
"Apasih," Reyna mencubit lengan Nanda cukup kuat hingga sang pemilik tubuh meringis.
"Sakit! ya ampun kamu ini jadi wanita begini amat sih, jangan-jangan kamu bukan wanita tapi abang-abang" gerutu Nanda sambil meringis.
"Badan doang gede, seragam polisi begini, dicubit segitu aja sakit," ejek Reyna sambil melihat Nanda.
"Polisi juga manusia," ucap Nanda.
Segera Nanda kembali menaiki sepeda motornya,, sedangkan Reyna memang tak pernah turun dari sepeda motor itu.
"Pegangan! kalau jatuh dan lecet mahar mu aku kurangin," seloroh Nanda.
"Issh, apa sih nggak jelas banget," ucap Reyna kesal.
Sepanjang perjalanan pulang, keduanya hanya berdebat tak ada yang mau mengalah, hingga tanpa sadar semakin memiliki kedekatan karena perdebatan tidak jelas mereka.
Mata Puput melihat sepeda motor Nanda memasuki gerbang, dirinya berdiri di depan pintu menantikan kepulangan Reyna, awalnya sangat panik tapi saat melihat Nanda membawa Reyna kini dirinya merasa lega. Tadinya Puput berpikir terjadi sesuatu pada anaknya.
"Kalian dari mana? Mama panik sekali, besok-besok kalau mau jalan-jalan kabarin Mama dulu gitu, kalau pergi sama Nanda, Mama izinkan,, bahkan sangat izinkan karena dia calon suamimu," ucap Puput.
__ADS_1
Ingin sekali Reyna muntah, jalan dengan Nanda? itu terdengar sangat tidak masuk akal. Bertemu sebentar saja sudah ribut terus apalagi kalau mereka jalan.
"Kita tidak jalan-jalan Ma," ucap Reyna membenarkan agar Mamanya tidak berpikiran sampai ke sana lagi. Malas sekali Reyna jika dianggap jalan dengan Nanda,, orang yang sangat dijengkel Reyna.
"Nggak jalan-jalan?" tanya Puput yang merasa bingung.
"Tadi aku melihat Reyna menangis di sisi jalan tante, ternyata motornya mogok dan aku tolongin itu saja," jelas Nanda.
"Simple banget penjelasannya, perasaan tadi nggak gitu," gerutu Reyna.
"Reyna kamu itu ngomong sama calon suami yang sopan gitu loh," ucap Puput. Entah kapan Reyna bisa bersikap sopan pada Nanda, sungguh Puput sangat kesal sekali pada anaknya ini.
Reyna terpaksa diam, segera dirinya melengos pergi daripada mendapatkan wejangan dari sang Mama lagi.
Baru saja melangkah beberapa kali tapi Nanda memanggil kembali.
"Apalagi?" tanya Reyna, sekalipun kesal tetap berhenti melangkah dan melihat Nanda ini demi dirinya sendiri agar tak di amuk Puput.
"Jaketnya," ucap Nanda sambil melihat jaket yang masih dipakai oleh Reyna.
__ADS_1
Ya ampun ini semakin memalukan, segera dirinya melepaskan jaket Nanda lalu mengembalikannya.
"Reyna, buatkan kopi dulu buat Nanda," perintah Puput.
"Nggak usah tante, soalnya aku juga mau istirahat tante, besok aku izin menjemput Reyna, kami harus menjalani sidang pernikahan," ucap Nanda dengan sopan.
Masih jelas telinga Reyna mendengarnya, ingin menjawab takut diamuk oleh Puput, menjawab ia pun begitu sulit.
"Boleh dong, Tante izinkan, tante sangat percaya sama kamu," ucap Puput.
Hueekkkkkk....
Percaya dari mana? barusan saja Nanda terpaksa menolongnya mungkin juga untuk mencari muka pada Puput, pikir Reyna.
"Aku pamit tante," Nanda mencium punggung tangan Puput sebelum benar-benar pergi.
Puput benar-benar tidak menyangka bahwa Nanda begitu sopan, dirinya semakin menyetujui Nanda menjadi menantunya.
"Kamu lihat Reyna, betapa Nanda gagahnya dengan seragamnya itu, mantu Mama itu," ucap Puput sambil tersenyum bangga dan senang.
__ADS_1
"Hueekkkkkk," Reyna benar-benar ingin muntah,, Reyna segera pergi, kesal pada Puput.
Tetapi Puput malah tersenyum bahagia.