
Malam pun semakin larut,, ketika semua anggota keluarga sudah tidur di kamarnya masing-masing, tapi tidak dengan Jessica, dirinya hanya diam duduk di sofa memainkan ponselnya untuk menemani malamnya, tiba-tiba Puput keluar dari kamarnya tanpa sengaja matanya melihat Jessica yang duduk di sofa lebih tepatnya ruang keluarga tepat berhadapan di depan kamar Puput. Rasa penasaran begitu terasa banyak pertanyaan di kepalanya seketika dengan cepat dirinya melangkah ke arah Jessica.
"Jessica," ucap Puput.
Jessica tersadar segera menatap ke depan dan melihat Mama mertuanya berdiri di hadapannya dengan segera Jessica berdiri.
"Kenapa kamu tidak istirahat?" Puput menunjuk jam dinding yang sudah larut, sudah melewati jam dua belas.
Jessica pun mengangguk,, tapi tahukah Puput jika barusan dirinya sudah menuju kamar Alex akan tetapi tak dapat masuk sebab pintu kamarnya terkunci, dirinya tidak berani mengetuk pintu mengingat hubungan keduanya tidak baik-baik saja.
"Kenapa diam?" Puput semakin geram pada Jessica, menurutnya apapun yang dilakukan oleh menantunya tersebut tidak ada yang beres,, bahkan untuk istirahat saja harus diarahkan.
"Sana ke kamarmu dan istirahat," ucap Puput.
Jessica mengangguk lemah.
"Aku permisi Ma," dengan langkah kaki yang berat dirinya menuju ke kamar Alex.
Sayangnya masih terkunci, sejenak tak tahu apakah harus mengetuk atau hanya diam saja.
"Kenapa kamu masih diam?" suara Puput lagi-lagi terdengar tanpa disadari ternyata Puput berjalan mengikuti Jessica menuju kamar Alex, karena Jessica hanya diam membuat Puput segera bergegas mendekati pintu saat beberapa kali memutar gagang pintu tidak berhasil, seketika dirinya mengetuk pintu kamar berteriak agar anaknya segera membukakan pintu.
Pintu pun terbuka Alex berdiri di ambang pintu kamar berhadapan langsung dengan Puput.
"Kenapa pintunya dikunci? kalian lagi marahan apa gimana sih? istrimu di luar apa kamu tidak kasihan," mulut Puput terus menggerutu kesal, kepalanya sedang tidak baik-baik saja setelah kejadian Reyna tadi, hingga siapa saja yang melakukan kesalahan sekalipun sepele akan menjadi amarah baginya.
Kemudian Alex pun menatap Jessica yang berdiri di belakang Puput.
"Jessica masuk istirahat," Puput menatap Alex dengan tajam sebelum akhirnya benar-benar pergi.
Jessica mengangguk lemah, kemudian Alex menyingkir dari ambang pintu untuk memberikan jalan masuk bagi Jessica.
"Tidur di sofa, menjengkelkan! dari dulu kamu hanya bisa menjadikan aku sebagai tumbalmu saja," Alex menutup pintu kamar dengan membantingnya.
Jessica tersentak, terkejut karena suara benturan pintu cukup keras ditambah dengan bentakan Alex cukup kasar.
Kali pertama dirinya mendengar suara Alex kasar membentak, bahkan terkesan dingin, tidak ingin berdebat Jessica memilih diam sesaat kemudian terasa bantal mengenai wajahnya, bantal dengan sengaja dilemparkan oleh Alex pada wajahnya, sadar kesalahannya tak pantas menerima, pilihan tepat adalah diam.
Perlahan Jessica membaringkan tubuhnya di atas sofa, tidak ada air mata sama sekali, rasanya saat ini dirinya hanya ikhlas dengan semuanya, mungkin inilah jalan hidup setelah pernah menyakiti dua lelaki.
Devan dan Alex.
Pagi hari ini Jessica terbangun dari tidurnya betapa terkejutnya melihat jam dinding menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Entah bisa disebut pagi atau mungkin lebih tepatnya disebut siang, dengan segera dirinya bergegas bangun menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya setelah itu tersadar tak membawa pakaian bingung harus bagaimana, hingga akhirnya keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk di tubuhnya.
Bersamaan dengan itu Alex pun kembali masuk ke kamar, melihat Jessica hanya menggunakan handuk.
"Tidak usah menggodaku! aku sudah muak denganmu, kalau bukan karena rasa bersalah pada Devan, aku tidak akan menerima tawaran menikah denganmu," ucap Alex melewati Jessica bahkan dengan menyenggol lengannya.
Jessica terdorong beberapa langkah ke belakang, tidak menyangka ternyata Alex kini telah membenci dirinya juga.
__ADS_1
Reyna tidak sengaja mendengar segalanya, awalnya ingin menemui Jessica ke kamar dan ingin bercerita tentang masalahnya dengan Nanda.
Siapa sangka ternyata Jessica juga tak baik-baik saja, bahkan masalahnya pun terbilang cukup rumit, Jessica hanya bisa tertunduk sambil memegang erat handuk di bagian dadanya, semua sudah berbeda tidak ada lagi senyum sahabat antara Devan dan Alex untuk dirinya.
Reyna memilih tersenyum,, seakan tak mengetahui apapun, seketika dirinya mendorong pintu agar terbuka semakin lebar, kemudian masuk Jessica pun menatap pada pintu melihat adik iparnya di sana.
"Jessica kamu udah sarapan pagi belum?" tanya Reyna, sebenarnya bukan itu tujuan Reyna, tapi semua berubah setelah tahu keadaan pernikahan Jessica.
"Belum! Reyna aku boleh minjem baju kamu? soalnya aku semalam nggak bawa baju," Jessica pun tidak yakin, apakah Reyna akan memberikan bajunya mengingat mereka belum memiliki kedekatan yang cukup lama.
Reyna mengangguk.
"Aku ambil ke kamar sebentar," ucap Reyna.
Jessica tersenyum sambil menatap punggung Reyna yang berlalu pergi menuju kamarnya, bahkan tidak menyangka bahwa Reyna mau meminjamkan bajunya.
Alex pun keluar dari kamar mandi, dirinya melewati Jessica tanpa bicara satu kata-kata pun, sesaat kemudian Reyna kembali dengan membawa sebuah dress.
"Kalau nggak muat, aku cari yang lain, sekarang coba yang ini dulu!" ucap Reyna.
Reyna sadar dirinya lebih kurus daripada Jessica, mungkin akan berbeda bila pakaian yang dipakai orang dengan tubuh lebih berisi, Jessica memakainya beruntung pas di tubuhnya.
"Pas di kamu, kita ke dapur yuk, tadi kamu dicariin Mama," ucap Reyna dan Jessica lagi-lagi hanya bisa mengangguk, malu sekali bangun tidur di waktu setengah siang hari begini.
Sekalipun demikian semua harus dihadapi, keduanya bergegas menuju dapur.
"Ma ini Jessica," ucap Reyna.
Puput pun meletakkan sendok di tangannya, beralih menatap Jessica, menarik nafas berat dan menghembuskan dengan kasar.
"Ma?" Alex menghentikan aktivitasnya dan beralih menatap Puput.
"Jessica itu suamimu! buatkan kopi," entah bagaimana caranya dirinya benar-benar bingung tapi kesel bukan main melihat Jessica tak dapat melakukan apapun.
"Kamu itu gimana sih, jangan bilang cuma bisa ngangkang doang," bentak Puput dengan tangan yang mematikan api kompor.
"Ma," rasanya Reyna kesel bukan main mendengar amarah Puput begitu berlebihan.
Bukannya diam dirinya malah kesal pada Reyna juga.
"Kamu juga sama!" bentak Puput sambil memegang dadanya yang terasa sakit.
Jessica memegang tangan Reyna, berusaha untuk tetap membuat suasana menjadi tenang, dirinya takut menjadi penyebab sakitnya Puput.
"Aku minum kopi di rumah sakit saja," Alex segera pergi, berada di rumah membuatnya semakin pusing.
"Dasar istri nggak berguna!!" omel Puput sebelum akhirnya pergi menyusul Alex.
Jessica pun hanya diam, dalam hati ingin sekali menjerit sekencang mungkin tetapi tidak bisa, lagi-lagi dirinya masih menganggap ini adalah hukuman, ponselnya pun berdering tertera nama sang Mama dengan cepat menjawabnya melupakan rasa sedihnya.
"Halo Ma," ucap Jessica.
__ADS_1
"Kamu gimana kabarnya? Mama senang sekali sekarang kakak kamu juga sudah hamil, Mama harap kamu juga bahagia yah sama Alex, pasti kan?" ucap Inggit penuh kebahagiaan, karena putri sulungnya sudah mengandung cucu keduanya.
Sekalipun Jessica cukup sulit mengandung tapi cukup membuat Inggit bahagia dengan melihat putrinya bahagia.
"Iya Ma bilangin sama Kak Rara selamat atas kehamilannya lagi," Jessica pun tak kalah bahagia lalu bagaimana bisa dirinya meruntuhkan kebahagiaan tersebut.
"Nanti malam kamu dan Alex datang ke rumah Mama, kita makan malam yah," masih dalam bahagia Inggit lagi-lagi berharap suatu hari Jessica pun merasakan menjadi seorang ibu, sekalipun tak mengatakan secara langsung.
"Iya Ma," ucap Jessica.
Setelah panggilan terputus,, Jessica menatap Reyna yang masih menatap dirinya.
Pikiran Jessica menerawang jauh, memikirkan cara untuk membuat Alex mau hadir di acara makan malam keluarganya, memenuhi undangan Inggit.
"Neng Reyna, di depan ada Neng Nayla dan Tuan Devan," kepala ART memberitahukan Reyna.
Reyna mengangguk, tapi ada apa sahabatnya tersebut mendatangi kediamannya?
"Jessica kita ke depan yuk," ajak Reyna.
"Aku disini saja mau masak buat makan siang," tak enak hanya menumpang tinggal merasa dirinya bisa memasak agar sedikit berguna, Reyna mengusap punggung Jessica dirinya tahu apa yang kini dirasakan oleh wanita itu.
Seketika menemui Nayla yang kini menunggunya di ruang tamu.
"Apa?" Reyna melemparkan tubuhnya pada sofa kesal menatap Nayla.
"Kamu kenapa?" tanya Nayla.
"Kamu yang kenapa? nggak bisa bikin aku batal tunangan sama si gila itu," jawab Reyna.
"Gila?" Nayla bertanya dalam kebingungannya.
"Nanda!"
Nanda pun berdiri di depan pintu, telinganya mendengar sendiri kata-kata yang keluar dari mulut Reyna, hari ini dirinya ingin meminta berkas-berkas untuk syarat menikah tetapi malah telinganya mendengar kalimat tidak menyenangkan tersebut.
Entah apa jadinya jika mereka menikah, sekarang saja sudah membuat kesal setiap bertemu.
"Nanda!" Nayla menatap pintu, Reyna pun ikut melihat Nanda yang berada di ambang pintu, dirinya hanya mendesus memutar bola mata dengan jenuh.
"Nanda masuk Nak," Puput tersenyum seraya mempersilahkan Nanda untuk masuk.
"Iya Tante," Nanda pun masuk dan ikut duduk.
Puput berjalan menuju dapur.
"Buatkan kopi! jangan bilang kamu nggak bisa buat kopi," ucap Puput.
Jessica mengangguk dan segera membuat kopi sesuai perintah dari mertuanya.
"Cepat jangan lama-lama!" ucap Puput.
__ADS_1
"Iya Ma," ucap Jessica.
Entah mengapa setiap melihat wajah Jessica kini Puput ingin marah-marah saja, kesal sekali saat melihat Jessica tak dapat mengurusi Alex.