Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Jalan buntu!


__ADS_3

Alex menggeleng dengan cepat, dirinya tidak bisa menceraikan Jessica.


"Cahaya membutuhkan kita, aku mohon. Aku akan melakukan apapun untuk kalian berdua," pinta Alex lagi.


Jessica hanya diam menatap ke depan, menantikan kata talak yang di inginkan nya. Tidak ingin lagi masuk dalam drama rumah tangga yang menyakitkan hati. Pilihan tepat adalah sendiri, sekalipun sulit tetapi lebih baik dari pada bersuami terus tersakiti.


"Aku masih menunggu," tutur Jessica sambil menatap Alex.


Alex menyandarkan kepalanya pada kemudi, dirinya mengusap air mata hingga beberapa kali. Sampai detik ini pun tidak akan bisa menceraikan Jessica. Alex bukan hanya mencintai Jessica, melainkan juga tidak sanggup ada laki- laki lain yang anaknya panggil Ayah. Alex pun takut terlupakan seiring dengan orang baru yang akan menggantikan posisi nya.


Menunggu cukup lama, namun tidak juga mendengarkan kata talak akhirnya Jessica pun membuka pintu.


"Mom, kita udah sampai?" Cahaya terbangun dari tidurnya.


Jessica mengangguk dan tersenyum pada putrinya.


"Loh, kok. Daddy, nangis?" Tanya Cahaya kebingungan.


"Daddy kellilipan," kata Alex memberi alibi.


"Sini Aya, tiupin," dengan polosnya Cahaya mendekati mata Alex dan mulai meniupnya.


"Udah 'kan. Dad?" tanya Cahaya.


"Terima kasih," kata Alex dengan perasaan takut jika perhatian itu nantinya akan menjadi milik orang lain.


"Kita turun yuk, Oma udah nungguin." ucap Jessica.


"Sampai jumpa besok ya Dad, besok Aya ulang tahun," Cahaya tersenyum sambil mengingatkan kembali.


"Ya, sayang. Kita dinner 'kan?" Tanya Alex.


"Iya dong," Cahaya melambaikan tangannya pada Alex.


Mobil Alex keluar dari pintu gerbang, pikirannya benar-benar kacau saat ini.


Sampai akhirnya mobilnya terparkir di depan rumah Aditya. Segera turun dan menemui pria yang akan menikahi Jessica tersebut.


"Hay bro," Aditya tersenyum pada Alex yang mendatangi kediamannya.


"Kebetulan kau datang padahal aku mau ke rumah mu. Ini," Aditya memberikan sebuah undangan parnikahan pada Alex.


Alex menerima dan membacanya, tertulis nama Jessica dan Aditya di sana.


"Jangan lupa datang," Aditya menepuk lengan Alex sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Dia itu masih istri ku Aditya! Apa kau mau menikahi istri orang?" Tanya Alex dengan kemarahan.


Aditya mengangkat bahunya santai seakan tidak terpancing sama sekali.


"Yang penting aku mendapatkannya," Aditya tersenyum sambil menggerakkan alis matanya.


"Bagaimana bisa kau menikahi istri orang?" ucap Alex.


"Ada buktinya, dia istri mu?" tanya Aditya.

__ADS_1


"Dia itu masih istri ku!"


Aditya mengibaskan tangannya.


"Jangan lupa datang, tinggal menghitung hari. Aku permisi dulu, aku masih harus melihat baju pengantin ku," Aditya pergi begitu saja di saat Alex masih berada di rumah nya.


Bibirnya terus tersenyum bahagia entah apa yang ada di dalam kepala pria tersebut.


###########


Entah siapa yang dapat menyelesaikan masalah ini, Alex benar-benar takut pernikahan Jessica dan Aditya terjadi.


Sejenak berpikir siapa yang dapat membantunya menyelesaikan masalah ini.


"Devan."


Segera Alex melajukan mobilnya menuju kediaman Devan, hanya dengan hitungan menit akhirnya Alex markirkan mobilnya.


Ini memang gila dan terkesan aneh, namun apa yang bisa di katakan oleh nya. Cinta tidak dapat di bohongi, memohon kesempatan kedua untuk tetap memiliki istrinya. Bayang-bayang kehilangan Jessica dan Cahaya terus menghantuinya, seakan menjadi ancaman yang begitu mengerikan.


Saat ini, apapun akan dilakukan oleh Alex demi bisa bersatu dengan Jessica, sisa penyesalan membuatnya takut. Biar saja di anggap tidak tahu malu, Jessica jauh lebih berharga dari apapun juga.


"Ada apa?" Devan keluar dari kamar setelah Felix mengatakan Alex menunggunya di ruang tamu.


Malam sudah larut tetapi Alex masih bertandang ke rumah nya, sudah pasti ada hal yang penting. Jika tidak, mungkin tidak akan terjadi.


Devan pun duduk saling berhadapan dengan Alex, menatap penampilan kusut wajah sahabatnya.


Tetapi, ada hal menarik. Kemeja yang dipakai oleh Alex berwarna pink.


Devan hanya diam sambil menatap penampilan Alex yang berbeda, bahkan terkesan aneh.


"Devan, bisakah kau menolong ku?" Tanya Alex, memulai pembicaraan terlebih dahulu.


Devan terdiam, seperti biasanya tidak terlalu tertarik pada masalah orang lain.


"Aditya dan Jessica akan menikah," Alex meletakkan sebuah undangan yang baru saja diberikan oleh Aditya padanya.


"Apa?" Nayla tidak sengaja melewati ruang tamu. Tetapi, malah mendengar hal mengejutkan.


Alex beralih menatap Nayla begitupun dengan Devan.


"Jessica dan Aditya akan menikah?" Tanya Nayla lagi.


Alex mangguk-mangguk membenarkan yang dikatakan oleh Nayla.


"Tolong aku Devan, tolong katakan pada Aditya jika Jessica masih istri ku," pinta Alex dengan nada memohon.


Nayla pun duduk di sofa lainnya, ikut bergabung dengan dua sahabat yang sedang duduk sambil berbicara serius.


"Mana bisa, ini undangannya ya?" Nayla membaca undangan pernikahan Aditya dan Jessica.


"Tinggal beberapa hari lagi," kata Nayla lagi setelah baca isinya.


"Aku merasa kau adalah orang yang tepat untuk berbicara pada Aditya, aku sangat mencintai Jessica," Alex mengusap wajahnya, rasa ketakutan kehilangan Jessica begitu terlihat nyata.

__ADS_1


Jika saja ada cara untuk menebus segalanya agar bisa bersama, Alex akan melakukannya asal bisa mendapat maaf.


"Ini bukan urusan ku, jika dia istri mu maka kau berhak atas dia. Lalu, kenapa harus meminta bantuan pada ku?" Tanya Devan.


"Iya, setuju Mas," Nayla mengangguk, makanya jadi laki-laki itu harus punya pendirian, jangan plin-plan!" Omel Nayla penuh emosi.


"Orang nggak mau di paksa, udah di dapat di siksa!" mungkin itulah sindiran keras yang di berikan untuk Alex.


Jika di anggap benar mungkin tidak sepenuhnya benar, hanya saja kesalahan Alex juga begitu fatal.


Sebagai seorang wanita Nayla juga dapat merasakan bagaimana rasanya tersakiti, mungkin dulu Devan tidak bermain kasar. Tetapi, cukup mengiris hati dan perasaan sehingga sulit untuk bisa menerima kesalahan silam.


"Sayang, kamu kalau ngomong kok mukanya ke Mas?" Devan merasa tersinggung saat ucapan Nayla seakan mengatakan dirinya.


Mungkinkah istrinya itu sedang berusaha mengingat masa lalu, atau mungkin Nayla masih belum bisa memaafkan sepenuhnya.


Nayla tersenyum miring, walaupun sebenarnya ucapannya memang tidak sepenuhnya pada Devan. Hanya saja sedikit banyaknya seharusnya Alex bisa menjadikan Devan sebagai contoh, sehingga tidak menyakiti hati seorang wanita


"Aku, nggak ngomong ke Mas. Tapi, kalau Mas tersinggung artinya Mas, juga begitu," papar Nayla.


Singkat, tepat, mungkin begitulah yang terdengar, Devan meneguk saliva, tidak lupa membuang pandangan ke arah lainnya. Menggaruk kepalanya sambil berdebat dengan pikirannya sendiri. Berdebat dengan Nayla tidak pernah membuatnya menang, selalu saja kalah apa pun alasannya.


"Kamu minta tolong sama Mas Devan? Usaha kamu di mana? kami para wanita itu butuh bukti, bukan janji!" Imbuh Nayla mengomel pada Alex.


Nayla saja terlahir dari keluarga sederhana tidak bisa di bayar dengan uang, apa lagi Jessica yang sudah berasal dari keluarga menengah keatas.


Hanya ketulusan yang di harapkan wanita, selebihnya uang di cari bersama-sama.


Alex hanya bisa terdiam, tampaknya yang dikatakan oleh Nayla memang ada benarnya.


"Kenapa kamu bisa memaafkan Devan?" Tanya Alex lagi.


Pertanyaan Alex membuat Devan melayangkan tatapan tajam, mengapa mengungkit masa lalu yang begitu buruk. Menurut Devan saat ini secara tidak langsung Alex sedang memutar ulang memori kenangan penuh luka.


"Karena, kesungguhannya. Bahkan, sekarang Mas Devan, tidak pernah mengulanginya lagi. Bahkan, untuk berbicara keras saja tidak pernah," jawab Nayla.


Devan tersenyum bangga, seakan jawaban Nayla membuatnya begitu terhormat.


"Ingat, belajar dari kesalahan. Contoh aku yang sekarang sudah jadi suami terbaik," Devan tersenyum pada Nayla membanggakan diri.


Nayla memutar bola matanya.


"Iya, lah... Kalau di ulangi lagi, aku bakalan pergi sama anak-anak, lagian kalau Mas masih gila lawan Mas bukan lagi aku. Tetapi, Felix sama Adnan!" Tegas Nayla.


Nayla pun memilih bangun dari duduknya, tidak ingin berdebat lebih lama lagi. Devan menggaruk kepalanya, menatap istrinya yang kian menjauh.


"Ini karena, kau! Mood istri ku jadi rusak! Kau datang sangat tidak tepat waktu! Selanjutnya kalau datang jangan saat istri ku sedang datang bulan!" Kesal Devan.


Alex ingin sekali melempar asbak tepat mengenai kepala Devan.


"Mana aku tahu istri mu datang bulan, lagi pula mana mungkin aku bertanya perihal dia sedang datang bulan atau tidak, dasar gila!" Omel Alex. Menemui Devan bukan solusi, yang paling benar saat ini adalah pulang dan berusaha untuk mendapatkan hati Jessica kembali.


"Aku kira menemui mu bisa mendapatkan jalan keluar, ternyata buntu!" Imbuh Alex sambil bangkit dari duduknya.


"Jalan keluar, jalan keluar! Kau mau keluar? Itu pintu masih terbuka! Buntu dari mana!" Devan pun segera masuk ke dalam kamar, hari sudah malam istirahat jauh lebih baik.

__ADS_1


"Dasar gila!" Alex pun segera pulang ke rumah, pilihan terbaik adalah istirahat untuk bisa mendapatkan cara kembali pada Jessica, membesarkan Cahaya bersama-sama.


__ADS_2