Aku Menikah Dengan Suami Kakak Ku

Aku Menikah Dengan Suami Kakak Ku
Episode 227


__ADS_3

"Mereka ingin berbicara dengan kamu, tapi kakak tidak mengijinkan nya masuk. Mereka juga bilang kalau kamu sudah baikan temui mereka atau kasih kabar pada mereka." ucap Darel.


"Aku tidak mau bertemu lagi dengan mereka." ucap Tasya.


"Tidak baik seperti itu Tasya, dia juga adalah ayah kamu, kamu harus menghormati mereka." ucap Darel.


Tasya menghela nafas panjang.


"Kakak tidak tau apa yang aku rasakan sekarang, kakak tidak akan pernah paham sakit nya seperti apa. Di tambah lagi kecurigaan ku kalau aku bukan lah anak kandung Ibu ku." ucap Tasya.


"Kamu ngomong apa sayang? Jangan berbicara seperti itu, bagaimana kalau orang tua kamu dengar, mereka akan sakit hati." ucap Darel. Tasya Menghela nafas dan diam.


Tasya pun diam.


"Ya udah habis kan Makan nya setelah itu baru pergi istirahat." ucap Darel mereka pun makan bersama.


setelah selesai makan mereka langsung ke kamar. "Kak aku ijin besok ke rumah ibu setelah pulang dari kampus, kakak tidak perlu khawatir." ucap Tasya.


Darel tersenyum sambil menganut. Mereka pun tidur. Keesokan harinya Seperti biasa Tasya menyiapkan pakaian suaminya dia juga segera siap-siap. Setelah selesai siap-siap mereka langsung berangkat ke tujuan masing-masing.


Di Kampus Tasya tidak sengaja berpapasan berjalan dengan Tiwi. Namun kali ini Tasya tidak lagi perduli Tampa melirik sedikit pun. Tiwi menoleh ke arah Tasya.


Dia menghela nafas panjang. Namun tiba-tiba Pak Candra juga lewat mengejar Tasya.


"Tasya! Tasya!" panggil Candra. Tasya berhenti.


"Iyahh pak, selamat pagi." sapa Tasya.


"Kamu sudah tidak apa-apa kan? Seharusnya kalau belum enakan kamu tidak perlu datang ke kampus." ucap pak Candra.


"Bapak jangan khawatir saya sudah baikan, terimakasih Waktu itu sudah menolong saya." ucap Tasya. Candra tersenyum.


"Apa yang terjadi pada pada Tasya?" ucap Tiwi dalam hati.


"Sebenarnya kemarin kamu dari mana? Lain Kali jangan bepergian sendiri." ucap Candra.


Tasya tersenyum sambil mengangguk.


"Ya sudah kalau begitu saya masuk dulu yah pak." ucap Tasya, namun tiba-tiba Candra menahan tangan Tasya.


"Kamu yakin baik-baik saja?" tanya Candra. Tasya Tersenyum. "Terimakasih banyak bapak sudah khawatir kan saya, tapi seperti yang bapak lihat sekarang aku baik-baik saja." ucap Tasya.

__ADS_1


Candra melepaskan tangan nya.


"Baiklah kalau begitu kamu masuk, saya masih ada kerjaan di ruangan dosen." ucap Candra. Tasya mengangguk.


Tasya melihat Candra pergi. namun tidak sengaja dia melihat Tiwi yang terdiam dari tadi memerhatikan mereka. Namun setelah Tiwi sadar Tasya melihat nya dia pun langsung pergi dari sana.


"Selamat pagi semua nya." sapa Tasya. kelas nya pun langsung di mulai.


Di tempat lain Darel sedang berbicara dengan Ajeng membahas soal pekerjaan nya tiba-tiba ponsel nya berdering. Namun dia mengabaikan nya lagi-lagi berdering sehingga Ajeng Menghela nafas panjang, dia jadi tidak fokus untuk menjelaskan pekerjaan itu.


Darel pun langsung menyimpan ponsel nya ke dalam laci agar tidak mengganggu. Darel ini mempunyai jadwal yang sangat padat sehingga dia tidak sempat memeriksa ponsel nya kembali. Karena yang menelpon tadi adalah mamah nya.


"Ajeng! Setelah selesai menyiapkan berkas-berkas itu tolong bantu saya untuk membuat perjanjian kontrak dengan klien baru kita." ucap Darel.


"Saya pikir itu tidak Akan bisa saya selesaikan hari ini pak, mungkin saya bisa menyerahkan nya Besok." ucap Ajeng.


"Baiklah, intinya jangan lama-lama." ucap Darel.


Ajeng mengangguk setelah itu dia pun keluar. Tiba-tiba ponsel nya berdering lagi.


"Mamah mau ngomong apa lagi sih? gak capek apa nelpon terus!" ucap Darel dia pun menjawab telepon Mamah nya Itu.


"Kenapa menjawab telpon mamah sangat lama?" tanya buk Tima. "Aku sedang bekerja mah, lagian Mamah gak ada kegiatan lain selain menelpon ku?" tanya Darel.


"Huff kamu selalu berbicara tidak sopan pada mamah. Mamah tadi nelpon sama Raya, dia juga mau kok sekolah di sini." ucap Buk Tima.


"Aku sama Tasya harus membicarakan nya dulu Mah, jangan mengambil keputusan sendiri." ucap Darel.


"Kenapa harus minta ijin pada Tasya? Dia hanya ibu sambung mereka." ucap buk Tima.


"Tidak seperti itu maksud ku Mah, selama ini dia sudah merawat anak-anak seperti anak kandung nya sendiri, dia juga sangat sayang pada mereka, bagaimana kalau Tiba-tiba nganterin raya ke sana dia tidak tau." ucap Darel.


"Terserah kamu saja lah, pokoknya bulan depan kamu sudah harus datang membawa Stevan dan Raya." ucap buk Tima. "Iyah mah, aku tau." ucap Darel.


Panggilan pun langsung di matikan. Darel menghela nafas panjang. Dia pusing Bagaimana Cara menyampaikan pada istri nya, dia tidak tau seperti apa kecewa Tasya nanti pada nya.


Tidak terasa kelas Tasya sudah selesai. "Buk Tasya! buk.' panggil Ayu. "Iyah yu, ada apa?" tanya Tasya.


"Bagaimana keadaan Buk Adel setelah operasi? Saya dengar beliau belum ada kemajuan, apa itu benar buk?" tanya Ayu.


"Yah seperti yang kamu tau, operasi itu cukup mempunyai resiko yang tinggi, ibu hanya bisa pasrah pada yang kuasa." ucap Tasya.

__ADS_1


"Apa saya boleh menjenguk nya?" tanya Ayu.


"Percuma saja kamu jauh-jauh ke sana, karena belum ada yang bisa masuk." ucap Tasya.


"Oohhh." ucap Ayu.


"Ya sudah kalau begitu, ibu mau pulang dulu yah." ucap Tasya. Tasya pun meninggalkan Ayu.


"Pak Candra!" ucap Tasya melihat Candra berdiri di depan dua mahasiswa yang sedang di hukum berdiri di halaman.


Candra melihat Tasya dia langsung berhenti marah-marah.


"Ada apa ini?" tanya Tasya.


"Mereka melawan peraturan Dosen sehingga di hukum." ucap Candra. "Loh bagaimana bisa?" tanya Tasya.


"Sudah biarkan saja mereka di situ, di sini sangat panas ayok ke sana." ucap Candra membawa Tasya ke teras kampus itu.


"Kasihan mereka seperti Itu Pak, lagian mereka bisa saja tidak sengaja membuat kesalahan." ucap Tasya.


"Abaikan saja, kamu sendiri mau langsung pulang?" tanya Candra. Tasya mengangguk.


"Oh iya tunggu sebentar." ucap Candra. Candra ke ruangan nya mengambil Tas nya.


"Nih untuk kamu!" ucap Candra memberikan roti.


"Roti lagi?" ucap Tasya. Chandra tersenyum.


"Ini rasanya sangat enak, berbeda dari yang kemarin." ucap Candra. Tasya langsung mencoba nya.


"Humm hampir semua roti yang bapak jual sudah ku coba, semua rasanya sangat enak." ucap Tasya.


...----------------...


***Assalamualaikum kakak-kakak semuanya terimakasih sudah mau mampir ke karya ku ini ya jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author, Jika ada saran tulis di kolom komentar ya jangan pernah Bosan tungguin terus kelanjutan ya.


Like, komen dan vote sebanyak-banyak nya.


biar author tambah semangat lagi.


Terimakasih 🙏***

__ADS_1


__ADS_2