Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Tidur berdua!


__ADS_3

Satu minggu kemudian...


Keadaan sudah kembali pulih, Puput pun sudah tak lagi larut dalam kesedihannya, apalagi pernikahan Reyna sudah di depan mata, dirinya sudah ikhlas pada calon cucunya yang sudah tiada.


Kecuali Alex!


Entah apa yang terjadi padanya, kini hanya memilih menyendiri dan tidak mengizinkan siapapun masuk ke dalam kamarnya, kesehariannya hanya di dalam kamar, diam tanpa bicara, kamar tersebut masih sama tak dibersihkan sama sekali, sprei tidak boleh diganti, saat ini pun sedang waktunya libur dari pekerjaan, dirinya memilih menyendiri ditemani dengan bayangan wajah Jessica yang selalu melintas di benaknya.


Kadang juga terlelap dalam duduknya, tubuh tak terurus dengan rambut yang mulai panjang tersebut membuktikan sedikit banyaknya betapa Alex menyesali kehilangan calon anaknya, kedua anaknya tidak berhasil dilahirkan dari rahim Jessica.


Sementara itu di sisi lainnya, Puput tengah disibukkan dengan acara pernikahan Reyna dan Nanda, tak terkecuali Nayla yang juga ikut dalam membantu persiapan pernikahan agar berlangsung dengan meriah, tidak menyangka sama sekali bahwa kedua sahabatnya itu kini akan bersanding, sekalipun sudah bisa dibayangkan seperti apa nantinya awal pernikahan keduanya.


Semoga saja tidak ada lagi pertengkaran di antara keduanya.


"Nayla, aku nggak mau nikah sama Nanda," ucap Reyna sambil berguling-guling di atas ranjang, kesal memikirkan waktu pernikahannya yang sudah menunggu hari saja.


"Masalahnya kamu udah nikah sama dia, ini hanya tinggal menikah secara resmi saja, kan udah nikah kantor," jawab Nayla sambil terus mengunyah makanan.


Toples kue milik Reyna hampir habis setengahnya, karena mulut Nayla yang tidak ada hentinya mengunyah.


Reyna pun merebut dari tangan Nayla, menurutnya Nayla terlihat bahagia melihat penderitaannya.


"Ckk" Reyna berdecak kesal memikirkan nasib malang yang harus menikah dengan Nanda.


"Nayla, Devan sudah datang, dia menunggu di bawah," kata Puput yang berdiri di ambang pintu kamar.


"Iya Tan," Nayla perlahan turun dari ranjang dan segera berpamitan pulang pada Reyna.


"Nayla, apa Jessica pernah menghubungi kamu?" tanya Puput yang cukup merindukan Jessica, beberapa bulan ini tinggal bersama melakukan banyak hal bersama, sehingga cukup menciptakan kedekatan di antara keduanya, Nayla sejenak terdiam dirinya yang berdiri di depan pintu kamar, Nayla menatap Puput yang begitu menunggu jawaban darinya.


"Nggak Tan! memangnya dia nggak pernah menghubungi tante?" kini Nayla balik bertanya.


Puput menggeleng dengan perasaan sedih, rasanya dirinya masih menginginkan Jessica ada di tengah-tengah keluarga.


"Mungkin sekarang dia sedang menenangkan diri, aku yakin Jessica akan pulang ke Indonesia dan menemui kita terutama Tante, tapi nggak sekarang," Nayla mencoba menguatkan Puput sekalipun hanya seorang mertua tapi kasih sayangnya cukup baik juga terhadap menantunya tersebut.


"Iya," Puput mengusap air mata yang sempat menetes, entah kapan Jessica akan kembali.


"Nayla pulang ya Tan," ucap Nayla.


Setelah Puput mengangguk, Nayla pun menemui Devan yang sudah menunggunya di lantai satu.


"Maaf ya Mas agak lama," kata Nayla tidak enak hati dan Devan mengangguk, keduanya segera pulang ke rumah, sepanjang perjalanan pulang Nayla hanya diam saja menatap jalan yang ramai dengan banyaknya pengguna jalanan.


"Kok diam?" sejenak Devan menatap ke samping melihat raut wajah Nayla yang cukup aneh, Nayla pun beralih menatap Devan, ingin berbicara langsung tapi Devan malah tak suka dengan pembahasan tentang mantan istrinya.


Akan tetapi saat Devan bertanya tak mungkin pula untuk tidak menjawab dengan jujur.


"Sayang jawab dong," Devan mengusap kepala Nayla, menunggu jawaban atas pertanyaannya.


Nayla hanya bisa terdiam, bahkan sulit untuk bergerak sekalipun setelah menikah keduanya seperti pasangan kekasih yang baru saja mengenal cinta, perhatian Devan yang manis kadang membuat Nayla seketika melayang ke awan, lihat saja saat ini pun Devan tak akan membiarkannya dalam kebingungannya.


"Mas kira-kira Jessica bakalan balik lagi nggak yah? soalnya tante Puput sedih banget mikirin Jessica," tanya Nayla.

__ADS_1


Akhirnya apa yang dipikirkan oleh Nayla terucap juga dan bisa didengar langsung oleh Devan.


Benar saja, setelahnya terlihat perubahan wajah Devan secara drastis, Devan sama sekali tak tertarik untuk membahas perihal mantan istrinya tersebut.


"Jangan bahas dia, Mas tidak suka," ucap Devan.


Sebenarnya tujuan Devan hanya ingin menjaga kelangsungan rumah tangganya bersama Nayla, bagaimanapun juga Jessica pernah dicintainya, jadi Devan tak ingin nantinya malam berbalik malah Nayla yang marah-marah padanya.


"Bukan gitu Mas..."


Tatapan mata Devan membuat Nayla terdiam seketika itu juga, takut nantinya malah membuat pertengkaran.


Akan tetapi dalam hati berdoa semoga Jessica mendapatkan jalan terbaik, sebab memang dia adalah orang baik, Devan pun membukakan pintu untuk Nayla, istrinya tersebut terlihat cantik dan juga begitu manis dengan dress berwarna pink pilihan Devan sendiri, keduanya masuk dengan beriringan disambut oleh Felix yang sudah menunggu di ruang tamu bersama dengan Ana dan juga dua bocah lucu.


"Unda," Felix berjalan ke arah Nayla, jalan bocah tersebut terlihat sudah begitu baik hingga sampai mendekati sang bunda.


Nayla pun tersenyum berjongkok dan menggendong putranya.


"Anak bunda, apa tadi kamu nakal?" Nayla mencium pipi Felix dengan gemas.


"Anak ayah juga," Devan pun tak mau kalah, dirinya mencium pipi gembul Felix hingga beberapa kali.


Felix semakin bahagia bibirnya tersenyum sambil berusaha untuk menarik rambut Devan.


"Yah *****," teriak Felix.


"Hush!" Devan menutup mulut Felix, bocah itu memang sulit diajak berkompromi.


"***** jorok, mana ada orang besar *****," Rani mencoba menjelaskan pada Felix dengan otak polosnya.


"*****, tini," seru Felix dengan air liur yang tumpah hingga mengenai wajah Devan.


"Felix ***** sama bunda?" tanya Andini yang kini ikut bergabung.


"Ya," jawab Felix cepat.


"Ayah ada *****?" tanya Andini lagi.


Wajah Devan memerah mendengar pertanyaan Andini, kakaknya tersebut mungkin sedikit tidak waras saat bertanya di depan Ana.


"***** Yah! bunda Tini," dengan cadelnya Felix menunjuk gunung kembar bundanya.


"Dasar bayi," ejek Andini.


"Dasar gila," kesal Devan yang ingin menghajar Andini.


"Hei! jangan sentuh istriku, kau bisa berhadapan denganku," Angga menendang bagian belakang kaki Devan, kesal sudah berani menjitak kepala Andini.


"Mas sakit!" Andini memeluk Angga sambil mengusap kepalanya.


"Iya sayang," Angga menciumi kepala Andini hingga beberapa kali kemudian melayangkan tatapan tajam pada Devan.


"Apa?" tantang Devan yang tak mau kalah.

__ADS_1


Rani berdiri diantara kedua pria tersebut bukan untuk memisahkan melainkan sebagai juri.


"Oce, cekalang main tinju dimulai," ujar bocah itu dengan semangat tinggi.


"Bukan cekalang, tapi sekarang, dasar cadel!" kini Devan ikut mengejek bocah ingusan tersebut.


Wajah Rani berapi-api ingin menghajar dua orang pria dewasa yang sudah mengejek dirinya, seketika dia pun menangis sambil duduk di lantai.


"Bunda, Mama, Papa sama Ayah jahat," adu Rani.


Nayla pun menurunkan Felix dari gendongannya dan mencoba untuk menggendong Rani yang begitu gemuk.


"Sayang, anak bunda," Nayla pun berusaha untuk menenangkan Rani.


"Ayah sama Papa jahat, aku mau bobo sama Mama sama Bunda, nggak mau ada Ayah dan Papa," pintanya sambil terus berteriak.


"Ahahahaha..." Ana tak kuasa menahan tawa melihat wajah dua laki-laki bucin yang tak akan mau ditinggal tidur walaupun hanya satu malam saja.


Terlihat jelas raut wajah Devan dan Angga yang berubah dua ribu derajat.


"Kita bobo bertiga ya bunda, berempat sama Felix," kata Rani lagi.


Dirinya tak akan berhenti menangis sebelum Andini dan Nayla menyetujuinya.


"Iya sayang, bunda sama mama bakalan bobo sama Rani," Andini pun merasa harus mengabulkan keinginan anaknya, sudah cukup lama sekali tidak tidur bersama putrinya,


"Ia kan bunda?" tanya Andini pada Nayla.


"Iya dong," ucap Nayla.


"Ku menangis..." Ana berteriak sambil bernyanyi.


"Papa tidur yuk," seloroh Ana yang kini sudah masuk ke dalam kamar.


"Ma, Papa bobo sama siapa?" tanya Angga.


Keduanya akan menggunakan panggilan Mama dan Papa jika di depan anak-anak.


"Sama ayah," Rani dengan cepat menimpali, tangannya menunjuk Devan.


Glek! Devan meneguk saliva sambil menggeleng dengan cepat.


"Nggak!" tolak Devan.


"Papa nggak mau bobo sama ayah dia bau," ucap Angga.


Angga berpura-pura muntah saat melihat Devan.


"Ayah juga nggak mau, maunya sama bunda Nayla aja," ucap Devan.


Memangnya hanya Angga yang tak mau tidur dengannya, dirinya pun tentu tak mau juga.


"Nggak, bunda sama mama tidur sama Rani, Ayah kalau takut, bobo aja berdua," teriak Rani.

__ADS_1


__ADS_2