, keponakan nya yang abstrak itu memang selalu saja menjengkelkan.


"Dasar suntel kenyut, kenapa kau ada di mana-mana!" Kesal Devan.


"Mas, apaan sih! Nggak segitunya juga," Nayla hanya mampu menahan tawa ketika perdebatan Devan dan Rani sudah dimulai.


Sepertinya saat ini pun sama saja, Rani dan Devan memang sangatlah dekat sehingga wajar jika keduanya seringkali berdebat hal-hal aneh.


"Ganggu orang lagi romatis-romantisan saja!" Omel Devan lagi.


"Romantis? Lebay! Dasar tua-tua Alay!" Ejek Rani.


"Dasar suntel kenyut, awas kau!"


Rani secepatnya melarikan diri sebelum Devan mengamuk.


"Mas, udah."


"Cium!"


Kinanti tersentak saat mendengar permintaan Devan.


"Cepat! Agar emosi ku meredam!"


Nayla pun tertawa kecil melihat tingkah Devan seperti anak-anak, aneh dan lucu tentunya.


"Cepat


"Iya," sambil tertawa kecil Nayla pun mencium pipi Devan, mungkin dengan demikian bisa membuat suaminya itu lebih tenang.


"Sebelahnya lagi!"


"Kan, udah sebelah."


"Sebelahnya lagi, kalau tidak miring pipi Mas karena tidak seimbang."


Nayla mengangkat alisnya merasa lucu tentunya saat mendengar penjelasan Devan semakin menyimpang saja.


"Cepat!"


"Iya," Nayla pun terkekeh geli kemudian mencium pipi Devan.


Tanpa di duga Devan bersendawa hingga membuat tawa Nayla seketika terhenti.


"Kenyang makan cinta," kata Devan.


"Ahahahaha, gombal!" Nayla kembali tertawa terbahak-bahak tanpa bisa di tahan, sungguh Devan sangat lucu dengan segala keanehan.

__ADS_1


__ADS_2