Aku Menikah Dengan Suami Kakak Ku

Aku Menikah Dengan Suami Kakak Ku
Episode 205


__ADS_3

Buk Adel memegang tangan Riski. "Ibu.." Tok.. tok..tok..


Suara ketukan pintu rumah sakit itu membuat buk Adel tidak jadi cerita.


"Tunggu sebentar yah buk, seperti nya itu adalah Suster." ucap Riski. Namun setelah di buka ternyata itu adalah Ayu.


"Hay.." sapa Ayu. "Kamu ke sini?" tanya Riski kaget. Ayu mengangguk. "Kenapa kamu tidak mengabari aku? aku bisa menjemput ke bawah." ucap Riski.


"Gak apa-apa kok, Lagian buk Tasya sudah memberi tahu nomor berapa dan lantai berapa ruangan Ibu kamu." ucap Ayu.


Riski Tersenyum. "Setidaknya kamu mengabari dulu mau ke sini, aku malu bertemu kamu seperti ini." Riski. Ayu tersenyum.


"Sudah lah tidak perlu berdandan yang aneh-aneh, aku suka kamu apa adanya seperti ini." ucap Ayu. Riski tersenyum.


"Riski siapa yang datang? Ayo suruh masuk jangan berbicara di balik pintu seperti itu." ucap buk Adel dari dalam.


Riski membawa masuk ke dalam.


"Kenalin Buk ini Ayu, teman aku dia adalah anak didik mbak Tasya." ucap Riski. Ayu menyalim tangan buk Adel.


"Senang bisa bertemu dengan ibu." ucap Ayu.


"Wahh ibu baru tau kalau Riski mempunyai kenalan perempuan di sini yang sangat cantik." ucap buk Adel.


Ayu tersenyum.


"Oh iya buk nih aku bawain buah untuk ibu, semoga cepat sembuh yah." ucap Ayu. "Terimakasih nak." ucap buk Adel.


Cukup Lama mereka berbincang-bincang, Ayu terlihat sangat akrab dengan buk Adel walaupun baru ketemu, Ayu menemani buk Adel sampai tidur.


Tidak beberapa lama Riski kembali ke ruangan itu namun buk Adel sudah tidur.


"Kamu dari mana?" tanya Ayu. "Sorry tadi aku menemui Suster sebentar tadi. Maaf sudah membuat kamu lama menunggu yah." ucap Riski.


Ayu menggeleng kan kepala nya..


"Gak apa-apa kok, aku hanya segan saja tinggal dengan Ibu kamu." ucap Ayu. Riski menoleh ke arah ibu nya.


"Seperti nya Ibu kelelahan, dia tidak ada istirahat dari pagi tadi." ucap Riski sambil membenarkan selimut ibu nya.

__ADS_1


"Ibu kamu sakit apa?" tanya Ayu.


"Aku juga kurang paham, yang pasti nya penyakit ibu karena beban fikiran, dia depresi karena mengingat almarhum mbak ku." ucap Riski.


"Aku tidak tega melihat Ibu kamu seperti ini, aku yakin dia sedang memikirkan sesuatu yang membuat nya takut, membuat nya bimbang dan trauma." ucap Ayu.


"Aku juga berfikir seperti itu, tapi aku belum bisa menemukan jalan keluar nya, aku tidak tau apa yang membuat ibu seperti ini." ucap Riski.


"Yang sabar yah, aku yakin kamu sama Buk Tasya bisa menghadapi ini." ucap Ayu. Riski Tersenyum sambil mengangguk.


"Kita makan siang di Cafe dekat sini yok, kebetulan aku belum makan, kita bisa berbincang-bincang Tampa mengganggu ibu." ucap Riski.


"Yakin gak apa-apa ibu kamu di tinggal?" tanya Ayu.


"Dia sudah tidur, suster akan datang memeriksa nya nanti." ucap Riski. Mereka pun keluar dari ruangan itu.


"Oh iya Bdw kamu kapan balik lagi melanjutkan kuliah kamu? Aku takut nanti banyak pelajaran yang tertinggal." ucap Ayu.


"Jangan khawatir, aku kuliah online kok, setidaknya aku tidak ketinggalan pelajaran dan masih bisa mengerjakan tugas." ucap Riski.


"Bagus deh kalau begitu." ucap Ayu.


"Ada kok tapi hanya sebentar saja, sebenarnya aku ingin bersama Bu Tasya, namun suami nya meminta nya menjemput nya ke kantor mau makan siang sama-sama." ucap Ayu.


"Oohh." ucap Riski.


"Kamu tunggu sebentar yah, aku pesanin makanan dulu." ucap Riski. Mereka pun makan bersama.


"Humm kalau di lihat-lihat kamu gak mirip yah sama buk Tasya, kamu lebih mirip sama Almarhum mbak kamu." ucap Ayu.


"Kebanyakan orang bilang seperti itu sih, tapi Mbak Tasya sangat mirip dengan Mbak Amel." ucap Riski.


"Hanya di bagian mata saja seperti nya, Kalau yang lain nya tidak sama sekali." ucap Ayu.


Riski terdiam. "Apa menurut kamu Ayah ku dengan Mbak Tasya Mirip?" tanya Riski, Ayu mengangguk.


"Bagaimana dengan mbak Tasya dengan Ibu?" tanya Riski.


"Tidak mirip sama sekali, kamu yang sangat mirip dengan ibu kamu." ucap Ayu, Riski tersenyum.

__ADS_1


"Udah ah makan saja, kamu sangat hobi banget mirip-miripim saudara-saudara orang lain." ucap Riski karena sudah kebiasaan Ayu memerhatikan wajah orang.


"Huff Sayang nya aku anak tunggal, seandainya aku punya Kakak atau adik, orang-orang akan berkata kalian sangat mirip sekali." ucap Ayu. Riski tersenyum.


Riski nyaman bersama Ayu karena sifat Ayu yang tidak canggung pada nya, mereka sudah seperti teman. Ayu juga tau kalau Riski mempunyai pacar satu kampus dengan nya.


Di depan perusahaan Darel, Tasya sedang menunggu Darel di dalam mobil. Tidak beberapa lama akhirnya Darel datang.


"Lama banget sih kak, aku sudah lapar." ucap Tasya kesal saat Darel baru saja masuk ke dalam mobil.


"kamu kenapa nungguin nya di dalam mobil? kakak sudah meminta kamu untuk masuk ke dalam." ucap Darel.


"Aku males masuk ke dalam karena pasti banyak yang julid dan gak suka sama aku." ucap Tasya. Darel mengelus perut Tasya.


"Ya udah ayo kita cari tempat makan yang enak, kali ini kamu yang pilihin deh." ucap Darel, Tasya mengangguk dia pun tersenyum.


"Bagaimana Riski sudah memberikan kabar soal ibu?" tanya Darel. "Sudah kok kak, keadaan ibu baik." ucap Tasya.


"Alhamdulillah kalau begitu. Kali ini kita pulang ke rumah yah, kakak sudah janji pada anak-anak untuk membawa mereka menemui Nenek nya." ucap Darel. Tasya mengangguk.


"Kak aku pinjam ponsel kakak dong." ucap Tasya.


"Untuk apa?" tanya Darel.


"Udah sini aja, kepo banget sih." ucap Tasya langsung mengambil dari saku Darel.


"Tumben-tumbenan banget sih." ucap Darel.


"Udah diam saja." ucap Tasya sambil mengambil jari Darel untuk membuka ponsel.


Tasya penasaran Siapa yang mengirimkan pesan pada Suami nya dan juga foto nya bersama Candra. "Nomor yang tidak di kenal." batin Tasya. Dia menyamakan nomor Tiwi dengan nomor itu namun salah, namun tiba-tiba Tasya mengingat kalau Tiwi mengunakan dua nomor dia mencocok kan lagi ternyata sama, seketika dia menghela nafas panjang dan memberikan ponsel pada suami nya.


...----------------...


***Assalamualaikum kakak-kakak semuanya terimakasih sudah mau mampir ke karya ku ini ya jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author jangan pernah Bosan tungguin terus kelanjutan ya.


Like, komen dan vote sebanyak-banyak nya.


biar author tambah semangat lagi.

__ADS_1


Terimakasih 🙏***


__ADS_2