
"Ibu mau mandi? Aku akan membantu nya." ucap Tasya.
buk Adel langsung menggeleng kan kepala nya.
"Ibu mandi dengan Bibik saja." ucap buk Adel.
"Kenapa harus dengan Bibik Buk? Bibik sangat sibuk dengan pekerjaan nya yang lain, justru dengan anak sendiri jauh lebih bersih dan nyaman." ucap Tasya.
Bu Adel menatap Tasya.
"Ibu bilang mau Sama Bibik, jangan memaksa Ibu melakukan apa yang tidak ingin ibu lakukan." ucap buk Adel.
Tasya terdiam. "Ya udah kalau begitu aku akan keluar, aku minta maaf sudah membentak Ibu." ucap Tasya langsung keluar dengan wajah putus asa.
Tasya keluar Bibik sudah menunggu di depan pintu.
"Bagaimana Non?" tanya Bibik. Tasya menghela nafas panjang. "Dia mau mandi sama Bibik." ucap Tasya.
"Yang sabar yah Non." ucap Bibik. Tasya mengangguk.
"Ya udah Bibik bantu ibu dulu, yang lain nanti saja di kerjain." ucap Tasya. Bibik langsung ke kamar.
"Mamah sini deh." panggil Raya. Tasya menyimpan piring ke dapur dan menyusul Raya.
"Apa nak?" tanya Tasya.
"Aku mau sekolah Mah, teman-teman sebaya ku sudah banyak yang sekolah aku bosan di rumah saja." ucap Raya.
"Nanti Mamah bilang sama Papah yah." ucap Tasya.
Raya mengangguk.
"Gambar apa nak?" tanya Tasya.
"Lagi gambar dokter Mah." "Kamu suka sama dokter?" tanya Tasya. "Bukan suka lagi Mah tapi aku ingin menjadi dokter." ucap Rata.
Tasya tersenyum.
"Aku mau merawat orang-orang yang sakit, mau menyembuhkan mereka." ucap raya.
"Mamah dukung cita-cita nya nak." ucap Tasya mengelus kepala Raya.
__ADS_1
"Ya udah lanjut aja melukis nya." Ucap Tasya. Dia melihat ke arah Stevan yang bermain sendirian.
"Nanti kalau Raya sudah sekolah dia pasti sendirian." gumam Tasya sambil berjalan mendekati Stevan.
"Mamah." ucap Stevan. dia melihat Tasya langsung mengajak nya bermain. Tasya menemani Stevan bermain sampai Bibik keluar dari kamar Ibu nya.
Setelah Bibik keluar memberi tahu kalau Ibu sudah mandi, Tasya merasa lega. Perut nya terasa sakit dia istirahat ke kamar sebentar.
"Humm bagaimana yah kabar Bela, apa sekarang dia sudah baikan dengan Kak Alex." batin Tasya mencoba untuk menelpon namun tak di jawab oleh Bela.
Di Bandung Bela duduk di balkon Apartemen nya sendirian, dia tidak tinggal di apartemen Alex lagi setelah melihat Alex bersama wanita lain bahkan mengajak nya ke apartemen Alex.
Dia melihat Tasya menelpon dia hanya mengabaikan nya saja, dia berharap Alex akan mencari nya ternyata sudah dua hari dia tak kunjung di cari oleh Alex.
Bela memakan buah apel yang ada di tangan nya sambil menikmati pemandangan yang cukup membuat Bela tenang.
"Huff seperti nya aku yang terlalu berharap pada kak Alex, sementara dia sama sekali tidak menghargai aku dan menganggap aku ada." ucap Bela.
Karena mengantuk dia masuk dan tidur siang agar fikiran nya lebih tenang.
Sementara di tempat lain Alex mau minum tiba-tiba Gelas nya pecah. Sudah dua hari semenjak Bela pergi dia demam karena sebelumnya dia terkena hujan cukup lama karena di perjalanan pulang ban mobil nya bocor.
Dia melihat di ruang tamu, dapur dan ruang tengah tidak ada siapapun, dia langsung masuk ke kamar Alex.
"Apa-apaan ini?" ucap Bela melihat kamar yang sangat berantakan, bau dan Gelas pecah.
"Kak Alex! Kak Alex bangun! Jangan jadi pemalas bagaimana bisa kakak nyaman di tempat seperti ini, kotor dan sangat bau, dan kakak masih memakai baju kerja." ucap Bela.
Namun Alex sama sekali tidak merespon nya.
"Bangun kak, kakak harus jelasin seperti apa hubungan kita sekarang, sudah dua hari kakak tidak ada mencari ku." ucap Bela memegang lengan Alex. Dia sangat kaget karena terasa panas.
Bela panik dia langsung memeriksa suhu badan Alex, dia langsung mengambil kain untuk mengompres tubuh Alex, dia juga membersihkan kamar itu.
Bela juga menyuapi Alex makan setelah dia bangun.
"Kamu dari mana saja? Kenapa kamu tidak mengabari aku mau pergi?" tanya Alex. Bela terdiam.
"Aku ada pekerjaan mendadak, aku lupa mengabari kamu." ucap Bela. Alex memeluk Bela.
"Jangan pergi-pergi lagi, tidak ada yang mengurus aku di sini."
__ADS_1
"Kenapa kamu.bisa sakit seperti ini?" tanya Bela.
"Aku kena hujan malam itu, pulang aku tidak menukar pakaian sampai sekarang." ucap Alex.
"Ya udah kalau begitu ayo tukar baju, biar aku bantu." Ucap Bela.
Alex mengangguk.
"Tapi aku sangat takut di tinggal kan oleh kamu, jangan seperti ini lagi." ucap Alex.
"Sebenarnya aku ini apa sih untuk kamu? Status kita tidak jelas tapi kita sudah melakukan yang sudah berlebihan, aku tidak bisa di gantung terus seperti ini kak," ucap Bela.
"Apa maksud kamu? Apa aku kurang memberikan kejelasan apa sama kamu?" tanya Alex.
"Kamu sudah tau aku menyukai kamu, aku mencintai kamu aku memberikan semua nya untuk kamu, tapi kamu sama sekali tidak memberikan kepastian pada ku. Kamu tidak menghargai perasaan ku kamu malah sibuk berduaan dengan wanita lain di luar sana!" ucap Bela.
Alex berusaha untuk duduk.
"Kamu Ngomong apa? Berduaan dengan wanita? Aku hanya memiliki kamu." ucap Alex. Bela langsung menunjuk kan foto Alex bersama wanita.
"Ini Asisten pribadi aku, kamu tau sendiri aku sedang membangun bisnis menjalan kan bisnis sambil bekerja itu tidak lah mudah, ini juga demi masa depan aku, aku mengumpulkan uang yang banyak agar bisa menikahi kamu seperti permintaan keluarga kamu." ucap Alex.
"Aku tidak mudah di bohongi, kamu keluar masuk hotel bersama dia, bahkan aku tidak pulang ke rumah kamu bersama dia." ucap Bela. Alex menghela nafas panjang.
"Kamu itu salah paham, aku hanya mencintai kamu, aku dengan dia hanya sebatas pekerjaan saja, kamu. Bisa tanya kan pada Asisten ku." ucap Alex.
Bela terlihat sangat tidak percaya, dia turun dari kasur mencari kan baju untuk Alex.
"Ganti sendiri! Aku mau menukar sprei." ucap Bela dengan nada yang sangat judes.
Alex hanya bisa diam mengikuti perintah Bela.
...----------------...
***Assalamualaikum kakak-kakak semuanya terimakasih sudah mau mampir ke karya ku ini ya jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author jangan pernah Bosan tungguin terus kelanjutan ya.
Like komen dan vote sebanyak-banyak nya.
biar author tambah semangat lagi.
Terimakasih 🙏***
__ADS_1