
"Adek lagi di pangkuan mamah." ucap Raya sambil mengarahkan di kamar ternyata Stevan menyandar ke Tasya sehingga terlihat menekan Perut nya.
"Stevan turun dari pangkuan mamah yah, nanti perut mamah nya keimpit." ucap Darel.
"Gak apa-apa kak, biarin aja lah kak, jangan lebay deh perut aku belum ada isi apa-apa." ucap Tasya.
"Justru di usia yang sangat muda janin kamu harus di jaga." ucap Darel. Tasya menduduk kan Stevan di kasur.
"Perut aku sudah tidak keimpit lagi, kakak puas!" ucap Tasya. Darel hanya tersenyum.
"Tasya! Tasya!" panggil Bu Tima dari balik pintu kamar. Tasya segera membuka nya.
"Iyah Bu," jawab Tasya.
"Ibu sudah kupasin buah untuk kamu sama anak-anak makan dulu nih ucap Bu Tima pada Tasya.
Tasya melihat buah yang segar-segar di piring buah yang sudah bersih Membuat nya ngiler.
"Ibu jangan repot-repot seperti ini," ucap Tasya.
"Hummm ibu bisa ngobrol sama kamu?" tanya Bu Tima. Tasya melihat ke dalam.
"Tapi anak-anak lagi ingin main bu."alasan Tasya karena dia masih gugup berbicara dengan Mertua nya.
"Sudah biar Suster saja yang mengurus mereka." Akhirnya Tasya Tidak bisa mengelak mereka berdua duduk di balkon.
Bu Tima memerhatikan Tasya yang sangat suka dengan buah itu dan hampir sudah habis.
"Buah nya sudah mau habis, kenapa ibu tidak ikut makan?" tanya Tasya.
"Ibu sudah Makan kok di dapur tadi." Tasya tersenyum tipis.
"Sebenernya Ibu mau membicarakan soal kamu dengan Darel."
Tasya terdiam sejenak dia menatap wajah mertua nya.
__ADS_1
"Ibu melihat tidak ada kecocokan di antara kalian berdua, itu sebabnya ibu ingin kamu sama Darel berpisah sebelum terjadi hal yang tidak di inginkan." ucap Bu Tima.
"Aku sudah bilang aku tidak mau Mah, Tasya sedang hamil! Dia mengandung anak aku dan itu juga cucu Mamah." Ucap Darel yang baru saja datang dan tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka.
Bu Tima terkejut dengan kata-kata Darel.
"Jangan membuat berita bohong nak, Mamah tau kamu Sama Tasya belum pernah melakukan itu karena kalian belum cocok." ucap Bu Tima.
"Sekarang bukti nya Tasya hamil." ucap Darel.
Bu Tima melihat ke arah perut Tasya. Sebenernya dia sudah curiga dari wajah Tasya yang sedikit pucat namun dia berusaha untuk berfikir positif.
"Tidak mungkin! Mamah yakin ini adalah tahtik kalian agar tidak berpisah kan?"
"Kalian berdua harus jujur sama perasaan masing-masing! Bukan kah dengan berpisah kalian bisa hidup dengan aman dan juga tidak ada salah paham, Tasya juga bebas mau dekat dengan pria mana." ucap Bu Tima.
"Mamah tidak dengar kalau Tasya sedang mengandung anak aku mah. Aku tidak bisa menceraikan nya dan dalam jangka waktu dekat aku akan mengadakan pernikahan sah secara negara dan agama." ucap Darel.
"Mamah tidak setuju! Tidak ada satu pun keluarga kita yang setuju dengan pernikahan kalian. Kami juga sudah mempunyai calon untuk kamu." ucap Bu Tima.
"Tidak bisa seperti itu Mah, aku tidak akan menikah dengan Siapa pun kecuali dengan Tasya, aku mencintai dia aku akan menikah dengan nya." ucap Darel.
"Maafkan aku Mah tapi ini sudah pilihan ku, aku tidak perduli dengan apa kata orang lain karena aku tidak kenal siapa mereka, aku tidak bergantung pada mereka." ucap Darel memegang tangan Tasya.
"Dan aku tidak habis pikir dengan sifat Mamah. Aku pikir Mamah mendukung hubungan kami, namun ternyata tidak." ucap Darel.
Bu Tima Menghela nafas panjang.
"Mamah minta maaf, namun semua keluarga kita marah karena kamu menikah dengan Tasya,"
"Aku sudah mencintai Tasya, kami saling mencintai dan di perut Tasya ada anak aku Cucu mamah adik Raya dan Stevan, ini tidak bisa di biarkan begitu saja dan aku akan segera menikah tidak perduli Mamah dan Papah tidak memberikan restu atau tidak." ucap Darel.
Bu Tima menggeleng kan kepala nya seperti tidak percaya dengan kata-kata Darel yang melawan pada nya.
"Kamu bukan Darel anak Mamah, kamu tidak mau mendengar kan kata-kata Mamah lagi, apa keputusan Mamah menikah kah kamu dengan Tasya sudah salah?"
__ADS_1
"Jangan pernah salah kan siapa pun Mah, dan jangan bawa-bawa Tasya di semua kekecewaan mamah Sama ku. Karena aku benar-benar tidak habis pikir dengan cara berfikir Mamah mau memisahkan kami." ucap Darel.
"Ini demi kebaikan kita semua,"
"Kebaikan untuk kalian saja karena ingin menikah kah aku dengan wanita yang berasal dengan keluarga terpandang, sementara Mamah tidak memikirkan bagaimana perasaan aku dan anak-anak ku kalau harus berpisah kedua kalinya dengan orang yang kamu sayangi." ucap Darel.
Bu Tima menatap Tasya.
"Tasya! Kamu mau kan berpisah dengan Darel? Percaya sama Ibu kamu akan menemukan kebahagiaan di luar sana, tidak ada lagi yang mengekang kamu serta melarang kamu, kamu bebas melanjutkan karier kamu dan mendapatkan pria yang kamu cintai." ucap Bu Tima.
"Mamah ngomong apa Sih? Jangan aneh-aneh deh mah." ucap Darel.
"Tasya kamu mau kan nak? Darel juga akan menikah dengan wanita yang bisa mengerti dan mengurus dia, kamu tidak akan kesulitan lagi."
"Maaf Bu tapi aku mencintai kak Darel, aku tidak bisa memenuhi permintaan ibu dan aku sedang mengandung."
"Kamu bisa membawa janin kamu pergi dan setelah dia lahir kami akan mengambil nya masalah biaya biar Ibu yang menanggung." ucap Bu Tima.
"Mah! Mah jaga perasaan aku dengan Tasya dong, aku tau calon anak aku tidak Mamah ingin kan namun jangan berbicara seperti itu." ucap Darel.
Bu Tima menghela nafas panjang dia berdiri.
"Calon kamu akan datang besok." ucap Bu Tima dan pergi.
"Bagaimana ini kak, Ibu pasti sangat marah besar." ucap Tasya.
"Kamu jangan khawatir, kakak akan bicara sama Mamah." ucap Darel mengelus kepala Tasya dan pergi menyusul Mamah nya.
Tasya di balkon memasang wajah khawatir namun tangan nya tetap memasukkan buah ke mulut nya.
...----------------...
***Assalamualaikum kakak-kakak semuanya terimakasih sudah mau mampir ke karya ku ini ya jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author, Jika ada saran tulis di kolom komentar ya jangan pernah Bosan tungguin terus kelanjutan ya.
Like, komen dan vote sebanyak-banyak nya biar.
__ADS_1
Author tambah semangat lagi.
Terimakasih 🙏***