Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Ngeri-ngeri sedap...


__ADS_3

Ponsel baru yang barusan diberikan oleh Devan terus berdering membuat Nayla langsung melihat nama kontak yang menelepon dirinya dan tertera nama Devan membuat Nayla langsung melihat dengan malas lalu membiarkan ponsel itu berdering hingga mati sendiri.


Nayla tidak memiliki keinginan sedikit pun untuk menjawab panggilan telepon dari Devan,, namun Devan terus saja menelepon Nayla. Nayla dengan malas bercampur kesal langsung mengangkat panggilan telepon dari Devan.


"Halo,," ucap Nayla dengan nada suara yang cukup tinggi.


Devan langsung menjauhkan ponsel dari telinganya begitu mendengar suara Nayla yang cukup tinggi mengagetkan gendang telinganya.


"Mas tunggu kamu di ujung pos satpam,," ucap Devan.


"Mau kemana?" tanya Nayla dengan perasaan kesal.


"Kamu mau makan apa malam ini? mas akan membelikan kamu makanan yang kamu inginkan dan juga mas akan mengantar kamu ke tempat yang kamu inginkan,," ucap Devan yang sedang berusaha berdamai dengan istri keduanya itu.


"Nggak tertarik sama sekali,," ucap Nayla lalu ingin mematikan panggilan telepon secara sepihak namun Nayla batalkan begitu mendengar ucapan Devan lagi.


"Berarti bertemu Jessica kamu tertarik?" ucap Devan.


Nayla langsung mengacak rambutnya frustasi,, mengapa saat ini dia yang takut jika ketahuan Jessica,, padahal seharusnya yang takut adalah Devan bukan dirinya.


"Iya tunggu disitu,, aku kesana,," ucap Nayla kesal lalu dengan segera mematikan panggilan teleponnya dengan Devan,, dan segera berjalan dengan malas keluar kamarnya.


"Nayla,, mau kemana malam-malam begini?" tanya Bik Ina begitu melihat Nayla keluar dari dalam kamar.


"Bik,, aku mau keluar sebentar bersama teman,, bolehkan bik?" ucap Nayla sambil melihat Bik Ina kepala Art di rumah Devan.


"Oh tentu boleh,, dasar anak muda,," ucap Bik Ina sambil tersenyum pada Nayla,, mengerti dengan Nayla yang mungkin akan keluar dengan pacarnya,,, itulah yang dipikirkan Bik Ina.


Nayla pun segera pergi,, Nayla mengendap-endap seperti maling itulah yang dilakukan Nayla sampai di dekat mobil Devan,, setelah itu Nayla memastikan lagi apakah benar-benar aman lalu segera masuk ke dalam mobil Devan,, begitu masuk Nayla langsung melihat Devan yang sudah menunggunya di kursi kemudi.

__ADS_1


Tanpa berbicara apapun,, Devan langsung melajukan mobilnya.


"Mau makan apa?" tanya Devan begitu agak cukup jauh dari rumahnya.


"Jagung bakar,," jawab Nayla singkat.


Devan langsung mengangguk lalu segera mencari penjual jagung bakar,, sekalipun ibu hamil disampingnya itu masih menjawab dirinya dengan kesal tapi Devan tetap berusaha menenangkan perasaan ibu hamil itu,, alasannya karena kandungan Nayla yang stres setelah Devan memeriksa nya tadi siang.


Begitu melihat penjual jagung bakar,, Devan segera turun membelikan untuk Nayla,, lalu segera membawa dua buah jagung bakar ke dalam mobil,, dimana Nayla sedang menunggunya.


"Ayo makan," ucap Devan sambil memberikan jagung bakar untuk Nayla makan.


Nayla menyingkirkan sejenak rasa kesalnya lalu segera melahap jagung bakar yang telah dibelikan Devan,, Nayla mau menolak tapi jagung bakar itu sangat menggunggah seleranya.


"Pelan-pelan,, tidak akan ada yang mengambil jagung mu,, aku juga tidak memiliki keberanian untuk mengambil jagung mu,," ucap Devan sambil terkekeh geli melihat Nayla yang makan sangat lahap seperti anak-anak.


Teori yang sejak dulu dipelajarinya seakan sudah mulai terlihat sekarang,, Devan tidak lagi melihat keadaan pasiennya dan mendengarkan keluhan para suami-suami yang istrinya sedang hamil,, keluhan yang setiap suami katakan bahwa istrinya memiliki keinginan dan tingkah laku aneh selama masa kehamilan,, saat ini Devan sudah mulai merasakannya juga,, sudah mulai mengerti dengan keluhan para suami dari pasien-pasiennya.


Setelah minum air mineral,, tangan Devan bergerak sangat lembut mengusap bibir Nayla,, entah dimana tisu yang biasa berada di dalam mobilnya,, mungkin Pak Asep lupa menyimpannya kembali ketika selesai membersihkan mobilnya.


Nayla tersentak kaget begitu merasakan kelembutan tangan Devan pada bibirnya,, sekujur tubuh Nayla terasa berdesir begitu merasakan kelembutan tangan Devan yang sedang mengusap bibirnya lembut.


Devan tidak tau mengapa malam ini Nayla terlihat sangat cantik,, Devan baru menyadarinya saat ini bahwa Nayla sangat cantik. wajah Nayla yang tirus dan putih,, hidung mancung dan juga bibir kecil serta merah. Devan baru menyadarinya,, perlahan Devan mendekatkan bibirnya pada bibir Nayla lalu mengecup dengan lembut bibir ranum Nayla.


Nayla perlahan menutup matanya menikmati sentuhan lembut dari bibir Devan.


Tiba-tiba Nayla tersadar apa yang sedang terjadi dan langsung membuka matanya,, begitu pun dengan Devan ikut tersadar apa yang dia lakukan. Keduanya mendadak diam membisu,, Devan langsung menyalakan mesin mobilnya sedangkan Nayla langsung meremas jari-jemarinya sambil sesekali menggigit kukunya dan melihat keluar jendela tak mampu melihat Devan.


Nayla tidak munafik selama beberapa hari ini Nayla sangat menginginkan belaian tangan dari Devan bahkan sekalipun terdengar menjijikkan tetapi selama hamil Nayla sangat menginginkan nafkah dari Devan layaknya seorang wanita yang telah memiliki suami.

__ADS_1


Mereka berada di dalam pikiran masing-masing hingga akhirnya mereka sampai di tempat sebelumnya Nayla naik ke mobil Devan,, Devan segera menepikan mobilnya lalu melihat Nayla.


Tangan Devan lagi-lagi mengusap lembut perut Nayla,, membuat Nayla langsung menutup mata menikmati sentuhan lembut Devan pada perutnya.


Devan memang sudah terbiasa mengelus lembut perut Nayla,, Devan merasakan ada kebahagiaan setiap dia melakukan itu. Ada ketenangan yang Devan rasakan sekalipun hanya menyentuh perut Nayla dari luar. Devan benar-benar sangat tidak sabar ingin melihat wajah anaknya nanti ketika Nayla telah melahirkan. Memanggil dirinya dengan panggilan Ayah.


Perlahan Devan menundukkan kepalanya lalu mencium perut Nayla berkali-kali.


"Ya ampun,," batin Nayla semakin tidak karuan gara-gara Devan melakukan itu.


Nayla langsung membuka matanya perlahan. Tangan Devan saja sudah membuatnya panas dingin apalagi bibir Devan yang mengecup perutnya berkali-kali. Meskipun bibir Devan mengecup perutnya dari balik baju,, tapi tetap saja sensasinya sangat luar biasa di tubuh Nayla hingga terasa ngeri-ngeri sedap.


"Mau Ayah peluk tidur malam ini?" bisik Devan pada perut Nayla seakan sedang mengajak janin yang baru berusia tiga minggu itu untuk berbicara.


"Apa ini kenapa terasa aneh sekali?" batin Nayla yang benar-benar tidak tahan dengan perasaan aneh yang terus dirasakannya,, tidakkah Devan mengerti.


Devan menjauh sedikit lalu segera melihat wajah Nayla yang tampak sedang menegang.


"Apa kamu mau mas temani tidur malam ini?" tanya Devan dan sangat berharap jawaban iya dari Nayla.


"Nggak mau," jawab Nayla kesal.


Nayla benar-benar kesal sendiri dengan jawabannya yang sangat bertentangan dengan hatinya yang ingin sekali mengatakan iya.


Nayla sangat kesal pada Devan,, kenapa Devan mesti bertanya lagi,, lagian wanita mana yang tidak ingin tidur dipelukan suaminya,, apalagi Nayla saat ini sedang mengandung tentu tak ingin jauh-jauh dari suaminya.


Nayla segera turun dengan membawa perasaan kesal pada dirinya sendiri yang menjawab pertanyaan Devan dengan nggak mau.


Devan terdiam melihat Nayla yang sedang berjalan menuju gerbang,, Devan kemudian menyentuh bibirnya yang belum lama tadi mencium bibir Nayla.

__ADS_1


Otak Devan saat ini benar-benar tidak baik-baik saja,, otaknya sedang rusak,, bibir lembut Nayla menjadi racun tersendiri buatnya. Devan langsung terbayang saat-saat dirinya mengambil keperawanan Nayla dan Devan ingin melewati malam itu lagi.


__ADS_2