Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Tetap bahagia!!!


__ADS_3

"Nayla,, kamu cantik banget,, ini kamu?" ucap Reyna yang ikut terkagum-kagum melihat betapa cantiknya Nayla.


"Ya ampun, biasa aja!!! ini karena kebayanya yang bagus jadi aku kelihatan cantik," ucap Nayla yang tidak ingin besar kepala terus dipuji,, Nayla memilih tetap merendah saja.


Setelah selesai memilih kebaya untuk akad dilanjutkan memilih gaun serta heels senada.


"Jessica,, Reyna kalian juga harus dibuatkan kebaya, yah. Kita akan memakai kebaya dengan warna dan motif sama," ucap Ana.


"Serius Tan?" Reyna tercengang tidak menyangka dirinya juga ikut mendapatkan kebaya seperti keluarga besar Ana.


"Iya, kalian ukur dulu yah, biar samaan. Sekalian ada batik juga untuk Alex, ukurannya badan Devan kemarin karena mereka beda tipis," ucap Ana pada Jessica.


Jessica mengangguk lemah.


Alex? dalam hati tidak tahu apakah Alex mau nantinya memakai baju batik tersebut, apalagi mengingat dirinya dan Alex tidak tinggal satu atap. Status memang suami istri, tapi tidak pernah ada kontak di antara keduanya.


"Jessica!" ucap Nayla sambil menepuk pundak Jessica.


"Ya," Jessica tersenyum kecut, tidak tahu seperti apa nasib pernikahannya dengan Alex selanjutnya.


"Kamu mikirin sesuatu?" tanya Nayla lagi.


"Nggak," Jessica menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu ini batik buat Alex," Ana memberikan sebuah paperbag pada Jessica.


"Kemarin di pesan buat Devan, Papa, Raka,, Angga, dan sengaja diminta buat Alex juga dibuatkan," ucap Ana lagi.


Jessica ragu menerima paperbag tersebut, tapi sedetik kemudian tetap mengambilnya mungkin akan berusaha memberikannya.


"Dan ini satu lagi baju batiknya kelebihan, buat siapa yah?" Ana bingung sambil memegang baju batik di tangannya.


"Buat Ayah Nayla aja Tan," saran dari Reyna.


"Tidak-tidak untuk Ayah Nayla juga sudah Tante siapkan,, ini buat siapa?" Ana diam sambil berpikir keras.


"Reyna,, kamu kasih ke pacar kamu saja yah," ucap Ana.


"Aku nggak punya pacar Tante," jawab Reyna.


"Apa iya? secantik kamu jomblo?" ucap Ana yang menatap penuh tanya.


"Ma, sini biar aku kasih sahabat aku saja boleh nggak Ma?" ucap Nayla yang mengingat Nanda.


Nanda adalah sahabat terbaiknya dan akan menjadi salah satu tamu spesial di hari bahagianya.


"Boleh," Ana tersenyum dan memberikannya pada Nayla.

__ADS_1


"Tante makasih yah, nggak nyangka aku juga dapat kebaya cantiknya," Reyna begitu bahagia menyambut pernikahan Nayla, apalagi Ana pun ikut menganggap dirinya anggota keluarga.


Ana tersenyum penuh harum dalam hati memuji betapa Reyna begitu baik selalu ada untuk Nayla selama ini.


"Ma, apa nggak apa-apa aku ikut pakai kebaya yang sama dengan anggota keluarga besar Mama?" Jessica merasa tidak enak hati mengingat dirinya hanya mantan menantu saja.


"Jangan buat aku membatalkan pernikahan ini Jessica, kalau kamu nggak mau berarti kamu masih mencintai Mas Devan, aku nggak akan lanjutkan pernikahan ini," ucap Nayla yang ikut menimpali.


Bagaimana dirinya dulu orang ketiga sekalipun tidak sengaja, hatinya terlalu tulus sehingga tidak akan tega menyakiti hati dan perasaan wanita lainnya.


"Jangan dong! aku akan pakai kebayanya, tapi kamu jangan pernah berpikir untuk membatalkannya," Jessica tidak memiliki dendam ataupun hal yang mengganjal lagi. Dirinya benar-benar ikhlas melepaskan Devan dan Nayla bersatu untuk selamanya.


"Syukurlah!!!" Ana memeluk Jessica dan Nayla bersamaan, tidak menyangka bisa dipertemukan dengan dua wanita dengan hati yang begitu baik.


Sekalipun awalnya sangat menyakitkan tapi itu terjadi karena, sebuah kesalahan berujung perdebatan hingga menciptakan sebuah kebahagiaan setelah perseteruan panjang.


"Rani,, nggak dipeluk?" ucap Rani.


"Peluk dong," ucap Rani lagi.


Semuanya tertawa melihat bocah ingusan itu,, puas dengan seharian berada di butik akhirnya pulang dengan rasa lelah.


Nayla, Reyna dan juga Felix diantar pulang ke rumah. Setelah sampai di rumah keduanya berbincang-bincang kecil, di kamar Nayla sambil membaringkan Felix di ranjang.


"Perasaan kamu ke Jessica itu gimana Nayla,, kalian seriusan teman sekarang?" Reyna begitu kepo akan hal tersebut hingga bertanya saat ini juga.


"Gimana lagi, harus berdamai dengan masa lalu. Masa iya aku tega bahagia sedangkan dia menderita, aku nggak sejahat itu," jawab Nayla.


Ponsel Nayla berbunyi tertera nomor yang tidak dikenal, sekalipun begitu Nayla tetap membuka pesan tersebut.


( Sayang ponsel Mas diambil sama Mama, dan Mas juga nggak diizinkan buat ketemu kamu, Mas pakai ponsel ini terpaksa, ini ponsel buat kerja )


Isi pesan yang dikirimkan oleh Devan membuat Nayla tercengang, pantas saja tidak ada telepon ataupun pesan dari Devan seharian ini,, ternyata alasannya adalah Ana. Tidak lama berselang pesan kembali masuk,, Nayla segera membacanya.


( Sayang bilang ke Mama nggak usah ada acara pingitan, kita sudah tua juga,, lagian Mas kangen banget sama kamu )


Ya ampun Nayla ingin tertawa terbahak-bahak setelah membaca pesan dari Devan, ternyata inilah sikap asli dari pria yang terlihat arrogant itu.


Arrogant darimana pikir Nayla?


( Sayang, kamu nggak kangen sama Mas? )


Devan terus saja mengirimkan pesan sebelum mendapatkan balasan dari Nayla. Tapi di akui Nayla juga merindukan Devan.


( Kangen nggak yah? )


Balas Nayla.

__ADS_1


Devan di seberang malah kesal dengan balasan pesan dari Nayla.


( Kamu tega!!! )


Balas Devan dengan emoji kesal.


( Iya deh,, aku juga kangen Mas, I love you Mas ku )


Devan sampai membaca pesan tersebut berulang kali, tidak percaya pertama kalinya Nayla menuliskan kalimat itu. Jantung Devan berdegup tidak karuan hingga memukuli bantal sampai mengeluarkan kapas dari dalamnya. Tidak menyangka cinta membuatnya berubah jadi aneh,,, sedangkan Nayla sudah meletakkan ponselnya karena Devan sudah tidak membalas pesan lagi.


"Nay,, aku balik ke kamarku dulu ya, besok kita harus ke salon kan?" Reyna sangat senang sekali karena besok diajak juga ke salon bersama dengan Nayla.


"Iya udah," ucap Nayla.


Nayla pun menarik selimut dan memejamkan matanya. Tidak lama berselang dirinya mendengar suara dari arah jendela, tidak lama kemudian jendela berhasil dibuka. Jantung Nayla berdegup ketakutan,, seketika dirinya mengambil balok dan saat orang tersebut akan masuk segera memukulnya.


"Nayla, ini Mas," ucap Devan.


Nayla shock tentunya, cepat-cepat menyalakan lampu dan benar saja Devan ternyata orang yang baru saja dipukulnya.


"Ya ampun Mas, aku pikir maling! lagian Mas ngapain kesini? ini udah tengah malam, masuk pakai acara begini lagi, kayak maling tau nggak!!!" ucap Nayla.


"Hehehe," Devan menggosok punggungnya sambil cengengesan.


"Sayang, Mas kangen," ucap Devan.


"Mas!!!" Nayla mendesus tidak mengerti dengan jalan pikiran Devan.


"Untung barusan aku mukul badan Mas, sampai tadi kepala Mas yang kena?" Nayla menggeleng dan yakin sekali Devan akan pingsan bila kepala yang kena balok di tangannya.


"Maaf sayang," ucap Devan.


"Keluar!" ucap Nayla.


"Sayang?"


"Mas," ucap Nayla.


"Bilang sayang ke Mas,, abis itu janji keluar," ucap Devan.


"Nggak," ucap Nayla.


"Ya udah! Mas nggak akan keluar," ucap Devan.


Reyna mendengar suara keributan dari dalam kamar Nayla hingga membuatnya penasaran.


"Nay, kamu ngomong sama siapa?" teriak Reyna dari depan pintu kamar.

__ADS_1


"Sayang! keluar sekarang," ucap Nayla dengan cepat.


Devan tersenyum dan bahagia bukan main, dia segera keluar dengan didorong oleh Nayla, bahkan sampai terjatuh di tanah tapi tetap bahagia.


__ADS_2