
"aku tahu aku pernah melakukan kesalahan," ucap Jessica.
"Bagus kalau kau sadar," ucap Alex dengan cepat.
"Tapi aku juga manusia biasa, aku bisa khilaf dan bisa berubah kan? tolong beri aku kesempatan," lirih Jessica.
Alex tersenyum miring menatap Jessica.
"Awalnya kamu bersama Devan setelah Devan pergi kamu bersamaku dan Devan kembali kamu meninggalkan aku, membuangku begitu saja sekarang kamu berkorban untuk Devan juga menikah denganku untuk membuat Devan bahagia bersama dengan Nayla, kau pikir pakai otak!" Alex menunjuk kepala Jessica.
"Pernah tidak kau berpikir tentang perasaanku di otakmu hanya Devan, lalu bagaimana dengan aku?" bentak Alex.
Kedua kalinya Alex membentak Jessica, semua benar-benar berbeda setelah banyaknya masalah terjadi sampai hari ini pun Jessica dan Alex seakan asing tak mengenali masing-masingnya.
"Sekarang aku harus apa Alex? aku juga ingin bahagia seperti impianku," ucap Jessica.
"Impianmu bukan aku!!!" Alex menaikkan nada bicaranya satu oktaf meluapkan rasa kesal di hatinya.
"Kebahagiaanmu Devan," ucap Alex lagi.
"Aku janji bakalan jadi istri yang baik, aku akan belajar mencintaimu dan melupakan Devan, tapi tolong beri aku kesempatan," ucap Jessica.
Alex berkacak pinggang dan melempar wajahnya ke arah lain.
"Aku tidak tertarik!" ucap Alex.
"Kenapa?" Jessica bergeser hingga kembali saling menatap.
"Karena kamu itu sampah!!!" ucap Alex.
Degh!!!!
Jantung Jessica berdegup kencang, kata itu begitu kasar hingga menusuk di relung hati.
"Lalu bagaimana kamu mau pernikahan kita ini? bagaimana?" tanya Jessica.
Alex merasa tertantang atas kalimat Jessica dirinya menatap tajam dan dingin.
"Maumu seperti apapun akan aku turuti!!!" ucap Alex.
Tidak ada kelembutan, hati Alex tampaknya kini begitu keras.
"Baiklah aku minta maaf kalau aku punya kesalahan, tapi aku tidak ingin bermain-main dengan pernikahan ini, aku berjanji akan menjadi istri yang baik, tolong beri aku kesempatan untuk itu,," ucap Jessica.
Alex mengangkat bahunya seakan tak tertarik sama sekali, sedetik kemudian keluar dari kamar meninggalkan Jessica sendiri berdiri mematung. Menangis sekencang-kencangnya untuk meluapkan emosi yang tertahan mungkin setelah itu barulah merasa sedikit lega, puas menangis Jessica pun mengusap wajahnya membersihkan sisa-sisa air mata yang masih ada, segera menuju apartemennya untuk mengambil pakaian, pergi dengan menggunakan taksi yang dipesan online.
Satu jam berlalu, Jessica kembali dengan membawa koper besar berisi pakaian, baru saja kakinya melangkah masuk gerbang sudah disambut oleh Puput.
"Jessica kamu dari mana?" Puput meletakkan selang dipegangnya untuk menyiram tanaman.
"Aku habis dari apartemen mengambil pakaian," Jessica menunjukkan koper di tangannya.
Puput mengangguk menatap koper kemudian matanya menatap perut Jessica.
"Kau pergi sendiri? kenapa tidak minta diantar oleh Alex?" tanya Puput.
Alex?
Mana mungkin Alex mengantarnya, lagi pula keduanya baru saja beradu paham.
"Alex lagi sibuk, Ma di rumah sakit," bohong lagi untuk kesekian kalinya.
Puput terkejut mendengar jawaban Jessica, rasanya sangat mustahil karena Alex sedang duduk menonton televisi di kamarnya.
"Di rumah sakit? apa kamu sering berbohong? Alex ada di kamar Mama," Puput geleng-geleng melihat Jessica.
Sejenak Jessica memejamkan matanya kemudian membukanya kembali, posisinya benar-benar membingungkan dan begitu menyakitkan, awalnya berpikir Alex sudah pergi nyatanya di rumah saja.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong kamu sudah hamil belum?" tanya Puput.
Pertanyaan ini sangat menyakitkan sekali, Jessica meneguk saliva dengan pahit, terdiam dengan pandangan berkaca-kaca tanpa bisa bicara.
"Kalau ditanya itu jawab, Mama itu sudah pengen punya cucu," ucap Puput.
Reyna menatap dari balkon kamarnya, melihat Puput terus saja mengomel membuatnya segera menuju halaman.
Hati nuraninya tidak tega melihat Jessica terus disisihkan, apalagi rahim Jessica bermasalah hingga sulit untuk mengandung ditambah rumah tangganya tak harmonis, lengkap sudah penderitaannya.
"Ma, aku bingung deh, apa Mama punya dendam sama mertua Mama sampai terus saja nyudutin mantu Mama?" ucap Reyna.
"Mama bukan menyudutkan, Mama tanya dia!" Puput menunjuk Jessica dengan mata masih tertuju pada Reyna.
"Sudah dua bulan mereka menikah, tetapi belum juga hamil, kenapa? apakah sedang menunda kehamilan? kalau iya tolong jangan menunda-nunda tidak baik untuk anak pertama," ucap Puput.
Untuk hal ini mungkin Puput tidak salah sebab tidak tahu keadaan Jessica yang sebenarnya, tak mungkin juga dirinya mengatakan pada Puput semua itu di hadapan Jessica.
Tidak ada wanita yang tidak ingin menjadi seorang ibu, begitu juga dengan Jessica,, ada rasa tak tega untuk menatap wajah Jessica saja.
"Mulai hari ini kamu harus membiasakan hidup sehat, makan teratur, olahraga, minum vitamin apalagi suami kamu Dokter kandungan, minta saran sama dia, nanti Mama juga akan buatkan jamu tradisional, jangan menunda kehamilan, ingat itu!" ucap Puput dan Jessica pun hanya bisa diam mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Puput.
"Nah itu dia anaknya, Alex!" seru Puput saat melihat Alex melewatinya.
Alex berbalik dan menatap Puput kemudian berjalan mendekat.
"Kamu kan Dokter, kalian sudah dua bulan menikah belum juga ada tanda-tanda Jessica hamil,, kamu bantu dengan ilmu medis atau kamu bawa dia honeymoon, biar bahagia punya waktu berduaan, Mama sudah ingin menimang cucu," pinta Puput.
Alex tersenyum sinis menatap Jessica, ingin sekali dirinya tertawa terbahak-bahak mendengar permintaan Puput.
"Kamu kenapa?" malah Puput merasa horor melihat senyum Alex.
"Dia tidak akan bisa memberikan Mama cucu," ejek Alex pada Jessica.
"Jessica?" Alex tertawa melihat wajah pucat Jessica.
"Kak Alex," seru Reyna.
"Jessica kalau kamu nggak kuat, kalian cerai aja," ucap Reyna lagi.
"Reyna kamu bicara apa? jangan ngawur," tegur Puput geram pada omongan Reyna.
"Mana bisa dia itu punya misi," seloroh Alex kemudian Alex mendekati Jessica menarik tangan Jessica kasar lalu berbisik.
"Mandul,"
Jessica menjauh dan menatap wajah Alex yang tersenyum padanya bahkan tangan Alex mencolek dagunya dengan senyum seakan bahagia.
Jessica hanya mampu menarik nafas, sakit sekali mendengar bisikan Alex barusan, apa tidak ada kesempatan kedua untuknya? Alex pun pergi sambil menertawakan wajah Jessica yang memerah.
"Ma aku ke kamar dulu," ucap Jessica.
Puput mengangguk,, tidak mengerti mengapa Alex dan Jessica terlihat aneh, bahkan kini dirinya bertanya-tanya apakah sebenarnya yang terjadi.
Semuanya terlihat janggal, Puput mulai menyadari tak pernah ada senyum diantara keduanya, berbeda dengan pasangan di luar sana.
"Reyna," Puput memegang tangan Reyna agar tak ikut menyusul Jessica.
Dengan terpaksa Reyna diam di tempatnya dan menatap Puput.
"Apalagi Mama mah mulutnya bisa dijaga nggak, kalau ngomong pakai perasaan gitu," ucap Reyna.
"Kok Mama?" ucap Puput.
"Mama minta cucu lah," mulut Reyna komat-kamit, kesal pada Puput.
"Salahnya di mana? setiap orang yang sudah menikah anaknya pasti pengen punya cucu, memangnya mereka tidak ingin punya anak?" ucap Puput.
__ADS_1
"Tau ah," Reyna langsung pergi meninggalkan Puput masih dengan kebingungannya.
Lebih baik menyusul Jessica mungkin Dengan menemani iparnya itu bisa meringankan sedikit kesedihannya.
Perlahan Reyna masuk, matanya melihat Jessica duduk di sofa menangis tersedu-sedu meluapkan rasa sakitnya.
Sakit sekali bila seseorang membahas perihal kehamilan, sulit sekali untuk berdamai dengan keadaan tersebut hingga akhirnya dengan susah payahnya menghibur diri dan berhasil juga, namun semua terasa menyakitkan kembali setelah Puput mengingatkan semua itu, Reyna pun duduk di samping Jessica seketika Jessica memeluk Reyna dengan eratnya, menangis tersedu-sedu meluapkan isi hati.
Sesaat kemudian merasa lebih baik perlahan menjauh merasa tidak enak hati melihat baju Reyna basah terkena air mata.
"Maaf Reyna aku tadi bingung banget," ucap Jessica.
"Nggak apa-apa, aku nggak masalah kok kamu boleh peluk aku lagi curhat sama aku juga, nggak apa-apa jangan takut aku nggak sama dengan ipar di luar sana yang bermuka dua," ucap Reyna agar Jessica tidak terus larut dalam sedih.
Benar saja Jessica tersenyum sambil mengusap wajahnya.
"Memangnya ada apa dengan ipar di luar sana?" tanya Jessica.
"Susah melihat iparnya bahagia, tapi bahagia lihat iparnya menderita dan sok baik di depan padahal tukang adu domba," jelas Reyna.
"Sok tahu kamu, emangnya kamu udah pernah menikah?" tanya Jessica.
"Belum sih cuma ada teman bilang nggak usah dekat-dekat sama ipar walaupun gak semua ipar begitu banyak juga ipar baik contohnya aku," Reyna tersenyum sambil membanggakan dirinya berharap Jessica bisa terhibur dengan ceritanya.
"Makasih yah Reyna, aku nggak nyangka bisa sedekat ini sama kamu, bahkan ternyata kamu baik banget," ucap Jessica.
Tidak mungkin menceritakan masalahnya pada kedua orang tuanya apalagi pada kakaknya, Jessica sejak dulu hanya diam dan memilih melalui semua sendiri, tapi kini ada Reyna hingga membuatnya lebih tegar dalam menghadapi setiap tantangan hidup ini.
"Aku juga nggak nyangka kita bisa dekat bahkan kamu jadi ipar aku, padahal dulu aku benci banget sama kamu," ucap Reyna.
"Emang aku jahat banget yah?" ucap Jessica.
"Hehehe" Reyna benar-benar merasa lucu hingga menggelitik perut dan membuatnya tertawa.
"Gimana dengan rencana pernikahan kamu?" tanya Jessica.
"Ya ampun Kakak ipar tidak usah membahasnya, tapi kalau dia kasar seperti kakak Alex aku tidak akan menangis sepertimu, aku akan balas dan meracuninya," Reyna meremas udara seakan itu adalah wajah Nanda, dan wajah Nanda hancur di tangannya.
"Tapi dia itu baik kok," ucap Jessica.
"Baik dari Hongkong, bayangin aja dia itu nggak laku, masa iya aku dapat cowok nggak laku," ucap Reyna.
Sejenak Jessica melupakan masalah rumah tangganya, mendengarkan cerita Reyna sungguh membuat hati menjadi lebih baik ternyata pengaruh teman setia dalam hidup itu sangat dibutuhkan sekali.
"Terus dia itu kayaknya nggak normal," ucap Reyna lagi.
Kali ini Jessica tertawa mendengarnya, semakin lama cerita Reyna semakin aneh saja.
"Aku serius," ucap Reyna.
"Mana ada polisi yang nggak normal, kamu ini ada-ada saja," ucap Jessica.
"Iya tapi..." Reyna berusaha berpikir keras tapi lagi-lagi dirinya merasa Nanda pria yang tidak normal.
"Kalau dia normal kenapa tidak memiliki pacar," ucap Reyna lagi.
"Itu kan urusannya,, kita mana tahu," ucap Jessica.
"Jelasnya tidak normal, padahal wajahnya lumayan tampan," kata Reyna tanpa sadar.
"Oh ya?" goda Jessica.
"Maksud aku nggak gitu Jessica," teriak Reyna merasa malu.
"Cie.."
"Nggak! dia jelek!!! aku mau ke rumah Nayla," Reyna segera keluar dari kamar Jessica dan Alex.
__ADS_1
Jessica tersenyum bahagia, ada Reyna yang bisa menghibur dirinya.
"Dia tulus sekali," ucap Jessica.