Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Menyetujui keinginan Devan...


__ADS_3

"Nayla,, mas ingin kamu memegang perut mu sekali saja," ucap Devan yang berada beberapa meter dari Nayla.


Devan saat ini masih memegang ponsel Nayla untuk mengambil gambar lagi yang kesekian kalinya.


"Nggak mau,, malu tau mas," ucap Nayla yang seketika pipi nya memerah seperti kepiting rebus begitu mendengar permintaan Devan yang sangat menyeramkan ditelinga Nayla.


Devan langsung menunjukkan ekspresi wajah kecewanya,, meskipun perut Nayla belum menonjol tapi Devan ingin sekali mengabadikan momen ketika anaknya masih berada di dalam kandungan Nayla. Wanita cantik yang baru saja disadari oleh Devan sedang mengandung anaknya.


"Ayolah Nayla,, kali ini aja yah," ucap Devan lagi dengan ekspresi wajah penuh harap dan juga tangan yang menangkup.


"Tapi mas perutku masih rata,," ucap Nayla lagi.


"Tidak apa-apa,, ada anak mas di dalam perutmu,," ucap Devan lagi.


Pipi Nayla semakin memerah begitu mendengar ucapan Devan,, mengapa Devan semakin aneh? tanpa Devan katakan pun Nayla sudah tau jika sekarang sedang mengandung anaknya. Nayla benar-benar menahan malu karena ucapan Devan itu seakan-akan mengingatkan mereka berdua pernah bercinta. Iya itu memang benar hanya saja itu tidak perlu diingatkan menurut Nayla.


"Ayolah Nayla,," ucap Devan lagi dengan ekspresi wajah penuh harap Nayla mau mengabulkan keinginannya.


"Iya mas," ucap Nayla yang akhirnya menyetujui keinginan Devan.


Nayla mulai tersenyum lalu memegang perutnya yang masih rata itu sesuai dengan keinginan Devan.


Devan tersenyum bahagia begitu mendapatkan gambar sesuai keinginannya,, tapi kali ini Devan mengambil gambar bukan menggunakan ponsel Nayla tetapi menggunakan ponselnya sendiri lalu menyimpannya dengan baik agar tidak ada yang melihatnya,, hanya Devan saja yang melihatnya. Devan akan melihatnya kapanpun yang dia inginkan.


"Cantik," ucap Devan sambil tersenyum menatap foto Nayla yang berada di ponselnya.


Devan lalu menatap Nayla lagi namun Nayla sudah tidak ada di tempatnya barusan.


"Nayla," panggil Devan dengan perasaan khawatir luar biasa sambil berjalan dan melihat disekelilingnya.


"Mas! aku disini!!!," teriak Nayla yang berada cukup jauh dari Devan,, Devan sedikit merasa lega.


"Dasar wanita ini,, kok bisa sudah sejauh itu," ucap Devan lalu dengan segera menyusul Nayla.


"Jangan terlalu jauh jalannya,, nanti kamu kelelahan,," ucap Devan begitu berada di dekat Nayla.


Tiba-tiba Devan mendengar perut Nayla bunyi.


"Kamu lapar?" tanya Devan.


Nayla langsung nyengir sambil melihat Devan.


Devan tersenyum geli melihat tingkah istri keduanya itu yang sangat menggemaskan dimatanya.


"Diujung jalan sana ada tempat makan,, ayo kita ke sana saja,, kamu harus segera makan tidak boleh kelaparan," ucap Devan sambil mengajak Nayla.

__ADS_1


Setelah sampai di tempat yang dimaksud Devan,, Devan segera membawa Nayla untuk duduk di salah satu kursi.


Suasananya sangat sejuk ditambah pemandangan kebun raya yang sangat indah,, restoran itu terlihat bergaya modern.


"Kamu mau makan apa?" tanya Devan.


"Apa saja mas yang penting aku makan," jawab Nayla dengan santai.


"Kamu ini ada-ada saja," ucap Devan sambil tersenyum.


Sampai saat ini Nayla adalah alasan Devan terus tersenyum,, tingkah dan kelucuan Nayla membuat Devan melupakan rasa bersalahnya pada Jessica.


"Mas,, bisa tidak kita pulangnya malam saja?" tanya Nayla penuh harap.


"Memangnya kenapa mau pulang malam?" tanya Devan.


"Aku mau lihat matahari saat hampir tenggelam sebentar," jawab Nayla.


Devan langsung menganggukkan kepalanya menuruti keinginan Nayla. Nayla benar-benar sangat bahagia lalu segera berdiri memeluk Devan.


Degh!!!


Hah apa ini?


Nayla dengan segera kembali duduk ditempatnya dengan perasaan malu luar biasa.


"Ayo makan,," ucap Devan sambil tersenyum.


Devan geleng-geleng kepala melihat kelucuan Nayla,, Devan tidak menyangka ternyata Nayla adalah wanita yang ceria.


Devan kemudian teringat akan perkataan Andini,, bahwa Nayla berubah disaat Devan menikah,, Devan sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa Nayla berubah karena kejadian malam itu bersama dirinya.


Devan tiba-tiba mengusap kepala Nayla dengan lembut dan berjanji di dalam hatinya akan berusaha membahagiakan Nayla selama mereka masih menjadi suami istri.


Nayla mengernyitkan dahinya begitu Devan tiba-tiba mengelus rambutnya.


Setelah selesai makan siang,, Devan dan Nayla tidak langsung pulang. Devan mengikuti keinginan Nayla.


"Mas,, katanya disini ada air terjun yah," ucap Nayla sambil melihat Devan menantikan jawaban.


Devan dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Tidak,, air terjun itu terlalu jauh dan kamu akan kelelahan nanti,, kamu tidak boleh kelelahan,," ucap Devan yang sudah mengerti pasti Nayla mau pergi ke air terjun.


Nayla ingin marah namun dia mengerti dengan alasan mengapa Devan melarangnya,, Nayla juga tidak mau egois.

__ADS_1


"Lenganmu juga masih sakit kan?" tanya Devan.


Nayla menganggukkan kepalanya.


"Sedikit mas," jawab Nayla.


"Kita jalan-jalan di sekitar sini saja yah," ucap Devan lagi.


Nayla pun menganggukkan kepalanya. Mereka jalan berdua bergandengan tangan sambil melihat pemandangan kebun teh yang begitu luas.


Nayla dan Devan begitu menikmati pemandangan yang berada disekitarnya sampai kaki Nayla merasa lelah.


"Kita pulang saja yah,, lain kali kita akan kesini lagi," rayu Devan.


"Iya mas," ucap Nayla yang saat ini sedang duduk di tanah untuk mengurangi sedikit rasa lelahnya supaya Nayla bisa berjalan lagi.


"Mas, kamu duluan saja kaki ku lelah sekali,, nanti aku akan menyusul mu," ucap Nayla.


Devan langsung mengangkat sebelah alisnya begitu mendengar ucapan Nayla.


"Maksud kamu,, mas pergi dan kamu disini?" tanya Devan.


Belum juga Nayla memberikan jawaban pada Devan, namun Devan sudah setengah berjongkok lalu menggendong tubuh Nayla.


"Mas," Nayla tersentak kaget sambil mengalungkan tangannya di leher Devan.


"Kamu pikir kamu itu apa? apa kamu pikir mas ini gila meninggalkan istri mas sendiri disini?" ucap Devan sambil terkekeh geli melihat Nayla.


Nayla langsung tersipu malu begitu mendengar kata-kata Devan,, begitu sampai di mobil Devan langsung memasukkan Nayla ke dalam mobil lalu dia pun segera menyusul masuk ke dalam mobil,, dan segera mengemudikan mobilnya lagi.


Hari sudah mulai gelap dengan Devan yang masih mengemudikan mobilnya sedangkan Nayla sudah terlelap dalam tidurnya yang berada di samping Devan.


Setelah berjam-jam perjalanan akhirnya Devan dan Nayla sampai juga dengan malam yang sudah mulai larut.


"Nayla,," ucap Devan membangunkan Nayla dan juga sudah ada taksi yang dipesankan untuk Nayla.


Devan lagi-lagi menatap Nayla yang sedang tidur lelap. Suasana gelap dengan penerangan cahaya bulan tidak bisa menutupi sinar wajah Nayla yang begitu terpancar. Hati Devan lagi-lagi berdesir tanpa sadar mengagumi betapa cantiknya istri keduanya itu.


"Mas,," ucap Nayla yang tiba-tiba terbangun.


Devan dengan cepat menjauhkan dirinya padahal hampir saja Devan mencium bibir Nayla.


"Kamu naik taksi kita sudah sampai,, mas sudah pesankan untukmu," ucap Devan sambil menunjuk taksi yang sedang menunggu Nayla.


"Iya mas," ucap Nayla lalu segera turun berjalan menuju taksi.

__ADS_1


__ADS_2