
"Yahh kok di cubit sih? Aku sudah Cuci muka." ucap Tasya kesal. Darel tidak berhenti membuat Tasya kesal dia semakin membagikan busa yang di pipi nya ke pipi Tasya.
"Itu kurang bersih." ucap Darel, akhirnya mereka berdua saling menyabuni wajah masing-masing. Tidak lupa gosok gigi.
"Cium deh kak, apa masih bau?" tanya Tasya mendekat kan mulut nya pada Darel, namun tiba-tiba Darel langsung mencium Bibir Tasya.
"Aaa sakit tau kak." Darel tersenyum nakal.
Setelah selesai dari kamar mandi mereka pun keluar. Tasya Sengaja memilih piyama yang sama untuk mereka pakai.
Keesokan harinya Tasya berangkat ke kantor sama seperti Daren. Mereka meminta Riski untuk menjenguk ibunya terlebih dahulu sebelum mereka pulang dari tempat bekerja masing-masing.
Sampai di kampus Tasya menyapa Tiwi, sudah dua hari ini mereka tidak bersama-sama.
"Wi apa kabar? Kamu gak lanjutin diet yah?" tanya Tasya. Tiwi yang sedang fokus dengan laptop nya menoleh ke arah Tasya.
"Aku sedang sibuk jangan ganggu aku!" ucap Tiwi dengan nada marah. Tasya melihat Tiwi pergi begitu saja.
"Hufff kok Tiwi marah yah, apa yang aku lakukan pada nya sehingga dia sangat marah pada ku." ucap Tasya Heran dia pun langsung ke meja nya.
"Apa jangan-jangan karena waktu makan siang itu? Kan bukan aku yang mendekati pak Candra, pak Candra sendiri yang mendekati aku." ucap Tasya.
"Huff sungguh sangat aneh, kalau dia marah tentang itu apa salah nya dia bilang pada ku." batin Tasya.
"Dan seperti yang mengirimkan foto pada kak Darel adalah dia, karena di waktu itu dia baru saja pergi." ucap Tasya.
"Selamat pagi buk, ini tugas yang ibu minta." ucap Ayu yang mengumpulkan tugas. Tasya menerima nya.
"Dengar-dengar Riski sudah di sini yah buk." ucap Ayu.
"Iyah dia sudah di sini," ucap Tasya.
"Aku mau menjenguk Orang tua ibu boleh? sekalian aku juga ada penting dengan Riski." ucap Ayu. Tasya tersenyum.
"Penting karena rindu yah?" tanya Tasya. Ayu tersenyum malu." Enggak kok buk, kamu ingin membahas mengenai beberapa pelajaran." ucap Ayu.
"Baik lah, datang dan ibu pasti sangat senang." ucap Tasya.
"Baik Buk, kalau begitu saya permisi." ucap Ayu keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
Sementara Riski baru saja sampai di rumah sakit.
"Ibu bagaimana kabar ibu? tadi malam tidak terjadi apa-apa kan?" tanya Riski terlihat sangat khawatir. Buk Adel tersenyum. Jangan terlalu khawatir seperti itu, Ibu baik-baik saja." ucap buk Adel.
"Ibu semakin pucat." ucap Riski.
"Mungkin karena belum makan, kamu sudah makan?" tanya Buk Adel. "Aku sudah makan buk, sekarang ibu Makan yah." ucap Riski mengambil bubur buk Adel dan menyuapi nya.
"Ibu Minta Maaf yah sudah merepotkan kamu, sekarang kuliah kamu terganggu karena ibu sakit seperti ini." ucap buk Adel. Riski tersenyum.
"Sudah tugas ku untuk menjaga ibu, aku ingin Ibu cepat sembuh." ucap Riski.
"Ibu sudah lebih baik nak, ibu tidak ingin menyusahkan kamu lagi, pulang lah dan kuliah dengan giat." ucap Buk Adel.
Riski menggeleng kan kepala nya.
"Aku tidak akan kembali kalau ibu belum sembuh total, aku ingin ibu sembuh, jangan meminta aku untuk kembali kalau ibu masih kritis seperti ini." ucap Riski.
"Tapi ibu tidak mau menyusahkan kamu nak, ibu Sudah ada yang mengurus di sini."
"Tidak mungkin Mbak Tasya selalu ada di sini untuk merawat ibu, dia mempunyai pekerjaan, anak , suami dan juga sedang hamil muda." ucap Riski.
"Bukan nya ibu tidak mau sembuh nak, ibu Sudah berusaha, ibu capek minum obat terus." ucap Buk Adel. Riski melihat Obat buk Adel yang belum habis.
Riski memeluk ibu nya.
"Maafin aku yah buk, aku belum bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa berdoa untuk Ibu." ucap Riski. Dia sangat merasa sedih.
"Ibu hanya ingin yang terbaik untuk kamu nak, jangan karena ibu sakit kamu jadi terbengkalai." ucap buk Adel.
"Jangan khawatir kan aku buk, aku bisa mengatur jadwal ku, aku hanya ingin ibu sehat dan setelah ibu sehat aku akan kembali kuliah." ucap Riski.
"Dan Juga ibu sama mbak Tasya harus lebih baik buk, kasihan dia yang selalu sedih memikirkan ibu, aku tidak tau apa yang membuat ibu benci pada mbak Tasya tapi percayalah ibu salah besar membenci nya." ucap Riski.
Buk Adel menghela nafas panjang dia seketika diam.
"Sebenarnya Mbak Tasya tersakiti karena ibu membenci nya, namun dia berusaha untuk menutupi semua nya dia terus berusaha untuk menjadi anak yang baik untuk ibu, pada hal ibu tidak pernah menganggap nya ada." ucap Riski.
"Ibu tidak ingin membahas ini."
__ADS_1
"Aku tidak tau apa perselisihan ibu dengan Ayah. aku juga bingung masalah yang sekarang membuat ku semakin pusing." ucap Riski.
"Ceritakan apa saja yang membebani fikiran ibu pada ku, aku selalu siap mendengarkan nya buk." ucap Riski.
"Ibu mempunyai banyak masalah namun tidak pernah ingin melepaskan nya dan memendam nya sendiri." ucap Riski.
"Maafin ibu, ibu belum siap untuk bercerita, ibu bingung harus mulai dari mana, semakin ibu menceritakan nya, ibu akan merasa sakit." ucap buk Adel.
"Tapi jika ibu melepaskan semua nya, mengabaikan menghempaskan sesuatu yang membebani fikiran ibu, ibu akan langsung tenang." ucap Riski.
Buk Adel menatap wajah Riski.
"Ibu harus memberanikan diri untuk menceritakan semua nya buk, aku akan selalu ada di sini untuk ibu jangan takut." ucap Riski menguat kan Ibu nya.
Buk Adel memegang tangan Riski.
"Ibu.." Tok.. tok..tok..
Suara ketukan pintu rumah sakit itu membuat buk Adel tidak jadi cerita.
"Tunggu sebentar yah buk, seperti nya itu adalah Suster." ucap Riski. Namun setelah di buka ternyata itu adalah Ayu.
"Hay.." sapa Ayu.
"Kamu ke sini?" tanya Riski kaget. Ayu mengangguk.
"Kenapa kamu tidak mengabari aku? aku bisa menjemput ke bawah." ucap Riski.
"Gak apa-apa kok, Lagian buk Tasya sudah memberi tahu nomor berapa dan lantai berapa ruangan Ibu kamu." ucap Ayu.
...----------------...
***Assalamualaikum kakak-kakak semuanya terimakasih sudah mau mampir ke karya ku ini ya jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author, Jika ada saran tulis di kolom komentar ya jangan pernah bosan tungguin terus kelanjutan ya.
Like, komen dan vote sebanyak-banyak nya.
biar author tambah semangat lagi.
Terimakasih 🙏***
__ADS_1