Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Ini karena Alex sendiri!


__ADS_3

Di langit yang sama namun tempat berbeda, Jessica duduk termenung di sudut kamar. Menatap keluar dari jendela kaca yang masih terbuka lebar.


Akhirnya setelah sekian tahun kini kembali lagi ke rumah yang sama, rumah yang banyak menyisakan kenangan luka. Tidak ada yang berbeda dari sebelumnya semua masih sama. Bahkan, pakaian miliknya yang dulu tertinggal masih tersusun rapi di lemari.


Hanya saja Jessica masih terlalu larut dalam bayang-bayang masa lalu, andai saja bisa mungkin Jessica memilih tidak tinggal di rumah itu. Tetapi, apalah daya Cahaya kini memilih berada di sana, bersama sang Ayah dengan rasa bahagia tanpa mengetahui perasaannya.


Setitik air mata Jessica tumpah, kini pikirannya melayang mengarah pada Inggit.


Entah apa yang terjadi setelah dirinya memutuskan untuk pergi meninggalkan acara pernikahan yang sudah di persiapkan. Entah bagaimana keadaan Inggit setelah itu, apakah masih baik-baik saja atau mungkin sudah terbaring lemah karena serangan jantung.


Jessica merasa serba sulit, ini bukan pilihan yang di inginkan oleh dirinya. Mungkin seiring waktu berjalan bisa memperbaiki kembali hubungan antara ibu dan anak yang kini sedang renggang.


"Mommy!" Seru Cahaya.


Cahaya mendorong pintu, mengedarkan pandangannya mencari Jessica. Kamar itu terlihat gelap hingga Cahaya tidak dapat melihat Jessica.


Alex yang datang bersama Cahaya langsung menyalakan lampu. Jessica duduk di sudut ruangan, penerangan bulan dari luar sana.


"Mom, kok duduk di lantai?" Tanya Cahaya berjalan menuju Jessica berada.


Cepat-cepat Jessica mengusap air matanya, kemudian berdiri.


Jessica pun dapat melihat raut wajah bahagia Cahaya setelah selesai mendekorasi kamar barunya, seharian penuh Cahaya sibuk berbelanja keperluannya, bahkan sampai berbelanja ranjang kesukaannya yang akan menjadi teman tidurnya sekarang dan seterusnya.


"Kamu udah selesai menata kamar barunya?" Jessica tidak ingin membahas perihal air matanya, dirinya memilih mendengarkan kebahagiaan Cahaya.


"Iya Mom Aya udah punya kamar baru di sini. Ranjangnya juga warna pink cantik banget," ujar Cahaya dengan bahagia.


"Wah, bagus sekali. Nanti Mom, lihat," Jessica mengacak rambut Cahaya dengan penuh cinta.

__ADS_1


"Tapi, malam ini kita bobo bertiga ya, Mom. Aya, di tengah," Cahaya langsung naik ke atas ranjang berukuran king size milik Alex, menunggu kedua orang tuanya untuk ikut naik ke atas ranjang.


Hal yang di tunggu-tunggu oleh Cahaya, kini senang sekali bisa terwujud juga, Jessica mengangguk dan perlahan menaiki ranjang tanpa menolak.


Alex tidak mengerti apakah Jessica mengijinkan nya untuk ikut tidur di sana, jujur saja saat ini Alex takut jika ternyata Jessica masih tidak ingin satu ranjang dengan dirinya.


Sudah lebih dari cukup saat Jessica bersedia kembali ke rumah, tidak ingin meminta lebih yang malah membuat Jessica tidak senang dan memilih pergi lagi.


Sungguh Alex tidak siap untuk hal tersebut. Melihat Alex masih berdiri di ambang pintu membuat Cahaya kesal bukan kepalang.


"Daddy" Seru Cahaya.


Alex tersadar dari lamunannya, dirinya mengangguk cepat tetapi tidak tahu harus melakukan apa.


"Sini, bobo di samping Aya," Cahaya menunjukan ranjang kosong di sampingnya.


Diamnya Jessica sejak ikut pulang tadi benar-benar membuat Alex bingung harus melakukan apa.


Jessica tidak lagi sama seperti dulu, tidak ada lagi Jessica yang ceria dan cerewet. Yang ada hanya Jessica yang murung dan gampang menitikkan air mata.


"Daddy, sini Aya udah ngantuk banget," rengek Cahaya ingin menangis.


Melihat mata Cahaya yang berembun membuat Alex tidak tega.


"Daddy, ke toilet dulu."


Alex menutup pintu kamar mandi dan membersihkan dirinya, setelah berganti pakaian santai segera keluar dan berjalan ke arah ranjang.


Cahaya masih menunggunya di sana, Alex menatap Jessica yang berbaring di samping Cahaya, menunggu reaksi yang akan diberikan oleh Jessica, lama Alex diam tidak mendapatkan apapun. Perlahan Alex memberanikan

__ADS_1


Perlahan Alex memberanikan diri untuk ikut naik ke atas ranjang, sampai di sana pun Jessica hanya diam tanpa bicara.


Hati Jessica yang terlalu sakit kini terlanjur mati, sehingga tidak ada perasaan apapun saat bersama laki-laki manapun.


"Jessica, apa boleh aku tidur di sini?" Tanya Alex agar lebih pasti.


Jessica tidak menjawab sama sekali, untuk apa menjawab pikir Jessica dirinya lah yang menumpang di sana.


"Jessica?" Tanya Alex lagi.


"Aku hanya menumpang di sini, kalau kamu mau aku yang tidak di sini," jawab Jessica apa adanya.


Tidak ada niat menyindir, dirinya hanya mengatakan kenyataan saja. Jessica kini bagaikan boneka yang siap di atur sesuai keinginan Alex dan Cahaya.


Tidak ada lagi tujuan hidupnya, baginya hidup hanya menunggu mati.


Tidak lebih.


Alex pun merebahkan dirinya, Cahaya benar-benar terlelap di antara keduanya dalam sekejap saja.


Jessica pun menutup mata dan mulai terlelap, Alex duduk dan menatap wajah Jessica yang terlelap. Wajah Jessica menyiratkan kekhawatiran, tidak ada ketenangan di wajah cantiknya membuat Alex merasa malu.


Bukankah seharusnya seorang istri akan sangat bahagia saat bersama suaminya?


Tidak dengan Jessica, yang ada hanya air mata. Entah di mana Jessica yang dulu, Alex begitu segan pada Jessica yang saat ini.


Sama tetapi tidak serupa, ada tetapi tidak ada. Terlihat tetapi seperti bayangan, di depan mata tapi tidak dapat di sentuh dengan tangan.


Ini karena Alex sendiri, Alex benar- benar tersiksa dengan perasaannya seiring penyesalan yang kian menikam hati.

__ADS_1


__ADS_2