
Tasya menatap ibunya.
"Kata nya ibu mau ketemu dengan mbak Amel, kalau seperti ini ibu tidak akan bisa menemuinya, ibu tidak mau makan membuat badan ibu semakin sakit." ucap Tasya.
Air mata buk Adel menetes membasahi pipi nya.
"Mbak Amel juga pasti sangat sedih melihat Ibu seperti ini, dan juga ibu Sudah lama tidak berkunjung ke makam nya, apa ibu tidak ingin ke sana?" tanya Tasya lagi.
"Ibu mau ke sana, bawa ibu kesana." ucap buk Adel.
"Kalau ibu mau kesana, ibu harus makan dan minum obat." ucap Tasya.
Buk Adel menangis sambil memanggil nama Amel. Darel di panggil oleh dokter.
"Dok kenapa mertua saya baru depresi sekarang setelah kematian anak nya beberapa Bulan yang lalu, mungkin sudah hampir Delapan bulan." ucap Darel.
"Sejujurnya saya tidak tau, tapi seperti nya Buk Adel memendam semua nya sendirian, dia tidak berani bercerita pada siapapun atau mungkin tidak ada orang yang bisa di percaya. Dan sekarang dia mengalami masalah yang cukup menyakiti perasaan nya sehingga dia butuh anak nya yang selalu ada pada nya, dia mungkin ingin bercerita pada nya." ucap dokter.
Darel diam sambil berfikir.
"Kalau boleh saya menyarankan bawa pasien menemui makan anak nya." ucap dokter.
"Ibu mertua masih kritis Dok, bagaimana kami bisa membawa nya ke sana." ucap dokter.
"Saya akan memberikan ijin, dan juga saya yang akan mendampingi pasien keluar." ucap dokter, Darel seketika langsung setuju. dia juga berfikir itu adalah jalan satu-satunya.
Darel langsung membicarakan niat nya pada Tasya dan Riski. Namun Tasya tidak setuju, dia takut kalau terjadi apa-apa pada ibu nya. Namun setelah Darel bilang dokter ikut, dia akhirnya mau.
"Buk kita Akan ke makam mbak Amel, ibu bisa kan? Ayo semangat buk." ucap Riski.
"Kamu serius nak?" tanya buk Adel langsung berbicara dan wajah nya terlihat mulai semangat.
Riski mengangguk. Buk Adel menoleh ke arah Tasya dan Darel.
"Kapan kita pergi Nak? Ibu tidak sabar." ucap buk Adel.
"Tunggu badan ibu lebih fit dulu yah, setelah dokter mengatakan bisa, kita baru bisa berangkat." ucap Riski.
"Ibu kuat kok, kalau kamu tidak percaya ibu akan bangun." ucap buk Adel berusaha untuk bangun namun badan nya sudah terasa sangat berat sehingga kepala nya pusing..
__ADS_1
"Jangan di paksain buk, ibu yang sabar yah." ucap Tasya.
"Ibu kuat, ibu pasti bisa." ucap buk Adel terus mencoba untuk bangun.
"Sudah buk, jangan di paksa lagi dokter Akan memberikan obat agar ibu cepat lebih baik." ucap Tasya.
"Obat? Tidak mau! Ibu Sudah muak dengan obat, ibu tidak mau lagi." ucap buk Adel.
Tasya menghela nafas panjang.
"Kalau ibu tidak mau, kita tidak akan jadi ke makam Mbak Amel, ibu harus sembuh terlebih dahulu baru bisa ke sana," ucap Tasya.
Buk Adel langsung terdiam.
"Ibu tidak butuh kamu! Ibu akan pergi dengan Riski." ucap buk Adel. Tasya diam.
"Kamu mau kan ngaterin ibu nak? Kamu mau kan?" tanya Buk Adel. Riski menoleh ke arah Tasya.
"Maaf buk, aku tidak bisa karena ini adalah hal yang beresiko tinggi." ucap Riski.
"Ibu minum obat dulu, besok pagi kita akan ke sana, aku janji." ucap Tasya. Buk Adel menoleh ke arah botol obat yang tidak ada di minum olehnya.
"Percayalah buk, aku melakukan ini untuk kebaikan ibu." ucap Tasya dia memberikan obat untuk di minum oleh Buk Adel.
Tidak beberapa lama buk Adel tidur.
"Riski! kamu pulang aja yah sama kak Darel, mbak yang jagain ibu di sini." ucap Tasya.
"Tapi mbak." ucap Riski.
"Pulang saja, dengar kata-kata mbak. Kalau kamu yang jagain ibu dia tidak Akan mau makan ataupun minum obat." ucap Tasya. Akhirnya Riski mau dia pun ikut pulang dengan kakak ipar nya.
"Kami pulang dulu yah, kamu kabarin kakak kalau terjadi apa-apa." ucap Darel mencium kening Tasya dan setelah itu pergi.
Sudah Siang mata Tasya mengantuk dia pun membaringkan tubuhnya di sofa ruangan itu.
"jahat.. Kalian sangat jahat, kalian sangat tega melakukan ini pada ku." ucap buk Adel, dia mengigau sehingga membangun kan Tasya.
"Buk! bangun buk."
__ADS_1
"Usir wanita itu! Dia telah menghancurkan rumah tangga ku, aku tidak mau melihat nya." ucap buk Adel.
"Siapa buk? Siapa?" tanya Tasya.
"Dia menghancurkan semua harapan ku, dia yang membuat ku seperti ini." ucap Adel namun tidak Membuka mata nya.
Tasya Terus membangun kan nya sampai akhir nya buk Adel bangun dengan nafas yang terengah-engah.
"Ibu kenapa buk? Ibu mimpi buruk yah?" tanya Tasya, buk Adel terdiam dia seperti orang gugup. Cukup lama dia termenung tidak menjawab Tasya.
Tasya memberikan air minum pada buk Adel.
"Nih minum dulu buk, ibu jangan takut ada aku di sini Kok." ucap Tasya.
Buk Adel bersandar di tempat tidur nya dia menatap Tasya. Dia melihat ke arah Perut Tasya. Perlahan dia mengangkat tangan nya meletakkan ke perut Tasya.
"Perut kamu sudah besar." ucap buk Adel.
"Iyah Buk, tidak terasa dia sudah mau kelihatan, tapi mual dan sakit-sakit di badan ku tidak berkurang." ucap Tasya.
Tiba-tiba buk Adel mengingat di saat dia masih hamil muda, dia bekerja sendiri an mengurus rumah dan berbisnis kecil-kecilan namun ternyata suami nya selingkuh.
Buk Adel langsung melepaskan tangan nya dari perut Tasya. Namun Tasya langsung menahan tangan ibu nya.
"Ini adalah calon cucu Ibu, rasa nya sangat nyaman ketika ibu menyentuh nya." ucap Tasya. Buk Adel diam dia terus menatap perut Tasya.
"Ibu mohon Jangan Banding- bandingkan dia dengan Raya dan Stevan nanti." ucap buk Adel, Tasya tersenyum.
"Ibu jangan khawatir, aku akan tetap memperlakukan mereka dengan sama, aku tidak akan pernah berubah aku akan terus menyanyangi mereka." ucap Tasya.
"Kamu akan berbicara seperti itu sekarang, namun kita tidak tau apa yang terjadi di kemudian hari." ucap buk Adel, seketika Tasya langsung terdiam.
Buk Adel mengingat waktu itu dia berjanji pada suami nya untuk menjaga Tasya seperti anaknya sendiri, namun nyatanya tidak.
...----------------...
***Assalamualaikum kakak-kakak semuanya terimakasih sudah mau mampir ke karya ku ini ya jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author, jika ada saran tulis di kolom komentar ya jangan pernah lupa bosan tungguin terus kelanjutan ya.
Like, komen dan vote sebanyak-banyak nya.
__ADS_1
biar author tambah semangat lagi.. Terimakasih 🙏***