
"Iyah pak, dua hari ini saya sakit. Sekarang sudah lebih baik. Ke sini karena menemani mereka." ucap Tasya menunjuk suami dan anak-anak nya.
Pak Candra tersenyum ke arah Darel, namun Darel hanya tersenyum tipis saja.
"Kebetulan banget yah kita ketemu di sini." ucap Tasya. Dia melirik ke arah Tiwi namun Tiwi hanya diam saja.
"Pah aku sudah haus, ayo beli eskrim." ajak Raya, namun Tiwi langsung mengajak mereka.
"Bapak sengaja yah barengan sama Tiwi ke sini?" tanya Tasya. Candra langsung menggeleng kan kepala.
"Tadi nya saya sama keponakan saya, eh dia nya pergi dan tidak sengaja juga bertemu dengan Tiwi dan dosen yang lain nya sekalian deh lari sama-sama." ucap Candra.
"Cukup lama mereka berbincang-bincang di sana, karena sudah Sore banget Darel mengajak istri dan anak-anaknya pulang.
"Sayang bisa gak sih, kamu jangan terlalu merespon Pak Candra? Dia seperti nya ada niat lain sama kamu." ucap Darel pas di dalam mobil.
"Kakak ngomong apa sih? Sudah lama kamu saling kenal bukti nya tidak ada apa-apa kan? Semua nya baik-baik saja, Pak Candra jarang dekat dengan orang lain, jadi sekali kenal dan dekat dia Akan menjadikan kita Teman nya." ucap Tasya.
"Tapi entah kenapa aku berfikir tidak seperti itu sayang. Cara dia berbicara dan menatap kamu itu berbeda." ucap Darel.
"Jangan terlalu berfikir buruk kak, aku merasa biasa saja, lagian aku sudah milik kakak, aku tidak mungkin dengan pria lain, aku sudah bilang ini beberapa kali pada kakak." ucap Tasya.
"Humm tetap saja yang namanya khawatir." ucap Darel. Tasya bersandar di pundak Darel.
"Aku sangat mencintai kakak, mana mungkin aku pergi dengan pria lain." ucap Tasya.
Darel tersenyum dia mengelus kepala istri nya.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah.
Dua hari kemudian Tasya sudah mulai baikan dia Sudah Bekerja seperti biasa. Di saat sampai di rumah baru pulang dari kampus dia kefikiran tentang buk Adel.
Dia memutuskan untuk pergi sendiri tampa bilang sama siapa pun.
"Sesampainya di rumah sakit dia bertanya pada dokter terlebih dahulu. Dokter terlihat sangat senang melihat Tasya datang.
"Akhirnya Mbak Tasya mau datang juga, sebenarnya ada yang mau di sampaikan pada mbak Tasya." ucap dokter memberikan kotak yang bisa di bilang lumayan besar.
__ADS_1
"Apa ini dokter?" tanya Tiara.
"Sebelum Buk Adel di operasi dia mau bertemu dengan mbak Tasya dan memberikan ini, namun ternyata sudah lama dia menunggu namun mbak Tasya tidak datang akhirnya dia memberikan ini pada saya agar di berikan pada Mbak." ucap dokter.
Tasya penasaran dia langsung membuka nya.
Ternyata di sana banyak foto-foto Dia dan juga buk Mita, bersama Ayah nya namun tidak ada dengan Buk Adel.
"Ini yang aku cari." batin Tasya dia membuka map kecil hasil pemeriksaan kehamilan. dan Sudah terpampang jelas nama buk Mita di sana.
Ada Surat di baca terlebih dahulu oleh Tasya.
"Tasya ibu harap kamu tidak kecewa setelah melihat pengakuan Ibu, namun satu hal yang kamu tau, ibu sangat menyesal sudah membenci kamu." isi surat itu.
Tiara penasaran dia langsung membuka video yang ada di dalam kotak itu.
"Bagaimana kabar kamu nak? Ibu sangat ingin memeluk kamu." ucap Buk Adel sambil terbaring di tempat tidur rumah sakit itu.
Seperti nya video itu baru di buat.
Tasya semakin penasaran.
"Mungkin kamu melihat video ini setelah kamu mengetahui bahwa Ibu bukan kah Ibu kandung kamu. Maafin Kami semua yang menyembunyikan nya dari kamu.
"Ibu tau kamu pasti terluka nak, Ini semua salah ibu."
"Ibu yang merebut ayah kamu dari ibu kandung kamu di jaman Gadis dulu. Ibu menikahi Ayah kamu dengan paksa. Sementara dia tidak mencintai ibu sama sekali.
Namun setelah beberapa tahun mereka kembali bersama dan karena khilaf mereka menikah sirih diam-diam."
Tasya terkejut dengan pengakuan Ibu nya.
"Ibu kamu hamil dan kamu ada di kandungan nya, ibu tau kalau ayah kamu pada saat itu berubah ibu mencari tahu ternyata kamu sudah Delapan bulan di kandungan.
Ibu tidak tahan ibu melapor kan pada keluarga dan akhirnya mereka bercerai setelah kamu lahir. Ibu yang meminta ibu kandung kamu pergi meninggalkan kamu bersama ibu.
"Kamu jangan pernah menyalah kan Ayah atau ibu kandung kamu, semua ini adalah salah ibu, Ibu sangat menyesal ibu minta maaf." Buk Adel menangis.
__ADS_1
Tidak terasa air mata Tasya juga keluar.
"Ibu kamu sudah berapa kali datang ke rumah waktu kamu sekolah di Bandung, tapi ibu tidak mengijinkan nya untuk bertemu dengan kamu, karena ibu takut kalau dia dengan ayah kamu kembali bersama."
"Ibu sangat mencintai ayah kamu, ibu sangat mencintai dia sehingga mengekang nya dan juga meminta dia untuk membenci kamu, walaupun setiap dia marah pada kamu di belakang dia pasti menangis."
"Ini benar-benar kesalahan ibu, dan beberapa bulan yang lalu ibu melihat mereka kembali bersama lagi, ibu berkelahi hebat dengan Ayah kamu, dia lebih memilih wanita itu dari pada ibu. Itu membuat ibu sangat depresi sampai sekarang. Mungkin semua yang ibu alami adalah karma untuk Ibu."
"Sekarang kamu pasti sangat membenci ibu, ibu iklas menerima semua nya sekarang, ibu pasrah." ucap Buk Adel.
Video pun selesai. Tasya langsung menghapus air mata nya.
"Mungkin selama ini Buk Adel menyimpan ini sendirian sehingga di depresi dan akhirnya seperti ini." ucap dokter.
Tasya hanya diam.
"Kalau mbak Tasya tidak mau menemui buk Adel tidak masalah, saya mengerti kok." ucap dokter.
"Saya mau menemui nya Dok." ucap Tasya. dokter itu tersenyum dia segera mengantarkan Tasya ke sana.
Tidak beberapa lama sampai di ruangan ICU. Ruangan yang sangat dingin.
"Tidak ada kemajuan pada buk Adel. Kami tidak bisa menjamin kesembuhan Buk Adel." ucap dokter.
Tasya mendekati buk Adel, dokter pun meninggalkan mereka di dalam.
Tasya duduk di kursi sambil memandangi wajah ibu nya, Air mata nya keluar.
...----------------...
***Assalamualaikum kakak-kakak semuanya terimakasih sudah mau mampir ke karya ku ini ya jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author jangan pernah Bosan tungguin terus kelanjutan ya. Jika ada saran tulis di kolom komentar ya.
Like, komen dan vote sebanyak-banyak nya.
biar author tambah semangat lagi.
Terimakasih 🙏***
__ADS_1