Aku Menikah Dengan Suami Kakak Ku

Aku Menikah Dengan Suami Kakak Ku
Episode 296


__ADS_3

"Aku Mandi dulu yah Bu. Ayah." ucap Riski. Mereka Mengangguk Riski pun masuk ke dalam kamar nya.


"Apa benar sekarang kak Darel sudah memilih mbak Tasya dari pada orang tua nya?" batin Riski.


Di Rumah sakit Darel dan Tasya baru saja selesai di periksa, mereka menunggu Obat terlebih dahulu. Saat sedang menunggu di lorong rumah sakit itu tiba-tiba Candra menghampiri Tasya.


"Tasya kenapa kamu bisa di sini?" tanya Candra.


"Aku di sini mau periksa kesehatan, kakak sendiri di sini ngapain?" tanya Tasya.


"Melihat Saudara yang sakit." ucap Candra. "Tasya sudah selesai, ayo kita pulang." ucap Darel langsung menarik tangan Tasya meninggalkan Candra.


"Kak pelan-pelan." ucap Tasya. untung saja Bukan dia yang mengendong Radit. Darel tidak perduli dia malah semakin mempercepat jalannya.


"Sakit kak, pelan-pelan saja." ucap Tasya. Darel melepaskan tangan Tasya dia masuk terlebih dahulu ke dalam mobil.


Candra yang melihat itu dia hanya bisa diam memerhatikan dari jauh. Tasya masuk ke dalam mobil dia menatap suaminya.


"Kakak marah karena aku berbicara dengan kak Candra?" tanya Tasya.


"Jangan menyebut namanya, saya tidak suka!" ucap Darel.


"Kakak cemburu?" tanya Tasya.


"Enggak." Lebih baik kita pulang saja." ucap Darel. Dia menghidupkan mobil nya.


"Aku sudah bilang sebelumnya kalau aku dengan kak Candra sudah tidak ada hubungan apapun lagi. Tidak ada yang aku sembunyikan lagi dari kakak. " ucap Tasya.


"Tapi tetap saja dia suka sama kamu. Kakak bisa melihat dari cara dia menatap, memperlakukan kamu." ucap Darel.


"Kami sudah sepakat untuk menjalin hubungan sebagai adik dengan kakak Saja. Bisa jadi saja dia suka sama ku, tapi aku tidak karena aku sudah memiliki suami." ucap Tasya.


Darel menatap tatapan Tasya yang menyakin kan diri nya. Dia menghela nafas panjang kembali fokus pada jalanan.


"Saya cemburu pada nya karena dia bisa membuat kamu nyaman sebelum nya dengan dia. Saya takut kamu nyaman dengan dia lagi." batin Darel.


"Saya sudah membuat kamu berkali-kali terluka. Kamu selalu sedih saat bersama kakak. Kakak sangat takut kehilangan kamu." Dia mengeluarkan air mata nya namun langsung di hapus agar Tasya tidak melihat nya.


Sesampainya di rumah dia membawa barang-barang masuk ke dalam. Membiarkan Tasya terlebih dahulu berjalan.


Di ruang tamu ternyata Bu Mita dan Pak Ahmad masih berkumpul.


Darel melihat Riski dia jadi sedikit terlihat canggung di tambah lagi suasana hati nya tidak baik.

__ADS_1


"Saya ke kamar duluan." ucap Darel dia langsung ke kamar meninggalkan mereka.


Mereka semua terdiam melihat ke arah Darel.


"Bagaimana hasil pemeriksaan nya?" tanya Bu Mita sambil membawa Radit ke Gendongan nya.


"Alhamdulillah semua nya sudah Baikan Bu, hanya butuh istirahat banyak, makan dengan teratur." ucap Tasya.


Di malam hari nya Tasya masuk ke dalam kamar dia melihat Darel sedang sibuk dengan laptop nya.


"Kakak lagi balas pesan siapa?" tanya Tasya.


"Lagi melihat semua wawancara tentang perusahaan papah bukan Chatan dengan siapapun." ucap Darel. Tasya duduk di pinggir kasur sambil melihat ke Darel yang duduk di sofa.


"Dari tadi kamu cemberut terus, suasana hati kakak terlihat sangat tidak baik sekali, Ibu sama Ayah jadi bertanya-tanya." ucap Tasya karena saat makan malam Darel tidak banyak berbicara.


"Kalau Soal di rumah sakit aku minta maaf kalau kakak benar-benar tidak bisa percaya pada ku, soal Riski aku mohon kakak selalu Sabar menghadapi dia." ucap Tasya.


Darel menatap istrinya.


"Kalau soal Mamah dan papah, lebih baik kakak melihat keadaan mereka agar tidak ada penyesalan suatu saat nanti." ucap Tasya.


Darel berdiri dia mendekati Tasya. Dia duduk di lantai dekat kaki Tasya.


Darel meletakkan kepalanya di paha Tasya.


"Terimakasih sudah selalu ada di samping kakak, jadi motivasi dan selalu sabar untuk menghadapi sifat kakak." ucap Darel.


Tasya mengelus rambut suami nya.


"Apa kamu merasa kakak terlalu berlebihan? Apa kakak tidak cocok jadi Ayah sekaligus suami untuk kamu?" tanya Darel.


"Kenapa bertanya seperti itu? Kakak adalah suami yang baik untuk aku. Walaupun sedikit menjengkelkan." ucap Tasya sambil tersenyum.


Darel menatap wajah istri nya.


"Seharusnya kamu tidak mendapatkan suami seperti kakak. Kamu wanita yang sangat baik, sabar dan kuat." ucap Darel.


"Sststt jangan berbicara seperti itu!" ucap Tasya. Darel mengeluarkan air mata nya. "Kakak tidak bisa melupakan bagaimana dulu kamu menghadapi semua nya karena kakak. Dan sampai sekarang kamu tetap harus berjuang mempertahankan rumah tangga kita." ucap Darel.


Tasya tersenyum.


"Itu adalah bukti cinta aku Sama kakak, aku mencintai kakak selama-lamanya. Aku mencintai anak-anak kita." ucap Tasya mengelus pipi Darel.

__ADS_1


Darel melihat wajah istri nya yang begitu menenangkan hati nya. "Bagaimana kakak tidak takut kehilangan kamu. Kamu terlalu baik, kamu dewasa, kamu tulus, kamu sangat cantik sayang." ucap Darel langsung memeluk Tasya.


Tasya tersenyum.


"Kakak sungguh mempunyai Mulut yang manis." ucap Tasya, di jadi tersipu karena pujian suami nya.


"Suami ku jadi sangat cengeng sekali. Bahkan lebih cengeng kakak dari pada Radit." ucap Tasya. Darel tersenyum. Dia mengambil tangan Tasya mencium nya sangat lama.


"Terimakasih." ucap Darel. Mereka berpelukan.


"Mamah, papah." Raya dan Stevan masuk.


"Kenapa nak?" tanya Tasya.


"Loh papah nangis mah? Papah kenapa? Apa papah nangis minta jajan?" tanya Raya.. Tasya tertawa kecil.


"Enggak kok, papah nya hanya bahagia itu sebabnya dia menangis." ucap Tasya.


"Ada apa tiba-tiba masuk ke kamar?" tanya Tasya.


"Aku sama Stevan mau ikut jalan-jalan Besok sama Om Riski boleh kan Pah, mamah?" tanya Raya.


"Boleh dong." ucap Tasya.


"Horeee.." ucap raya bersorak sangat senang sekali.


Setelah itu mereka pun keluar.


Darel bangun dia duduk di samping Tasya.


"Sudah jangan sedih lagi kak, kalau kakak sedih Aku juga ikut sedih." ucap Tasya. Darel lagi-lagi memeluk Tasya.


"Kakak sangat mencintai kamu, kakak tidak mau kehilangan lagi. Kakak tidak akan sanggup lagi. Kakak tidak bisa." ucap Darel.


Tasya tersenyum dia tahu apa yang di rasakan suami nya. Dia pasti trauma karena sudah di tinggal kan oleh Amel dan sebelum nya sudah berpisah dengan dia karena orang tua nya.


...----------------...


***Assalamualaikum kakak-kakak semuanya terimakasih sudah mau mampir ke karya ku ini ya jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author, jika ada saran tulis di kolom komentar ya jangan pernah Bosan tungguin terus kelanjutan ya.


Like, komen dan vote sebanyak-banyak nya.


biar author tambah semangat lagi.

__ADS_1


Terimakasih 🙏***


__ADS_2