Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Salah sasaran!


__ADS_3

Suara ponsel membuat tidur Reyna terusik dengan setengah kesadaran dirinya mencari ponsel yang tergeletak asal di samping bantal.


Dengan rasa malas Reyna meletakkan di atas telinganya, belum sempat dirinya berbicara sudah terdengar suara dari balik sambungan telepon.


"Nanda kamu kapan sampai? aku udah nungguin, kamu cepat jemput sekarang," terdengar suara wanita yang tengah kesal pada Nanda.


Seketika Reyna menyadari jika dirinya salah menjawab panggilan ternyata milik Nanda dengan jelas Reyna melihatnya, langsung kehilangan kantuk dengan begitu saja.


Baiklah tampaknya wanita tersebut harus diberikan pelajaran, dirinya sudah memberikan segalanya, apa mungkin Nanda hanya menjadikan dirinya sebagai alat pelampiasan.


Oh tidak bisa!


Reyna menaikkan volume suara ponsel dan mulai mengelus-elus tubuh Nanda.


"Em," Nanda menggeliat merasakan sentuhan tangan Reyna pada bagian intinya.


Reyna tidak peduli hanya saja saat ini wanita yang menghubungi dirinya harus diberikan pelajaran saat ini Reyna hanya ingin memanas-manasi keadaan.


"Reyna," desah Nanda.


"Nanda aku mau lagi," pinta Reyna dengan manja.


Nanda bergerak dan seketika menarik Reyna ke dalam pelukannya, mencium bibir Reyna dengan perlahan.


Dirinya yang memang sangat menginginkan kembali setelah malam tadi mencoba menahan diri melihat Reyna yang kelelahan membuatnya kasihan, namun siapa sangka ternyata Reyna sendiri yang memulainya kalau sudah begini tentulah tak boleh ada penolakan tentunya, dengan sengaja Reyna bersuara, berteriak dan merintih kencang agar terdengar oleh wanita yang menghubungi Nanda yang masih terhubung lewat sambungan telepon, sebagai seorang wanita dirinya harus memiliki harga diri mana mungkin dirinya mau hanya menjadi tumbal saja.


"Nanda geli," teriak Reyna saat merasakan gunung kembarnya dimainkan oleh Nanda.


Sebisa dan sekencang-kencangnya Reyna menjerit, biar saja lupakan malu yang penting tujuannya tercapai, agar wanita tersebut jera dan tak lagi menghubungi Nanda. Karena setelah ini Nanda pun akan dihajar habis-habisan jika masih berani berhubungan dengan wanita itu, sedangkan Nanda semakin bersemangat saat Reyna merintih bahkan berteriak, yang lucunya Reyna sendiri yang menuntun tangan Nanda untuk menyentuh.


"Nanda lebih kencang," pinta Reyna dengan suara manja sehingga membuat Nanda semakin menggila.


"Apakah ini kurang kencang?" Nanda pun semakin kencang memainkannya sesuai keinginan Reyna.


"Iya begitu! hisap Ah... Nanda nikmat," rintih Reyna sambil melihat mulut Nanda yang terus menyusu seperti bayi kehausan.


Sial!


Nanda semakin masuk pada gairah, tidak menyangka Reyna bisa begitu liar, sejenak dirinya merasa beruntung bisa mendapat wanita cantik dan seksi tersebut.


"Apa kamu suka?" tanya Nanda.


"Iya gigit. Ah... lebih kencang lagi, aku mohon," Reyna menjambak rambut Nanda merasakan sensasi yang sungguh luar biasa.


Sesaat kemudian Reyna mendorong Nanda, dirinya berbalik menindih Nanda.


"Reyna," rintih Nanda merasakan miliknya dimainkan di bawah sana.


"Bagaimana enak?" tanya Reyna.


"Iya... hisap sekarang," ucap Nanda.


Reyna pun menurut dan menghisap dengan perlahan menikmati benda besar, berurat, panjang dan keras.


Uhuk... Uhuk...


Reyna terbatuk-batuk saat merasakan benda tersebut menyentuh tenggorokannya.


Nanda pun tidak sabaran dengan cepat memimpin kembali permainan memasuki Reyna dengan tidak sabar, bergerak dengan kecepatan tinggi, rasanya begitu luar biasa. Pagi ini tak kalah panas dengan tadi malam di mana pertama kalinya merasakan tubuh istrinya dengan sukarela.


"Ah... Ah... Ah"


Desah Reyna semakin menjadi-jadi saat merasakan hentakan Nanda yang semakin kencang, suaranya hingga menggema di ruangan kedap suara tersebut.


"Ah," hingga akhirnya keduanya sampai pada puncaknya, terkapar pada ranjang dengan rasa puas yang luar biasa, dengan cepat Reyna menarik selimut untuk menutupi tubuhnya kemudian mengambil ponsel Nanda.


"Panggilannya sudah terputus?" Reyna menggaruk kepalanya bingung, entah sejak kapan panggilan tersebut terputus.


"Kamu ngapain?" Nanda mengambil ponselnya kembali dan melihat layar ponselnya, bertanya-tanya apakah yang sedang dilakukan oleh Reyna.


"Siapa wanita tadi?" tanya Reyna secara langsung.


Tatapan mata yang tajam seakan menjadikan Nanda adalah tawanannya, saat ini Reyna hanya sedang berjuang untuk harga dirinya.

__ADS_1


"Yang mana?" Nanda yang tidak tahu apa-apa justru kembali bertanya.


Berulang kali melihat ponselnya tapi tak tampak ada hal yang perlu dipertanyakan, lalu apa yang kini tengah dibahas oleh Reyna tentunya membingungkan sekali.


"Buka ponsel mu," dada Reyna naik turun, nafasnya yang memburu bukan hanya karena kelelahan tapi juga menahan emosi yang membara.


"Apanya?" tanya Nanda bingung.


"Buka," ucap Reyna.


"Ponsel ini tidak terkunci, tidak ada pin atau sandi, jadi apa yang harus dibuka? bajumu juga sudah dibuka?" kali ini Nanda yang bertanya pada Reyna.


"Dasar mesum!" Reyna pun kembali pada pembahasan awal.


"Apa iya?" dengan cepat Reyna mengambil kembali ponsel Nanda dan memeriksa ponsel tersebut.


Benar saja ternyata ponsel itu tidak terkunci sama sekali, kenapa dirinya mendadak bodoh?


Ah!


Perduli setan, ada permasalahan lain yang harus diselesaikan antara keduanya, bagaimana jika dirinya hanya dijadikan bahan pelampiasan kemudian Nanda akan membuangnya setelah puas, menikah paksa! keperawanan sudah hilang, dicerai jadi janda!


Oh tidak!


Jangan harap Reyna bisa menerima dengan lapang dada dan tanpa perlawanan, menikah dengan wanita lain yang dicintainya itulah kini masalahnya.


Tidak!


"Kamu kenapa sih?" Nanda benar-benar bingung dengan istrinya, apakah istrinya itu sudah gila atau bagaimana?


"Tadi ada wanita yang menghubungi kamu," jawab Reyna.


"Benarkah?" Nanda pun menepuk dahinya dan merebut paksa ponselnya dari tangan Reyna.


"Kenapa panik?" Reyna tidak membiarkan ponsel Nanda berpindah tangan, seketika dirinya menyimpan di balik selimut.


"Balikin," ucap Nanda.


"Reyna?"


"Siapa perempuan itu? apa kamu cuma jadiin aku alat pemuas nafsumu saja? kamu memanfaatkan pernikahan kita?" ucap Reyna.


"Dasar gila!" Nanda pun mengetuk kepala Reyna, mungkin saja otak istrinya itu tergeser sehingga tidak berfungsi dengan baik dan benar.


Reyna pun memindahkan ponsel Nanda ke belakang tubuhnya.


Nanda mencoba merebutnya hingga Reyna kembali terlentang dan Nanda menindihnya.


"Balikin!" ucap Nanda.


"Nggak mau sana jauh-jauh!" ucap Reyna.


"Kamu kenapa sih atau kamu mau mancing aku lagi?" tanya Nanda sambil menggerakkan kedua alis matanya.


Reyna merinding mendengar perkataan Nanda, bukan itu maksudnya.


"Enak aja!" Reyna kesal dan mendorong tubuh Nanda dengan sebelah tangannya.


Sedangkan sebelahnya lagi masih berada di belakang badannya melindungi ponsel Nanda yang akan direbut Nanda sendiri.


"Kembalikan aku sedang perlu," ucap Nanda.


"Nggak mau kamu harus jelasin dulu!" ucap Reyna.


"Menjelaskan apa?" nada suara Nanda meninggi menahan emosi yang luar biasa.


Tetapi sesaat kemudian dirinya mencium bibir Reyna yang berjarak kurang dari sejengkal dari bibirnya.


"Apa sih!" Reyna kesal dan menggeleng.


"Kembalikan," ucap Nanda.


"Jelasin dulu!" ucap Reyna.

__ADS_1


"Apanya yang harus dijelaskan?" tanya Nanda.


Nanda kembali lagi mencium bibir Reyna, tangannya mengelus-elus paha Reyna di bawah selimut sana.


"Nanda apa sih," ucap Reyna.


Reyna bergerak berusaha untuk menghindari Nanda tapi sulit sekali.


Bahkan Nanda kembali mencium bibirnya saat Reyna akan menjauhi bibirnya dengan cepat tangan Nanda menahan tengkuk sehingga Nanda masih tetap dengan permainannya, terdengar dering ponsel, Nanda pun terpaksa menjauh dan merebut ponselnya dengan paksa.


"Nggak," Reyna yang tidak memberikannya masih terus bersikeras mempertahankan ponsel tersebut hingga Nanda menindihnya dan akhirnya Nanda berhasil mendapatkan kembali.


"Halo bude" jawab Nanda masih berada di posisinya.


"Bude?" gumam Reyna bingung dan bertanya-tanya.


Nanda menunggu seseorang di seberang sana berbicara, sesekali mencium kecil bibir Reyna yang begitu dekat dengan bibirnya.


"Ishh," Reyna mendorong wajah Nanda tapi tak berselang lama Nanda pun kembali mencium bibirnya lagi.


"Bude udah sampai di Jakarta, kamu itu ya bukannya jemput bude malahan ngapain kamu ah... ah... uh... dasar tidak sopan," omel wanita paruh baya di seberang sana.


Mungkin jika berdekatan Nanda sudah digeprek seperti ayam, kesal hingga pada ubun-ubun itu sangat menjengkelkan, Nanda bingung dan bertanya-tanya apa maksud dari omongan budenya itu.


"Maksudnya bagaimana bude?" melihat wajah Reyna yang manis, Nanda mencium bibir istrinya kembali sambil mendengarkan jawaban dari budenya.


"Tadi barusan bude telepon kamu, bude mau bilang jemput, lah malah yang bude dengar uh... uh... ah..." amarah budenya masih saja meluap-luap, dirinya tahu betul suara uh... ah itu apa.


Nanda pun menghentikan ciumannya, menatap wajah Reyna dengan penuh tanya.


"Bude sebelumnya juga telepon aku?" tanya Nanda.


"Iya sekarang bude udah sampai di rumah kamu, dijemput Mamamu, sudah dulu bude mau istirahat," ucap wanita itu kemudian mematikan sambungan telepon setelah puas mengomel pada Nanda.


Keponakan yang membuatnya kesal pagi-pagi begini.


Setelah panggilan terputus, Nanda pun melihat beberapa saat lalu ada panggilan masuk, Nanda pun meletakkan ponsel dan menatap Reyna penuh tanya.


"Apa kamu yang menjawab panggilan telepon dari bude tadi?" tanya Nanda.


"Jadi yang tadi pagi nelpon kamu minta dijemput bude kamu?" lemah sekali rasanya tubuh Reyna.


Reyna memang berada di atas ranjang dan posisi berbaring tapi setelah mendengar pertanyaan Nanda membuat tubuhnya terasa tanpa tulang.


Lembek seperti jeli.


Hancur lebur!


Bodohnya dirinya sempat berpikir itu adalah kekasih Nanda, dan menyingkirkan dirinya setelah puas dan misinya adalah ingin memisahkan Nanda dari kekasihnya, malah ternyata salah kenapa Reyna tak melihat nama kontaknya terlebih dahulu.


"Tadi bude menelepon apa kamu yang menjawab?" Nanda mengulangi pertanyaannya.


"Apa? bude?" pekik Reyna kesal.


"Biasa aja! apa jangan-jangan saat kita main kuda-kudaan kamu belum memutuskan sambungan telepon?" cerca Nanda dengan rentetan pertanyaan.


Reyna pun mendorong Nanda agar turun dari atas tubuhnya, kemudian dia duduk dengan selimut yang dipegang di dada.


"Aku nggak tahu tadi aku pikir itu pacar kamu dan aku pikir kamu mau buang aku setelah kamu puas, aku udah kasih semuanya aku takut ditipu kamu makanya aku lakuin itu," Reyna mengusap wajahnya kesal sekali rasanya dengan dirinya sendiri.


Bukannya marah Nanda malah tertawa terbahak-bahak melihat wajah Reyna belum lagi penjelasan Reyna yang cukup menggelitik perut.


"Ahahahaha,"


"Ishh," Reyna kesal dan mengacak rambutnya.


"Ahahahaha,"


Nanda benar-benar mendapatkan hiburan, ada lagi kepuasan di pagi ini, luar biasa!


"Jeritan kamu tadi itu mantap," ucap Nanda.


"Nanda," teriak Reyna sambil memukuli Nanda yang terus menertawakan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2