Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Sama saja yang penting sehat!


__ADS_3

"Sekarang cuci tangan mu itu!" Devan menatap tangan Nayla yang menggantung.


Nayla masih diam di tempatnya, tidak mengerti mengapa Devan memintanya mencuci tangan.


"Kenapa masih diam?" Seru Devan melihat Nayla masih berdiri di tempatnya tanpa ada niatan untuk bergerak.


"Cuci tangan? Buat apa?" Nayla pun memberanikan diri untuk bertanya, sambil berpikir jika benar otak Devan sedang koslet karena emosi.


"Aku tidak suka dia memegang tangan mu! Cuci sekarang!"


Nayla pun menatap tangannya, tidak ada yang kotor sama sekali.


"Kami cuma salaman Mas, tangan ku nggak kotor!" Nayla pun menunjukkan tangannya pada Devan.


"Bersih," Imbul Nayla meyakinkan Devan.


"Bagi Mas, kotor!" Devan pun menarik Nayla menuju kamar mandi, mencuci tangan Nayla dengan air mengalir dan memberikan sabun hingga beberapa kali, kemudian dibilas hingga di rasa bersih.


Nayla hanya diam menerima, meskipun sebenarnya kesal, dirinya tidak ingin membantah takut ada keributan dan sampai ditelinga Bobby yang belum terlalu pulih dari sakitnya.


Mereka baru kali ini mengunjungi Bobby dalam keadaan baik-baik saja, penuh kebahagiaan tanpa ada konflik.


Nayla tidak mau membuat Bobby berpikir yang tidak-tidak tentang rumah tangganya.


"Mas, udah. Dingin banget," ujar Nayla.


Devan sudah berulangkali membilas tangannya dengan air, memberikan sabun hingga berulang-ulang


Apakah belum cukup?


Entah kapan bisa selesai, Nayla sendiri mulai merasa dingin.


Devan pun melihat wajah Nayla, menimbang istrinya juga sedang mengandung. Takut malah masuk angin.


"Ya sudah, lagi pula sudah tidak ada bekas orang-orangan sawah itu!" Devan pun mengangkat Nayla untuk memasuki kamar, kemudian menurunkan saat berada di depan kamar.


Devan pun mengeringkan tangan Nayla dengan gorden yang di jadikan pintu kamar.


"Mas, ini buat nutupin pintu."


"Jangan berisik!" Devan terus mengeringkan tangan Nayla hingga benar-benar kering, kemudian menarik Nayla untuk masuk.


Nayla hanya bisa menarik napas berat, sulit sekali jika Devan sudah dalam keadaan cemburu. Mungkin sampai tahun depan pun tidak selesai juga.

__ADS_1


Memilih menurut adalah jalan tepat.


#########


Setelah berlibur di desa akhirnya kini Devan dan Nayla kembali ke kota, bersama dengan yang lain tentunya.


Banyak cerita yang sudah mereka lalui di desa, walaupun hanya sebentar tetapi cukup banyak pengalaman lucu.


Belum lagi masalah yang tiba-tiba muncul tanpa sebab pasti, seperti Mimi dan yang lainnya lagi.


Sesampainya di rumah Nayla pun mengistirahatkan tubuh lelahnya, begitu pun dengan Devan yang berbaring di samping Nayla.


"Capek banget ya?" Tanya Devan sambil mengusap perut Nayla, berbaring miring dengan tangan yang menopang kepalanya.


Nayla yang tidur terlentang pun mengangguk.


"Lumayan Mas, tapi di desa seru," Nayla tersenyum mengingat liburan mereka selama berada di desa.


Seru apanya?


"Seru aja, aku kan orang desa. Belum lagi banyak kenangan masa kecil di sana,"


Nayla tersenyum sambil membayangkan tempat bermain yang begitu indah sewaktu kecil dulu.


"Katakan saja kamu betah di desa karena ada orang-orangan sawah itu," ingin sekali Devan mencekik Robin, membayangkan saja sudah mampu membuat emosi mendidih, apa lagi jika bertemu.


Devan sangat menyesal tidak sempat mencekik leher Robin saat itu juga. Coba saja jika benar mencekik leher Robin pasti rasa kesal dihatinya sedikit berkurang.


Itu pasti.


"Biar lain kali saja, saat kemarin dia bisa lolos. Jika berani menampakkan wajahnya di depan ku lagi, habis dia," Devan seakan membayangkan Robin di hadapannya, dengan tangannya yang mencengkram udara begitu erat hingga menampakkan buku-buku jarinya.


"Apaan sih?" Nayla tidak menduga jika pikiran Devan masih pada Robin, padahal tidak ada terbesit sedikitpun nama Robin di otaknya saat ini.


"Itu juga peringatan buat kamu!"


"Aku?" Nayla semakin bingung, sampai saat ini suaminya semakin tidak karuan.


"Iya! Ngapain pakai salaman?"


"Mas juga aneh, salaman doang kan biasa?" Nayla pun memilih turun dari ranjang, kesal sekali pada Devan yang semakin tidak jelas membahas perihal apa.


"Sayang kamu mau kemana?"

__ADS_1


"Mas juga bikin kesal!"


"Ya, udah maaf," Devan ikut bangkit tidak ingin Nayla keluar dari kamar, mengingat ini adalah waktu istirahatnya dari esok hari di sibukkan dengan pekerjaan di rumah sakit.


Nayla pun akhirnya urung keluar dari kamar, kembali berbaring di atas ranjang bersebelahan dengan Devan yang mengelus lembut perut ratanya.


"Ayah!" Seru Felix dan Adnan bersamaan.


"Anak Bunda belum tidur?" Tanya Nayla sambil perlahan mendudukkan tubuhnya, sebab kedua anaknya mulai berjalan ke arahnya dengan membawa toples plastik.


"Belum, cantik ya Bunda ikan Lele Adnan, ini mau dipelihara," ujar Adnan menunjukkan miliknya.


"Felix juga," Felix pun tidak kalah antusias menunjuk ikan miliknya.


"Wah bagus, sekarang bawa ke kamar kalian. Lalu, tidur, besok sekolah," kata Nayla.


"Iya."


Adnan dan Felix pun keluar dari kamar kedua orang tuanya, membawa masing- masing anak Lele milik mereka.


"Ikan menjijikan, aku sudah tidak mengidolakan ikan itu lagi,"


Devan masih belum bisa menerima kenyataan bahwa dirinya sudah memakan Lele dari kolam dengan toilet umum di atasnya.


Sungguh menjijikan dan bisa membuatnya muntah saat ini juga.


Nayla tersenyum melihat wajah kesal suaminya, hanya bisa geleng-geleng kepala saja.


"Anak Ayah capek juga ya," Devan mencium perut Nayla, seakan mengajak janin tersebut untuk berbicara.


"Sedikit Ayah," jawab Nayla menirukan suara anak kecil.


"Hehehe," Devan pun terkekeh kemudian memeluk perut Nayla.


"Mas pengen anak cowok apa cewek?" Nayla penasaran apakah Devan memiliki sebuah keinginan untuk anak ketiganya tersebut, mengingat sudah dua laki-laki.


Atau pun mungkin Devan memiliki keinginan untuk memiliki anak perempuan selanjutnya.


"Sama saja, perempuan dan laki-laki. Hanya saja kalau laki-laki kamu akan menjadi perempuan satu-satunya dalam kartu keluarga," ejek Devan.


"Ya ampun, kasihan sekali aku," Nayla malah bersedih hati mengingat perkataan Devan.


"Semoga anak kita yang ketiga ini perempuan," Nayla menutup matanya sambil berdoa.

__ADS_1


"Hehe, sama saja. Yang penting sehat," papar Devan sambil tersenyum bahagia dan memeluk Nayla untuk tidur.


__ADS_2