Aku Menikah Dengan Suami Kakak Ku

Aku Menikah Dengan Suami Kakak Ku
Episode 133


__ADS_3

Tasya terdiam.


Darel mendekati Tasya dan memeluk nya namun tiba-tiba Tasya mual dan berlari ke kamar mandi, Darel bingung dia langsung mengejar ke kamar mandi.


Dia melihat Tasya yang muntah-muntah.


"Ada apa Tasya? Kenapa?" tanya Darel panik sambil menggosok punggung Tasya.


Sudah lebih baik Tasya menatap Darel.


"Kakak bau keringat, itu membuat ku mual."


Darel memegang baju nya dan mencium nya.


"Kakak tidak bisa mandi dan tidak bisa tenang sama sekali, selalu memikirkan kamu." ucap Darel.


Tasya diam.


"Kakak baru saja tukar pakaian, tidak mungkin langsung bau, biasanya kamu biasa saja." ucap Darel.


Tasya Langsung diam.


"Apa ini adalah efek dari kehamilan ku yah? Aku sama sekali tidak suka bau badan kak Darel yang biasa nya membuat ku nyaman." Batin Tasya.


"Sekarang kamu istirahat saja yah, jangan berfikir untuk pergi atau pun pisah karena itu tidak akan mungkin." ucap Darel.


Kamu istirahat, kamu terlihat sangat pucat." ucap Darel membantu Tasya berbaring.


"Jangan dekat-dekat sama ku kak, aku tidak bisa mencium bau badan kakak." ucap Tasya menahan badan Darel agar tidak dekat dengan nya.


"Iyah kakak akan mandi, kamu istirahat dan jangan kemana-mana." ucap Darel.


Darel mencium lagi padahal tidak bau menurut nya. Namun sebelum mandi dia keluar.


"Bagaimana dengan Tasya Nak?" tanya Bu Tima yang duduk di ruang tamu sama suami nya.


"Sedang istirahat Mah, orang tua Tasya mana Mah?" tanya Darel.


"Mereka sudah pulang duluan. Riski mengantarkan mereka, anak-anak kamu ikut dengan Riski."


"Oohhh." ucap Darel.


"Kenapa akhir-akhir ini Mamah perhatikan kamu membebaskan anak kamu di bawa oleh siapapun?"


"Kan sama Om nya sendiri Mah," ucap Darel.


"Biasanya kamu sangat posesif." ucap Bu Tima.


"Oh iya Mamah mau nanya sama kamu kenapa Tasya sampai kabur seperti itu?" tanya Bu Tima.


"Ada masalah sedikit mah, tapi kami sudah membicarakan nya kok." ucap Darel.


"Mumpung mamah sama papah di sini kami mau berbicara serius sama kamu." ucap Bu Tima.


"Ada apa mah?"


"Kamu belum ngapa-ngapain Tasya kan? Kamu belum menyentuh nya kan?"

__ADS_1


Darel terkejut dengan pertanyaan orang tua nya.


"Maksud mamah?"


"Maksud kamu adalah kalau belum kamu menyentuh Tasya lebih baik kalian berpisah saja!"


Darel membulat kan mata nya dia menatap Papah nya.


"Aku tidak mengerti. Apa maksud nya?"


"Kami tau kok kalau kamu sama Tasya tidak cocok dan mungkin Tasya belum siap untuk menikah, kamu sendiri juga tau kalau kalian menikah hanya karena mendiang Istri kamu."


"Apa hubungannya dengan itu Mah?"


"Tidak mungkin kamu menjalani hubungan dengan Tasya seperti ini terus."


"Aku akan menikahi Tasya say secara Agama dan Negara."


"Mamah sama papah tidak setuju Darel! Jangan mempermalukan keluarga kita. Apa kata orang lain kalau tau kamu menikah dengan Adik ipar sendiri."


"Bukan nya Mamah sama papah sebelum nya mendukung pernikahan kami? Mamah juga Sayang sama Tasya dan selalu memberikan aku saran." ucap Darel.


"Mamah sayang sama Tasya, namun setelah Mamah pikir mamah takut suatu saat nanti sifat nya yang belum dewasa menyusahkan kamu."


"Kenapa mamah ngomong seperti itu sih? aku sudah mencintai Tasya, dan dia juga mencintai aku mah."


"Itu hanya rasa suka saja, lebih baik kamu fokus sama anak-anak kamu dan biarkan Tasya menjalani hidup nya dengan semestinya."


Tasya yang mendengar pembicaraan mereka dari atas seketika air mata nya keluar.


"Mamah sudah ada calon untuk kamu, kasihan Tasya yang selalu sedih karena kalian tidak saling mengerti."


Darel berdiri.


"Aku tidak akan menikah dengan orang lain, aku juga tidak akan meninggalkan Tasya. Aku bisa mengurus anak-anak ku dan juga istri ku." ucap Darel.


"Darel! Tidak ada satu pun yang setuju dengan hubungan kalian, kita seseorang keluarga yang terpandang jangan menjelekkan nama karena ini."


"Aku tidak peduli! Aku akan tetap mepertahankan Tasya."


"Pihak dari Tasya juga tidak setuju pernikahan kalian."


"Aku tidak perduli Mah, Pah! Aku akan mempertahankan Istri ku, secepat nya kami akan menikah." ucap Darel.


"Jangan keras kepala Darel, kamu dengerin kata-kata kami ini yang terbaik untuk kamu dan anak-anak kamu."


"Aku rasa aku sudah dewasa dan aku bisa memilih mana yang baik untuk aku dengan anak-anak ku mah."


"Kalau kamu sudah bisa memilih yang baik untuk kamu, istri kamu tidak akan meninggal dengan cepat." ucap Mamah nya.


"Aku gak yangka sama kata-kata Mamah! aku pikir mamah ada di pihak ku." ucap Darel langsung meninggalkan ruang tamu.


Saat naik ke atas dia melihat Tasya yang berdiri di lantai atas.


"Jangan nangis." ucap Darel menghapus air mata Tasya. Darel membawa nya masuk ke dalam.


"Kamu mendengar pembicaraan kakak di bawah tadi?"

__ADS_1


Tasya mengangguk.


"Kenapa kamu keluar?"


"Aku mau makan. Tapi sekarang aku tidak lapar lagi."


Darel duduk di samping Tasya.


"Sudah jangan di pikirkan lagi, kamu istirahat saja semua nya akan baik-baik saja." Darel menenangkan Tasya.


Tasya pun berbaring.


"Sekarang kakak paham apa yang kamu katakan selama ini. Maafkan kakak yang tidak mengerti apa maksud kamu." ucap Darel.


"Aku tau kalau Orang tua kakak dari awal tidak setuju, namun karena kak Amel dan juga Raya dan Stevan mereka harus mengikhlaskan." ucap Tasya.


Darel menundukkan kepalanya.


"Jangan di pikirkan lagi, semua nya pasti baik-baik saja." ucap Darel.


Tasya melihat suaminya berjalan ke arah kamar mandi sambil membuka bajunya.


"Ya Allah bagaimana ini? Kalau mereka tau aku hamil dalam situasi seperti ini apa yang harus aku lakukan?" ucap Tasya.


Lama dia termenung sampai Darel keluar dari kamar mandi.


"Kamu mikirin apa? kenapa melamun?" tanya Darel naik ke kasur.


Tasya menggeleng kan kepala nya.


"Kakak sangat merindukan kamu." ucap Darel.


Darel mau mendekati Tasya namun Tasya seperti menghindar.


"Kenapa?" tanya Darel.


"Aku lagi tidak mau di peluk, kakak tetap di posisi kakak." ucap Tasya.


Darel kembali membenarkan tidur nya.


"Apa kamu tidak merindukan kakak?" tanya Darel. Tasya menggeleng kan kepala nya.


Darel menghela nafas panjang.


"Kakak tidak bisa tenang sewaktu kamu kabur!" ucap Darel.


Tasya hanya diam saja.


...----------------...


***Assalamualaikum kakak-kakak semuanya terimakasih sudah mau mampir ke karya ku ini ya jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author, jika ada saran tulis di kolom komentar ya jangan pernah Bosan tungguin terus kelanjutan ya.


Like, komen dan vote sebanyak-banyak nya.


biar author tambah semangat lagi.


Terimakasih 🙏***

__ADS_1


__ADS_2