Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Devan kamu kenapa????


__ADS_3

Setelah keluar dari ruangan Direktur utama, Nayla terlihat biasa saja, awalnya memang dia terlihat cukup kaget tapi tidak lama kemudian dia kembali santai mengingat bahwa Devan hanyalah masa lalu kelam untuknya,, tidak ada lagi kesedihan dan luka seperti dulu, Felix adalah semangat untuknya, kini segalanya hanya untuk Felix tidak ada yang lain.


"Nayla tolong belikan aku kopi di restoran depan rumah sakit," ucap Dokter Alex.


"Iya Dok,, sekalian saya izin makan siang yah, Dok," ucap Nayla.


"Iya,, tapi jangan lupa pesanan ku yah Nay," ucap Dokter Alex.


Nayla menganggukkan kepalanya lalu segera meninggalkan Dokter Alex di ruangannya, sedangkan dia langsung bergegas menuju ke restoran yang berada di depan rumah sakit. Tapi saat memesan kopi malah ada tangan yang menepuk pundaknya. Nayla segera berbalik lalu menatap pria yang menepuk pundaknya tadi.


"Nanda," ucap Nayla sambil tersenyum cerah begitu melihat Nanda, setelah sekian lama mereka tidak bertemu akhirnya kini mereka bertemu lagi.


"Apa kabar Nay?" tanya Nanda dengan seragam polisi yang masih melekat di tubuh indahnya itu.


"Baik," jawab Nayla.


Nanda pun segera menatap seragam perawat yang melekat di tubuh Nayla,, seragam itu sangat cocok digunakan oleh Nayla,, Nayla kini semakin cantik dengan seragam itu.


"Kamu kerja di rumah sakit itu?" tanya Nanda.


"Iya,, aku cuma jadi asisten Dokter," jawab Nayla.


"Nayla, bukannya kamu udah nikah?" tanya Nanda.


"Iya emang aku udah nikah dan udah cerai juga," jawab Nayla dengan malas dan juga sangat santai.


"Kita duduk dulu,, kita makan siang bareng,, dan aku yang akan traktir," ucap Nanda.


Nayla pun mengangguk dan Nanda merangkul pundak Nayla sambil berjalan menuju sebuah meja dan keduanya pun segera memesan makanan. Sambil menunggu pesanan datang,, mereka berdua kembali bercerita dan sesekali terdengar candaan.


"Nayla,, kamu serius udah cerai? gimana bisa Nay? aku aja belum nikah kamu udah cerai aja," ucap Nanda.


Mereka berdua memang sudah sangat dekat bahkan dulu pernah juga menjahili guru bersama hingga ketika Nanda berbicara seperti itu,, bukan sesuatu yang akan membuat Nayla tersinggung.


"Jangan gitu Nan,, nikah itu cukup hanya satu kali saja,, aku aja udah trauma sama yang namanya pernikahan," ucap Nayla.


"Nggak boleh trauma Nay,, kamu itu masih sangat muda,, masih sangat cantik pula," ucap Nanda.

__ADS_1


"Aku udah punya anak satu Nanda,, aku udah tua," ucap Nayla lalu meneguk jus yang baru saja diletakkan oleh seorang pramusaji di atas meja,, tanpa menggunakan sedotan plastik yang bisa membuat Nayla sedikit lebih anggun jika menggunakan sedotan plastik itu,, nah ini malah dia langsung meminumnya. Nanda sudah tidak heran dengan tingkah laku Nayla yang seperti itu, mereka sudah lama saling kenal hingga keduanya memiliki banyak pengetahuan satu sama lainnya.


"Kamu nggak berubah juga yah sampai sekarang," ucap Nanda sambil mengetuk dahi Nayla kesal.


"Hehe gimana dong aku sedang menikmati hidupku,, menjanda!" ucap Nayla lalu tertawa kecil tanpa beban.


Nanda langsung ikutan tersenyum juga, Nayla yang ceria sampai kini tak pernah berbeda. Nayla tetap lucu,, unik dan terkadang menjengkelkan tetapi tetap saja mereka berdua adalah sahabat yang sangat dekat.


Tidak jauh dari kursi yang diduduki oleh Nayla dan Nanda, di sana ada Devan yang juga tengah menikmati makan siangnya seorang diri. Namun entah mengapa tiba-tiba dia seperti mendengar suara tawa Nayla, Devan pun segera melihat ke asal suara dan memang benar Nayla saat ini tertawa bersama dengan seorang pria yang memakai seragam polisi. Nayla terlihat tertawa begitu lepas tanpa beban sama sekali, mungkinkah Nayla sangat bahagia setelah bercerai dengan dia? lantas bagaimana dengan dirinya. Devan pun tak tahu dan tak mengerti sama sekali apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya saat ini. Tapi kedua mata Devan tak pernah lepas memperhatikan setiap gerak-gerik Nayla, entah mengapa Devan sangat betah melihat senyum manis mantan istrinya itu.


"Terus kamu kenapa belum nikah,, Nan?" tanya Nayla.


Usia Nanda tidak bisa lagi dianggap muda, selain itu Nanda juga sudah mapan,, sehingga tidak ada alasan kalau mau menunda pernikahan.


"Aku belum menemukan wanita yang cocok, Nay?" jawab Nanda.


"Masih aja nggak laku kamu,, ngomongnya aja sok jual mahal, kasihan kamu bisa saja jadi bujang lapuk,, nggak takut kamu,, Nan?" ejek Nayla.


"Ngapain takut Nay,, kalau memang tidak ada wanita yang mau nikah sama aku,, kan ada kamu," ucap Nanda.


"Ogah!!" ucap Nayla yang menolak dengan cepat,, keduanya sudah sangat dekat rasanya sangat tidak mungkin jika mereka menjadi suami istri itu benar-benar tidak mungkin.


Mereka berdua langsung tertawa terbahak-bahak karena obrolan yang tidak jelas mereka, entah membicarakan apa saja yang penting itu membuat hati mereka berdua bahagia.


"Eh udah dulu yah Nan,, jam istirahat aku udah habis nih," ucap Nayla sambil melihat jam tangan yang berada dipergelangan tangannya.


Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat,, mungkin karena terlalu asik bersenda gurau dengan Nanda,, hingga hampir saja Nayla lupa waktu.


"Nay, nanti kita pulang bareng,, gimana?" tawar Nanda.


Tidak ada salahnya sama sekali jika mengantar Nayla pulang atau pergi,, karena status Nayla saat ini seorang janda.


"Setuju,, nanti aku chat kamu yah,, mana nomor ponsel kamu?" ucap Nayla,, waktu itu sempat bertukar nomor dengan Nanda,, hanya saja Devan tidak membiarkan ada nomor pria di ponsel Nayla dan juga ponsel Nayla waktu itu rusak serta nomor ponsel juga sudah diganti.


Mereka pun langsung bertukar nomor ponsel,, setelah saling bertukar nomor ponsel, keduanya bangkit dari duduknya lalu berjalan bersama keluar dari restoran dengan Nanda yang terus merangkul pundak Nayla.


Hingga akhirnya keduanya berpisah di depan restoran,, karena Nayla harus masuk kembali ke rumah sakit dan Nanda yang harus berangkat dinas.

__ADS_1


Devan mengusap wajahnya beberapa kali, entah mengapa ada amarah yang tertahan, Devan tidak kuasa melihat Nayla begitu dekat dengan pria lain. Melarang pun sudah tidak mungkin karena dirinya bukan lagi suami Nayla.


Tapi Devan ingin sekali mencekik leher pria tersebut, Devan semakin bingung dan hampir mati menahan amarahnya melihat pria itu sangat dekat dengan Nayla. Tidak! Devan tahu ini mungkin hanya perasaan sesaat saja, dia pernah menjadi suami Nayla dan itu wajar pikir Devan.


Devan berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini bukanlah apa-apa,, hanya selama ini dia terbiasa dengan status sebagai suami Nayla.


##########


Jam pulang kerja pun akhirnya tiba,, Nayla keluar dari rumah sakit dan Nanda sudah menunggunya, Nayla dengan segera naik ke atas motor gede milik Nanda.


"Pegangan Nay," ucap Nanda sebelum melajukan motornya.


"Siap!!!" ucap Nayla menurut dan segera memeluk pinggang Nanda.


Kini Nayla sudah menikmati hidupnya, melupakan derita masa lalunya dan berusaha agar bahagia.


Bersamaan dengan itu Devan juga keluar dan segera membuka pintu mobilnya, tapi sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil tanpa sengaja mata Devan melihat Nayla.


Tangan Nayla yang melingkar di pinggang Nanda membuat Devan kesal setengah mati dan ingin sekali marah, tapi lagi-lagi dia tidak bisa melakukan apapun. Tanpa sengaja mata Nayla juga melihat Devan,, tapi Nayla benar-benar sudah tidak peduli lagi bahkan Nayla seakan tidak mengenal Devan.


Keduanya seakan asing jika wanita lain mungkin bangga bila ditatap dengan Devan, sang pemilik rumah sakit sekaligus Direktur utama, siapa saja pasti ingin merasakannya. Tapi tidak dengan Nayla.


Devan bukan apa-apa baginya.


"Siap?" tanya Nanda dengan semangat.


"Siap Nan," jawab Nayla dengan tidak kalah bersemangat.


Nanda segera menarik gas,, sehingga motor mulai melaju dengan perlahan dan mulai memasuki area jalan raya.


Devan pun segera masuk ke dalam mobilnya dan melajukan dengan kecepatan sedang, matanya terus melihat Nayla yang tengah berboncengan dan terlihat sangat bahagia bersama dengan seorang lelaki.


"Devan kamu kenapa?"


Devan menyadari kebodohannya yang mengikuti motor yang ditumpangi oleh Nayla, padahal sangat jelas arah pulang dari rumah sakit mereka berlawanan. Otak Devan benar-benar tidak bisa berkonsentrasi saat bercerai dengan Nayla malah membuat dia menjadi aneh.


"Devan kamu kenapa?"

__ADS_1


Devan malah mengusap wajahnya beberapa kali, mungkin ingin menghabisi pria yang membonceng Nayla dengan mesra.


__ADS_2