Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Udahlah lupakan masa lalu!!!


__ADS_3

"Ya ampun,, aku ingin sekali mencekik keempat pria gila itu," ucap Reyna lalu kembali masuk untuk melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu tadi. Nayla menatap punggung Reyna yang perlahan menghilang setelah pintu kamar ditutupnya rapat.


Tidak berselang lama ada yang kembali,, ternyata Denis yang kembali datang menemui Nayla. Nayla tidak jadi melangkah masuk,, seketika dia langsung menatap Denis.


"Ada yang ketinggalan Mas?" tanya Nayla dengan penuh tanya sambil menatap di sekelilingnya mungkin ada barang Denis yang ketinggalan.


"Hati aku yang tertinggal di sini," jawab Denis.


Nayla tersenyum begitu mendengar gombalan Denis yang dari dulu sampai sekarang tidak berubah, masih begitu pandai dalam mengatakan kalimat rayuan.


"Nayla, Mas mau bicara berdua saja," ucap Denis.


Nayla pun duduk di kursi begitu juga dengan Denis.


"Kita sudah cukup lama berpacaran sejak masih kuliah, dan saat ini kamu sudah bercerai, aku masih mengharapkan kamu," ucap Denis mengutarakan segala yang tersimpan di dalam hatinya pada Nayla.


Selebihnya terserah pada Nayla menerima atau menolak.


"Tapi mas aku..." ucap Nayla yang sudah dipotong lebih dulu oleh Denis.


"Mas mohon Nayla,, Mas sudah lama menunggu kamu beberapa bulan ini, kita dipertemukan kembali, Mas sangat ingin kita kembali seperti dulu,, Mas sangat mencintai kamu dan kamu sudah mengenal Mas cukup lama,, apa masih ada keraguan lagi?" ucap Denis, harapan Denis cuman satu Nayla mau kembali lagi dengannya untuk menyusun kepingan-kepingan cinta yang pernah hancur,, karena sebuah insiden yang membuat hubungan keduanya menjadi hancur.


"Mas,, aku ini udah punya anak,, Mas bisa mendapatkan yang lebih baik dari aku," ucap Nayla.


"Mas nggak bisa Nayla,, Mas hanya ingin kamu,, Mas sangat mencintai kamu, jangankan anak satu,, dua atau tiga pun aku juga tidak masalah," ucap Denis yang memang sungguh-sungguh masih sangat mencintai Nayla.


Nayla merasa terharu begitu mendengarkan isi hati Denis, tetapi saat ini Nayla belum bisa menerima pria lagi dalam hidupnya karena masih terlalu trauma.


"Mas mohon Nayla bertahun-tahun lamanya kita berpacaran, semua impian kita tentang masa depan hancur karena kamu yang harus menikah dengan pria lain, dan saat ini Mas masih ingin mewujudkan semua impian kita tentang masa depan," ucap Denis.


Nayla sejenak terdiam menimbang-nimbang keinginan Denis, satu tahun menjadi janda Nayla merasa lebih baik, tetapi dirinya juga sudah mengenal Denis cukup lama, sudah mengenal Denis jauh sebelum mengenal Devan.


"Paling tidak kita berpacaran dulu,, mungkin untuk beberapa bulan ke depan,, kita bisa pikirkan untuk menikah," ucap Denis yang masih terus berusaha meyakinkan Nayla bahwa dirinya memang sangat bersungguh-sungguh.


"Ya sudah Mas aku mau," ucap Nayla sambil menganggukkan kepalanya, dirinya mencoba untuk menghilangkan rasa trauma mengingat tidak baik terus berada dalam luka yang begitu dalam.


Denis langsung tersenyum penuh kebahagiaan, tidak menyangka akhirnya dirinya bisa bersama Nayla lagi, setelah berpisah dalam kurun waktu tahunan. Anehnya Denis masih begitu setia pada Nayla sekalipun keduanya tidak saling mengetahui keberadaan satu sama lainnya.


Devan masih menatap dari seberang sana, mendengar Nayla menyetujui untuk kembali ke dalam pelukan mantan kekasihnya. Hati Devan langsung hancur berkeping-keping seiring dengan rasa cemburu yang kian membuncah. Seketika Devan pergi melajukan mobilnya, kali ini dia benar-benar pergi dengan perasaan yang sangat campur aduk. Di saat sedang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi,, tiba-tiba Devan kehilangan kendali dan hampir saja menabrak seseorang.


"Aaaaaa," teriak wanita itu.

__ADS_1


Seketika Devan mengerem mendadak lalu turun dari dalam mobil untuk menghampiri wanita itu.


"Anda baik-baik saja?" tanya Devan.


"Iya," jawab Jessica sambil mendongak menatap Devan, pria yang hampir saja menabrak dirinya ternyata adalah Devan.


"Jessica?" ucap Devan yang juga menyadari ternyata Jessica.


"Maaf tadi aku nyebrang nggak lihat-lihat," ucap Jessica, dalam hati Jessica menebak bahwa Devan pasti baru saja habis dari rumah Nayla melihat dari arah mobil Devan.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Devan.


"Iya," jawab Jessica.


"Aku permisi!!!" ucap Devan lalu kembali masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya seakan Jessica adalah orang asing baginya, Devan bawa rasa sakit saat mendengar Nayla menerima tawaran cinta dari pria lain. Hukuman ini terasa sangat menyakitkan, bagaimana bisa Devan hidup tanpa Nayla dan Felix.


Devan seketika ingin pergi menemui Papanya, ingin mencari solusi yang terbaik atas hubungannya dengan Nayla. Dengan harapan besar Bima Putra bisa membantu dirinya. Sampai di perusahaan Devan langsung masuk tanpa permisi, Bima Putra tersenyum saat melihat Devan datang menemui dirinya, mungkin cukup lama keduanya tidak bertemu setelah perceraian Nayla dan Devan. Karena Devan lebih menutup dirinya setelah perceraiannya dengan Nayla, berubah semakin dingin dan arrogant. Hanyut dalam luka cinta lara tanpa bisa memiliki istri sirinya yang sudah diceraikannya sendiri.


"Pa,, aku mau Papa bicara dengan Nayla,, aku ingin kembali dengan Nayla, Devan tidak bisa hidup tanpa Nayla dan Felix," ucap Devan secara langsung,, tidak bisa dengan caranya sendiri, Devan memutuskan memakai jalur orang dalam.


Ana tersenyum bahagia saat mendengar kalimat tersebut dari Devan, ada perasaan bahagia yang teramat dalam begitupun dengan Bima Putra tapi keputusan tentu ada pada Nayla sendiri.


"Pa,, Papa mendengarkan aku kan?" tanya Devan lalu beralih menatap Ana yang sedang duduk di sofa menemani suaminya bekerja.


"Semua keputusan tentu ada pada Nayla sendiri,, Mama atau Papa bisa apa," ucap Ana sambil mengangkat kedua bahunya dengan santai.


"Aku yakin jika Mama dan Papa yang bicara pada Nayla,, pasti Nayla akan setuju untuk kembali padaku, apa Papa tidak ingin Felix berkumpul bersama kita?" tanya Devan.


Mendengar nama cucu kesayangannya disebutkan, membuat hati Bima Putra dan Ana menjadi tertarik, akan tetapi mungkinkah Nayla mau kembali kepada Devan yang sudah menyakitinya pernah?


"Pa,, aku mohon," ucap Devan yang terus mengiba berharap Bima Putra mau mencoba untuk berbicara dengan Nayla.


"Tapi Papa tidak berjanji akan mendapatkan hasil seperti yang kamu inginkan, semua keputusan ada pada Nayla tentunya," ucap Bima Putra.


"Kalau dia menolak itu karena kesalahanmu sendiri yang dulu terus menyakiti dirinya, kalau Mama yang jadi Nayla, mungkin Mama juga tidak akan mau balik sama laki-laki seperti kamu," ucap Ana yang ikut menimpali.


Devan menelan salivanya dengan pahit, seakan keadaan benar-benar tidak mengerti akan perasaannya saat itu. Waktu itu dirinya juga berusaha setia pada Jessica di atas tanggung jawab pada Nayla, andai obat perangsang itu tidak pernah diminumnya mungkin Felix tidak pernah ada lahir dari rahim Nayla sebagai anak Devan. Felix yang menjadi alasan waktu itu,, Devan terpaksa menikahi Nayla, tanpa mengerti mengapa bisa jatuh sedalam ini,, dia mencintai Nayla.


Semudah itu Devan jatuh cinta pada Nayla,, padahal tidak ada yang menonjol yang dilakukan oleh Nayla sendiri,, malahan mereka lebih kebanyakan bertengkar. Jika bisa Devan memohon jangan terus salahkan dirinya seperti ini,, Devan juga terluka.


#############

__ADS_1


Keesokan harinya Bima Putra dan Ana berkunjung ke rumah kontrakan Nayla, keduanya memang cukup sering menjenguk cucu kesayangannya meskipun kadang tak lama, karena mereka diam-diam tidak ingin Devan mengetahuinya.


"Cucu Oma," ucap Ana.


Felix langsung mengulurkan tangannya ingin digendong oleh Ana, Felix memang merasa sangat nyaman saat berada dalam dekapan Ana.


"Papa mau bicara Nayla," ucap Bima Putra.


Setelah memberikan Felix kepada Nayla,, Nayla langsung menatap Bima Putra dengan serius.


"Papa datang ke sini bukan hanya untuk menjenguk cucu Papa saja, tapi Papa juga ingin mengatakan bahwa Devan meminta Papa untuk mengatakan jika dia ingin rujuk kembali dengan kamu, demi anak kalian," ucap Bima Putra yang akhirnya mengatakan tujuan utamanya.


Tidak ada paksaan sama sekali,, Nayla bebas memutuskan apa saja sekalipun Nayla menolak. Sekalipun di dalam hati Bima Putra maupun Ana berkeinginan besar agar Nayla dan Devan bisa bersatu kembali,, Bima Putra kasihan cucu kesayangannya Felix yang tidak pernah bahagia sejak dalam kandungan. Ingin menuntut Devan untuk membahagiakan cucu kesayangannya itu, Bima Putra tidak yakin jika nanti Felix memiliki Ayah sambung akan bahagia. Akan tetapi tentu saja tidak semudah itu, karena luka yang dirasakan oleh Nayla begitu besar.


Namun harus diakui jika Devan pun tidak sepenuhnya bersalah, ini adalah kesalahan masa lalu yang berujung menarik paksa Nayla untuk masuk ke dalam kehidupan keluarganya.


"Maaf Pa tapi aku tidak bisa," ucap Nayla.


Bima Putra mengerti begitupun dengan Ana.


"Coba dipikirkan lagi mungkin kamu butuh waktu,, tetapi jika kamu khawatirkan Devan akan mempermainkan kamu lagi,, kamu tidak perlu khawatir, Mama yang akan menjamin kamu dan Felix, Mama dan Papa lah orang yang akan pertama ditemui Devan jika dia menyakitimu lagi," ucap Ana.


Lagi-lagi Nayla terharu akan tetapi dirinya sudah menerima cincin dari Denis, tidak mungkin menerima cincin dari Devan juga, tidak tahu apakah dirinya masih mencintai Denis,, hanya saja Nayla tahu seperti apa besarnya cinta Denis untuknya. Nayla berharap suatu hari nanti dirinya bisa mencintai Denis kembali seperti dulu,, paling tidak lebih baik dicintai daripada mencintai.


Sekalipun tidak menghasilkan apa-apa Bima Putra dan Ana tetap merasa puas, paling tidak mereka sudah berusaha untuk membuat Nayla kembali dalam lingkungan keluarganya.


"Apapun yang terjadi kedepannya, Mama harap tidak ada batasan untuk Mama dan Papa menemui Felix," ucap Ana lagi.


"Aku tidak pernah melarang Dokter Devan, Mama dan Papa maupun Kakak Andini untuk menemui Felix kapanpun," ucap Nayla dengan senyum tulusnya.


"Papa mau mulai sekarang kamu terima uang bulanan dari Devan untuk Felix,, biarkan Devan tetap menjadi Ayah untuk anaknya sekalipun tidak bisa menjadi suamimu lagi," ucap Bima Putra.


Nayla mengangguk merasa tidak bisa melarang keinginan baik Devan, mengingat Devan pun berhak atas Felix, setelah Bima Putra dan Ana pulang,, Reyna segera keluar dari dalam kamarnya. Telinganya mendengar dengan baik apa yang baru saja diutarakan oleh kedua orang tua Devan barusan. Seketika jiwa keponya meronta-ronta ingin menanyakan banyak hal pada Nayla.


"Nayla, kamu serius menolak Dokter Devan balikan dengan kamu?" tanya Reyna langsung tanpa basa-basi karena itu ciri khas dari Reyna.


Nayla sudah sangat hafal seperti apa sahabatnya tersebut, Nayla langsung mengangguk dengan pasti tanpa ragu-ragu.


"Gimana kalau ternyata Dokter Devan benar-benar mencintai kamu?" tanya Reyna lagi.


"Apa sih? aku sudah menerima cincin dari Mas Denis, udahlah lupakan masa lalu!!!" ucap Nayla.

__ADS_1


"Tapi Denis juga masa lalu kamu Nayla," ucap Reyna lagi.


"Berisik," ucap Nayla yang memilih pergi.


__ADS_2