
Akhirnya mereka tidur begitu nyeyak malam itu.
Keesokan harinya Di shubuh hari, Darel bangun dia sadar kalau Tasya ada di pelukan nya.
"Astaghfirullah!" ucap nya kaget langsung melepaskan tangan nya dari pinggang Tasya.
Darel bangun dan melihat Tasya tidur sangat nyeyak. Darel seketika tersenyum. Dia mau membangun kan Tasya namun tidak tega. Darel mengelus rambut Tasya dengan pelan.
Dia pun keluar dari kamar itu mau melakukan sholat shubuh.
Tidak beberapa lama Selesai mengaji Darel kaget melihat Tasya duduk di luar musholla kecil itu.
"Kamu kenapa duduk di situ?" tanya Darel. Tasya menoleh ke arah Darel.
"Kenapa kakak tidak mengajak aku sholat bareng?" tanya Tasya dengan wajah cemberut.
"Kamu sangat nyeyak, kakak tidak tega membangun kamu." ucap Darel.
"Tapi aku ingin sholat shubuh bareng." ucap Tasya.
"Maaf Fin kakak, Besok kakak bangunin yah." ucap Darel. Tasya tetap saja cemberut.
Darel menjulurkan tangannya ke Tasya. Tasya pun berdiri di bantu oleh Darel.
"Apa kamu tidak sholat shubuh tadi?" tanya Darel.
"Sudah!" ucap Tasya.
"Lalu kenapa kamu masih cemberut?" tanya Darel. Tasya diam saja.
"Humm... masalah tadi malam, aku mau bilang." ucap Tasya namun belum selesai bicara langsung di potong oleh Darel.
"Lupakan saja! Anggap saja kakak tidak ngomong apa-apa." ucap Darel langsung.
Tasya langsung diam.
"Jangan terlalu di pikirkan kalau itu membuat kamu tidak nyaman." ucap Darel.
"Tapi apa yang kakak bilang itu nyata?" tanya Tasya. Darel sejenak terdiam.
"Benar! Kakak tidak asal bicara." ucap Darel.
"Dan kalau kamu merasa tidak nyaman dengan itu kamu tidak perlu memikirkan nya." ucap Darel.
"Bagaimana bisa aku tidak memikirkan nya, kita tinggal satu rumah." ucap Tasya.
"Huff sebaik nya kakak tidak membicarakan itu." ucap Darel.
"Kenapa? Justru itu baik dong kak, aku suka kejujuran kakak." ucap Tasya.
"Kamu gak masalah?" tanya Darel, Tasya menggeleng kan kepala nya.
__ADS_1
"Itu hak kakak, selagi tidak merugikan aku, aku tidak akan protes." ucap Tasya.
"Apa kamu tidak merasakan hal yang sama? Setelah tinggal di sini apa kamu tidak merasakan hal Aneh?" tanya Darel.
"Enggak! Sama saja, kakak sudah seperti orang tua dan kakak untuk aku. Mungkin kakak merasa seperti itu hanya karena aku yang ada di sini menemani Kalian dan hanya aku yang tau bagaimana kehidupan sekarang di sini." ucap Tasya.
Darel menggeleng kan kepala nya.
"Kamu salah, bukan itu yang kakak rasakan." ucap Darel.
Tasya menatap seperti meminta penjelasan.
"Kakak sudah jatuh cinta sama kamu. kakak benar-benar tidak percaya ini begitu cepat, namun ini lah kenyataan nya." ucap Darel.
Tasya diam.
Entah mengapa hati nya juga sangat senang namun dia harus berpura-pura biasa saja.
"Humm karena kakak kefikiran Kak Amel saja, aku juga mirip sama kak Amel, itu wajar saja." ucap Tasya mau pergi namun di tahan oleh Darel...
Darel langsung mencium bibir Tasya. Tasya kaget sehingga membulat kan mata nya.
"Percayalah kakak mencintai kamu karena itu adalah kamu, Kamu adik dari istri kakak yang sekarang sudah menjadi istri kakak." ucap Darel.
Tasya mendorong Darel lebih jauh dari nya.
Dia menghapus ciuman Darel dan pergi.
Darel jadi kebingungan dengan Ekspresi Tasya.
Setelah Darel berangkat kerja Tasya di telpon oleh mertuanya, mereka membahas tentang Stevan dan Raya.
Tidak lama berbicara panggilan pun di matikan, Tasya Masih sedikit gugup dia bingung harus berbasa-basi seperti apa.
"Bubu.. bubu... ucap Stevan yang berlari sambil menangis. Tasya yang sedang di dapur mau masak terkejut mendengar Stevan menangis.
Dia membiarkan mereka main seperti biasa di ruang tamu.
"Stevan kenapa?" tanya Tasya. Stevan tetap saja menangis.
"Raya! Raya! Adik nya kenapa? kok nangis?" tanya Tasya.
Tasya melihat Raya duduk sambil memeluk foto mamah nya.
"Kenapa Stevan nangis Kakak?" tanya Tasya dengan lembut.
"Stevan mau merusak foto mamah, aku mengambil nya dan dia menangis." ucap Raya.
Tasya menghela nafas panjang.
"Setiap hari kalian selalu ribut gara-gara hal sepele saja. Sini biar Tante simpan." ucap Tasya namun Raya tidak Mau.
__ADS_1
"Sini Sayang!" ucap Tasya mengambil nya. raya tetap tidak mau namun karena Tasya itu jadi pertengkaran akhirnya dia memaksa.
"Tante jahat! Aku hanya mau memeluk mamah." ucap Raya.
Raya tidak menangis melainkan dia langsung berlari ke kamar dan mengunci pintu.
"Tante Tasya selalu saja sayang sama Stevan, sudah jelas aku mau melindungi foto mamah biar gak rusak, Tante Tasya malah marah." ucap Raya.
Dia mengambil handphone dan menelpon papah nya, Darel yang kebetulan sedang di ruangan rapat melihat anak nya menelpon dia permisi keluar.
"Halo Raya! Kenapa nak?" tanya Darel, Raya langsung menangis.
"Papah... Tante Tasya marah sama ku," ucap Raya.
"Kenapa nak? Kamu kenapa nangis? Tante Tasya kenapa kok bisa Marah?" tanya Darel.
"Papah pulang Pah, Tante Tasya cuman sayang sama Stevan aja." ucap Raya. Darel menghela nafas panjang.
"Papah nanti pulang yah kalau sudah selesai bekerja, sekarang raya jangan Nangis." ucap Darel.
"Ya udah papah tutup telepon nya dulu yah." ucap Darel dan mematikan handphone nya.
Tidak beberapa lama Tasya sudah selesai Masak dia harus mengendong Stevan karena tidak ada yang menemani nya di luar.
Setelah selesai masak Tasya memanggil Raya.
"Raya... Turun sayang kita makan yok." ucap Tasya. namun Raya tak kunjung turun.
Tasya memberikan Stevan makan duluan, setelah Stevan sudah Tasya memeriksa ke atas.
Dia membuka pintu kamar dan melihat Raya yang main sendiri.
."Raya sayang.. Makan yok Tante sudah siap Masak." ucap Tasya.
"Gak mau." ucap raya.
"Ayo dong, kalau Raya gak Makan nanti kurus loh, Adek aja udah makan." ucap Tasya.
"Tante hanya sayang sama Stevan saja, Tante selalu membela nya." ucap Raya.
"Huss Ngomong apa sih Raya cantik, gak boleh gitu, Tante sayang sama Raya sayang juga Sama Stevan." ucap Tasya.
"Enggak! Hanya mamah yang sayang sama aku." ucap raya.
Tasya berusaha untuk sabar.
"Ya udah Tante minta maaf kalau sudah marah sama Raya, tapi raya sebagai kakak harus mengalah dong sama Adik." ucap Tasya.
...----------------...
***Assalamualaikum kakak-kakak semuanya terimakasih sudah mau mampir ke karya ku ini ya jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author, jika ada saran tulis di kolom komentar ya jangan pernah bosan tungguin terus kelanjutan ya.
__ADS_1
Like, komen dan vote sebanyak-banyak nya biar author tambah semangat lagi. Terimakasih 🙏***