Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Menikmati indahnya kebersamaan...


__ADS_3

"Tidur yuk,, udah malam," ajak Devan sambil melihat Nayla.


"Iya,, aku memang sudah ingin tidur,, ngantuk banget," ucap Nayla.


Sehari penuh bersama dan malam ini pun saat orang-orang tengah terlelap dalam tidurnya,, mereka berdua masih bersama di taman belakang rumah.


"Ya udah sampai sini aja mas,, mas ngapain ngikutin aku sampai ke kamar,, kamar mas itu disana," ucap Nayla sambil menunjuk pintu kamar Devan yang sedang tertutup rapat.


Devan langsung menyadari kebodohannya yang terus mengikuti Nayla,, tetapi sulit sekali bagi Devan untuk beranjak pergi dari Nayla.


"Kenapa memangnya?" ucap Devan sambil melihat Nayla.


Nayla dan Devan sedang berdiri di depan pintu kamar Nayla,, keduanya sedang berdebat kecil dengan nada bicara yang sungguh pelan,, hanya mereka berdua saja yang mendengar pembicaraan mereka.


"Kalau mas terus ada disini,, mas kapan tidurnya? ini sudah larut mas,," ucap Nayla.


Devan tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal,, Devan masih ingin memandang wajah cantik Nayla tetapi tidak mungkin juga Devan terus berdiri di depan pintu kamar Nayla sampai pagi,,, pasti akan menimbulkan tanda tanya besar apabila ada yang melihat dirinya berdiri di depan pintu kamar pengasuh kedua ponakan kesayangannya.


"Ayo sana mas kembali ke kamar mu," ucap Nayla sambil mendorong dada bidang Devan pelan.


"Iya kalau gitu mas pergi dulu,, kamu tidur ya," pamit Devan dengan malas karena akan kembali ke kamarnya.


"Iya mas," ucap Nayla sambil tersenyum tetapi Nayla mengernyitkan dahinya begitu Devan tidak kunjung pergi dari depan pintu kamarnya. Devan masih saja berdiri ditempatnya semula.


"Kamu masuk duluan,," ucap Devan.


"Mas aja yang duluan,," ucap Nayla juga.


"Ayo kamu masuk aja duluan,, aku harus memastikan kamu masuk kamar baru aku akan ke kamar ku juga," ucap Devan lagi.


"Iya kalau gitu mas,, aku masuk dulu yah," ucap Nayla lalu segera masuk ke dalam kamarnya,, Nayla langsung menutup rapat pintu kamarnya lalu bersandar pada pintu kamarnya,, mengingat bahwa hari ini waktu Devan sepenuhnya untuknya.


Mulai dari ke kebun teh hingga malam hari begini Devan masih saja bersama dirinya. Nayla benar-benar merasakan bahagia yang tak terhingga sehingga senyum terus mengembang di bibirnya.


Kaki Nayla kemudian melangkah menuju lemari untuk segera mengganti pakaiannya. Duduk di tanah tadi bersama Devan membuat piyama Nayla kotor,, setelah mengganti pakaian Nayla segera naik ke tempat tidurnya merebahkan diri di atas ranjangnya.


Sulit sekali Nayla bisa tertidur,, bayangan wajah Devan masih saja terus terbayang-bayang di kepalanya,, mata setajam elang,, rahang yang tegas dan juga wajah yang sangat tampan.


Hingga tiba-tiba ponsel Nayla berdering,, notifikasi sebuah pesan masuk diponselnya,, Nayla segera mengambil ponselnya lalu melihat siapa yang mengirimkan dirinya pesan.

__ADS_1


Bibir Nayla terus saja tersenyum seperti ABG yang baru merasakan indahnya jatuh cinta.


Jatuh cinta?


Itu terlalu tidak masuk akal dan terdengar menggelikan.


Devan : mas tidak bisa tidur sekarang.


Nayla : kenapa mas tidak bisa tidur?


Devan : karena mas pengen peluk kamu,


Degh!!!


Ampun...


Banyak kali Nayla meminta ampun dengan tingkah Devan,, Nayla tidak suka meminta ampun tapi Devan selalu membuat dirinya tidak karuan.


Dengan tubuh berbaring,, Nayla menyimpan ponselnya lalu menutup mata,, Nayla tidak lagi membalas pesan Devan.


Nayla berusaha terlelap dan berdoa semoga bisa bertemu lagi di dalam mimpi.


"Bunda," isi pesan dari Devan.


Oh Tuhan panggilan apa itu?


Nayla merasa AC di kamarnya rusak karena saat ini Nayla benar-benar merasa panas.


"Kok Bunda?" balas Nayla lagi.


"Iya karena sebentar lagi kita akan memiliki anak," balas Devan.


Nayla tidak lagi membalas pesan dari Devan yang akan membuat tubuhnya memanas dan juga senyum-senyum tidak jelas,, Nayla memilih menyimpan ponselnya lalu berusaha menutup matanya untuk tidur.


Saat Nayla akan tertidur tiba-tiba pintu kamar Nayla terbuka.


Nayla dengan cepat bangun begitu merasa ada yang masuk ke dalam kamarnya,, Nayla panik begitu tersadar dirinya lupa mengunci pintu kamar.


"Mas kok kesini?" tanya Nayla dengan penuh keterkejutan karena Devan kembali datang menemui dirinya.

__ADS_1


Ada apa dia kembali kesini? batin Nayla penuh tanya.


Devan perlahan mendorong pintu lalu segera mengunci pintu kamar Nayla.


"Mas kok kesini lagi?" tanya Nayla lagi-lagi yang merasa heran pada Devan,, karena Devan baru saja kembali ke kamar Jessica tiba-tiba sudah muncul lagi di kamarnya.


Namun bukan jawaban yang Nayla dapatkan,, justru Devan malah menarik tubuh Nayla agar semakin dekat padanya lalu Devan mendekapnya dengan penuh kehangatan.


Satu tangan Devan melingkar di belakang tubuh Nayla,, kemudian perlahan Devan ******* bibir Nayla.


Nayla menutup mata menikmati lidah Devan yang sedang menari-nari dengan lincahnya. Meskipun tak tau mengapa Devan tiba-tiba datang ke kamarnya lalu bersikap seperti ini.


Tangan Devan yang satu tentu tidak tinggal diam,, tangan itu bergerak menelusuri belakang leher Nayla lalu turun ke bawah. Meremas bokong Nayla lalu bergerak ke depan mengelus perut Nayla yang sedang mengandung benihnya.


Lalu perlahan tangan itu naik ke atas dan menguasai dua gunung kembar yang terlihat sangat menantang itu.


"Mas,," desah Nayla yang benar-benar tidak tahan dengan sentuhan Devan pada tubuhnya. Nayla mengharapkan lebih dari ini,, lebih dari sekedar sentuhan tangan. Hormon kehamilan membuat Nayla menuntut lebih.


"Mas sudah tidak tahan lagi,," bisik Devan tepat ditelinga Nayla. Bisikan Devan benar-benar membuat tubuh Nayla meremang. Nayla semakin ingin kehangatan dari Devan. Butuh sentuhan,, butuh belaian,, ingin merasakan menjadi istri yang sesungguhnya seperti orang lain.


Melupakan perjanjian pernikahan,, saat ini Nayla butuh nafkah batin,, yang sudah selayaknya dia dapatkan ketika menjadi istri. Nayla juga butuh sentuhan,, butuh belaian,, hormon kehamilan sungguh menyiksa Nayla karena sangat menginginkan nafkah batin.


"Mas,," ucap Nayla yang benar-benar sudah tidak tahan lagi,, sentuhan tangan Devan yang benar-benar liar membuat Nayla semakin bergairah.


Devan menyadari jika Nayla juga menginginkan dirinya sama seperti dirinya yang menginginkan Nayla,, perlahan Devan membaringkan tubuh Nayla di atas ranjang.


Devan kemudian menindih perlahan tubuh Nayla lalu kembali ******* bibir Nayla,, menggigit bibir bawah Nayla dengan penuh gairah.


Semakin turun ke leher tidak ada yang dilewatkan Devan,, hingga akhirnya dua gunung kembar yang selalu membuat Devan terbayang-bayang berhasil Devan kuasai. Besar,, bulat,, pink dan juga menantang sudah menjadi daya tarik bagi Devan selama beberapa hari ini,, malam ini Devan harus mendapatkannya,, menikmatinya dengan penuh gairah tanpa ada gangguan.


Nayla semakin mendesah membuat Devan semakin tertantang. Devan menutup bibir Nayla yang sedang mendesah karena kamar Nayla tidak kedap suara,, takutnya ada yang mendengar.


Sejenak Devan terdiam sambil menatap manik mata Nayla yang sangat indah itu. Nayla terlihat bernafas terengah-tengah.


"Tahan suaranya yah,," bisik Devan pada Nayla.


Nayla mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya untuk menahan suaranya,, meskipun sangat sulit karena setiap sentuhan Devan membuat Nayla ingin mengeluarkan suara.


Nayla tersentak kaget begitu Devan memasuki dirinya,, rasanya bercampur aduk,, nikmat,, sakit menjadi satu,, mengingat baru dua kali Devan memasuki dirinya,, satu kalinya ketika Devan merenggut keperawanannya dan kedua kalinya malam ini. Tetapi rasanya sungguh menggairahkan.

__ADS_1


Malam semakin larut dan di dalam kamar ada jeritan yang tertahan dan juga menggairahkan menikmati indahnya kebersamaan.


__ADS_2