Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Lingkaran ini menciptakan keterpaksaan dan harus dijalani,,


__ADS_3

"Mas,," dengan cepat Nayla berdiri diantara dua pria yang saat ini sedang bersitegang.


Pada siapa Nayla harus berpihak? Devan adalah suaminya tapi tidak ada cinta diantara mereka berdua,, sedangkan Denis adalah kekasihnya mereka saling mencintai namun keadaan tidak bisa membuat mereka bersama,, karena Devan sudah menikahinya.


"Mas,, disini banyak orang,, kita berdua hanya menikah siri jangan sampai ada orang yang mengenali Nyonya Jessica disini dan akan memberitahukan Nyonya Jessica mengenai yang terjadi disini,," ucap Nayla pelan kepada Devan sambil mengedarkan pandangan matanya ke sekelilingnya.


Devan mulai menenangkan dirinya sejenak lalu segera menarik lengan Nayla. Tetapi Denis juga saat ini tengah memegang lengan Nayla yang satunya.


"Lepaskan dia!!!!," tegas Devan sambil melihat tajam pada Denis.


"Mas,," ucap Nayla sambil melihat Denis dengan ekspresi wajah memelas.


Melihat ekspresi wajah memelas dari Nayla membuat Denis terpaksa melepaskan pegangan tangannya pada Nayla,, meskipun hati terasa tidak rela melepaskan Nayla.


Devan memberikan tatapan tajam pada Denis,, lalu dengan segera membawa Nayla pergi menuju mobilnya,, memasukkan Nayla ke dalam mobil. Lalu membawa Nayla ke rumah yang dulu disiapkan Devan untuk Nayla.


Nayla hanya diam sambil mengikuti Devan yang sedang menarik lengannya untuk masuk ke dalam rumah.


"Kemana kau akan pergi?" tanya Devan sambil melihat Nayla yang sejak tadi hanya diam,, mendudukkan Nayla di atas sofa,, sangat banyak pertanyaan yang mesti dijawab oleh Nayla saat ini.


"Kamu ingin melarikan diri dengan pria tadi?" tebak Devan sambil melihat Nayla dengan tatapan mata penuh selidik.


"Mas, aku,, aku..,,"


Nayla bingung haruskah berkata jujur pada Devan saat ini,, melihat Devan seperti sedang marah besar,, Nayla takut dan dilema sampai menusuk di relung jiwanya.


"JAWAB!!!," Nayla langsung tersentak kaget begitu Devan bertanya sambil menggebrak meja.


"JAWAB!!!," tegas Devan lagi.


"Mas,," ucap Nayla bingung harus berkata apa.


"JAWAB NAYLA!!!," sentak Devan lagi.

__ADS_1


"Mas aku tidak tega melihat Nyonya Jessica yang sangat baik padaku lalu aku membuat hatinya terluka nanti,, aku tidak tega menyakiti hati Nyonya Jessica mas,," ucap Nayla dengan suara bergetar menahan ketakutan dan juga tangisan.


"Lalu bagaimana dengan anak kita yang saat ini kamu kandung? anak itu tidak bersalah sama sekali,, kau akan menyakiti dia,, ini juga sangat tidak adil untuk anak kita,," ucap Devan.


"Mas,, aku benar-benar tidak tega menyakiti hati wanita lain,, aku tidak tega mau aku paksa bagaimana pun untuk tidak perduli tetap saja aku selalu kepikiran,, Nyonya Jessica sangat baik padaku,, aku tidak mungkin setega itu menyakitinya,,," ucap Nayla lagi yang diselimuti perasaan bersalah.


Nayla sebenarnya tidak setuju dengan ajakan Denis selama ini untuk pergi dari hidup Devan disaat masih mengandung,, tetapi tadi pagi begitu melihat Jessica yang semakin baik padanya membuat Nayla dipenuhi rasa bersalah lalu setuju dengan ajakan Denis dan menghubungi Denis,, pergi dengan Denis agar rumah tangga Devan dan Jessica tetap bahagia selamanya. Karena Nayla sadar kehadiran dirinya hanya akan membuat sakit hati Jessica yang begitu baik padanya.


"Lalu kamu memutuskan untuk pergi dengan laki-laki lain?" tanya Devan dan Nayla langsung mengangguk membenarkan pertanyaan Devan.


Devan benar-benar tidak menyangka jika Nayla nekat pergi,, Nayla lebih memilih mempertahankan rumah tangganya dan Jessica tanpa memikirkan dirinya sendiri yang sedang mengandung anak dari Devan.


"Nayla,, kamu menyakiti anak kita jika kamu seperti itu,," ucap Devan yang semakin merasa bersalah,, Devan benar-benar tersentuh dengan kebaikan hati Nayla,, padahal jelas-jelas Nayla juga saat ini korban dari malam itu,, sampai saat ini Devan masih menyelidiki penyebab dirinya malam itu bisa lepas kendali.


"Nayla aku mengerti dengan perasaan mu saat ini,, tapi anak yang kamu kandung itu butuh orang tua kandungnya,, aku sebagai Ayah kandungnya tidak mungkin rela jika anakku memanggil dan menganggap Ayah pada orang lain,, aku tidak mungkin rela,," ucap Devan.


Devan sebisa mungkin menjelaskan pada Nayla dengan cara selembut mungkin,, membuat Nayla mengerti bahwa saat ini bukan hanya hati Jessica yang korban,, tapi janin itu juga adalah korban. Mengapa janin tidak berdosa itu harus mendapatkan ketidakadilan juga,, itu rasanya sangat tidak mungkin.


"Tatap mata aku Nayla," ucap Devan sambil melihat Nayla yang sejak tadi hanya menunduk menangis seirama dengan perasaan berdosa nya pada Jessica.


"Aku bersalah mas,, bagaimana bisa aku merebut kebahagiaan wanita lain,," ucap Nayla sambil terisak.


"Tidak ada yang bersalah dan tidak ada juga yang merebut kebahagiaan wanita lain,, lingkaran ini menciptakan keterpaksaan dan harus dijalani,, tolong mengertilah Nayla,, aku mohon,," ucap Devan.


"Tapi mas,,..."


Devan dengan segera memeluk erat Nayla,, Devan mengerti dengan apa yang dirasakan wanita berhati malaikat yang berada di pelukannya saat ini.


"Mas memang benar mencintai Jessica,, itu memang benar tapi mas juga mencintai anak kita yang sedang kamu kandung sekarang,," ucap Devan sambil mengecup pucuk kepala Nayla berkali-kali.


Nayla tidak tau lagi harus berkata apa,, Devan sangat keras tidak mau melepaskan anaknya,, Nayla memutuskan kali ini untuk tetap kuat tidak memikirkan Jessica untuk sementara walaupun itu terasa sangat sulit,, untuk kali ini Nayla tidak bisa memungkiri jika apa yang dikatakan Devan tadi memang benar,, lingkaran ini terjadi karena keterpaksaan bukan karena dirinya sengaja ingin menyakiti hati wanita lain.


"Apa kamu sudah mengerti?" tanya Devan.

__ADS_1


Nayla pun mengangguk lalu membalas pelukan Devan.


Pelukan yang sangat hangat pada Nayla.


"Jadi kamu jangan pernah berpikir bodoh lagi,, jangan egois pikirkan juga janin mu,, mas juga disini berkorban perasaan,, mas juga merasa bersalah telah mengkhianati Jessica,, tapi ini keterpaksaan keadaan bukan kesengajaan," ucap Devan.


"Iya mas,, aku akan mencoba untuk tetap bertahan,, melupakan sejenak perasaan bersalah ku pada Nyonya Jessica," ucap Nayla.


Perlahan Nayla melepaskan pelukannya pada Devan,, Nayla benar-benar langsung merasa canggung begitu menyadari bahwa dirinya tadi membalas pelukan Devan.


"Nayla?" Devan menatap manik mata Nayla yang sembab karena menangis sejak tadi. Wajah sedih Nayla berkabut luka dan perasaan bersalah masih jelas dilihat oleh Devan.


"Jangan menangis lagi," ucap Devan sambil menghapus sisa-sisa air mata Nayla. Wajah Nayla saat ini dimata Devan seperti kucing kecil manis yang tengah kebingungan karena tersesat.


Perlahan Devan menarik Nayla lebih dekat padanya lalu mencium bibir Nayla dengan lembut dan perlahan.


Nayla membalas dengan penuh kehangatan,, membuang jauh-jauh rasa bersalahnya meskipun susah,, mengingat yang menciumnya saat ini suaminya juga dan hormon kehamilan Nayla yang membuatnya sangat butuh kasih sayang dari suaminya.


Devan melepaskan sebentar lalu melihat wajah Nayla. Manik mata Devan seakan mencari jawaban,, Devan sudah tidak sanggup lagi menahan gejolak hasrat yang semakin hari semakin Devan tidak bisa kendalikan ketika melihat Nayla.


"Bolehkah aku..?" ucap Devan yang sudah dimengerti Nayla.


Nayla menganggukan kepalanya sambil menutup matanya menantikan bibir lembut Devan kembali menciumnya. Nayla tidak bisa pungkiri selama hamil Nayla sangat membutuhkan Devan,, padahal Nayla tidak mau seperti itu tetapi tubuhnya selalu saja tidak mau berkompromi dengannya.


Namun,, ponsel Devan yang tiba-tiba berdering menyadarkan segalanya.


Nama Jessica tertulis di layar ponsel Devan,, lalu Devan segera menjawab.


"Sayang,, kamu sudah sampai?" tanya Jessica dari balik telepon.


"Iya Jessica,, aku ada pasien sekarang,," jawab Devan sambil matanya menatap Nayla yang sedang duduk di sampingnya.


"Baiklah," ucap Jessica lalu segera menutup panggilan teleponnya dengan Devan.

__ADS_1


__ADS_2