Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Hukuman ini terasa begitu berat!


__ADS_3

Jessica segera membuat kopi dan membawanya menuju ke ruang tamu, menghidangkan dengan perlahan dibantu dengan Nayla juga mengambil cangkir dari atas nampan yang dibawa oleh Jessica.


"Kamu mau ke mana? duduk di sini sama kita," ucap Nayla sambil menunjuk sofa yang kosong.


"Aku ke dapur aja,, aku mau masak," tolak Jessica membuat Nayla mengangguk lemah, akhirnya Jessica pun kembali ke dapur.


"Aku ke sini mau minta persyaratan untuk mengajukan nikah," ucap Nanda pada Reyna.


Reyna memilih meneguk kopi buatan Jessica daripada membahas tentang pernikahannya dengan Nanda.


"Reyna! Nanda minta berkas kamu," Puput menepuk pundak Reyna, kesal sekali dengan putrinya tersebut yang selalu acuh pada Nanda.


"Ckk!!! tunggu di sini," Reyna bangun dari duduknya,,, dengan malas dirinya menuju kamar mengambil data dirinya.


Sampai di kamar dirinya terus mengoceh tidak jelas, terlalu menjengkelkan harus menikah dengan musuh bebuyutannya tersebut.


"Azab ini sangat perih," gumam Reyna sambil membawa map di tangannya.


Sesaat kemudian melemparkannya pada meja tepat di hadapan Nanda, beruntung Puput sudah tidak di sana, jika ada sudah pasti akan diomeli habis-habisan.


"Mana nomor ponselmu?" tanya Nanda.


Reyna mengambil ponsel yang diberikan oleh Nanda, bukan menuliskan nomor ponselnya, Reyna memilih memberikan nomor ponsel Puput.


"Kayaknya kamu semangat banget pengen nikah sama aku! apa aku secantik itu?" ucap Reyna.


Nanda lebih memilih berdiri kemudian berpamitan pada Nayla dan Devan, daripada meladeni pertengkaran dengan Reyna.


Andai Reyna tahu mulut Arni juga terus komat-kamit memaki dirinya saat di rumah, menuduh dirinya seorang pria tidak baik yang tidak dapat bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Padahal entah perbuatan apa yang dilakukan pada Reyna, ingin menjawab tapi sadar hanya akan memperkeruh suasana saja, apalagi kemarahan sang Mama membuatnya diam dan menurut, sebab Arni sudah tua dan rentang usia.


Setelah Nanda pergi Reyna merasa lebih baik, entah pernikahan seperti apa yang nantinya mereka akan jalani. Mengingat Reyna yang cerewet sedangkan Nanda yang terus bersikap dingin seperti es batu, mungkin jika es batu menjadi es durian beda cerita, tapi ini es balok yang hambar, sudah dingin pasti tidak enak juga.


"Terus kamu ngapain ke rumah aku?" tanya Reyna sambil melihat Nayla.


"Nggak boleh?" ucap Nayla.


"Yah tentu saja boleh, cuma tumben aja," ucap Reyna.


Nayla menatap Devan yang duduk di sampingnya,, sesaat kemudian kembali menatap Reyna.


"Felix butuh perawat dan Mas Devan mau kamu yang mengasuh dia, selain sudah dekat dengan kamu, Mas Devan juga cuma percaya sama kamu," ucap Nayla.


Reyna tersenyum miring, dalam hati berbicara jika dua manusia yang ada di hadapannya ini pasti ingin memiliki waktu banyak berdua, sedangkan dirinya menjadi babysitter.


"Gajinya berapa?" tanya Reyna.


"Seratus juta," jawab Devan.


Uhuk...Uhuk...Uhuk....


Reyna tersentak seratus juta perbulan apa itu tidak salah?


"Perbulan?" tanya Reyna dengan bola mata melebar.


"Apa kamu mau perhari?" tantang Devan.

__ADS_1


Reyna menggeleng.


"Perbulan sudah cukup," Reyna merasa ini lebih baik, gaji sebanyak itu tentu bisa membuatnya berfoya-foya dengan penuh kebahagiaan.


"Setuju, kapan mulai kerja?" tanya Reyna lagi.


"Hari ini juga!" jawab Devan.


Reyna mengangguk setuju, tidak bisa menolak jika sudah menyangkut uang. Dirinya pun butuh shopping untuk melepaskan rasa pusing di kepalanya memikirkan pernikahan dengan Nanda.


"Reyna, kami pulang dulu, bilangin Jessica juga," pamit Nayla dan Devan.


"Iya," ucap Reyna.


Reyna segera berlari ke dapur, sampai di dapur memeluk Jessica dengan bahagia, akhirnya tangan Jessica terkena pisau sebab terkejut.


"Aduhh!!!" rintih Jessica.


"Jessica maaf," Reyna panik, segera mengambil kotak obat dan mengobatinya.


"Jessica, aku minta maaf yah, aku bodoh banget kalau udah senang," ucap Reyna dengan tak enak hati.


"Nggak apa-apa," Jessica tersenyum menatap tangan yang sudah diobati oleh Reyna, lagi pula itu murni tidak disengaja dan lukanya cukup kecil.


"Kayaknya senang banget," ucap Jessica.


"Hehehe... aku dapat cuan gede kerja jadi baby sitter Felix, dan kamu duduk di sini, aku yang akan memasak," Reyna menarik kursi untuk Jessica.


"Duduk manis yah Bu, aku yang akan memasak," ucap Reyna dan bersiap mengambil alih pekerjaan Jessica.


"Duduk,," lagi-lagi Reyna menuntut Jessica untuk duduk di kursi, anggaplah sebagai permintaan maaf yang sudah membuat tangan Jessica terluka walaupun hanya sedikit saja dan sudah ditutupi dengan plaster luka.


Baiklah tak enak terus menolak bantuan, Jessica memutuskan untuk duduk manis sesuai permintaan Reyna, namun tiba-tiba Puput datang ingin melihat masakan yang dibuat oleh Jessica, bukan seperti yang dipikirkan justru yang memasak adalah Reyna.


"Kok Reyna yang masak, kamu gimana sih pantas saja Devan menceraikan kamu, ternyata kamu itu tidak berguna sama sekali, kalaupun tidak bisa minimal bertanya dan berusaha," ucap Puput.


Jessica diam, matanya berkaca-kaca kali ini ada air mata yang ingin tumpah, dirinya tidak ingin dikaitkan dengan pernikahan sebelumnya, bahkan selama menjadi istri Devan terus berusaha menjadi yang terbaik.


"Ma nggak usah ngomong gitu kan bisa, aku yang minta Jessica duduk karena udah buat tangannya luka," ucap Reyna agar Puput tahu, bahkan Reyna mengangkat tangan Jessica agar Puput melihat dengan jelas.


Puput terdiam melihat tangan Jessica, tapi menurutnya itu bukan alasan hanya luka kecil saja tak besar.


"Banyak drama! luka begitu doang terus besok juga kalau tangan kamu luka sedikit jadi alasan nggak bisa kerja dasar cengeng!!! kalau kamu begini terus dua puluh kali pun kamu menikah pasti akan cerai juga," ucap Puput.


Satu butir air mata Jessica tumpah dari pelupuk matanya, rasanya sakit sekali dihina seperti ini andai dirinya tak melakukan kesalahan saat dulu pasti Ana masih menjadi mertuanya.


Tak pernah Ana membentak apalagi menghina, kini semua sudah tak sama mertua yang berbeda dan suami yang berbeda pula.


"Ma, jangan gitu dong, Mama mikir nggak kalau nanti Reyna diginiin sama Mamanya Nanda, perasaan Mama gimana?" tanya Reyna ingin berdamai dengan Puput.


"Pergi dari sini! nggak usah ikut-ikutan," ucap Puput.


Reyna menendang kaki kursi meja makan, setelah itu memilih pergi tak tega melihat Jessica terus disudutkan.


"Ayo masak sekarang! setelah itu antar ke rumah sakit, mulai hari ini Mama yang ajarkan kamu masak, sampai kamu tahu cara mengurus suami," ucap Puput.

__ADS_1


Jessica mengusap air mata dan memilih diam, menurut pada apa yang dikatakan oleh mertuanya sampai akhirnya masakan Jessica selesai, Puput pun mencicipinya, tak ada yang perlu dikoreksi masakan Jessica enak dengan rasa yang begitu pas di lidah.


"Masakan kamu enak, sekarang kamu masukkan ke rantang dan antar ke tempat suamimu, kamu juga temani dia makan di sana, kalaupun kamu lapar dan sudah makan di rumah tidak apa, tapi harus makan satu dua suap juga sampai di sana,, kalau bisa disuapi sama dia, atau minta dia yang menyuapi mu, harus romantis!!!" ucap Puput lalu pergi meninggalkan Jessica berdiri mematung.


Kemudian segera Jessica mengantarkan makanan pada Alex ke rumah sakit.


Sampai di rumah sakit Jessica mengetuk pintu ruangan Alex, setelah itu dirinya barulah mendorong pintu.


"Ibu Jessica," Zaskia tersenyum melihat kedatangan Jessica.


Alex pun beralih menatap Jessica dengan rantang di tangannya.


Sayangnya dirinya pun sudah makan, baru saja Zaskia membelikan makanan untuknya di restoran tepat berhadapan dengan rumah sakit tempatnya bekerja.


"Ibu Jessica bawa makanan buat siapa?" tanya Zaskia.


Jessica menatap rantang di tangannya perlahan kakinya melangkah masuk dan meletakkan pada meja.


"Ini untuk Dokter Alex? biar untuk saya yah Bu, kan Dokter Alex sudah makan," Zaskia langsung membukanya dan menyicipi masakan Jessica.


Jessica hanya diam kemudian berbalik lalu pergi, rasanya percuma berada di sana pun tak dilirik sama sekali oleh Alex.


Susah payah memasak malah orang lain yang memakannya, kaki Jessica terus melangkah menyusuri lorong-lorong rumah sakit, melihat banyak pasangan yang duduk mengantri memeriksakan kandungan mereka, sejenak Jessica tersenyum ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh beberapa pasutri tersebut, menantikan kelahiran anak adalah hal terindah entah kapan Jessica bisa merasakan semua itu, mustahil untuk saat ini rumah tangga yang dijalaninya seperti benang kusut ditambah lagi dengan kondisi rahim yang lemah lengkap sudah penderitaannya.


Kaki Jessica kembali melangkah,, senyum getir lagi-lagi terlihat, sesekali tangannya menyeka air mata, iba pada dirinya sendiri dan nasib malangnya, tidak menyangka semua ini bisa menimpa hidupnya, sejak kecil bermimpi bisa dimiliki seorang pria yang mencintainya, menyayanginya seperti ayahnya yang juga begitu menyayanginya, kini hanya mimpi dan entah kapan akan menjadi nyata.


Jessica kembali ke rumah, Puput tengah berada di halaman melihat dirinya dengan tajam.


"Kamu dari mana? katanya ke rumah sakit tapi Alex sudah pulang lima menit yang lalu," ucap Puput.


Alex sudah pulang?


Jessica bingung,, bukankah barusan ada di rumah sakit, mungkin karena dirinya naik taksi jadi lebih lambat sampai.


"Kenapa diam? cepat urus suamimu, siapkan air panas pakaian dan makan siang, pasti dia belum makan," ucap Puput.


Belum makan?


Bukankah Alex sudah makan dengan Zaskia barusan?


Jessica mengangguk dan memilih masuk menuju kamar, telinganya mendengar suara gemericik air dari dalam kamar, artinya Alex sudah pulang, tak ingin terus diam Jessica pun mengambil selembar pakaian Alex dan meletakkan di atas ranjang.


Sesaat kemudian Alex keluar dan melihat Jessica, dirinya segera menuju lemari dan mengambil pakaian lainnya.


"Alex ini..."


Alex tidak peduli memilih berlalu tanpa menyentuh pakaian pilihan Jessica, setelah selesai dengan pakaiannya, Alex sejenak menatap Jessica.


"Tidak usah mainkan peran istri, apalagi jika kita hanya berdua saja, aku tahu kau itu sukanya ke klub malam, jadi bebas saja, tapi pada dasarnya kau pandai bersandiwara, bukan begitu?" tanya Alex dengan senyum miring.


Jessica terdiam dan menitikkan air mata rasanya kata-kata Alex begitu menyakitkan.


"Hapus air mata palsumu itu, kita sudah kenal lama dan aku sudah tahu kau seperti apa, wanita bermuka dua!" ucap Alex.


Jessica mengusap air matanya beberapa kali sekalipun mengusapnya air mata itu terus saja tumpah, sulit sekali untuk mengeringkannya, entah mengapa kini dirinya lebih banyak menangis tak pernah tersenyum apalagi bahagia, hukuman ini terasa begitu berat dan membuat dada sesak.

__ADS_1


__ADS_2