Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Aku tidak bisa mencintai mu, maaf.


__ADS_3

Malam pun semakin larut, suara dedaunan sesekali tertiup angin terdengar di telinga. Di saat orang-orang sudah memejamkan mata Alex masih terdiam duduk di balkon menatap keluar.


Dinginnya malam tidak lantas membuatnya menjadi gemetaran, rasanya hampa setelah mendengar pernikahan Jessica yang akan di langsungkan bersama laki-laki lain.


Apa itu cinta dan penyesalan, tergolong berbeda namun memiliki makna yang luar biasa.


Boleh kah memohon untuk di berikan kesempatan kedua, Alex hanya manusia biasa penuh dengan dosa dan khilaf. Terlalu mencintai menjadikan rasa cemburu yang tidak bisa terkendali, saat ini hanya bisa menatap awan hitam yang mulai menutupi rembulan seakan-akan dia pun tahu ada yang sedang terluka karena penyesalan.


Pagi menjelang, Alex terlelap dalam duduknya. Puput menghampiri dan menatap anaknya.


"Alex," Puput membangunkan dengan memanggil-manggil beberapa kali, hingga Alex terbangun dari tidurnya.


Alex pun membuka mata, tersadar sudah pagi. Terlelap dalam lamunan hati yang tengah tidak karuan.


"Kamu tidur di sini?" Tanya Puput lagi.


Alex mengangguk, dirinya pun baru menyadarinya.


"Kamu mandi dulu, hari ini Cahaya ulang tahun," Puput mengingatkan..


Alex mengangguk kemudian segera masuk ke dalam kamar mandi.


Pertama kalinya merayakan hari ulang tahun putrinya tentu saja tidak ingin terlewatkan sedikitpun. Bahkan sepanjang perjalanan menuju rumah Jessica pun Alex masih tidak percaya bahwa kini sudah menjadi seorang Ayah.


Ingin membahagiakan putri kecilnya dengan memberikan perhatian sepenuhnya, tidak ingin dilupakan juga.


"Daddy!" Cahaya berteriak memanggil Alex.


Wajah riang Cahaya seakan menggambarkan kebahagiaan yang begitu besar.


Seketika Alex menggendong putri kecilnya, menciumi pipi tembem Cahaya hingga beberapa kali.


"Selamat panjang umur, semoga setiap keinginan kamu bisa tercapai," kata Alex.


"Aya mau dinner bertiga, terus bobo bertiga, Aya ditengah," ujar Cahaya dengan polosnya.


Jessica membuang pandangannya, jika untuk dinner tidak masalah. Namun, untuk tidur bersama rasanya sangat mustahil.


"Daddy, malam ini bobo sama Aya sama Mom, juga 'kan?" Tanya Cahaya dengan antusias.


Alex hanya bisa terdiam mendengar kemauan putrinya, menatap wajah Jessica yang membuang muka tak ingin menatapnya. Jelas tanpa diucapkan sekali pun Jessica menolak dengan raut wajahnya.

__ADS_1


"Aya, bobo sama Dad, aja. Daddy, pengen bobo berdua sama Aya," kata Alex ingin bernegosiasi.


Cahaya menggeleng cepat, keinginannya saat ini adalah bersama kedua orang tuanya.


"Aya, tidur sama Daddy. Mom, ada pekerjaan," jawab Jessica memberi alibi.


Cahaya meminta turun dari gendongan Alex, kemudian diam tanpa kata. Jessica berjongkok sambil memegang kedua pundak Cahaya.


Tangan Jessica mengangkat dagu Cahaya, menatap manik mata polos anaknya.


"Mom sama Daddy tidak boleh tidur sama-sama. Karena ranjangnya tidak muat, jadi Aya bobo sama Daddy dulu boleh yah?" pinta Jessica dengan suara pelan.


Cahaya menatap manik mata Jessica, masih terlalu bingung dengan penjelasan Mommy nya barusan.


"Nanti kalau ranjangnya gede bisa kan Mom?" tanya Cahaya.


Jessica hanya tersenyum mendengar pertanyaan Cahaya, terlalu mustahil untuk menjelaskan pada Cahaya saat ini. Suatu hari Cahaya akan tumbuh dewasa, di saat itulah dia akan mengerti situasi saat ini.


Malam pun kian datang, sesuai keinginan Cahaya merayakan ulang tahun dengan dinner di sebuah restoran. Cahaya tampil cantik dengan menggunakan dress berwarna putih, wajahnya begitu sumringah menantikan malam ini.


Jessica pun menggunakan dress berwarna putih, sama dengan Cahaya. Hanya saja dengan model yang berbeda.


Alex sudah menunggunya di salah satu meja, restoran tersebut malam ini sudah di persiapkan khusus untuk merayakan hari ulang tahun Cahaya.


Mata Alex semakin tidak bisa berkedip saat melihat Jessica, cantik, anggun dan begitu mempesona.


"Daddy!" Seru Cahaya membuat Alex tersadar dari lamunannya.


Hanya untuk berkedip saja rasanya begitu sulit, apalagi untuk beralih melihat lainnya. Pesona seorang Jessica begitu indah, dari ujung kaki, sampai ujung rambut tidak pernah ada kekurangannya.


Mengapa di mata Alex selalu saja berkesan, seakan menampakan cahaya berkilauan.


Andai saja Jessica menjadi milik orang lain Alex mungkin memilih kehilangan penglihatannya agar tak lagi melihat Jessica. Sebab, sakitnya tak bisa memiliki begitu menyakitkan hati.


Duduk bersama dalam satu lingkaran mereka berhadapan satu sama lainnya.


"Daddy, kata Tante Rima, kalau Mom sama Dad bobo bareng Aya bisa dapat adik bayi ya?" Tanya Cahaya dengan antusias.


Uhuk... Uhuk!


Pertanyaan Cahaya membuat Alex tersedak, begitu sederhana tetapi cukup bermakna. Mungkin juga karena, dirinya yang terlalu memuji kecantikan Jessica.

__ADS_1


"Cahaya, makan ya," Jessica menggusap punggung Cahaya, ingin mengalihkan perhatian anaknya agar tidak membahas tentang hal tersebut.


Cahaya mengangguk dan mulai fokus kembali pada makannya. Tidak ada yang berbicara, semua diam seakan sibuk dengan makanannya.


Sampai akhirnya selesai.


"Cahaya udah selesai makan?" tanya Alex.


"Udah Dad, makannya enak." jawab Cahaya.


"Aya, main balon sama Kakak itu dulu yah," Alex menunjuk seorang wanita pelayanan untuk bermain bersama Cahaya.


"Iya, Dad," Cahaya mengangguk setuju, melihat balon begitu banyak di dekorasi secantik mungkin membuatnya ingin bermain di sana.


"Jessica, aku ingin bicara. Tolong dengarkan aku," kata Alex secara langsung.


Jessica melipat kedua tangannya di dada, matanya menatap Cahaya yang sedang bermain balon dengan penuh kegembiraan.


Sungguh itu adalah kebahagiaan yang luar biasa bagi seorang Jessica.


"Aku mohon, aku mencintaimu dari dulu sampai kini. Tolong kembali pada ku," pinta Alex.


"Tidak usah membahasnya, aku tidak akan bisa kembali pada mu. Aku sudah sangat bahagia bersama Cahaya, masalah masa lalu anggap saja itu hanya angin lalu," tutur Jessica tanpa beralih menatap Cahaya yang asik bermain.


"Katakan apa yang harus aku lakukan agar kau mau memaafkan ku."


"Aku sudah memaafkan mu, tetapi untuk kembali aku tidak bisa," tegas Jessica.


Alex mengusap wajah putus asa, tidak tahu bagaimana caranya mendapatkan hati Jessica.


Dari dulu sampai saat ini pun Jessica tidak pernah mencintainya.


"Aku tidak tahu kurang ku di mana? Aku sudah berusaha dari dulu untuk mendapatkan mu. Aku menjadi Dokter pun karena mu, berharap bisa seperti Devan agar kau bisa mencintai ku. Tidak, aku sadar sekuat apapun aku berusaha untuk menjadi orang lain, aku tidak pernah bisa sepertinya," Alex menggeleng dengan putus asa mengusap air mata yang menetes dari pelupuk mata.


Selemah Itulah kini Alex di hadapan Jessica, hampa, hancur, tidak berarti apa- apa.


"Kamu ingin seperti Devan agar bisa mendapatkan ku?" Tanya Jessica sedikit penasaran.


Alex mengangguk.


"Kau tahu kenapa aku menjadi seorang Dokter? Ingin menjadi seperti dia, yang mungkin bisa kau cintai."

__ADS_1


"Aku sudah pernah meminta mu menikahi ku, tapi..." Jessica mengangkat bahunya tanpa bisa berkata-kata lagi.


"Semua sudah selesai, aku tidak bisa mencintai mu, maaf."


__ADS_2