
Nayla lebih dulu kembali ke kamar karena tidak sanggup dengan Devan yang sesekali terus tersenyum manis padanya membuat Nayla merasa tidak karuan karena ulah Devan itu.
Tubuh Nayla bersandar di pintu kamarnya,, bayang-bayang Devan yang sedang tersenyum manis terus berkeliaran di otak Nayla.
"Sudahlah,, apa sih yang aku pikirkan," ucap Nayla sambil menggelengkan kepalanya mencoba menghilangkan bayang-bayang Devan,, Nayla segera baring di ranjangnya.
Hampir saja Nayla tidur,, namun tiba-tiba perlahan ada tangan yang tengah melingkar di perutnya dengan sangat lembut.
Tanpa melihat pun Nayla tau itu pasti Devan,, saat ini Nayla sedang tidur membelakangi pintu kamarnya.
Tidak ada yang berani melakukan itu pada dirinya selain Devan, dan juga wangi tubuh Devan,, Nayla sudah sangat hafal.
Tapi Nayla saat ini berpura-pura tidur.
"Kamu sudah minum susu?" tanya Devan pada Nayla. Nayla tampaknya gagal dalam berpura-pura tidur karena Devan tau jika Nayla belum tidur sama sekali.
Nayla memilih diam,, menikmati sentuhan Devan,, pelukan Devan,, yang diinginkan Nayla sejak tadi. Perlakuan Devan padanya memberikan sebuah ketenangan yang susah dijelaskan dengan kata-kata.
"Mas sudah membuatkan mu segelas susu,, ayo minum dulu," bisik Devan pada Nayla.
Nayla menghirup udara sebanyak-banyaknya,, nafas hangat Devan begitu terasa dilehernya.
"Bumil," bisik Devan lagi.
"Emm,," ucap Nayla pelan sambil membuka mata. Devan perlahan berpindah posisi,, begitu Nayla membuka matanya penuh Devan sudah berada dihadapannya.
Devan menatap Nayla dengan begitu lembut,, jari-jemari Devan membelai lembut wajah istri keduanya itu.
"Mas,, sudah membuatkan mu segelas susu," ucap Devan lagi.
Nayla pun perlahan duduk sambil melihat segelas susu di atas nakas yang sudah Devan buatkan untuk dirinya.
"Belum minum susu kan?" tanya Devan yang memang benar dugaannya Nayla belum minum susu.
"Lupa," jawab Nayla,, lalu segera mengambil segelas susu yang telah dibuatkan oleh Devan,, meminumnya hingga habis lalu menaruh gelas kembali di atas nakas.
"Lupa?" tanya Devan.
"Iya," jawab Nayla.
Devan pun mengangguk lalu berbaring di atas paha Nayla,, menjadikan paha Nayla sebagai bantal.
Nayla benar-benar tersentak dengan yang dilakukan Devan saat ini. Ini benar-benar menegangkan buat Nayla.
"Apa kamu juga melupakan ku?" tanya Devan sambil mengelus lembut perut Nayla yang saat ini sudah sedikit membuncit.
__ADS_1
Lagi-lagi mencium perut Nayla dengan perlahan,, tanpa perduli Nayla yang saat ini benar-benar merasa aneh.
"Nayla," ucap Devan lagi.
Nayla langsung membuka matanya melihat Devan.
"Mas kok bisa nanya seperti itu?" tanya Nayla yang merasa bingung mengapa Devan menanyakan hal itu. Nayla tidak mengerti sama sekali.
Melupakan? melupakan apa yang dimaksud Devan,, Nayla tidak mengerti sama sekali. Mana mungkin juga Nayla melupakan Devan,, pria yang sudah membuatnya hamil saat ini.
Nayla saat ini hanya memikirkan setiap sentuhan bibir Devan pada perutnya yang membuatnya meremang bukan memikirkan hal lain.
Perlahan Devan bangun lalu duduk di samping Nayla,, Nayla merasa kecewa karena Nayla menginginkan lebih bukan hanya sentuhan semata. Nayla merasa malu dengan keinginan nya itu tapi tubuhnya juga sangat menginginkan hal itu.
"Siang tadi?" ucap Devan.
Nayla benar-benar kesal mengapa Devan masih saja membahas mengenai Nanda,, padahal Nayla sudah menjelaskan tadi pada Devan mengenai siapa Nanda.
"Mas kok malah masih membahas itu sih?" ucap Nayla kesal pada Devan,, waktu mereka berdua begitu terbatas giliran bertemu Devan malah membahas pria lain.
Tapi tidak dengan Devan,, Devan merasa penjelasan Nayla tadi masih sangat kurang,, Devan masih belum puas dengan penjelasan Nayla mengenai Nanda, makanya Devan membahasnya lagi malam ini.
Ada apa dengan Devan? bukankah Devan sangat mencintai Jessica? lalu mengapa Devan sangat marah begitu ada laki-laki lain yang dekat dengan Nayla?
Itulah yang selalu Devan tanamkan pada dirinya meskipun sebenarnya Devan selalu merasa saat ini perasaannya selalu tidak karuan karena Nayla.
"Mas,, aku dan Nanda itu cuma sahabat lama yang baru bertemu lagi,, cuma itu saja tidak ada alasan yang lain,, dan tidak usah tanyakan lagi hal itu," ucap Nayla kesal.
Devan bisa melihat ekspresi wajah Nayla yang tampak serius mengatakan itu,, tidak terlihat kebohongan sedikit pun.
Devan kemudian mengangguk sambil membawa Nayla ke dalam pelukannya dan lagi-lagi mengelus lembut perut Nayla.
"Apa dia menyusahkan mu?" bisik Devan tepat di telinga Nayla.
Nayla ingin lebih dari itu tapi bingung harus mengucapkan bagaimana,, dan Nayla juga tidak memiliki keberanian meminta pada Devan.
Devan malah berbaring lagi di paha Nayla dan memeluk erat perut Nayla.
"Apa anak Ayah menyusahkan Bunda?" tanya Devan seakan-akan sedang berbicara pada anak yang masih di dalam perut Nayla.
"Apa anak kita menyusahkan kamu?" tanya Devan sambil mendongakkan kepalanya melihat Nayla.
"Sedikit," jawab Nayla dengan suara yang sedikit bergetar.
Devan langsung menaikkan sebelah alisnya lalu segera bangun duduk berhadapan dengan Nayla.
__ADS_1
"Memangnya apa yang kamu rasakan? apa keluhan mu? ayo katakan padaku," ucap Devan sambil melihat Nayla.
Entah Devan mengerti atau tidak tapi keinginan Nayla adalah sentuhan lebih dari Devan. Hingga membuat Nayla merasa sangat kesal karena Devan yang tidak mengerti saat ini.
"Sudahlah aku ngantuk mas," ucap Nayla semakin kesal lalu segera baring membelakangi Devan,, tak lupa menarik selimut menutupi dirinya sampai ke lehernya.
"Hei bumil kau kenapa?" tanya Devan sambil tertawa geli melihat Nayla yang ternyata sangat menggemaskan ketika sedang kesal seperti sekarang ini.
"Nayla," ucap Devan sambil ikut masuk ke dalam selimut tak lupa melingkarkan tangannya di perut Nayla.
"Mas ishhh," ucap Nayla kesal.
"Apa?" ucap Devan dengan santainya sambil menahan tawanya.
"Isshh jauh-jauh sana," ucap Nayla sambil menjauhkan tangan Devan yang sedang melingkar pada perutnya.
"Hei kamu kenapa? mas cuma mau dekat-dekat dengan anak mas,," ucap Devan yang lagi-lagi menahan tawanya melihat tingkah menggemaskan Nayla.
"Dia sudah tidur mas,, jangan ganggu," ucap Nayla kesal bukan kepalang.
"Yah nggak apa-apa kalau dia sudah tidur,, mas masih mau menemani dia," ucap Devan lagi yang tidak mau mengalah, tangan Devan masih asik memeluk perut Nayla.
"Mas,, sana jauh-jauh,," ucap Nayla lagi.
"Nggak mau, mas mau disini," ucap Devan semakin mengeratkan pelukannya.
"Mas," ucap Nayla lagi.
Tok tok tok tok...
Terdengar suara ketukan pintu membuat Devan dan Nayla langsung menatap ke arah pintu yang sedang tertutup rapat saat ini.
"Mas,, gimana ini?" ucap Nayla yang panik seketika,, bayang-bayang akan ketahuan membuat Nayla berkeringat dingin dan memucat.
"Nayla!!," panggil Bik Ina dari luar kamar Nayla dengan nada suara yang cukup tinggi agar Nayla mendengar suaranya.
"Mas,, aku mesti gimana?" bisik Nayla pada Devan,, Nayla bingung harus menjawab atau tidak.
"Jawab dulu,," bisik Devan juga.
"Iya Bik," jawab Nayla dengan suara yang cukup tinggi juga agar Bik Ina mendengar suaranya.
"Tadi aku seperti mendengar kamu sedang berbicara dengan seseorang,, kamu baik-baik saja kan Nayla?" tanya Bik Ina dari luar dengan perasaan khawatir pada Nayla.
"Oh ini Bik,, Nayla lagi nonton drama Korea,, sedih Bik ceritanya,, maaf yah Bik kalau berisik,," ucap Nayla lagi dengan keringat yang semakin banyak karena berbohong.
__ADS_1