
"Huekkkk.... hueekkkkkk....." Devan muntah-muntah merasa jijik pada banci tersebut.
Belum lagi sentuhan tangan pada lengannya yang membuat Devan jijik pada dirinya sendiri.
"Mas mau pulang atau mau ikut aku belanja?" tanya Nayla.
Devan menatap Nayla dengan kesal, banyak sekali pria yang menatap istrinya.
"Itu sayurnya segar sekali," Nayla melihat banyak sayuran dan mulai memilihnya.
"Harganya berapa Bu?" tanya Nayla.
"Wah Masnya tampan sekali, gratis Mbak ambil aja," penjual tersebut terus menatap Devan tanpa jeda.
"Kalau begini caranya aku tidak harus keluar uang setiap berbelanja, lagian juga Mas nggak ngasih uang sih," gerutu Nayla.
Segera Devan mengambil dompetnya memberikan semua uang isi dompetnya pada Nayla.
"Dari tadi kek," Nayla tersenyum bahagia, wanita mana yang diberi uang oleh suaminya tak bahagia?
Ada?
Kalau yang bilang tidak bahagia juga munafik!
"Mbak nggak usah pakai uang, ambil aja gratis, saya cuma mau peluk Masnya,"
Dengan bobot besarnya wanita tersebut meloncati sayuran dan ingin memeluk Devan.
Devan segera menjauh dan tanpa sengaja kakinya tersandung hingga terjatuh ke dalam baskom besar berisi kolang-kaling.
Baju Devan basah seketika, dengan cepat dirinya bangun, kesal pada Nayla.
Devan pun berlalu pergi.
Dengan langkah cepat Nayla menyusul Devan ikut naik ke dalam mobil, sepanjang perjalanan pulang Devan hanya diam sedangkan Nayla tak tahu harus bagaimana.
"M...Mas," Nayla ingin meminta maaf tapi Devan sama sekali tidak merespon, sampai di rumah pun Devan langsung berlalu masuk ke dalam kamar.
"Nayla, ada apa?" tanya Ana melihat menantunya berjalan terburu-buru menyusul Devan.
"Bentar ya Ma, Mas Devan marah sama aku tapi emang aku yang salah," ucap Nayla.
Setelah Ana mengangguk segera Nayla menaiki anak tangga menyusul Devan ke kamar, terdengar suara gemericik air pasti Devan sedang membersihkan tubuhnya.
Nayla berinisiatif untuk menyiapkan baju ganti ternyaman, sayangnya saat keluar dari kamar mandi,, Devan masih diam saja.
"Mas ini bajunya," Nayla memberanikan diri memberikannya pada Devan.
Devan hanya diam menatap bajunya di tangan Nayla, seketika melewati Nayla dengan begitu saja.
Nayla tidak diam saja, dirinya segera menyusul Devan dan kembali berdiri di depan suaminya.
"Mas aku minta maaf," Nayla menangkup kedua tangannya.
"Kalau mau lakukan apa-apa dipikir!" ucap Devan.
"Iya, maaf Mas," ucap Nayla.
Devan diam dengan sejumlah pikiran-pikiran di otaknya.
"Pakaikan baju Mas," perintah Devan.
"Apa?" pekik Nayla bercampur shock.
"Tidak mau? tidak usah!!!" ucap Devan.
"Iya aku pakaikan baju Mas asal maafin aku," ucap Nayla.
Mengangguk pun tidak, Devan diam tanpa kata, wajahnya terlihat datar dan dingin menyiratkan kemarahan begitu besar, demi apapun saat ini Nayla memilih menurut saja, seketika dirinya memakaikan baju untuk Devan.
"Mas pakai dalamnya sendiri yah?" ucap Nayla.
"Masih bisa menawar?" tanya Devan.
Sayangnya Devan tak ingin ditawar, hingga mau tak mau Nayla harus memakaikannya juga sampai celana dan juga kaos oblong.
Dalam hati Devan bersorak gembira tak ada salahnya memanfaatkan keadaan pikir Devan, sebab barusan dia terjatuh karena dirinya berakting agar cepat pulang dari pasar dan bisa berduaan dengan Nayla, tapi tenang dulu ini belum selesai masih banyak lagi mungkin yang akan Nayla lakukan sesuai keinginan Devan, jika barusan Nayla mengerjai Devan, kini akan terbalik Nayla harus membayar semua itu.
"Cuci tangan Mas sampai mengkilap, karena banci sialan itu memeluknya," ucap Devan dan Nayla mengangguk mengambil ember dan juga sabun.
Devan duduk di sofa dengan santai, sedangkan Nayla harus mencuci tangan Devan hingga berulang-ulang.
"Mas udah sepuluh kali di sabun, dibilas apa belum cukup?" Nayla sudah lelah berharap Devan mau mengakhiri semua ini.
"Cium tangan Mas sampai seratus kali di tempat yang berbeda-beda," ucap Devan.
Nayla membuka mulutnya lebar-lebar, perintah itu terdengar aneh, Devan memasukkan bolpoin pada mulut Nayla.
__ADS_1
"Isssh apa sih!" ucap Nayla.
"Cepat," perintah Devan.
"Iya," dengan wajah cemberut mencium tangan sebelah kanan Devan hingga berulang-ulang sesuai dengan perintah Devan.
Seratus kali cukup banyak, tapi harus tetap dilakukan agar suaminya tidak marah lagi.
"Sudah hitungan ke berapa?" tanya Devan.
"Sepuluh, sebelas,, dua belas," Nayla terus mencium tangan Devan padahal banci itu hanya memegang saja tetapi Devan malah mempermasalahkannya,, lagi pula mungkin Nayla bodoh karena tak tahu akal licik Devan.
"Seratus," ucap Nayla.
Akhirnya setelah lelah dirinya berhasil sampai di hitungan terakhir.
"Mas udah mau maafin aku?" Nayla menatap penuh harap.
Sial! mata Nayla seperti kucing yang imut membuat Devan gemas,, Devan tak mau ditipu daya, sayangnya semua belum selesai masih banyak hukuman lain Devan untuk istri tercintanya itu.
"Pijat!!!" Devan menepuk pundaknya,, dengan memutar bola mata Nayla ikut naik ke atas ranjang memijat punggung suaminya, agar segera selesai.
"Mas, aku udah capek," rengek Nayla berharap dikasihani.
"Sini kita tukar posisi," Devan bangun dan menarik Nayla yang berganti berbaring di atas ranjang,, segera Devan memijatnya.
Nayla menikmati pijatan Devan, hingga akhirnya tangan Devan memijat dua benda kenyal tanpa henti.
"Mas!" ucap Nayla.
Plak!!!!
Nayla memukul tangan Devan.
"Sini aku yang pijitin Mas," ucap Nayla.
Devan tidur terlentang menikmati pijatan Nayla dengan indahnya.
"Agak ke atas, paha Mas sakit, itu gara-gara kamu!!!" omel Devan.
"Maaf," Nayla terus mengucapkan maaf sekalipun Devan terus mengomel.
"Ke atas lagi," perintah Devan.
"Masa ke atas lagi sih Mas," rasanya tangannya sudah sangat dekat dengan senjata pamungkas Devan, tak mungkin lebih ke atas lagi.
Memang benda itu sangat tidak asing lagi di matanya, tapi sampai saat ini Nayla masih malu jika di hadapan benda itu.
"Mas!" pekik Nayla.
"Ahahahaha...." Devan tertawa bahagia melihat wajah kesal Nayla.
Nayla memukuli Devan dengan kedua tangannya,, dengan tawa yang terus menggelegar, Devan membalikkan posisi kedua.
Nayla berada di bawah tubuhnya Devan, masih dengan terus mengunci pergerakan Nayla berusaha untuk memukul Devan, sayangnya bukan pukulan Nayla yang diterima yang ada Devan mencium bibir Nayla hingga beberapa kali.
"Lepaskan!" ucap Nayla.
"Ahahahaha... kamu mau lagi?" tanya Devan.
"Nggak," ucap Nayla.
"Bilang aja mau, padahal Mas kasih kok," Devan kembali mengarahkan tangan Nayla pada senjata pamungkasnya.
"Mas," Nayla masih berusaha untuk melepaskan dirinya, sayangnya sulit sekali karena Devan merasa terhibur dengan wajah Nayla yang memerah menahan malu.
"Apa sayang? dihisap juga nggak kalah enak kan?" ucap Devan.
"Nggak enak," ucap Nayla.
"Ah massa? coba dicoba lagi barangkali kamu lupa," goda Devan.
"Mas lepasin aku!" ucap Nayla.
"Nggak! nanti kamu pegang senjata barusan, Mas lagi capek banget," ucap Devan.
"Nggak usah ngawur," ucap Nayla.
Ingin sekali menangis tak kuasa dengan godaan Devan yang semakin gila.
Jika Reyna melihat ini semua, pasti dia akan menyesal mengatakan suaminya itu kaku, lihat saja saat ini, kegilaan dan mesumnya Devan sungguh luar biasa, andai saja satu rumah sakit tahu, hilang sudah wibawa Devan sebagai Dokter dingin yang disegani orang-orang.
"Mas!" ucap Nayla lagi.
"Apa sayang? cium?" tanya Devan.
"Nggak," ucap Nayla.
__ADS_1
"Nggak nolak!" Devan mencium kembali bibir Nayla,, entah sudah berapa kalinya mungkin tak ada kata bosan untuk itu.
Semakin istrinya berteriak meronta-ronta ingin dilepaskan, maka semakin membuatnya bahagia.
"Mas lepasin," ucap Nayla.
"Ya ampun sayang, si Joni sudah mengeras, minta masuk sarang kayaknya," ucap Devan.
Ampun!
Sampai di sini Devan semakin gila, Nayla tak tahu mantan majikannya yang dulu tidak meliriknya sama sekali, kini bisa bertingkah laku di luar logika.
"Sayang Mas nggak tahan," ucap Devan.
Tok...tok...tok...
"Siapa itu? apa tidak tahu ini kamar pengantin baru," ucap Devan.
Kesal rasanya mendengar suara ketukan pintu hingga terpaksa dirinya harus melepaskan Nayla.
Nayka tak menyia-nyiakan kesempatan, pintu yang tidak terkunci bisa dengan mudah siapapun untuk masuk, segera membuka pintu dan ternyata Reyna.
"Nayla, Felix haus," ucap Reyna dan Nayla segera mengambil alih Felix.
"Anak bunda haus?" ucap Nayla.
"Nayla, aku istirahat sebentar yah, boleh nggak aku istirahat di kamar tamu?" tanya Reyna.
"Boleh," jawab Nayla.
Nayla pun masuk sambil membawa Felix.
"Ini anak siapa?" tanya Devan dengan bodohnya.
"Anak Mas," jawab Nayla.
"Oh ya lupa," ucap Devan.
Devan menggaruk kepalanya, tampaknya tak mengeluarkan cairan kepuasan membuatnya sedikit bodoh, bukan sedikit, banyak lebih tepatnya.
"Kenapa anak ini sangat suka merusak kebahagiaan Ayahnya? apa dia tidak tahu itu namanya durhaka!" gerutu Devan.
Nayla mencubit lengan Devan, kesal sekali mendengar keluhan Devan.
"Ya kan memang begitu padahal ini juga untuk dia,," Devan pun tak pernah salah menurutnya dirinya selalu benar.
"Kalau kita nyetak anak, dia juga yang senang bisa punya adik kan? punya teman bermain!" ucap Devan.
Nayla benar-benar menusukkan kukunya pada lengan Devan, kesal bukan main mendengar ucapan Devan tak pernah difilter saat ada Felix.
"Sayang sakit!" ucap Devan.
"Makanya punya mulut hati-hati," ucap Nayla.
"CK!!!" Devan bangun dari ranjang dan meraih ponselnya.
"Mas akan menyalakan alarm di ponsel ini saat usia Felix tujuh belas tahun,, Mas akan membalas semua ini di tahun 2040," ucap Devan.
Ya ampun!!!
Nayla geleng-geleng kepala melihat kelakuan absurd suaminya, apa mungkin ponsel itu masih bisa bekerja dengan baik hingga beberapa tahun ke depannya.
"Sayang Mas di sebelahnya yah?" Devan menangkup kedua tangannya memohon pada Nayla.
"Iya," ucap Nayla.
Devan tersenyum dan ikut menyusu seperti Felix, tapi saat Devan tengah menikmatinya tiba-tiba Felix menjerit.
"Aaaaaa...."
Terpaksa Devan melepaskannya padahal rasanya tak bisa dikatakan sungguh nikmat, tapi Felix malah berpindah ke sebelahnya dan tidak mengizinkan Devan untuk mengambil miliknya.
Devan pun mengalah, segera berpindah bagian satunya yang sempat ditinggalkan Felix. Sebelum Devan memasukkan mulutnya, Felix berpindah lagi begitu hingga berulang kali.
"Ahahahaha...." tawa Nayla pecah, perang dingin antara Devan dan Felix membuatnya merasa lucu.
"Benar-benar bocah ini!!" ucap Devan kesal.
Kini Felix melepaskan ASI dari mulutnya, tersenyum pada Devan dengan polosnya merasa barusan Devan sedang mengajaknya bercanda padahal ayahnya nelangsa dengan nyata.
"Ayah!" seru Felix sambil tertawa.
"Apa maunya bocah ini,, setelah menyakiti aku dia masih bisa tersenyum," gumam Devan.
"Mas apa sih, dia masih kecil," sambil tertawa kecil Nayla berusaha menengahi pertengkaran antara Devan dan Felix.
"Tapi dia nakal," ucap Devan.
__ADS_1
"Felix cium ayah nak," Nayla mendekatkan wajah Felix pada Devan dan mencium pipi Devan beberapa kali, bahkan hidung Devan pun Felix hisap.
"Ahahahaha..." tawa Nayla semakin menggelegar melihat wajah kesal Devan.