
Jessica tidak ingin terus dalam kesedihannya, hingga memilih keluar zona menyedihkan tersebut. Menutup luka lama dan membuka lembaran baru penuh kebahagiaan.
Semoga saja.
"Kamu udah pinter ngelawak ya," Alex yang tengah serius berbicara malah tertawa terbahak-bahak melihat ulah Jessica yang aneh.
"Aku ngantuk, katanya besok mau jalan- jalan. Kok aku di ajak ngomong terus!"
"Abis aku ajak bikin adik buat Cahaya kamu nggak mau!"
"Alex!" Jessica berbalik memunggungi Alex, rasanya aneh jika mengingat pertemanan mereka kini malah menjadi pasangan suami istri.
Di tambah lagi Jessica tahu betapa Alex sangat nakal, memanggilnya seringkali dengan sebutan tolol.
Sungguh Jessica tidak menyangka kini mereka sudah menikah. Malah kini bersikap manis seperti seorang pria yang baru dikenalnya.
Memang tidak salah.
Hanya saja Jessica butuh waktu untuk menyesuaikan keadaan kini dan masa lalu saat masih menjadi teman baik.
Jessica pun sedang berusaha untuk mencintai Alex dengan sepenuh hati.
Andai saja sejak awal menikah Alex begitu hangat, mungkin saat ini Jessica benar-benar sudah bisa mencintai Alex.
Tapi tidak masalah, semua orang berhak untuk merubah diri menjadi lebih baik dari kemarin, Jessica yang tidak ingin menghakimi memilih untuk berdamai dengan keadaan.
Alex pun menggelitik perut Jessica karena gemas.
Karena menggelitik yang terasa geli membuat tawa Jessica pecah seketika.
"Alex, ampun! Aku tidak sanggup lagi menahan nya!" Teriak Jessica.
Reyna yang hampir terlelap dalam tidur merasa terusik karena suara Jessica yang berteriak, belum lagi kata ampun yang membuatnya menjadi hampir susah menelan ludah.
Bahkan tiba-tiba matanya terbuka lebar ke arah Nanda penuh tanya.
"Abang?" Reyna menunjuk arah suara.
__ADS_1
"Suut?" Nanda pun meminta Reyna untuk tidur.
"Ayo tidur, kita masih kecil belum mengerti apa-apa," jelas Nanda sambil terkekeh geli, dirinya juga sedang berpikir ke arah jurang gelap.
"Ahahahaha," Reyna malah tertawa dan mencubit lengan Nanda yang keras dan berotot, meskipun demikian Reyna sangat suka mencubitnya.
"Kamu kok ketawa?" Nanda pun tertawa kecil, sambil bertanya seakan dirinya tidak mengerti.
"Abang, ish!" Reyna merengek saat tahu Nanda sebenarnya berpura-pura menjadi bodoh.
Lagi pula kenapa bisa dirinya sebodoh itu.
"Istri Abang manja banget sih," Nanda memeluk Reyna semakin erat.
Tidak tahu mengapa kini Reyna lebih banyak perubahan, jika dulu seperti lelaki dan selalu menganggapnya musuh, maka kini tidak.
Belum lagi suara panggilan 'Abang' yang terbilang cukup hangat, dengan suara lemah gemulai membuat hati menjadi lebi sejuk.
Lelahnya dalam bekerja seketika terlupakan jika sudah mendengar panggilan Reyna yang manja.
"Abang, sebenarnya kerja apa sih? Kok rumah Mama di kampung juga besar begitu?" Akhirnya setelah sekian lama pertanyaan itu muncul di bibir Reyna.
Belum lagi mobil mewah, perhiasan, pakaiannya yang selalu bermerek. Semua dipenuhi, hingga membuatnya bertanya- tanya.
"Kenapa memangnya?" Nanda kembali bertanya, tahu Reyna pasti bingung dengan dirinya.
"Abang, jangan tersinggung ya. Maksudnya, gaji Abang cuma..." Reyna terdiam sambil mengigit bibir bawahnya, was-was Nanda malah tersinggung dengan perkataannya saat ini.
Sejenak menatap wajah Nanda penuh pertimbangan, antara melanjutkan perkataannya atau tidak.
"Jangan memancing!"
"Maksudnya, nggak mungkin Abang punya kartu yang hitam itu lho, hehe," Reyna tersenyum canggung benar-benar menjaga perasaan Nanda.
"Uang bulanan juga buat Adek lumayan, kayaknya jauh dari gaji Abang," Reyna melanjutkan perkataannya dengan hati-hati, tangannya memegang kancing kemeja Nanda dan memainkannya.
Benar-benar tidak ingin suaminya tersebut tersinggung dengan pertanyaannya.
__ADS_1
Nanda tersenyum dan memilih mengecup kening Reyna, kemudian menutup matanya memilih tidur.
"Abang," rengek Reyna merasa kesal, sebab belum mendapat jawaban tepat.
"Nanti kamu tahu sendiri, setelah liburan ini kamu ikut Abang, ya," pikir Nanda kalau menjelaskan saja pasti terlalu panjang, lagi pula Reyna yang cerewet dengan rasa ingin tahu yang tinggi pasti nantinya banyak bertanya.
Mungkin juga tidak akan percaya tanpa bukti yang nyata.
Lebih baik menunjukan langsung, dari pada nantinya dipusingkan dengan pertanyaan yang malah membuatnya salah menjawab.
"Janji ya, Abang."
"Iya sayang."
Deg!
Jantung Reyna berdegup kencang, pertama kalinya Nanda memangilnya dengan sebutan sayang.
Ah!
Ingin rasanya di kucek-kucek, di obok-obok, jatuh cinta memang luar biasa sensasinya.
Reyna tak menyangka bisa dipanggil dengan begitu manis, rasanya seperti terbang ke langit biru. Menembus langit ke tujuh.
"Kamu kenapa?" Tanya Nanda saat melihat Reyna menegang.
"Nggak papa, sih. Hehehe," dengan hati yang bahagia Reyna kembali menutup matanya agar terlelap.
Jangan lupa bibirnya masih tersenyum-senyum.
"Kamu nggak KB kan setelah waktu itu?" Tiba-tiba Nanda bertanya kepada Reyna, mengingat mereka sudah lama menikah namun, belum juga memiliki anak.
Reyna pun menggeleng dengan cepat, dari awal menikah dirinya memang meminum pil KB tapi setelah ketahuan saat itu tidak ada lagi pil KB ataupun melakukan KB lainnya.
Dirinya juga tidak mengerti sampai saat ini belum diberikan buah hati.
"Kamu marah ya sama aku? Kecewa? Sampai sekarang belum bisa kasih kamu anak?" Hati Reyna bertanya was-was.
__ADS_1
"Aku juga mungkin salah, selama ini aku sering kerja. Pulang cuman dua hari selama satu Minggu, kemudian pergi lagi untuk bekerja, maaf ya," Nanda tidak menyalahkan Reyna sepenuhnya, mungkin kesalahan juga ada pada dirinya yang tidak memiliki banyak waktu bersama Reyna.
"Iya," Reyna pun tersenyum merasa lega.