
"Baiklah begini saja,, mau mu sekarang apa supaya kamu bisa memaafkan aku?" tanya Devan dengan tatapan mata serius.
Nayla membuang pandangannya ke tempat lain,, kesal melihat Devan yang pendiriannya tidak tetap.
"Kamu mau kita cerai kan?" tanya Devan dengan sangat susah payah.
Nayla kemudian beralih menatap wajah Devan kembali,, wajah pria yang tidak tau apa sebenarnya yang dia inginkan,, baru sekarang Nayla melihat pria seperti Devan.
"Baiklah kita akan cerai tapi setelah anak itu lahir,, aku akan menepati itu,, tapi kamu harus memaafkan aku," ucap Devan.
"Kamu itu tidak menepati janjimu,, apa yang kamu katakan kemarin dan hari ini saja berbeda," ucap Nayla.
"Aku berjanji untuk kali ini,, kecuali kamu tidak memaafkan aku," ucap Devan.
Nayla terdiam tapi jujur saja Nayla sangat ingin berteriak sekencang-kencangnya,, Nayla tidak sanggup jika berada di posisi seperti ini terus,, Nayla juga seorang wanita yang ingin merasakan di hargai, dicintai,, dan di bahagiakan.
"Nayla,, kali ini aku tidak akan berbohong padamu,, aku akan menepati janji ku, dan aku tidak akan menyakiti kamu lagi,, aku mohon maafkan aku,, dan aku akan melepaskan kamu setelah anak kita lahir, asal jangan melarang aku untuk bertemu dengan anakku,," ucap Devan sambil memandang manik mata Nayla dalam.
"Kamu itu seperti bunglon selalu berubah-ubah,, omongan mu tidak bisa dipegang, semua hanya omong kosong saja,, lihatlah,, tadi kamu marah lalu sekarang malah ingin berdamai," ucap Nayla dengan senyum sinis nya.
"Mas akan menepati ucapan mas tapi tolong jaga anak ini," ucap Devan sambil mengelus lembut perut Nayla.
Merasakan bahwa ada nyawa saat ini yang sedang berada di dalam kandungan Nayla, Devan benar-benar rindu saat-saat bersama Nayla tanpa pertengkaran,, Devan sangat ingin menyudahi pertengkaran ini.
"Kamu mau makan apa? katakan saja," tanya Devan.
"Aku sangat malas melihat wajah mu," jawab Nayla.
Devan lagi-lagi menarik nafas berat karena permintaan Nayla lagi-lagi kepergian nya, apakah Nayla memang sama sekali tidak menginginkan kehadirannya. Devan sungguh membenci dengan keinginan Nayla yang seperti ini,, namun Devan memilih mengalah daripada menimbulkan pertengkaran lagi diantara dirinya dan juga Nayla.
"Mas pulang dulu,, nanti mas datang lagi yah," ucap Devan yang pamit.
Pulang?
Nayla tersenyum getir begitu mendengar ucapan Devan.
Lalu saat ini Devan sedang apa disini?
__ADS_1
Sekedar singgah saja?
Sungguh miris sekali,, Nayla benar-benar sudah tidak sabar menunggu kelahiran bayi nya agar dia bisa segera bercerai dengan Devan.
Rumah orang tua Devan...
"Darimana?" tanya Jessica,, Devan yang masih berdiri di depan pintu utama langsung mendapatkan pertanyaan dari Jessica yang juga terlihat sangat dingin menatapnya.
Devan bisa melihat ekspresi wajah penuh kemarahan di wajah Jessica.
"Jawab aku Devan,, kamu sebenarnya darimana?" tanya Jessica lagi dengan nada suara penuh kemarahan.
"Aku dari...,"
"Kamu tidak dari rumah sakit Devan, dan juga papa tidak pernah mengirim kamu ke luar kota untuk mengurus proyeknya,, lalu sebenarnya kamu ini kemana?" tanya Jessica lagi yang masih penuh kemarahan.
Jessica benar-benar tidak ingin lagi dibohongi,, hari ini Devan harus jujur padanya,,, dimana pria itu pergi.
"Sayang,, aku sangat lelah hari ini," ucap Devan sambil berjalan ingin melewati Jessica namun Jessica menghadang dirinya.
Jessica tidak pernah menatap Devan dengan tatapan dingin seperti itu,, tapi untuk kali ini tidak ada lagi toleransi untuk Devan.
"Devan bagaimana dengan proyek nya apa sudah selesai kamu tangani?"
Devan dan Jessica langsung menatap pada orang yang berbicara,, ternyata yang berbicara adalah Andini.
"Maksud kakak?" tanya Jessica yang tidak ingin lagi salah paham,, Jessica langsung bertanya pada Andini.
"Kakak yang minta Devan untuk ke luar kota,, karena kandungan ku sekarang yang sudah semakin besar dan juga sering sakit," ucap Andini.
Jessica langsung memeluk Devan dengan secepat mungkin karena sudah mencurigai Devan tadi.
"Sayang,, aku benar-benar minta maaf karena sudah menuduh kamu macam-macam,, maafin aku yah," ucap Jessica sambil memeluk Devan erat,, Jessica benar-benar merasa bersalah karena telah berprasangka buruk pada Devan,, mengira Devan telah bermain wanita di luaran sana.
Devan pun mengangguk sambil melihat Andini yang tengah menatap dirinya dengan tatapan mata tajam.
"Bisa kita bicara sebentar Devan?" ucap Andini.
__ADS_1
"Jessica,, aku bicara dulu dengan kak Andini yah," ucap Devan sambil melepaskan pelukan Jessica.
Jessica pun dengan terpaksa melepaskan Devan,, meskipun sebenarnya dia masih ingin memeluk Devan sebagai permintaan maaf nya karena telah berpikiran macam-macam.
Devan kini sudah berada di dalam kamar Andini,, menantikan apa yang akan diucapkan kakaknya itu.
"Devan sebenarnya kamu itu kemana?" tanya Andini.
Devan pun duduk di sofa sambil menundukkan kepalanya,, Devan tidak mungkin jujur jika dia lagi sibuk mengurus istri keduanya yang sedang hamil yaitu Nayla.
"Ayo jawab Devan,,, aku memang menutupi kebohongan kamu di depan Jessica tapi bukan berarti aku mendukung kebohongan mu itu,, aku melakukan tadi karena ingin melihat Jessica tersenyum bahagia,, sudah beberapa hari ini dia terlihat sangat murung,, lalu kapan dia bisa hamil kalau seperti itu terus," ucap Andini.
"Kak,, aku..."
"Devan jangan bilang jika kamu sudah memiliki wanita lain di luaran sana," ucap Andini sambil menatap Devan dengan kemarahan.
Devan hanya terdiam tanpa berani menjawab apapun.
"Devan,,, jangan pernah mengulangi apa yang dilakukan oleh Angga,, ingat Devan aku sudah merasakan sakitnya berada di posisi Jessica jika memang benar kamu memiliki wanita lain di luaran sana,," ucap Andini.
Devan seketika membayangkan wajah Nayla kemudian berganti menjadi wajah Jessica.
Keadaan mereka tidak sama jika Angga dulu dengan sengaja menikah sedangkan dia menikahi Nayla hanya karena terpaksa,, dan sampai saat ini Devan masih mencari tau siapa dalang dibalik obat perangsang yang diminumnya malam itu.
Devan ingin lebih tenang agar semuanya bisa terungkap,, siapapun orang itu,, dia harus bertanggung jawab karena sudah membuat kekacauan sampai seperti ini.
"Devan apa kamu mendengar ucapan ku?" ucap Andini geram.
"Aku tidak bermain wanita,, ataupun memiliki wanita lain di luaran sana,, semua orang tau betapa aku sangat mencintai Jessica," ucap Devan.
Setelah mengatakan itu dengan tegas,, Devan segera keluar dari kamar kakaknya.
Dalam hati Devan hanya mencintai Jessica saja yah tidak akan pernah mungkin ada cinta untuk Nayla, Devan akan menceraikan Nayla disaat anak mereka telah lahir.
Saat ini Devan hanya tidak ingin berjauhan dengan anak yang dikandung Nayla, sehingga dia menegaskan tidak bisa kehilangan Nayla.
Devan tau alasannya hanya karena anaknya saja tidak akan lebih dari itu.
__ADS_1