Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Apa dia sekejam itu?


__ADS_3

"Kalau Om Daddy nya Aya, kenapa nggak pernah jenguk Aya? apa nggak sayang sama aya?" tanya Cahaya.


Degh!


Ini sungguh luar biasa pertanyaan Cahaya seakan begitu menyakitkan sadar sudah menjadi seorang Ayah yang gagal untuk putrinya, air mata Alex akhirnya tumpah juga dihadapan Cahaya.


Pertama kali air mata itu tumpah ruah di hadapan selain sang Mama, apakah pertanyaan Cahaya begitu memilukan hati?


Mungkin!


Tersadar dari semua perbuatannya sendiri, Alex pun menyadari kesalahan yang memang sudah tak mungkin mendapatkan maaf lagi dari Cahaya maupun Jessica.


"Kok malah nangis? emang Aya salah?" tanya Cahaya.


Cahaya masih menatap Alex dengan bertanya, wajah polos yang kebingungan melihat ekspresi wajah Alex saat ini.


Bocah ingusan itu belum dapat mengerti sama sekali atas keadaan sekitarnya.


"Karena dia tidak pantas untuk disebut Daddy," Inggit menimpali dengan cepat, tersenyum mengejek Alex.


Baru saja sampai di rumah sakit, dirinya sudah mendengar pertanyaan Cahaya tersebut artinya Jessica sudah mengatakan bahwa Alex adalah Ayahnya, sedangkan Cahaya masih bingung dan bertanya-tanya apakah sebenarnya yang dimaksud oleh Inggit barusan.


"Mom, kalau Daddy orang baik kenapa kalau Aya demam Daddy nggak jenguk Aya? teman-teman Aya di sekolah cerita kalau mereka sedang sakit dipeluk, digendong juga sama Daddy, kok Aya nggak?"


Kali ini Cahaya bertanya kepada Jessica, otaknya yang masih butuh jawaban seketika membutuhkan penjelasan.


"Teman-teman Aya suka bilang, tadi malam aku demam terus Daddy deh gendong sampai pagi," ucap Cahaya lagi.


Mengapa dirinya tidak sama seperti teman-teman lainnya, tidur bersama kedua orang tuanya, diantar jemput oleh kedua orang tua, saat-saat tertentu memiliki waktu bersama.


Lalu mengapa dirinya tidak?


Jessica mencium kening Cahaya, kemudian mengusapnya dengan penuh kasih sayang, tidak ingin mendengar pertanyaan Cahaya yang terasa memilukan itu.


"Aya nggak bahagia digendong Mom? dipeluk Mom?" ucap Jessica.


"Bukan, cuma..."


"Aya tidur yah, biar cepat sembuh," Jessica membantu Cahaya berbaring, menarik selimut untuk menutupi tubuh mungil anaknya.


Pertanyaan Cahaya terlalu dalam, menyimpan banyak kenangan pahit sehingga sulit untuk dijelaskan, Jessica lebih memilih diam tidak ingin anaknya dewasa sebelum waktunya, nanti seiring berjalannya waktu Cahaya akan mengerti tetapi lagi-lagi tidak untuk saat ini.


Biarkan bocah itu bahagia dengan sesuatu yang dianggapnya istimewa, sekalipun hanya seorang diri membesarkan anaknya.


"Lihat saja pertanyaan Cahaya, dia saja dapat menyimpulkan bahwa dirinya itu tidak patut diberi hati, anak sekecil itupun sudah mengerti apa itu peran seorang Daddy," Inggit tersenyum sinis menyindir Alex, sungguh jika bisa Inggit akan mencekik leher Alex saat ini juga.

__ADS_1


"Ma, udahlah apa gunanya bermusuhan, kasihan Aya kalau harus berada di lingkungan keluarga yang tidak harmonis, biarkan dia bahagia saat usia emasnya ini, masa kecilnya tidak akan terulang kedua kali," Jessica mengusap air matanya ingin membahagiakan anaknya seperti dia yang selalu dibahagiakan kedua orang tuanya ketika masih kecil.


Sejak dalam kandungan Cahaya terus dalam ancaman, sungguh hati Jessica tak kuasa menahan sesak di dada, Inggit memutar bola matanya jengah, mual sekali melihat wajah Alex jika bukan karena cucu kesayangan sudah pasti dia menarik Alex saat ini juga keluar, Alex segera membalikkan badannya, berulang kali mengusap air mata dan pergi sejenak mencari udara segar untuk menenangkan diri, pertanyaan Cahaya memang cukup sederhana tapi mampu membuat masa lalu terulang kembali.


Begitupun dengan Inggit yang belum bisa melupakan kisah di masa lalunya, sedangkan Jessica dengan penuh kesabaran terus berusaha untuk membahagiakan anaknya, berbeda dengan Alex yang mana dulu seakan tidak percaya bahwa Jessica mampu melahirkan anak.


Alex di mana?


Miris!


Sampai di sini pun, Cahaya sudah memiliki pertanyaan lantas bagaimana jika saat dewasa tahu keburukan Alex.


Sudikah Cahaya menganggapnya sebagai seorang Ayah?


Pantaskah dirinya disebut seorang Ayah?


Di taman belakang rumah sakit, Alex terdiam duduk di sebuah kursi larut dalam lamunannya, sesekali wajah Cahaya hadir di benaknya tersenyum padanya dan melambaikan tangan.


Berlanjut saat Jessica menangis memohon sambil bersimpuh di bawah kakinya demi mendapatkan donor darah, sulit dipercaya sampai saat ini pun, di saat Jessica mati-matian berjuang demi Cahaya, dirinya malah tidak tahu ternyata memiliki seorang putri dari hasil pernikahan dengan Jessica.


"Jangan pernah berpikir untuk mengambil Cahaya," ujar Inggit.


Suara Inggit menyadarkan Alex dari lamunannya, melirik wanita paruh baya itu yang kini berdiri di sampingnya.


Alex pun tersenyum dan menatap ke depan sebenarnya tidak mengerti harus mengatakan apa hatinya masih terlalu terkejut mendapati kejutan luar biasa ini.


"Aku tidak pernah berpikir untuk mengambilnya dari Jessica," ucap Alex.


"Bagus!" ucap Inggit.


Alex diam sejenak menjeda ucapannya.


"Tapi Jessica masih istriku," ucap Alex.


Mata Inggit melebar sempurna, dirinya tidak akan pernah rela Alex menjadi suami anaknya.


"Aku tidak Sudi dan jangan pernah berharap apapun, karena anakku pun tidak akan pernah mau menjadi istri lelaki kurang ajar sepertimu," tegas Inggit.


Lagi-lagi Inggit meluapkan amarahnya, tidak akan pernah bisa menerima semua perlakuan Alex sebelumnya.


Mungkin jika dirinya tidak datang tepat waktu sampai detik ini pun Jessica masih dalam kekerasan Alex.


Mungkin juga anaknya sudah tiada bersama dengan cucunya, Alex yang kasar tidak memiliki rasa perikemanusiaan bahkan pada anak istrinya sendiri.


"Ma, aku mohon biarkan kami bahagia dan aku berjanji akan membahagiakan Jessica menebus semua kesalahanku," pinta Alex dengan nada memohon.

__ADS_1


"Jangan pernah bermimpi!" ucap Inggit.


Inggit segera pergi, sampai kapanpun keputusan adalah keputusan, tanpa perubahan. Sama saja Inggit menjerumuskan anaknya pada lubang yang sama jika menerima Alex kembali.


Jangan harap!


Secepatnya Alex menghentikan langkah kaki Inggit, memohon berharap hati Inggit bisa luluh dan memberikan Jessica padanya lagi seperti dulu.


"Ma, aku mohon aku berjanji akan membahagiakan anak dan istriku," kedua tangan Alex memegang kaki Inggit, memohon kepada mertuanya itu untuk mengizinkan dirinya membahagiakan Jessica dan Cahaya.


Inggit pun menepis tangan Alex hingga terlepas, biarkan dirinya dianggap kejam asalkan tidak untuk menerima Alex kembali dalam kehidupan anak dan cucunya.


"Kesempatan itu sudah pernah kuberikan, aku sudah pernah memberikan anak ku kepada mu saat beberapa tahun lalu, tapi kamu tidak memanfaatkan dengan sebaik-baiknya, malah menyia-nyiakan kesempatan, memperlakukan layaknya binatang, maaf masih banyak lelaki di dunia ini yang lebih baik darimu yang lebih pantas menjadi Ayah sambung cucuku, lebih segalanya darimu itu yang paling pasti," ucap Inggit.


Setelah puas mengutarakan isi hatinya, Inggit pun melengos pergi, dirinya sudah mengeluarkan unek-unek yang selama ini ditahan.


Sekali menyakiti bisa saja terulang kembali, tidak! Inggit lebih memilih menikahkan putrinya dengan laki-laki lain.


Inggit kembali ke ruang rawat inap cucunya, Cahaya sudah terlelap membuat hati Inggit jauh lebih tenang.


"Selamat siang Ibu Jessica," tiga orang polisi memasuki ruangan Cahaya.


Jessica dan Inggit menengok dan bertanya-tanya perihal kedatangan polisi tersebut.


"Iya selamat siang," Jessica sepertinya mengenali salah satunya.


"Nanda," akhirnya Jessica mengingat siapa pria tersebut, sahabat Nayla adalah salah satunya.


"Iya," Nanda pun mengangguk.


"Ada apa?" tanya Jessica lagi.


"Kami sudah berhasil menangkap pelaku penabrakan terhadap anakmu dan dia pelaku yang sama terhadap Reyna," jelas Nanda.


Jessica sama sekali tidak mengerti maksud dari ucapan Nanda.


"Sepertinya aku terlalu banyak ketinggalan hal-hal yang cukup penting, bisa sedikit dijelaskan?" ucap Jessica.


"Zaskia pernah membayar orang untuk berbuat tidak senonoh pada Reyna, karena Alex tidak mau menikahinya, setelah beberapa bulan lalu keluar dari tahanan kembali berulah dan menabrak putrimu, apa motifnya kali ini dia masih diam dan tidak mau menjawab," jelas Nanda dengan sesingkat-singkatnya.


Jessica menutup mulut ternyata Reyna pun ikut menjadi sasaran kegilaan Zaskia.


"Apa dia sekejam itu? boleh aku bertemu dengannya?" tanya Jessica.


"Dia di rumah sakit jiwa, mentalnya sudah rusak parah," jawab Nanda.

__ADS_1


__ADS_2