Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Rani bocah ingin tahu!


__ADS_3

Tok tok tok...


Suara ketukan pintu terdengar membuat Nayla segera turun dari pangkuan Devan, tak lama berselang pintu terbuka, terlihat Ana di sana.


"Nayla sarapan dulu, kamu nggak boleh telat makan," ucap Ana.


"Iya Ma," ucap Nayla.


"Atau kamu mau sarapan di kamar aja?" tanya Ana.


"Nggak usah Ma, kita sarapan bareng aja," jawab Nayla.


"Ya sudah! Mama tunggu di meja makan," ucap Ana.


Setelah Ana pergi, Nayla pun beralih menatap Devan.


Suaminya itu terlihat santai duduk di tempatnya, bahkan malah kembali menarik istrinya untuk duduk di pangkuannya.


"Mas yuk," ucap Nayla.


"Ke mana?" tanya Devan santai.


"Sarapan! Mama pasti udah masak buat kita nggak enak kan kalau harus dianterin sarapan ke kamar juga," jawab Nayla.


Lihatlah betapa perhatiannya Ibu mertuanya itu, apa mungkin ada ibu mertua seperti itu di luar sana?


Ada!


Tapi satu di dalam seribu mertua di dunia ini.


Kebanyakan tentunya tak ingin melihat menantunya bahagia, merasa menantu dan merasa hanya beban bagi anak laki-lakinya.


Tapi tidak bagi mertuanya, baginya menantu sama saja dengan anak yang dilahirkan dari rahimnya.


"Ya udah," ucap Devan.


Di meja makan sudah berkumpul anggota keluarga lainnya, tak terkecuali Rani.


"Bunda, kata Oma kita mau beli Adik lagi yah?" tanya Rani.


Baru saja Nayla duduk di kursi meja makan, tapi sudah disuguhkan pertanyaan yang cukup rumit oleh Rani, sebenarnya tak begitu rumit jika saja tak ada Papa mertuanya, pada dasarnya Nayla adalah wanita pendiam serta pemalu, hingga cukup sulit menjelaskan hal sedemikian pada bocah ingusan tersebut, sehingga Nayla hanya tersenyum saja sambil melihat bocah cerewet itu dengan mulut yang mengunyah sarapan.


"Bunda kok cuman senyum doang? tadi Oma bilang kalau aku nggak boleh tidur dulu sama Bunda, soalnya Bunda lagi sakit, kita mau kedatangan adik bayi, kalau gitu Ayah juga nggak boleh tidur sama Bunda Nayla, nanti ikut sakit," jelas Rani lagi.


Tidak salah bukan? jika sakitnya bisa menular pada dirinya artinya tak terkecuali juga pada Devan, tapi mampukah dia tidur lelap tanpa istrinya tersebut? tampaknya tak akan bisa, bucinnya sudah tingkat dewa bahkan bekerja saja terkadang membawa istrinya.


"Ayah udah gede lagian kalau Bunda butuh minum gimana?" tanya Devan.

__ADS_1


"Yah! kok bisa di perut Bunda ada adik bayi?" tanya Rani.


Kini mulut bocah itu belepotan karena makanan.


"Rani makan dulu nanti ceritanya," Ana mengalihkan topik pembicaraan Rani, sebab tahu Nayla yang masih malu-malu di hadapan keluarganya.


"Makan sambil cerita juga bisa Oma," Rani terlihat santai dan masih penasaran, lagi pula bukan keponakan Devan namanya kalau tidak aneh seperti Devan.


"Kamu mau sarapan apa?" tanya Ana dengan bahagia pada Nayla.


Bagaimana tidak bahagia, kini dirinya akan menjadi Oma lagi untuk yang kesekian kalinya, raut wajah Ana tak bisa ditutupi begitu juga dengan Bima Putra, anak laki-lakinya itu lagi-lagi akan memberikannya penerus, tentu sangatlah bahagia. Mungkin Ana pun ingin membuat Nayla merasa benar-benar menjadi Ibu hamil, jadi menantu juga, tanpa ada tekanan, kesedihan, ketakutan lagi seperti sebelumnya.


Betapa malangnya saat hamil pertama kalinya, ditutupi seperti bangkai yang tak berarti apa-apa, diterlantarkan bagaikan seorang wanita tanpa suami dan keluarga, dipaksa bungkam saat sesak di dada menahan luka, begitu juga harus bisa tersenyum di saat air mata pilu ingin tumpah ruah begitu saja, membutuhkan sandaran, dekapan, belaian dan juga sentuhan manja, tidak! kini itu tidak akan terulang lagi semua harus bahagia, Nayla, Devan dan cucu-cucunya haruslah bahagia!


"Kamu harus makan banyak, ini untuk kesehatan janin kamu juga," Ana mengisi piring Nayla dengan nasi goreng buatannya.


Bahkan begitu banyaknya ditambah lagi dengan lauk pauk yang juga tersusun rapi.


"Kalau kamu banyak-banyak makan sayur, ikan, daging buah-buahan dan istirahat yang cukup pasti bayinya juga lahir sehat, jangan lupa susu diminum juga," ucapnya lagi dengan penuh perhatian.


"Ma udah takutnya nggak habis," Nayla menatap horor pada piringnya yang diisi penuh, entah bagaimana cara menghabiskannya.


"Harus habis dong, biar dia sehat," ucap Ana.


"Aku juga harus makan banyak biar sehat, iya kan Oma?" ucap Rani juga tak mau kalah dirinya merasa juga butuh asupan nutrisi.


"Enak aja aku nggak rakus," tentunya Rani juga tak akan mau mengalah.


"Lihat badanmu, gemuk kayak baskom besar penuh air hampir meledak," mereka tertawa lebar mengejek Rani.


Dua bocah itu terus saja berdebat dan sulit untuk mengalah dari salah satunya.


"Diam! makan sekarang!" omel Andini kesal sekali melihat kakak beradik itu yang sering berdebat.


"Kak Raka jahat," Rani berusaha mengadu pada Andini.


"Diam!"


Benar saja keduanya seketika terdiam dan kembali melanjutkan sarapan pagi dengan tenang, tetapi tidak berlangsung lama, Rani yang pada dasarnya memiliki tingkat penasaran tinggi kembali bersuara.


"Bunda kata Oma, kita mau dapat adik bayi, Mama juga ngomong kalau aku mau dapat adik bayi lagi, sebenarnya adik bayi itu dari mana datangnya?" tanya Rani.


Wajah bocah itu terlihat kebingungan, bahkan sampai berhenti menyuap nasi ke mulut karena berdebat keras dengan pikirannya perihal adik bayi.


"Mungkin ada salurannya kali Rani," jawab Raka asal.


Akan tetapi jawaban Raka mampu membuat pertanyaan lagi di kepala Rani.

__ADS_1


"Saluran maksudnya ada jalan buat dek bayi masuk ke perut Bunda Nayla?" tanya Rani.


"Iya mungkin kayak corong gitu," jawab Raka sambil mengangkat bahunya santai, mengingat jawabannya juga sangat diragukan sekali.


"Uhuk... Uhuk," Nayla sampai terbatuk batuk mendengar pertanyaan Rani barusan.


Memang terasa ngeri-ngeri sedap, bayangkan saja apa yang kini tengah dibahas oleh bocah itu adalah hal yang luar biasa.


Hal dewasa yang menyangkut cara pembuatan anak, memang benar ada sesuatu yang masuk, akan tetapi mengapa sampai di sana pemikiran bocah tengil itu.


Saluran?


Jalan masuk?


Ini luar biasa!


Bukan hanya pembuatan yang mengeluarkan keringat tapi pertanyaan Rani juga tak kalah panas, sehingga ikut mengeluarkan keringat, Nayla menggeleng dengan cepat apa yang terjadi sungguh horor!


"Kamu ngidam apa sih kak? pas hamil bocah ini?" Devan menatap Andini dengan tajam sedangkan tangannya ingin mengetuk kepala Rani.


"Ngidam meremas wajahmu nggak kesampaian makanya begitu," Andini kesal hingga menjawab asal.


"Sayang," Devan memberikan mineral mengerti jika istrinya itu tengah shock.


"Tapi lewat mana ya Kak? apa ada alatnya buat masukin ke perut Bunda, sampai perut kembung isinya adik bayi, Mama kita juga kok bisa perutnya gemuk dan isinya adik bayi juga?" ucap Rani lagi.


Ana tersenyum mendengar pertanyaan Rani, marah pun percuma rasanya, melihat cucunya masih bocah ingusan, di sekolah pun Rani adalah murid yang paling membuat gurunya mengelus dada menahan emosi dari setiap pertanyaan yang aneh, beruntung sekolah tersebut milik sang Papa jika tidak mungkin Rani sudah dikeluarkan dari sekolah, akan tetapi masalah juara Rani tak pernah kalah selalu juaranya dalam hal apa saja.


"Makan sekarang dan jangan banyak bertanya," kata Devan menunjuk piring Rani.


Rani diam dan kemudian melihat sang Opa yang memijat kepalanya.


"Opa kenapa? pusing?" tebak Rani.


"Sedikit," jawab sama Opa padahal dalam hati pusing memikirkan pertanyaan Rani.


"Opa pergi aja ke Dokter kandungan aja biar cepat sembuh," solusi bocah polos dan tanpa dosa itu mampu membuat semua anggota keluarga melihat sang Opa, kemudian beralih melihat Rani yang sedang makan tanpa rasa bersalah.


Beralih meneguk susunya hingga tandas.


"Aku berangkat sekolah dulu," Rani turun dari kursinya dan mencium semua tangan anggota keluarga.


Pergi dengan santainya menuju mobil di mana sopir sudah menunggunya.


"Mas aku ke kamar duluan yah," pamit Nayla dengan wajah memerah merasa malu mengingat pertanyaan Rani barusan.


"Hati-hati," Devan mengangguk dan dia kembali melanjutkan sarapan paginya.

__ADS_1


Nayla terus berjalan menuju kamar menahan rasa malu yang tak terkira, bagaimana bisa pagi-pagi begini sudah dibuat tegang oleh Rani.


__ADS_2