
"Alex sakit," teriak Jessica sambil berusaha melepaskan diri, sayangnya cengkraman tangan Alex begitu kuat.
Tenaganya sama sekali tidak sebanding dengan tenaga laki-laki sekalipun meronta-ronta, hati Alex terlalu keras untuk di luluhkan.
Hati sekeras batu itu terlalu kokoh akan pendiriannya.
Lihat saja saat ini pun tangan Alex malah semakin kuat dalam mencengkram lengan bagian atasnya, semakin dirinya menjerit kesakitan maka semakin kuat cengkraman tersebut.
Tampaknya hati Alex akan bahagia saat menyaksikan kesakitan yang semakin lama menggerogoti tubuh Jessica.
Mungkin air mata yang tumpah semakin membuat rasa puas pula di hati Alex.
"Alex aku mohon, sakit..." ucap Jessica.
Air mata Jessica menetes, menikmati rasa sakit yang kian semakin dalam.
Entah sampai kapan Alex dapat melepaskannya, iba melihat dirinya yang menderita sebab terus disiksa tanpa ada hentinya.
"Apa ini sakit?" Alex berpindah menarik rambut bagian belakang Jessica, semakin mencengkram kuat hingga wajah Jessica menengadah ke atas.
Kedua tangan Jessica memegang tangan Alex berusaha untuk melepaskan diri.
"Alex sakit!" ucap Jessica lagi.
"Sakit ini tidak seberapa dengan sakit yang dulu pernah kau berikan, ingat dulu pernah meninggalkan aku demi bisa menikah dengan orang lain, kau mencintainya dan melupakan aku yang selalu ada saat kamu butuhkan, kau memanfaatkan cintaku padamu dan mempermainkan aku dengan sesukamu, ini tidak seberapa!" ucap Alex.
"Alex sakit, aku tidak kuat lagi, lepaskan aku!" ucap Jessica.
"Tidak kuat?" Alex tersenyum miring.
"Aku minta maaf, aku salah dan pernah khilaf, aku mohon maafkan aku, aku berjanji akan belajar mencintaimu, menjadi istri yang baik untukmu, tolong jangan siksa aku!" lirih Jessica terus memohon.
Alex pun melepaskan tangannya, bibirnya tertawa mendengar janji yang barusan diucapkan Jessica.
Mustahil sekali rasanya percaya akan janji Jessica yang murahan itu, rasa sakit Alex sudah sampai pada titik terdalam, apa mungkin untuk memaafkan semua ini?
Benar-benar aneh dan terkesan lucu!
"Apakah tidak ada di hatimu sedikitpun berniat memaafkan aku? aku tidak sepenuhnya bersalah bukan? kamu yang menawarkan diri untuk membahagiakan aku di saat Devan tidak ada, lalu kamu pula yang meniduri aku pertama kalinya saat kita sedang mabuk, kamu yang memaksaku minum sampai mabuk, mungkin juga kamu yang sengaja merenggut kesucianku di malam gila itu," ucap Jessica berusaha untuk membela diri.
Akan tetapi suasana tidak bisa menjadi dingin seperti apa yang diharapkan oleh Jessica, amarah Alex semakin meluap merasa dituduh kembali sebagai orang ketiga.
"Kamu jangan terus menuduhku!" ucap Alex.
"Ini faktanya! kita sama-sama bersalah tolong sadar kita ini sama-sama salah, jangan terus-terusan menyudutkan aku," ucap Jessica.
Air mata Jessica menetes, bayangan wajah lelaki yang dicintainya kini tinggal kenangan, impian bahagia bersama Devan harus dikubur dalam-dalam.
"Kamu sudah tahu dari awal aku sangat mencintai Devan, ingat itu! dari awal kamu sudah tahu aku mencintai Devan, hanya Devan! selalu Devan!" Jessica kembali menegaskan bahwa hanya Devan yang ada di hatinya dari awal.
__ADS_1
"Tapi kenapa kamu nekat untuk tetap masuk diantara kami, baiklah anggap saja sepenuhnya kamu tidak salah sebab aku juga memberikan peluang untuk mu masuk diantara kami, artinya yang bersalah bukan hanya aku saja, kita berdua sama-sama memiliki kesalahan, tolong putuskan satu pilihan! jika memang aku terlalu hina untukmu maka lepaskanlah aku! kamu bisa mencari wanita lain jangan siksa aku, aku mohon!" pinta Jessica dengan penuh air mata, kali ini saja pintu hati Alex bisa terketuk memohon dengan penuh air mata yang bercucuran.
Alex terdiam dan tak bisa berkata apa-apa, dirinya sejenak menunduk memikirkan setiap kalimat yang baru saja diucapkan oleh Jessica.
"Sekarang aku pun sudah mengandung anakmu! apakah perselisihan ini masih saja berlanjut? sampai kapan Alex? sampai aku mati?" tanya Jessica lagi.
Alex pun mengangkat kepalanya dan menatap Jessica.
"Ini anakku atau anak Aditya?" tanya Alex.
Jessica shock mendengar pertanyaan Alex, belum selesai masalah yang satu sudah muncul masalah yang lainnya lagi.
Ini benar-benar luar biasa, pertanyaan Alex jauh lebih menyakitkan dari tusukan ribuan belati.
"Aku tidak mengerti Alex, entah apa yang ada di kepalamu mungkin saja kamu sedang amnesia hingga lupa sudah sering meniduri aku," rintihan kepiluan berderai air mata menahan sesak di dada.
"Aku hanya ingin memastikan!" ucap Alex.
"Terserah kau saja! aku menyerah!!!" ucap Jessica.
Jessica pun berjalan ke arah balkon dan melompat, dalam sekejap saja terjatuh di lantai dasar dari ketinggian 20 meter, Alex pun dengan cepat berlari ke arah balkon dan melihat ke bawah.
Di bawah sana, Jessica tergeletak dengan bersimbah darah, tubuh Alex bergetar hebat menyaksikan keadaan Jessica yang mungkin kini tinggal nama, dan Alex adalah penyebab utama dari semua ini.
"Jessica" teriak Alex.
Dirinya menatap sekitarnya ternyata barusan tertidur, kemudian melihat tangan yang masih memegang tespek milik Jessica garis dua itu masih saja muncul di sana membuat rasa penuh tanya semakin kuat, akan tetapi mimpi barusan pun terasa begitu nyata bahkan saat matahari masih bersinar dengan teriknya.
Alex menatap ranjang masih dengan sprei yang sama saat Jessica berada di sana bahkan di atas ranjang itu terakhir kali sebelum Jessica dibawa orang tuanya pergi mereka bercinta, tidak ingin semakin larut dalam pikirannya Alex pun beranjak untuk turun dan membersihkan diri mengguyur dirinya di bawah shower, mungkin bisa membuat kepalanya lebih tenang, tapi saat melihat peralatan mandi milik Jessica masih tertinggal di sana membuatnya kembali tidak karuan.
Tidak!
Alex pun segera keluar dan menuju lemari, saat membukanya terlihat begitu banyak pakaian Jessica yang tertinggal di dalam sana.
Jessica pergi hanya dengan baju di tubuhnya, tanpa sengaja mata Alex melihat banyak lingerie yang tergantung di sana, tapi hanya satu yang pernah dipakai warna biru di malam itu.
"Kenapa dia tidak membawa semua pakaian ini? apa dia masih berharap kembali lagi?" tebak Alex dengan senyum miring.
"Dia tidak akan pernah kembali lagi,"
Alex pun melihat ke arah lainnya, Puput di sana dan entah sejak kapan Puput masuk ke kamarnya bahkan tanpa permisi.
"Bagus!" jawab Alex dengan wajah sinis kemudian mengambil pakaiannya.
"Dia sudah pergi jauh dan membawa cucuku," Puput pun pergi, mengurungkan niatnya untuk melihat kamar yang dulu pernah ditempati oleh Jessica sebagai pengobat kerinduan.
Alex pun diam membatu mencerna kata-kata Puput barusan.
"Pergi jauh? membawa?" tanya Alex bingung.
__ADS_1
Bukankah janin itu sudah tidak ada lagi? mungkin kah janin itu masih bertahan di rahim Jessica?
Hanya Devan yang tahu keadaan Jessica, bukankah kandungannya sangat lemah lalu mengapa janin itu masih ada? kepala Alex benar-benar dipenuhi pertanyaan tapi mungkin Devan bisa menjelaskannya, segera memakai pakaian dan menemui Devan yang kini sedang berada di rumah sakit, dengan kecepatan tinggi Alex pun memacu laju mobilnya di tengah jalan hingga dalam waktu beberapa menit saja sudah sampai di rumah sakit, karena sudah sangat penasaran Alex pun langsung masuk ke ruangan Devan, Nayla terkejut dan ingin turun dari pangkuan suaminya sayangnya Devan memeluk pinggangnya dengan erat tidak membiarkannya untuk berpindah.
"Mas!" ucap Nayla.
"Di sini saja," ucap Devan.
Terpaksa Nayla diam dan tetap berada di tempatnya, Devan pun menatap Alex dengan dingin, tidak ada tatapan persahabatan seperti dulu lagi.
"Apakah janin Jessica masih bertahan?" tanya Alex langsung tanpa basa-basi.
Begitupun dengan Devan yang mengangguk, Alex adalah Ayah dari janin itu Devan menganggap sebagai suami dari pasiennya, itu saja!
"Sebenarnya seperti apa keadaan rahim Jessica? bukankah dia tidak bisa mengandung?" tanya Alex semakin berselimut kabut penasaran.
"Janinnya masih ada! selebihnya kau suaminya dan juga kau pun seorang Dokter kandungan, jadi..." Devan mengangkat bahunya dengan enteng.
Ada sedikit rasa kesal pada Alex, sekeras apapun Devan tapi dia tak pernah bermain tangan pada seorang wanita, apalagi berstatus istrinya! berbeda dengan Alex yang terus mengasari istrinya, terbukti saat melihat bekas memar di beberapa bagian tubuh Jessica saat melakukan beberapa pemeriksaan.
Alex pun keluar dengan jawaban yang tidak memuaskan, akankah janin itu masih bertahan di rahim Jessica sampai saat ini? Alex mencoba untuk menghubungi Jessica melalui sambungan telepon seluler miliknya, sayangnya tidak bisa terhubung hingga membuat Alex semakin pusing dan tanpa sadar membanting ponselnya.
"Menyesal pun sudah percuma," ejek Reyna saat melewati Alex.
Alex melayangkan tatapan tajam pada adiknya sekalipun begitu tak membuat Reyna takut yang ada wanita tersebut malah menjulurkan lidahnya sambil tertawa lebar menyaksikan penyesalan Alex.
"Dokter Alex, anda baik-baik saja?" Zaskia pun berusaha untuk menjadi malaikat, kesempatan bagus untuk mendekati Alex.
Setiap kesempatan seperti ini harus dimanfaatkan bukan?
Dalam hati tertawa, sebentar lagi akan menjadi pemenangnya bahkan ternyata tanpa perlu berjuang pun rumah tangga Alex dan Jessica sudah hancur berkeping-keping.
"Jangan sentuh aku!" Alex menghempaskan tangan Zaskia yang berusaha untuk memegangnya.
Zaskia pun berpura-pura diam, tapi masih butuh sedikit perjuangan.
"Dokter sepertinya anda sangat lelah, mari aku bantu untuk berjalan, anda bisa istirahat di ruangan anda," tawar Zaskia dengan suara lembutnya.
"Aku bilang jangan sentuh aku!" Alex pun mendorong Zaskia.
"Aw..." Zaskia terjatuh di lantai sambil melihat Alex yang sudah berlalu pergi bahkan tanpa menolongnya terlebih dahulu.
Tapi tidak apa! lagi pula semua harus diperjuangkan dan tampaknya tak terlalu sulit untuk bisa masuk di hidup Alex.
"Papanya pengusaha, anaknya dokter, aku dengar-dengar Mamanya juga punya toko kue, masalah adiknya gampang itu," Zaskia tersenyum dengan bahagia membayangkan kebahagiaan yang akan diraihnya.
Barang-barang mahal akan menjadi pelengkap hidupnya, rumah mewah dan tak lupa akan membangun rumah mewah untuk ibunya di kampung.
Sudah pasti itu akan terjadi, Zaskia loncat-loncat kegirangan, tentu saja kesederhanaan akan berganti dengan harta yang bergelimang.
__ADS_1