Aku Menikah Dengan Suami Kakak Ku

Aku Menikah Dengan Suami Kakak Ku
Episode 57


__ADS_3

Darel diam.


"Namun loe harus banyak bersabar karena ada Raya Dan Stevan yang harus kau rawat." ucap Gilang.


"Ini sangat berat Lang, kau tidak akan tau sakit nya seperti apa." ucap Darel. Gilang Seketika langsung merasa sedih melihat sahabatnya itu meneteskan air mata nya.


Gilang mengusap punggung Darel.


"Aku yakin loe kuat demi anak-anak." ucap Gilang menyemangati.


Darel mengangguk.


"thank you bro." ucap Darel.


"Bagaimana kabar loe sama anak-anak loe?" tanya Gilang.


"Seperti yang loe lihat. Empat bulan sudah berlalu namun semua nya masih teras hampa." ucap Darel.


"Yang sabar yah bro, aku tau ini pasti sulit. Namun kalau loe sedih pasti anak-anak loe juga sedih," ucap Gilang.


"Lalu bagaimana dengan anak-anak?" tanya Gilang.


"Alhamdulillah mereka sekarang baik-baik saja," ucap Gilang.


"Aku sebenarnya ke sini sekalian mau berkunjung ke rumah loe, boleh kah?" tanya Gilang.


"Tentu boleh, tapi jadwal ku sangat padat hari ini." ucap Darel.


"Tidak apa-apa! aku juga ada kerjaan sekitar sini." ucap Gilang. "Baiklah. Aku ngabarin Kau nanti." ucap Darel.


Cukup lama berbincang-bincang sampai Darel di panggil oleh sekretaris nya Sinta.


Gilang sebenarnya adalah adik sepupu Darel. Umur mereka berbeda sekitar Dua tahun Gilang lebih muda.


Namun ternyata mereka sangat akrab sehingga menjadi sahabat dari kecil dan sampai sekarang.


Gilang menjadi Menejer di salah satu shorum Motor yang besar, dia tinggal di Medan karena jauh dia tidak bisa segera datang di saat mendengar kabar duka itu.


Tidak terasa sudah Siang Darel baru saja selesai sekitar jam 12 : 40 perut nya sudah kosong. Dia meminta Sinta membeli makanan dan di bawa ke ruangan nya.


Tidak beberapa lama Sinta datang.


"Permisi Pak, makanan sudah datang." ucap Sinta, Darel mengangguk Sinta menata makanan di atas meja.


"Kamu sudah Makan?" tanya Darel, Sinta Menggeleng kan kepala nya.


"Belum pak, saya sudah membeli makanan untuk saya, saya akan Makan di ruangan saya." ucap Sinta.


"Makan di sini saja, saya tidak terbiasa Makan sendiri." ucap Darel.

__ADS_1


Sinta mengangguk mereka pun Makan di meja yang sama.


"Sin!" panggil Darel.."Iyah pak, ada yang bisa saya ambil kan?" tanya Sinta.


"Bukan! saya mau bertanya." ucap Darel.


"Iyah pak, tanyakan saja." ucap Sinta dengan serius dan mencuci tangan nya.


"Kenapa kamu Malah mencuci tangan? Makan lah ini hanya pertanyaan biasa." ucap Darel.


"Kalau saya sambil Makan tidak sopan Pak." ucap Sinta.


"Huff payah berbicara sama orang disiplin seperti kamu, Makan saja dulu, saya sudah lupa mau bertanya apa." ucap Darel.


Sinta mengangguk dia kembali Makan.


"Apa menurut kamu seorang pria yang di tinggal kan oleh wanita yang di cintai nya bisa mudah membuka hati lagi?" tanya Darel.


Sinta menatap Darel.


"Bapak bertanya tentang bapak sendiri yah?" tanya Sinta Balik.


"Huff kamu sangat pintar." ucap Darel karena dia berfikir Sinta tidak Akan tau.


"Bapak sangat lah Aneh, sudah jelas itu adalah bapak sendiri, Bapak yang tau kenapa harus bertanya pada orang lain?" tanya Sinta.


"Huff kamu benar juga." ucap Darel dengan lesu namun terus saja lanjut makan.


Seketika Darel mengangkat kepalanya menatap Sinta.


"Kamu benar. kata-kata kamu benar-benar membuat saya sadar." ucap Darel.


"Ternyata selama ini saya Masih kurang memahami diri sendiri, saya juga tidak tau bagaimana sabar nya almarhum istri saya menghadapi sifat saya!" ucap Darel.


"Namun setelah dia pergi saya merasa kehilangan hidup Saya, dia membawa semua semangat saya, hidup saya sangat hampa." ucap Darel.


"Semua orang yang kehilangan orang yang di sayang pasti mengalami itu pak, namun mau sampai kapan bapak seperti ini? Bapak harus memikirkan kedepannya seperti apa." ucap Sinta.


Darel menyudahi makan nya dia sudah tidak berselera lagi.


"Bapak masih beruntung masih bisa membahagiakan almarhum, sangat berbeda dengan saya yang tidak pernah bertemu orang tua ku sekali nya bertemu adalah pertemuan terakhir." ucap Sinta.


Darel mengangguk paham.


"Bapak harus ingat kalau ada pertemuan pasti ada perpisahan, Siapa pun di mana pun kita akan mengalami itu, kita harus berlapang Dada tidak bisa berlarut-larut dalam kesedihan." ucap Sinta.


Darel mendengar kata-kata Sinta mata nya berkaca-kaca, Seketika rasa ketakutan nya bertambah.


Melihat bos nya untuk pertama kali menangis Membuat hati Sinta tersentuh, dia tau betapa sulit nya menghadapi rasa kehilangan.

__ADS_1


Dia ingin memeluk Darel namun dia tidak berani dia hanya memberi kan tisu.


"Ayo Bapak jangan sedih lagi, bapak harus semangat." ucap Sinta sambil tersenyum.


Darel menghapus air mata nya sambil memaksa untuk tersenyum.


"Maaf saya jadi nangis." ucap Darel.


Sinta hanya diam.


Setelah selesai makan Mereka lanjut Bekerja. Tidak terasa hari semakin gelap jarum jam sudah menunjukkan di angka tujuh.


Darel baru saja selesai berbicara dengan teman kerja nya. Dia langsung mengabari Gilang kalau dia sudah pulang dan menunggu nya di Cafe Dekat kantor.


Gilang langsung berangkat ke tempat Darel.


Tidak beberapa lama Mereka Sampai di rumah Darel.


"Ternyata rumah loe gak ada bedanya," ucap Gilang.


"Humm ya seperti ini Saja." ucap Darel.


"Loe bawaan nya banyak banget, apa saja itu?" Tanya Darel karena tangan kiri dan kanan penuh semua dengan paper bag yang besar.


"Ini oleh-oleh dari Medan untuk anak-anak kamu." ucap Gilang.


"Sini biar aku bantu." ucap Darel namun Gilang menolak nya.


"Buka kan saja pintu, jangan pura-pura perhatian, dari tadi tidak membantu ku." ucap Gilang, seketika Darel menatap tajam karena kesal.


"Assalamualaikum!" sapa Darel membuka pintu.


"Papah..!!!" ucap Raya dan Stevan ikut berlari.


"Walaikumsalam!" jawab Tasya yang baru keluar membawa dua botol susu di tangan nya.


Gilang melihat Tasya seketika tercengang.


"Ini siapa Pah?" tanya Raya.


"Oohhh ini Adalah Sabahat papah, sebelum nya om ini sudah ke sini namun Raya Masih kecil jadi tidak kenal, ayo kenalan dulu." ucap Darel.


"Hay anak cantik! Pasti nama nya Raya dan ini Stevan. Kenalin nama Om Adalah Gilang panggil Om ganteng aja gak keberatan kok." ucap Gilang.


...----------------...


***Assalamualaikum kakak-kakak semuanya terimakasih sudah mau mampir ke karya ku ini ya jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author, jika ada saran tulis di kolom komentar ya jangan pernah, bosan tungguin terus kelanjutan ya.


like, komen dan vote sebanyak-banyak nya.

__ADS_1


biar author tambah semangat lagi.


Terimakasih 🙏***


__ADS_2