
"Dia lucu sekali," ucap Nayla.
Jessica tersenyum dan membenarkan apa yang dikatakan oleh Nayla, anaknya itu memang sangat lucu dan menggemaskan sekali.
"Di sekolah dia juga paling cerewet," ucap Jessica.
"Baiklah Om yang akan mengobati kaki kamu," ucap Devan.
"Nama aku Aya, Om," ucap Cahaya.
"Aya, Om obat yah," Devan pun segera mengobati kaki Cahaya, awalnya Devan cukup hanya membersihkan dan memberikan obat akan tetapi Cahaya tidak mau.
"Di perban Om, ini bahaya, Aya bisa pingsan lagi Om," ucap Cahaya.
Seakan drama yang telah dimainkan, bocah itu bersikap seakan lukanya sangatlah parah sekali.
"Baiklah Om perban dulu, ini memang sangat bahaya," Devan pun tersenyum dan memasangkan perban sesuai keinginan Cahaya.
"Selesai," ucap Devan.
"Terima kasih, Om," Cahaya turun dari atas brankar dengan bantuan Devan.
"Iya sama-sama cantik," Devan pun mengusap kepala Cahaya.
"Tidak! bukan cantik tapi Aya," merasa namanya bukan cantik Cahaya kesal bukan main.
Mengapa orang-orang terus memanggilnya cantik? padahal nama yang diberikan oleh Jessica lebih indah.
Cahaya!
Saat itu Cahaya pernah bertanya mengapa diberikan nama Cahaya. Jessica pun menjawab pertanyaan tersebut dengan bahagia.
"Karena kamu adalah penerang dalam hidup Mom yang gelap, kamu adalah Cahaya mampu menguatkan Mom, sejak kamu hadir di rahim Mom, semua terasa lebih indah seperti Cahaya yang bersinar tanpa lelah,"
Jessica pun kembali tersenyum bersama Cahaya anaknya yang cantik.
Sampai di rumah, Inggit pun menyambut dengan antusias cucu kesayangannya sudah datang membuat hati Inggit bahagia dan sejenak melupakan sakitnya.
"Oma," seru Cahaya dan menghambur memeluk Inggit yang duduk di kursi roda.
"Cucu kesayangan Oma," Inggit pun langsung memangku cucunya sekalipun keduanya harus duduk di atas kursi roda.
"Oma udah minum obat?" tanya Cahaya.
"Udah," jawab Inggit.
"Udah makan?" tanya Cahaya lagi.
"Udah," jawab Inggit.
"Udah pup?" tanya Cahaya.
"Dasar kamu yah," Inggit pun menggelitik perut Cahaya dengan gemas.
Cucunya itu sangat cerewet tapi begitu menggemaskan sekali, belum lagi mulutnya komat-kamit tanpa henti.
"Mama udah nggak sanggup ngurus perusahaan Papa, setelah Papa nggak ada semua Mama yang urus, semoga kamu mau bantu Mama, kasihan Papa kalau usahanya itu sampai hancur," terang Inggit.
"Aku mau kok Ma lanjutin perusahaan Papa, lagian aku juga pengen bekerja, Cahaya makin gede, aku juga pengen kerja untuk dia," ucap Jessica.
Inggit pun mengangguk setuju dengan pendapat Jessica.
Kini dirinya sudah tidak terlalu khawatir akan Jessica yang bisa bahagia dengan anaknya bahkan setelah Cahaya lahir ke dunia ini Jessica bahagia tak terkira.
__ADS_1
Mengubah semua kenangan pahit yang pernah dilaluinya sekalipun saat itu sering sakit-sakitan.
Keesokan harinya Cahaya mulai bersekolah, sedangkan Jessica sudah bekerja di perusahaan mendiang sang Papa.
Saat ini Jessica memang masih butuh belajar untuk bisa sukses seperti sang Papa, akan tetapi kepintaran yang dimiliki olehnya terbilang baik dan di atas rata-rata.
Satu minggu pun berlalu, Jessica semakin baik dalam bekerja hari ini jadwalnya terlalu padat walaupun demikian tetap menyempatkan diri untuk menjemput anaknya dari sekolah, bagi Jessica pekerjaan memang penting tapi Cahaya adalah hal utama.
"Tepat waktu untung saja aku tidak terlambat, jika terlambat satu menit saja, anak itu pasti mengoceh terus tanpa jeda," ucap Jessica.
Jessica turun dari mobilnya setelah memarkirkan dengan rapi, sampai akhirnya melihat Cahaya berlari keluar dari pintu gerbang.
"Mommy," teriak bocah itu dengan tas kecil di punggungnya ditambah lagi ada botol minuman yang menggantung di lehernya.
"Anak Mom," Jessica seketika menggendong anaknya, keduanya berjalan menuju mobil dan Jessica membukakan pintu untuk putri kecilnya.
"Duduk manis sayang," ucap Jessica.
Jessica menutup pintu dan memutari mobil untuk masuk dan mengemudikan mobil, sayangnya saat dia akan membuka pintu tiba-tiba ada mobil yang melintas dengan kencang dari arah yang sama.
Jessica memilih menghindar akhirnya terjatuh di aspal.
"Ya ampun siapa itu menyetir ugal-ugalan di jalan," Jessica segera berdiri dan menepuk-nepuk rok nya yang terkena percikan air kotor.
"Maaf Mbak," orang tersebut turun dari mobil dan menghampiri Jessica.
Jessica mengangguk dan mulai berdiri dengan tegak.
Sejenak Jessica terdiam melihat seseorang yang kini berdiri di hadapannya, masa lalu yang begitu menyakitkan walaupun menyakitkan tapi mampu memberikan sebuah kebahagiaan baginya, Cahaya hadir dari masa lalu yang sulit itu.
"Jessica?" alis tidak menyangka jika orang yang hampir ditabraknya adalah seorang wanita yang sangat dikenalinya.
Jessica mengangguk lemah, tak menyangka bisa bertemu lagi dengan Alex.
"Mom," teriak Cahaya tak suka diabaikan, bibirnya mengerucut kesal bukan main.
Jessica pun kembali bernapas dengan normal menyadari anaknya menunggunya di dalam mobil.
"Iya sayang," jawab Jessica sambil berjalan masuk ke dalam mobil.
Alex menatap wajah anak itu, wajahnya lucu dan meneduhkan hati, tapi panggilannya barusan membuat Alex bertanya-tanya, apakah Jessica sudah menikah lagi dan memiliki seorang putri yang begitu lucu, saat melewatinya Cahaya mengeluarkan kepalanya dan melambaikan tangan pada Alex.
"Babay Om ganteng," teriak cahaya dengan genitnya.
Alex menatap wajah anak itu, semakin cantik sekali pun akhirnya menghilang dari pandangan matanya.
Hingga tanpa sadar Alex pun mengangkat tangannya.
"Om" seruan Adnan membuat Alex tersadarakan, tujuannya untuk menjemput anak sahabatnya.
Di mana Nayla dan Devan sedang meresmikan klinik kecantikan yang baru saja selesai dibangun, Devan pun ikut menemani istrinya sedangkan Adnan pun ingin Alex yang menjemputnya, Alex tidak masalah sama sekali dirinya bahagia bisa dekat dengan Adnan maupun Felix, tapi wajah anak yang memanggil Jessica dengan sebutan Mom membuat perasaan Alex berdesir.
Rasanya seperti tidak rela melepaskan begitu saja dan rasa tertarik untuk memeluk anak itu yang Alex pun tak mengerti mengapa.
"Kenapa dia seperti?" Alex pun memilih fokus pada Adnan yang kini duduk di sampingnya mengesampingkan rasa penasaran pada kehidupan Jessica kini, yang sudah memiliki seorang putri.
"Om tadi ada cewek cantik," kata Adnan dengan bahagia.
"Mana ada cantik," Felix yang duduk di belakang menimpali.
Adnan melihat ke belakang dan menjulurkan lidahnya, usia masih empat tahun tapi bocah itu sudah mengerti akan wanita cantik seperti apa.
Wajar!
__ADS_1
Keduanya keturunan Devan.
Jadi kekocakan maupun kekonyolannya sudah pasti beda tipis.
"Benarkah?" tanya Alex dengan mengusap wajah Adnan.
"Rambutnya aja keriting mana ada cantik," ketus Felix.
"Cantik Kak, cantik Om, namanya Aya," ucap Adnan.
"Lebih cantik Mom nya, tante Jessica lebih cantik dan bahenol," kata Felix menimpali dengan cepat.
Tanpa sadar Alex menginjak pedal rem dengan cepat hingga berhenti mendadak.
"Om," seru Felix dan Adnan bersamaan.
Keduanya sampai terdorong ke depan beruntung Adnan memakai sabuk pengaman sehingga nasibnya tak semalang Felix yang terjatuh dari tempat duduknya.
"Oh hati-hati dong, kan sakit," keluh Felix kesal.
"Maaf," Alex pun kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah tempat tinggal Adnan dan Felix.
"Sakit banget tau Om, ketampanan aku bisa rusak," ucap Felix.
"Maaf tadi katanya Tante siapa?" Alex kembali bertanya kepada dua bocah itu barangkali telinganya sedikit bermasalah.
"Oh, tante Jessica, itu Mommy nya Cahaya, cantik, menarik, bikin Felix tertarik," Felix pun menyisir rambutnya dengan jari-jari seakan kini tengah tebar pesona.
Alex hanya geleng-geleng kepala melihat kelucuan anak sahabatnya tersebut.
Akan tetapi kini dirinya kembali berfokus pada Jessica semakin penasaran dengan anak perempuan yang melambaikan tangan padanya.
"Nama anak tante Jessica itu Cahaya?" tanya Alex lagi.
"Iya Om,"
"Kalau nama Ayahnya pernah nggak lihat Ayahnya
Cahaya?" tanya Alex.
"Nggak Om, udah satu minggu masuk sekolah cuma Mommy nya aja yang jemput," jelas Felix dengan polosnya.
"Bukan satu minggu tapi tujuh hari," Adnan pun tak mau kalah dengan sang kakak.
"Bukan tujuh hari tapi satu minggu ferguso," jawab Felix.
Akhirnya keduanya kembali pada mode pertengkaran antara kakak beradik seperti biasanya juga membuat kepala Nayla pusing.
"Om bukan satu minggu tapi tujuh hari percaya sama Adnan,"
"Percaya sama Felix Om, nanti deh Felix pacari Mom nya," ucap Felix.
"Nggak boleh pacaran," ujar Alex.
"Siapa bilang? pacaran itu sunah Om," jelas Felix.
Apa?
Alex semakin pusing saja bila terus berdekatan dengan dua bocah itu.
"Kok sunah?" tanya Alex bingung.
"Karena nggak wajib," jawab Felix lagi.
__ADS_1
Alex pun menepuk jidat, anggap saja kedua bocah itu benar agar semuanya selesai.