
Sesampainya di rumah sakit Alex pun segera melakukan observasi. Setelah itu Alex pun menghubungi Puput yang masih berada di kediaman mendiang mertuanya. Puput belum mengetahui apa-apa, saat Reyna di larikan ke rumah sakit. Alex memilih melalui pintu belakang agar tidak mengundang kegaduhan para keluarga yang masih berduka cita. Setelah mengetahui kabar Reyna, segera dia menuju rumah sakit dengan paniknya.
"Apa yang terjadi pada adik mu, kenapa bisa dia begini?" Puput sungguh panik melihat putri bungsunya yang berada di atas brankar rumah sakit.
Reyna yang periang dan juga selalu bersemangat mendadak lemah membuat hati sang Mama panik bukan main.
Bukan hanya Puput yang panik, yang lainnya juga tidak kalah panik melihat keadaan Reyna.
"Usia kandungannya sudah dua bulan, artinya saat kami berlibur di desa dia sedang hamil," kata Alex menyampaikan keadaan Reyna.
"Hamil, dua bulan?" Tanya Nayla terkejut. Karena Reyna terlihat baik-baik saja tanpa ada yang berubah, hingga kini tiba-tiba saja mengetahui sahabatnya sedang mengandung.
"Alex, coba periksa yang benar. Jangan sampai ada kesalahan, Reyna sudah lama ingin punya anak. Jangan sampai dia mendengar dan ternyata kamu yang salah memeriksa. Lagi pula dia perawat, apa mungkin dia tidak tahu," Jessica ikut menimpali. Mengingat selama di desa mereka banyak melakukan hal-hal ekstrim.
"Iya sih, kita larinya juga kencang banget waktu di kejar Nek Mimi, belum lagi kita manjat pohon jambu waktu itu," imbuh Rima dengan kebingungan.
"Suaminya di mana Ma?" Alex tidak melihat keberadaan Nanda, sehingga bertanya kepada Puput.
"Sudah tiga hari Nanda ke luar kota, katanya ada pekerjaan," jelas Puput.
"Bagaimana bisa meninggalkan istrinya sendirian di rumah? Apa dia tidak punya otak!" Alex memijat dahinya sambil melihat wajah Reyna.
"Ma," Reyna pun mulai sadarkan diri, wajah pucatnya jelas terlihat berikut dengan suara lemahnya.
Puput pun merasa lebih lega saat mendengar suara putri bungsunya, segera mencium dahi putrinya dengan penuh kehangatan.
"Syukurlah, kamu sudah sadar," Puput pun mengusap wajah Reyna yang masih dengan keringat dingin.
"Ma, haus," kata Reyna lagi.
"Kamu minum dulu," secepat mungkin Alex memberikan mineral pada Reyna, hingga kembali meletakan di atas meja nakas setelah di teguk adiknya.
"Reyna, kalau kamu sakit kenapa di rumah sendirian. Masih beruntung kamu pingsannya di rumah Jessica, coba kalau di rumah kamu? Sudah pasti tidak akan ada yang tahu," Puput sungguh sangat panik, takut sekali terjadi hal buruk pada anaknya.
__ADS_1
Reyna pun hanya bisa menggeleng lemah, selama ini dirinya tidak ingin pergi ke mana-mana selain berada di rumah nya.
"Sudah berapa hari kamu tidak makan?" Tanya Alex lagi.
Reyna pun hanya terdiam, dirinya pun tidak tahu entah makan atau tidak.
Dirinya lebih suka tidur.
"Ma, kepala aku pusing lagi," Reyna memijat kepalanya, merasa mual yang luar biasa.
Seketika itu juga memuntahkan cairan. Selesai muntah rasa lelah kian terasa, Alex pun berusaha untuk menghubungi Nanda. Tetapi, tidak terhubung sama sekali.
"Kemana perginya Nanda?" Alex semakin panik menatap layar ponselnya, berulang kali menghubungi Nanda tidak satu pun yang terhubung.
"Sabar," Jessica mengusap punggung Alex, melihat wajah Alex begitu panik.
Alex pun mengangguk dan menarik Jessica untuk duduk di sofa, dirinya juga memiliki tanggung jawab. Jessica masih dalam keadaan berduka cita.
Hanya dirinya yang menjadi sandaran untuk istrinya, sehingga Alex tidak ingin mengabaikan Jessica, walaupun hanya beberapa detik saja.
"Kamu masih pusing?" Tanya Puput.
Reyna pun menggeleng, setelah cairan infus yang masuk membuatnya jauh lebih baik.
Malam pun semakin larut, Reyna pun terlelap dalam tidur di temani Pian dan juga Puput sebagai orang tua tentunya tidak akan membiarkan anaknya sendiri.
Sedangkan Alex pulang ke rumah bersama dengan Jessica, Nayla di jemput oleh Devan. Lalu Rima menumpang dengan Nayla dan Devan mengingat mereka tinggal satu atap.
###########
Pagi harinya Reyna pun terbangun, kesadarannya sudah lebih baik. Mencoba duduk untuk sarapan pagi di bantu oleh Puput.
Sampai akhirnya ponselnya pun berdering, tertulis nama Nanda di sana.
__ADS_1
Dengan senyuman Reyna pun menjawabnya.
"Halo," Reyna ingin memberitahu pada Nanda bahwa kini dirinya sedang mengandung, dirinya juga terkejut saat Puput memberitahukan kepadanya malam tadi.
Tentunya berita ini akan sangat membahagiakan juga untuk Nanda, benar-benar Reyna sudah tidak sabar memberitahukan kepada Nanda.
"Maaf, saya teman Nanda, Nanda tertembak saat kami melakukan penangkapan terhadap beberapa buronan" jelas pria tersebut dari seberang sana.
Mulut Reyna mendadak kelu, jantungnya berdegup kencang dengan perasaan takut yang luar biasa.
Perlahan kepalanya terasa pusing, dengan tangan yang memegang perutnya.
"Reyna, kamu kenapa?" Puput panik melihat keadaan Reyna.
"Ma, sakit," keluh Reyna merasakan perutnya, baru kali ini dirinya merasakan sakit yang begitu luar biasa pada bagian perut.
Bersamaan dengan itu Devan bersama Nayla datang, dengan membawa makanan dari rumah untuk Reyna.
"Ada apa?" Tanya Nayla panik melihat Puput pun begitu panik saat menyaksikan Reyna merintih kesakitan.
"Nggak tahu, tadi dia menerima telepon dari Nanda. Abis itu dia begini," kata Puput.
Nayla pun mengambil ponsel Reyna yang tergeletak asal di dekatnya, dan melihat panggilan masih terhubung.
Nama Nanda jelas tertera di layar ponselnya.
"Nanda kamu di mana, Reyna di rawat di rumah sakit," kata Nayla dengan tidak sabaran.
"Maaf Mbak, saya temannya. Kami sekarang di puskesmas, subuh tadi dia tertembak," jelas pria tersebut untuk kedua kali.
"Tertembak?" Nayla meneguk saliva dengan sulit, bahkan kini Devan, Puput dan Pian beralih menatap Nayla dengan penuh tanya.
Wajar saja keadaan Reyna memburuk, ternyata penyebabnya adalah kabar Nanda yang begitu buruk.
__ADS_1
"Apa dia baik-baik saja?" Sebenarnya Nayla sudah tidak sanggup untuk mendengarkan kabar lebih buruk, tetapi saat-saat menantikan jawaban dari seberang sana dalam hati terus berdoa semoga semua baik-baik saja.
"Ma," rintih Reyna dengan peluh bercucuran.