Aku Menikah Dengan Suami Kakak Ku

Aku Menikah Dengan Suami Kakak Ku
Episode 85


__ADS_3

"Maaf yah pesan kamu tidak di baca oleh Darel karena dia sangat kelelahan malam tadi, saya membaca pesan kamu dan saya akan menyampaikan nya nanti." balas Sinta sambil mengirim kan foto nya yang baru bangun dengan pakaian seksi.


Tasya yang sedang menyetir melihat itu langsung tiba-tiba rem mobil nya mendadak.


"Apa-apaan ini!" ucap Tasya sangat kesal.


"Aku saja istri nya tidak pernah membuka handphone dan sampai membalas pesan seperti ini!" ucap Tasya.


Dia menghapus foto wanita itu dan melanjutkan perjalanan nya.


Sinta tersenyum ketika Tasya hanya melihat pesan nya Saja.


"Aku yakin Kalian sedang menyembunyikan sesuatu, dan aku Akan mencari tahu langsung." ucap Sinta.


Tidak beberapa lama Darel keluar dari kamar mandi.


Sinta duduk di pinggir kasur tersenyum pada Darel.


"Kamu kenapa bangun?" tanya Darel.


Sinta mendekati Darel namun Darel seperti menghindar.


"Kamu lebih baik tukar pakaian dulu, aku tidak nyaman kalau seperti ini." ucap Darel.


"Kamu tidak suka yah?" tanya Sinta.


Darel diam saja, Sinta mengerti dia pun langsung pergi ke kamar mandi.


Setelah Sinta Selesai mandi dia melihat Darel.


"Aku langsung pulang yah." ucap Darel.


"Kenapa sangat buru-buru?" tanya Sinta menahan tangan Darel.


"Anak-anak aku si rumah tidak ada yang nemenin, Tasya baru pasti sudah berangkat bekerja." untuk Darel.


"Aku mau bertanya sama kamu deh, sebenarnya kamu Sama Tasya menyembunyikan apa dari aku?" tanya Sinta.


"Maksud kamu?" tanya Darel.


"Kamu jangan berpura-pura tidak tau deh, lebih baik kamu jujur saja!" ucap Sinta.


"Kamu ngomong apa sih? emang aku menyembunyikan apa dari kamu?" tanya Darel Balik. Sinta menghela nafas panjang dia memeluk lengan Darel.


"Kamu jangan pergi dulu! aku Masih merindukan kamu!" ucap Sinta.


Darel melepaskan tangan Sinta dari lengan nya.


"Aku juga harus ke kantor!" ucap Darel.


"Humm soal kemarin aku minta maaf yah." ucap Sinta.


"Jangan di ingat lagi, lupakan saja!" ucap Darel.

__ADS_1


"Aku sebenarnya masih mencintai kamu! aku yakin kamu juga Masih mencintai aku kan?" tanya Sinta langsung.


Darel menatap mata Sinta,


"Aku pamit." ucap Darel langsung pergi.


Di perjalanan pulang dia terus memikirkan kata-kata Sinta.


Dia tidak bisa melupakan kata-kata Sinta tadi.


Sampai di rumah dia melihat mobil Tasya sudah tidak ada.


"Papah!" panggil Raya. Darel menghampiri Raya.


"Papah dari mana saja kenapa tidak pulang?" tanya Raya.


""Humm papah ada kerjaan yang tidak bisa di tinggal kan nak." ucap Darel.


"Papah bohong! Pasti Papah dari rumah Tante Sinta kan?" ucap Raya. Darel terdiam.


"Papah sudah menikah dengan Mamah Tasya jadi papah gak boleh dekat-dekat sama Tante Sinta." ucap Raya.


Darel terdiam.


"Kamu Anak kecil gak tau apa-apa nak, Papah sama Tante Tasya hanya sekedar berteman saja!" ucap Darel.


"Tapi kalau hanya teman tidak mungkin papah tidur di rumah Tante Sinta!" ucap Raya.


"Jangan bahas itu lagi! Kamu tidak tau apa-apa," Ucap Darel.


"Papah membawa Tante Sinta berobat sementara tangan Mamah yang terkena air panas lebih parah bahkan sampai infeksi." ucap Raya.


"Kamu tau dari mana?" tanya Raya.


"Suster yang bilang! Mamah gak ngomong apa-apa." ucap Raya.


"Itu karena Mamah yang salah nak, dia tidak hati-hati." ucap Darel.


"Papah sangat jahat! Kalau itu kesalahan Mamah seharusnya papah harus mengobatinya juga!" ucap Raya.


"Lebih baik kamu pergi main sana! Jangan sok tau!" ucap Darel Mulai kesal.


"Aku benci papah!" ucap raya. Darel menghela nafas.


"Sus! Sus!" panggil Darel pada suster.


"Iyah pak ada yang bisa saya bantu?" tanya suster.


"Apa benar tangan Tasya infeksi?" tanya Darel.


"Benar Pak, saya sudah meminta untuk di periksa ke dokter namun non Tasya tidak mau karena mungkin dia tidak mempunyai uang." ucap suster.


Darel diam. Tidak terasa sudah jam sepuluh Darel harus berangkat ke kantor nya.

__ADS_1


Sesampainya di kantor dia bekerja sementara Tasya sudah sangat sibuk rapat bersama yang lain tentang organisasi yang Akan mereka jalan kan.


"Tasya!" panggil Tiwi di saat baru kelar Rapat.


"Iyah Bu, kenapa?" tanya Tasya.


"Nih obat untuk tangan kamu! Lebih baik di obati dulu!" ucap Tiwi.


"Gak sempet lagi Bu, bentar lagi acara Akan di mulai." ucap Tasya.


"Tapi kalau tangan kamu tidak di obati itu akan semakin parah, bahkan pembalut nya saja sudah Basah tuh." ucap Tiwi.


Tasya mengambil obat dari Tiwi.


"Terimakasih yah Bu, tapi nanti saja." ucap Tasya. Tiwi tidak bisa memaksa kan nya dia hanya melihat Tasya pergi begitu saja.


"Ada apa dengan Tasya?" tanya Candra yang berdiri di belakang Tiwi.


"Tangan nya terluka sudah dua hari namun dia belum membawa ke rumah sakit untuk di periksa." ucap Tiwi sambil membalikkan badannya.


Namun badan nya yang pendek tidak bisa melihat langsung siapa lawan bicara nya dia sedikit mendongak dan melihat itu ternyata adalah pak Candra.


"Pak Candra!" ucap Tiwi terkejut sehingga dia memundurkan diri nya.


Dia tidak tau kalau itu adalah Candra.


"Saya minta maaf pak, saya tidak tau kalau itu adalah bapak." ucap tiwi langsung menunduk kan kepala nya.


"Apa yang terjadi pada tangan Tasya?" tanya Candra karena kemarin dia tidak terlalu memerhatikan tangan Tasya, mereka hanya Makan bersama namun tidak memerhatikan nya.


"Tangan dosen Tasya terkena air panas dia hari yang lalu pak, tapi karena sangat sibuk dia tidak mau mengobati nya." ucap Tiwi.


Candra langsung pergi meninggalkan Tiwi mengejar Tasya.


Tiwi Seketika memegang dadanya.


"Ya Ampun mimpi apa aku tadi malam sehingga pak Candra mengajak ku berbicara? walaupun dia bertanya tentang Tasya setidaknya aku bisa berbicara dan berdiri berdekatan dengan nya." ucap Tiwi.


"Humm mas Candra ku, aku memang sangat jelek, pendek gendut dan se-dki bobrok namun selera ku benar-benar sangat tinggi, tidak pernah segila ini aku menyukai seseorang namun pada mu aku rela mati mas." ucap tiwi.


Tiba-tiba Dosen laki-laki datang.


"Bu Tiwi! Bu Tiwi!" ucap bapak itu namun tiwi Masih asik dengan lamunan nya.


Seketika dia tersadar dan merasa malu, namun dia berusaha biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa walaupun dia seketika ingin menghilang.


...----------------...


***Assalamualaikum kakak-kakak semuanya terimakasih sudah mau mampir ke karya ku ini ya jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author, jika ada saran tulis di kolom komentar ya jangan pernah bosan tungguin terus kelanjutan ya jika ada saran tulis di kolom komentar ya.


Like, komen dan vote sebanyak-banyak nya.


biar author tambah semangat lagi.

__ADS_1


Terimakasih 🙏***


__ADS_2