Aku Menikah Dengan Suami Kakak Ku

Aku Menikah Dengan Suami Kakak Ku
Episode 138


__ADS_3

"Mah! Mah jaga perasaan aku dengan Tasya dong, aku tau calon anak aku tidak Mamah ingin kan namun jangan berbicara seperti itu." ucap Darel.


Bu Tima menghela nafas panjang dia berdiri.


"Calon kamu akan datang besok." ucap Bu Tima dan pergi.


"Bagaimana ini kak, Ibu pasti sangat marah besar." ucap Tasya.


"Kamu jangan khawatir, kakak akan bicara sama Mamah." ucap Darel mengelus kepala Tasya dan pergi menyusul Mamah nya.


Tasya di balkon memasang wajah khawatir namun tangan nya tetap memasukkan buah ke mulut nya.


Darel menyusul Mamah nya ke kamar.


"Mah jangan berbicara seperti itu mah, aku tidak ingin menikah dengan orang lain aku tetap ingin bertahan dengan Tasya!" ucap Darel.


"Jangan keras kepala yah Darel, Mamah gak suka! Mamah sudah melihat kamu tidak akan bahagia melanjutkan hubungan kalian ini!" ucap Bu Tima.


Darel menatap Ibu nya.


"Mamah hanya ingin yang terbaik untuk kamu, Tasya dan juga anak-anak kamu."


"Justru Mamah mengambil semua kebaikan yang ada pada ku kalau Mamah memutuskan untuk memutuskan hubungan kami."


"Kami gak kasian sama Tasya? Apa kamu tidak berfikir kalau dia masih muda dan kebebasan,"


"Aku tidak melarang dia untuk menikmati masa muda nya mah, dia juga sudah bahagia sama aku."


"Asal kamu tau Ibu sama Ayah nya saja tidak merestui hubungan kalian karena itu membuat malu seperti tidak ada wanita lain saja." ucap Bu Tima.


"Aku tidak perduli dengan apa kata orang lain."


"Mamah sudah pusing, lebih baik kamu keluar dari kamar Mamah."


Darel menghela nafas dia akhirnya diam dan keluar.


"Bagaimana kak?" tanya Tasya.


"Sudah lah jangan di pikirkan lagi," ucap Darel pada istri nya.


Tasya berdiri dari duduknya.


Dia menatap wajah suaminya dengan mata yang berkaca-kaca. Dia memeluk Darel.


"Aku tidak ingin berpisah sama kakak, aku mencintai kakak, maafkan aku yang terlalu egois sehingga orang tua kita tidak percaya dengan keputusan kita ini semua salah ku."


"Sssttt jangan ngomong seperti itu! Kamu tidak salah. Kita pasti bisa mendapatkan restu mereka dengan bukti cinta kita."


Tasya semakin erat memeluk Darel.


"Aku mencintai kakak."


Darel tersenyum dia mengelus kepala Tasya.


"Kakak lebih mencintai kamu, kita akan terus bersama walaupun cobaan nya sangat banyak."


"Kakak janji gak ninggalin aku kan?"

__ADS_1


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? jangan pernah mendengar kan kata-kata yang menyakiti hati dan membuat kepala kamu pusing." ucap Darel.


Tasya mengangguk.


"Kamu juga akan selalu di samping kakak kan?"


"Aku akan selalu di samping kakak, aku akan terus bersama kakak dan tidak ada yang bisa memisahkan kita." ucap Tasya.


Darel melepaskan pelukannya, dia mengelus perut Tasya.


"Bagaimana mual nya masih parah? Sudah mau makan belum?"


"Humm masih mual kak, aku bahkan sulit untuk makan."


"Sekarang kamu mau apa? Biar kakak beliin."


"Humm aku mau rendang dengan sambel hijau yang banyak."


"Ya udah kakak beliin yah, kamu tunggu sebentar ini tidak akan lama."


"Kakak tidak perlu pergi, kakak bisa memesan lewat go-food." ucap Tasya memegang baju Darel seperti menahan nya agar tidak pergi.


Darel tersenyum melihat tingkah Tasya yang aneh tidak biasa nya seperti itu.


"Ya udah Iyah." Ucap Darel sambil mengambil handphone nya.


"Nih udah, tunggu sebentar yah."


Tasya mengangguk.


"Kakak mau kemana lagi?" tanya Tasya menahan tangan Darel.


Tasya terdiam dia melepaskan tangan nya.


"Ya udah, jangan lama-lama." Darel tersenyum dia mengelus kepala Tasya.


Setelah itu dia ke kamar. Dia naik ke kasur membuka handphone nya namun Bela teman nya tiba-tiba menelpon nya.


"Halo Bel, tumben banget kamu nelpon aku?"


"Aku rindu saja, oh iya btw besok aku sudah sampai di Pekanbaru," ucap Bela.


"Bagus dong, kabari saja kalau sudah sampai aku sama Riski akan jemput kamu." ucap Tasya.


"Oke!" ucap Bela.


"Abis nelpon siapa?" tanya Darel duduk di pinggir kasur.


"Bela Kak, dia teman aku kuliah yang ada di Bandung dia mau ke sini dan besok aku sama Riski mau jemput dia."


"Apa dia mau tidur di sini?"


Tasya mengangguk.


"Kamu yakin dalam situasi seperti ini teman kamu mau nginap di sini? Apa dia sudah tau hubungan kita?"


Tasya terdiam dia sama sekali tidak kefikiran karena sangat senang sudah lama tidak bertemu teman nya.

__ADS_1


"Humm sebenarnya aku ingin mengenal kan Kakak sama dia, tapi seperti nya tidak mungkin bisa di sini." ucap Tasya.


"Kamu bisa saja membawa dia ke sini, tapi kakak takut dia tidak nyaman." ucap Darel.


"Ya udah biar saja dia mencari penginapan di dekat sini kak." ucap Tasya.


Darel mengangguk tersenyum.


Tidak beberapa lama makanan yang mereka pesan pun datang.


"Loh tumben sekali Non Tasya membeli lauk dari luar," ucap Bibi.


"Tasya lagi ngidam Bik." ucap Darel pada Bibik.


"Apa! Non Tasya ngidam? Non Tasya hamil?" tanya Bibik terkejut.


Tasya mengangguk, Darel tersenyum.


"Alhamdulillah Ya Allah, semoga Nok Tasya dan calon Dedek bayi nya sehat selalu, Bibi ikut senang." ucap Bibik.


"Amin.."


"Oke mulai dari sekarang Non Tasya bilang aja mau apa, Bibi pasti akan memasaknya." ucap Bibi.


Tasya tersenyum.


"Terimakasih yah Bik." ucap Tasya.


Tasya makan di suapin oleh Darel.


Namun tiba-tiba Bu Tima datang, Tasya langsung makan sendiri.


"Kenapa kamu nyuapin dia?" tanya Bu Tima pada Darel.


"Tasya lagi ngidam Mah."


"Mamah dulu ngidam tapi tidak manja seperti itu."


Tasya dan Darel langsung diam.


Namun Tasya tiba-tiba mual lagi. Dia berlari ke kamar mandi.


"Sebaiknya kamu memeriksa kehamilan Tasya, mamah takut dia pura-pura dan yang dia kandung bukan anak kamu."


Darel mengucap dia hanya menghela nafas panjang. sekarang terlihat sekali kalau Ibu nya tidak setuju dengan hubungan mereka.


"Darel menyusul Tasya ke kamar dia memberikan obat mual dan mengoleskan minyak kayu putih ke badan Tasya.


"Huff aku tidak bisa makan seperti biasa lagi kak, aku bahkan tidak berselera lagi." ucap Tasya.


"Sudah jangan di paksa nanti kalau lapar makan lagi, sekarang kamu istirahat saja." ucap Darel membantu Tasya keluar.


"Kamu jangan terlalu memanjakan tubuh kamu, nanti kebiasaan." ucap Bu Tima pada Tasya, Tasya hanya diam merasa sangat segan.


...----------------...


***Assalamualaikum kakak-kakak semuanya terimakasih sudah mau mampir ke karya ku ini ya jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author, jika ada saran tulis di kolom komentar ya jangan pernah Bosan tungguin terus kelanjutan ya.

__ADS_1


Like, komen dan vote sebanyak-banyak nya biar author tambah semangat lagi. Terimakasih 🙏***


__ADS_2